17. Unzip Those Jeans (5)

1417 Words
Chapter 17 : Unzip Those Jeans (5) ****** KARENA tak ingin mengatakan ‘ya’ atau ‘tidak’ (soalnya kalau dia bilang ‘ya’, dia belum memaafkan Jaekyung, jadi dia tak bisa berjanji. Sementara itu, kalau dia bilang ‘tidak’…dia tahu pasti bagaimana reaksi Jaekyung nantinya), Harin pun mengalihkan pandangannya dan berkata, “Aku masih marah padamu.” Jaekyung tersenyum miring. “Sayaaang… Kan aku sudah menjelaskan semuanya…” ucap Jaekyung dengan manja. Dia menciumi pipi dan leher Harin berkali-kali. “Aku berbohong karena aku tak mau bertengkar denganmu.” Harin mendengkus. Di otak Harin, Jaekyung sama saja seperti mengatakan: “Aku merampok bank karena tak ingin melihatmu sedih saat memikirkan tagihan.” Cara berpikir pemuda itu benar-benar twisted. Harin tak bisa menerima alasan seperti itu. Kebohongan Jaekyung sudah terlalu banyak, termasuk ketika Harin memergokinya flirting atau berduaan dengan perempuan lain. Harin tentu saja tak bisa menerima alasan dangkal seperti itu. Itu sama saja dengan seseorang yang selingkuh, tetapi berbohong kepada pasangan aslinya karena tak ingin bertengkar. Itu bukanlah alasan. Itu bukanlah penjelasan. Itu hanyalah manipulasi. Harin diam saja. Rasa sakit hatinya kembali timbul ke permukaan. Sepertinya, seluruh pernyataan cinta Jaekyung... ...juga merupakan kebohongan... Jantung Harin seakan-akan berhenti berdetak saat hal itu terlintas di benaknya. Dia pun menelan getir. Ekspresinya blank, padahal saat itu Jaekyung tengah menciumi wajah dan lehernya seolah-olah pemuda itu tak pernah bosan. Namun, dia...tak bisa merasakan ciuman itu sama sekali. Pikirannya ke mana-mana. Hatinya terasa pedih. Ada sebuah lembing yang menohok jantungnya. Untung saja...untung saja, tadi mereka tidak benar-benar melakukan ‘s*x’. Untung saja, Harin tidak memberikan keperawanannya kepada Jaekyung. Karena kalau Harin memberikannya, mungkin sebentar lagi...dia akan hancur. Dia tak tahu sampai kapan hubungan mereka akan bertahan; atau lebih tepatnya, sampai kapan ia akan bertahan. Rasanya begitu menyakitkan. Mereka sudah lama bersama. Mereka sudah lama menjadi bagian dari kehidupan satu sama lain... Tiba-tiba saja, ponsel Jaekyung yang terletak di atas nakas itu berbunyi. Nakas itu berada tepat di samping kepala Harin sehingga Harin agak tersentak ketika mendengar bunyi dan getaran ponsel itu. Dia pun mencoba untuk memegang kepala Jaekyung yang sedang asyik mengisap lehernya. “Jae—kyung... Ahh—p—ponselmu...” Jaekyung tak menyahut. Dia tak menghiraukan bunyi itu sama sekali. Dia malah menggigit kecil leher Harin. “J—Jaekyung, coba lihat dahulu...” Harin memohon; gadis itu sedikit mendorong Jaekyung agar berhenti menciumi lehernya. “Itu ada panggilan masuk...” Harin pun mulai membalikkan badannya dan sedikit bangkit untuk melihat ke layar ponsel itu, sementara Jaekyung masih sibuk menciumi punggungnya dari belakang. “Hmmh... Tidak usah dihiraukan, Sayang... Cium dulu...” ujar Jaekyung manja. Namun, tatkala melihat nama yang tertera di layar ponsel itu... ...jantung Harin mendadak berhenti berdegup. Itu adalah sebuah panggilan telepon... ...dari seorang gadis yang Harin kenal. ****** Keesokan paginya, Harin bersikap biasa saja. Gadis itu mengantar Jaekyung ke pintu depan apartemennya. Dia menatap punggung Jaekyung yang tegap serta bahunya yang lebar. Jaekyung telah memakai pakaian lengkapnya kembali; body fit t-shirt-nya, leather jacket-nya, dan celana jeans-nya. Jaekyung menghela napas dan membalikkan badan; dia tampak cemberut. “Sayang, kan aku sudah bilang kalau kita pergi ke kampusnya bersama-sama.” “Aku tak ingat pernah mengiyakannya,” jawab Harin dengan ekspresi datar. Jaekyung ngambek. Harin adalah satu-satunya makhluk yang tak bisa ia rayu. “Rin, ayolah. Aku tidak terbiasa ke kampus tanpamu. Dengan siapa kau akan berangkat kalau tidak denganku, Sayang?” Jaekyung heran bukan main. Yang benar saja? Bukankah dia dan Harin semalam baru saja memadu kasih? Bukankah seharusnya pagi ini mereka masih berada dalam fase berbunga-bunga seperti sedang bulan madu? Kok Harin malah minta pergi ke kampus sendirian, sih? “Sudah kubilang, aku mau ke toko buku dahulu,” jawab Harin. Jaekyung mendengkus. “Kan bisa pergi bersamaku. Aku akan mengantarmu ke sana dan menemanimu.” “Aku mau pergi dengan temanku, Jaekyung…” Harin menghela napas. “Sudah, pulanglah. Mandi dan ganti bajumu di rumah, lalu pergilah ke kampus lebih dahulu, tanpaku.” Ada rasa sakit yang mendadak timbul di d**a Harin tatkala mengatakan itu. Namun, Harin mengembuskan napasnya. Dia mencoba untuk menelan rasa sakit itu terlebih dahulu. “Sayang…” panggil Jaekyung. “Teman-temanmu sudah tahu bahwa aku selalu mengikutimu. Mereka takkan heran melihatku ikut ke sana.” “Kami akan naik mobil Areum, Jaekyung,” jawab Harin. “Sudah. Pulanglah. Aku tidak apa-apa.” “Kau memang tidak apa-apa tanpaku, Rin,” ujar Jaekyung. Tiba-tiba, matanya menatap Harin dengan serius. Sangat dalam, sangat fokus, dan sangat tajam. “…tetapi aku tak bisa tanpamu.” Mata Harin membeliak. Jantungnya hampir berhenti berdegup. Apa…maksudnya? Namun, karena tak ingin berlama-lama, karena tak ingin terpengaruh dengan apa pun yang Jaekyung katakan—yang mungkin hanyalah tipuan—Harin pun meneguk ludahnya dan berpura-pura tidak mendengar semua itu. “Kita akan bertemu lagi di kampus nanti, Jaekyung,” ujar Harin. Gadis itu mulai…merekahkan senyumnya. Dia tersenyum pada Jaekyung. Senyuman tipis…yang terlihat sedikit lemah. Sedikit lelah. Namun, dia menatap Jaekyung dengan lembut. Hal itu sukses membuat Jaekyung luluh. Jadi, meskipun berat; meskipun tidak setuju… …Jaekyung pun akhirnya menghela napas. “Baiklah, Rin,” ucapnya lirih. “Aku akan meneleponmu, ya, Sayang?” Harin mengangguk. Gadis itu masih tersenyum. “Hmm.” Jaekyung pun ikut tersenyum lembut. Pemuda itu meraih Harin ke dalam pelukannya, lalu mencium bibir Harin. Ciuman itu berlangsung cukup lama; dia melumat dan menggigit bibir Harin dengan sensual. Tautan bibir itu seolah-olah enggan dia lepaskan; dia sampai memegang rahang Harin untuk memperdalam ciumannya. Harin sampai refleks memegang d**a bidangnya karena kewalahan. Itu terlalu panas untuk sebuah morning goodbye kiss. Saat tautan bibir mereka akhirnya terlepas—dan menimbulkan bunyi yang sangat erotis—Jaekyung pun menempelkan keningnya ke kening Harin seraya tersenyum miring. “See you later, My Queen.” Setelah pelukan itu terlepas, Jaekyung pun berbalik dan membuka pintu apartemen Harin. Harin mengikuti Jaekyung hingga ke pagar lantai dua (tempat unitnya berada) dan memperhatikan bagaimana Jaekyung menuruni tangga hingga akhirnya pemuda itu sampai di bawah, melewati halaman, dan keluar melalui pagar apartemen. Mobil Jaekyung berbunyi saat pemuda itu menekan sebuah tombol di key fob-nya. Namun, sebelum Jaekyung menaiki mobilnya—yakni saat dia baru saja membuka pintu mobil itu—dia sempat mendongak dan menatap Harin yang ada di lantai dua. Mereka bertatapan…dan Jaekyung tersenyum miring pada Harin. Jaekyung melambaikan tangannya sejenak dan Harin mengangguk. Setelah melihat Harin balas tersenyum padanya, Jaekyung pun akhirnya masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu pun berjalan...meninggalkan area apartemen Harin. Saat keberadaan Jaekyung sudah tak lagi ada di dekatnya, Harin pun berbalik. Dia masuk ke unit apartemennya dan menutup pintu. Akan tetapi, begitu dia berdiri di balik pintu itu, …tubuhnya tiba-tiba merosot. Dia tiba-tiba jatuh…terduduk di lantai. Punggungnya bersandar pada pintu itu, lalu kedua lututnya terangkat. Sebelah tangannya langsung mencengkeram dadanya sendiri, sementara sebelah tangannya lagi langsung mengusap rambutnya frustrasi. Dia pun… …menangis. Dadanya sesak sekali. Sakit. Rasanya sangat sakit. Napasnya terputus-putus. Air matanya mengalir begitu saja. Ia menangis tanpa suara. Pada kenyataannya, ia sama sekali tak lupa dengan apa yang telah terjadi semalam. Ia tak pernah melupakan…semua luka yang telah ia pendam selama ini di balik sikap tenangnya. Ia tak mau pergi bersama Jaekyung pagi ini, jadi ia harus membuat sebuah alasan. Kalau bersama Jaekyung, ia harus berpura-pura baik-baik saja. Ia harus menahan dirinya agar tidak meledak. Ia tak ingin Jaekyung melihat kelemahannya. Ia tak ingin Jaekyung berpikir bahwa ia telah kalah. Maka dari itu, jika ia tetap pergi bersama Jaekyung, ia harus memasang topeng itu lebih lama lagi. Sayangnya, ia tak ingin menahan rasa sakit itu lebih lama. Ia tak ingin memendamnya lebih lama lagi. …karena tadi malam, saat ia melihat layar ponsel Jaekyung karena ada panggilan telepon, …ia melihat nama “Seulhee”. Ada sebuah pisau tajam yang serasa menikam jantungnya saat nama itu kembali terlintas di otaknya. Harin kenal siapa Seulhee. Seulhee adalah gadis tercantik di universitas mereka. Seulhee terkenal karena kecantikannya. Gadis itu juga merupakan anak dari seorang pengusaha kaya; dia dan para gadis yang ada di circle pertemanannya adalah orang-orang elite yang sangat populer di kampus. …dan Seulhee… …akhir-akhir ini dekat dengan Jaekyung. Harin sering mendengar rumor yang mengatakan bahwa Seulhee dan Jaekyung itu dekat. Mereka dikabarkan sering bersama, sering bermesraan, bahkan ada yang mengatakan bahwa Jaekyung berpacaran dengan Seulhee meskipun masih ada Harin. …dan Harin… …juga pernah melihat kedekatan mereka dengan mata kepalanya sendiri. Sekarang, semua keraguan Harin seakan terkonfirmasi. Lihat? Jaekyung tidak benar-benar mencintaiku. Dia memang hanya berbohong. Saat ini, aku hanyalah salah satu… …dari sekian banyak gadis yang dekat dengannya. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD