18. Delusion of Happiness (1)

1126 Words
Chapter 18 : Delusion of Happiness (1) ****** HARIN benar-benar pergi ke kampus tanpa Jaekyung hari itu. Sebenarnya, Harin berbohong soal pergi ke toko buku bersama teman-temannya (Areum dan Yumi). Dia tak pernah memiliki janji dengan mereka untuk pergi ke toko buku; dia hanya menggunakan alasan itu agar tidak pergi ke kampus bersama Jaekyung. Agar Jaekyung pulang lebih dahulu… dan dia punya waktu untuk menangis sendirian. Cukup lama Harin menangis di balik pintu. Mungkin… kurang lebih satu jam. Sisanya ia hanya melamun, memikirkan semua kenang-kenangannya bersama Jaekyung serta rasa sakitnya. Setelah sadar bahwa dia telah duduk di sana dalam waktu yang cukup lama, dia pun akhirnya menghela napas. Mencoba untuk tenang sejenak dan bangkit dari duduknya meskipun tubuhnya lemas. Semalam, dia sudah kehabisan energi karena ‘disetubuhi’ oleh Jaekyung, tetapi karena menangis pagi ini, dia jadi semakin lemas. Tubuhnya dipenuhi dengan kiss mark (cupang) karena Jaekyung terus mengisap dan menciuminya semalam. Namun, bukannya bertingkah ‘bahagia’ dengan pipi merona seperti pasangan yang baru saja melakukan hubungan seksual, Harin malah menangis. Sudah begitu, Harin tetap harus pergi kuliah dan berpura-pura baik-baik saja. Sesampainya di kampus (sekitar dua jam yang lalu), Harin langsung masuk ke kelasnya dan tidak melihat Jaekyung sama sekali karena mereka berbeda fakultas. Mereka ada di gedung yang berbeda. Di gedung sains/kompleks MIPA (tempat Jurusan Matematika berada), suasananya cenderung lebih tenang, akademik, dan banyak laboratorium atau ruang kelas dengan papan tulis yang penuh rumus. Namun, kalau di gedung bisnis (tempat Jaekyung berada), vibe-nya sangat modern, megah, dan punya fasilitas yang terkesan lebih "korporat" dibanding gedung sains. Kedua gedung itu berada di sisi yang berbeda. Biasanya, Jaekyunglah yang selalu datang ke area MIPA untuk mengantar, menjemput, atau sekadar mengajak Harin makan. Harus berjalan kaki cukup jauh atau naik bus kuning kampus (shuttle bus) untuk berpindah dari area Bisnis ke area Matematika. Namun, berhubung Jaekyung membawa mobilnya sendiri, dia cukup bolak-balik dengan mobilnya. Agak kontras sebenarnya kalau melihat mobil sport Jaekyung parkir di kompleks MIPA; itu jadi pusat perhatian anak-anak MIPA karena ada mobil mewah yang parkir di depan gedung mereka. Berbeda dengan anak Bisnis yang modern dan bergengsi, anak-anak di MIPA umumnya kutu buku dan low profile. Sekarang sudah jam makan siang. Harin keluar dari kelasnya bersama dengan Areum dan Yumi untuk makan siang di kantin. Mereka melewati koridor lantai satu (Student Center) untuk menuju ke kantin. Kantin yang mereka tuju itu terkenal punya menu yang bervariasi dan murah. Dari gedung Matematika ke sana tinggal jalan kaki sedikit untuk menuruni area bukit. Koridor yang mereka lewati (Student Center) sangatlah sibuk. Koridor itu lebar dengan pengumuman atau poster klub mahasiswa yang menempel di dinding. Itu adalah titik temu utama karena fungsinya yang beragam, seperti mal kecil di tengah kampus SNU. Saat jam makan siang, tempat itu ramai sekali. Ada orang yang terburu-buru mau ke kantin, ada yang baru keluar dari toko buku, dan ada yang sekadar nongkrong di tempat duduk terbuka. Di sana sangat padat. Bising karena suara obrolan dan langkah kaki mahasiswa. “Ughh… Aku lapar sekali,” ujar Areum sambil berjalan. Dia mengelus perutnya sendiri. “Ada nasi goreng tidak, ya?” “Aku malah mau makan pork cutlet,” kata Yumi. “Sudah lama aku tidak makan itu.” “Kau mau makan apa, Harin?” tanya Areum sambil menoleh sedikit ke belakang, menanyai Harin yang berjalan di belakangnya. “Aku mau nasi goreng juga, kalau ada,” jawab Harin. “dan minuman dingin.” Well, Harin banyak pikiran hari ini, jadi dia ingin meminum sesuatu yang dingin. Kepalanya panas sejak tadi pagi. Di kerumunan itu, mereka harus beberapa kali sedikit menepi supaya tidak menabrak orang lain. Areum mengangguk. “Baiklah. Coba kita lihat di sana nanti. Aku juga mau minuman dingin.” “Mau Americano, ya? Atau yang lain?” tanya Yumi. Harin mengedikkan bahu. “Nanti saja aku lihat, Yumi.” “Oke, aku juga ikut, deh, nanti.” Yumi tersenyum riang, sudah tidak sabar. “Kita ke—" Tiba-tiba saja, Yumi berhenti berbicara. Langkahnya terhenti. Melihat Yumi, refleks Harin dan Areum pun berhenti berjalan. Mereka mengernyitkan dahi, agak heran melihat Yumi yang tiba-tiba berhenti. Namun, Yumi menoleh ke satu arah. Dia menatap ke sana dengan mata membulat. Harin dan Areum pun mengikuti arah pandang Yumi. Di sela-sela bahu mahasiswa yang berlalu lalang, mata mereka menangkap seseorang yang sangat familier. Di dekat pilar besar koridor, tak jauh dari pintu masuk toko buku… …ada Jaekyung. Pemuda itu mengenakan jaket varsity berwarna navy SNU dengan bordiran huruf 'S' besar di dadanya. Dia berdiri di sana... dan penampilannya sangat fresh. Tampan seperti biasa. Dia tampak bahagia. Namun, yang membuat Harin terpaku adalah… …dia tidak sendirian. Ada Seulhee di sampingnya. Jantung Harin serasa berhenti berdegup. Ekspresi wajahnya tak begitu memperlihatkan perbedaan, tetapi napasnya tersekat di tenggorokan. Ini adalah kali kedua Harin menyaksikan kedekatan Jaekyung dan Seulhee dengan mata kepalanya sendiri. Seulhee mengenakan jaket yang sama persis dengan Jaekyung. Mereka berdiri berhadapan, terlihat begitu serasi dengan identitas kampus yang membanggakan itu… seolah-olah mereka adalah prototipe pasangan sempurna di universitas ini. Dunia Harin serasa melambat. Semua orang di sekelilingnya… mendadak bergerak pelan. Suara obrolan dan tawa para mahasiswa, derap langkah kaki mereka… tiba-tiba tak terdengar. Kulit Harin serasa terbakar, terutama di bagian leher, p******a, b****g, dan pahanya, tempat kiss mark pemberian Jaekyung bersembunyi. Mendadak, ia merasa kotor. …sebab pemuda yang menyentuhnya juga dekat dengan perempuan lain. Semalam, pemuda itu seolah-olah tak bisa lepas darinya, menghujani tubuhnya dengan cinta. Namun, sekarang, di tempat yang paling publik di kampus ini, pemuda itu berdiri mengenakan jaket yang sama dengan Seulhee… …dan membiarkan Seulhee memegangi lehernya… lalu turun membelai d**a bidangnya. Jaekyung tampak sedikit menunduk, memegang pinggang Seulhee, lalu membisikkan sesuatu yang membuat Seulhee tertawa kecil dan memukul dadanya pelan. Gerakan itu terlihat sangat natural. Sangat manis. Jaket mereka yang bersentuhan membuat keduanya tampak seperti satu kesatuan yang tak terpisahkan. Mereka pasti sadar bahwa mereka sedang berada di tempat umum. …dan Jaekyung membiarkan hal itu terjadi meskipun dia adalah kekasih Harin… Hati Harin serasa diremas. Dia langsung membuang wajah. Dia ingin lari, tetapi Areum dan Yumi masih ada di sini. Oh, Tuhan. Harin malu sekali… Areum dan Yumi melihat kekasihnya selingkuh di depan umum. Harga diri Harin… …sudah diinjak-injak… Kepala Harin langsung berdenyut. Namun, ternyata, respons Areum dan Yumi sedikit berbeda dari apa yang Harin duga. Tadinya, Harin mengira kalau Areum dan Yumi akan berdiri terpaku di sana selama beberapa waktu, lalu menatap Harin dengan kasihan, menenangkan Harin, lalu karena berlama-lama di sana, Jaekyung dan Seulhee ujung-ujungnya akan menyadari keberadaan mereka. Namun, tidak. Areum dan Yumi ternyata paham betul apa yang Harin inginkan, yaitu… …pergi dari sana. Ya… jujur saja, mereka pun merasa sakit hati dan kesal melihat adegan itu. Mereka berdua langsung mundur sedikit, lalu menarik Harin pergi dari sana secepat mungkin sebelum disadari oleh Jaekyung dan Seulhee. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD