16. Unzip Those Jeans (4)

1151 Words
Chapter 16 : Unzip Those Jeans (4) ****** JAEKYUNG menciumi seluruh bagian wajah Harin dengan mesra. Mereka berbaring menyamping, sama-sama telanjang, tetapi sama-sama berada di dalam selimut. Mereka tidur berhadapan dan Jaekyung memeluk tubuh Harin sekaligus menciumi wajah gadis itu. Berbeda dengan Harin yang lelah bukan main, Jaekyung justru terlihat…segar. Dia agaknya malah jadi sehat sentosa setelah memadu kasih dengan Harin. Dia tersenyum, memberikan Harin tatapan teduh, lalu menciumi pipi, leher, mata, kening, serta bibir Harin dengan sangat mesra. Seprai ranjang itu sekarang benar-benar dibuka karena penuh dengan cairan bercampur keringat mereka. Seprai itu sangat basah dan menjadi bukti atas betapa brutalnya ‘kegiatan’ yang mereka lakukan malam itu, betapa panjang dan kasarnya malam itu, padahal belum sampai…benar-benar ‘masuk’. Bagaimana kalau sampai…dimasukkan? Baju Harin berserakan di lantai, begitu juga baju Jaekyung. Beberapa barang juga terjatuh dari nakas karena tadi ranjangnya berguncang hebat. Harin…benar-benar ‘disetubuhi’ habis-habisan…oleh Jaekyung. Tubuhnya merah-merah semua. Ada bekas gigitan, isapan, dan cengkeraman. Kalau boleh jujur, vaginanya juga terasa…sakit. Bukan sakit karena terluka, tetapi lebih ke… …dia masih bisa merasakan tusukan-tusukan Jaekyung di sana. Vaginanya…masih mengingat sensasi itu. Hunjamannya… …masih terasa… “Sudah mau tidur, Sayang?” Harin tersentak. Ia yang sejak tadi hanya diam karena sudah lemas—dan sedang diciumi oleh Jaekyung—pun melebarkan mata. Ia lantas menatap Jaekyung…dan mencoba untuk berbicara, meskipun suaranya sangat serak. Ah. Sadar akan suaranya yang jadi serak, pipi Harin pun memerah. Seharusnya dia langsung mengusir Jaekyung saat Jaekyung datang ke apartemennya. Seharusnya dia marah dan menampar Jaekyung saat Jaekyung menciumnya. Namun, mereka malah…berakhir seperti ini. Mereka malah berakhir telanjang…di atas ranjangnya, setelah berhubungan seksual dengan buas tanpa penetrasi. Dia juga malah mendesah hebat di sepanjang aktivitas itu. Tenggelam di dalam samudra cinta…yang Jaekyung luapkan padanya. “B—Belum, Jaekyung,” jawab Harin, mencoba untuk menjawab dengan nada biasa. Dia malu bukan main saat mengingat apa yang telah mereka lakukan barusan, terutama ketika melihat wajah tampan Jaekyung yang menatapnya dengan lembut. Dia ingat bagaimana wajah tampan itu terlihat saat empunya merasa nikmat. Dia ingat bagaimana Jaekyung memberikan ekspresi putus asa saat memohon padanya, dia ingat bagaimana kening Jaekyung berkerut saat fokus menggagahinya, dia ingat bagaimana Jaekyung membuka mulutnya dan mengerang, dia ingat bagaimana mata Jaekyung menatapnya dengan penuh gairah… Tanpa bisa dicegah, pipi Harin pun kembali merona. Jaekyung tersenyum miring, lalu menggigit hidung Harin dan berbisik, “Tidur, Cinta. Besok kita pergi ke kampus bersama, ya?” Harin menunduk. Di luar dari apa yang telah mereka lakukan malam ini, ia sebenarnya…agak ragu untuk mengiyakan ajakan itu. Jauh di dalam hatinya, dia masih…marah. Belum ada penyelesaian atas masalah mereka. Belum ada penjelasan yang konkret atas segala kebohongan Jaekyung. “Rin…” bisik Jaekyung di antara helaian rambut Harin. “Aku mencintaimu, Sayang…” Jaekyung mulai mencium daun telinga Harin, merintih halus, lalu dengan pelan…ia mendorong bahu Harin agar gadis itu berbaring telentang. Ia pun mulai menciumi Harin lagi, dari atas ke bawah. Dari kening, hidung, bibir, leher, lalu turun ke bawah…hingga ke antara p******a Harin…dan ke perut Harin. “Hmmh…” Dia merintih pelan, seolah-olah merasa sakit karena terlalu menginginkan Harin. “I love you, Sayang…” Setelah itu, dia naik ke atas lagi dan mengisap p******a Harin. Dia menyedot p****g Harin secara bergantian, sukses membuat Harin kembali tersentak. “Ah!” Jaekyung pun melepaskan p****g Harin dan mengecupnya dengan sensual, lalu tersenyum miring. Ia kemudian mendekatkan wajahnya dengan wajah Harin—menempelkan hidung mereka—dan berbisik, “Ah, aku benar-benar harus berhenti…atau kita akan melanjutkan ronde kedua.” Pipi Harin memerah. “Jaekyung!” Jaekyung tertawa kecil. Sangat lembut. “Di ronde kedua, aku tak yakin aku bisa merasa cukup hanya dengan gesekan. Aku benar-benar akan memerawanimu. Jadi, berhati-hati, ya. Jangan memancingku.” “Aku tidak pernah memancingmu!” protes Harin. Jaekyung tersenyum miring. “Kau hanya tidak sadar, Cinta.” Jaekyung mencium kening Harin, lalu kembali berbaring di samping gadis itu. Dia menarik gadis itu kembali ke pelukannya. Mereka berdua sama-sama diam selama beberapa saat. Jaekyung diam karena merasa sangat nyaman berada dalam posisi itu, tetapi akibat keheningan itu, pikiran Harin kembali melanglang buana. Dia kembali memikirkan sesuatu yang sejak tadi membuatnya bertanya-tanya, yaitu: Apa yang sebenarnya terjadi pada Jaekyung? Maka dari itu, Harin pun sedikit mengangkat wajahnya. Menatap Jaekyung…yang sedang memejamkan mata. “Jaekyung.” Kedua mata Jaekyung langsung terbuka. Dia tersenyum lembut, lalu menjawab, “Ya, Sayang?” “Apa…yang terjadi padamu hari ini?” Mata Jaekyung melebar. Pemuda itu terdiam sejenak…dan Harin bisa melihat bagaimana pertanyaan itu berhasil membuat napasnya tertahan. Ah, something indeed happened. Tiga detik kemudian, Jaekyung pun tersenyum sambil menghela napasnya. “Terasa, ya?” Harin mendengkus. Bagaimana mungkin Jaekyung ‘tidak terasa’ berbeda? Dia jelas-jelas menusuk Harin habis-habisan tadi! Harin menatap Jaekyung dengan tajam. “Sesuatu pasti telah terjadi padamu.” “Hm,” deham Jaekyung seraya mencium hidung Harin. Harin mengernyitkan dahi saat tubuhnya kembali dipeluk oleh Jaekyung. Setelah itu, pemuda itu pun membuka suara. “Tadi, ketika aku ikut balapan, Yoonjae membuat sebuah taruhan.” Harin kontan menyatukan alis. Taruhan? Yoonjae? Sebentar. Apakah itu…Kak Yoonjae? Senior di kampus serta senior di klub balap mobil itu, ‘kan? Kak Lee Yoonjae yang itu? Taruhan apa? Meskipun berbagai pertanyaan berputar di kepalanya, Harin tetap berusaha untuk tenang. “Taruhan?” “Hmm.” Jaekyung mengangguk. “Dia bilang…kalau dia menang, aku harus memberikanmu padanya.” Mata Harin spontan membulat. Apa? Apa-apaan yang sedang terjadi? Kak Yoonjae yang itu? Mengatakan itu kepada Jaekyung? Apakah ini serius? Mengapa aku tiba-tiba dijadikan sebagai taruhan?! “Apa?” tanya Harin, gadis itu masih mencoba untuk memastikan apa yang baru saja ia dengar. Dia mendongak; dia ingin menatap mata Jaekyung secara langsung. Alisnya menyatu. Jaekyung pun mengangguk. Pemuda itu menempelkan kening mereka berdua. “Aku tak menyangka kalau dia menaruh hati padamu. Aku langsung menghabisinya di tempat. Katakan padaku bahwa kau masih bersamaku, Sayang.” Harin menganga. Gadis itu menggeleng tak habis pikir. “Jaekyung, ap—” Jaekyung semakin menarik kepala Harin; kini, hidung mereka pun menempel. Pemuda itu menatap Harin dengan sangat intens. Fokus. Dia memenjarakan Harin hanya dengan tatapannya. “Jangan tinggalkan aku, hm?” Tubuh Harin mematung. Suara Jaekyung terdengar tegas, tetapi ada…sebuah getaran di baliknya. Sebuah… …permohonan… Dia memohon agar Harin tak meninggalkannya, tetapi…mengapa dia… …selalu berbohong? Mengapa dia selalu…membuat Harin bingung dan frustrasi akhir-akhir ini? Harin tak mengerti. Meski sudah bersama Jaekyung selama bertahun-tahun…tiap kali Harin merasa bahwa dia sudah lebih mengerti tentang Jaekyung, pasti akan ada lagi hal baru yang belum dia ketahui. Jaekyung…benar-benar sulit dimengerti. Dia tak bisa dipelajari. Dia seperti puzzle yang sangat sulit untuk diselesaikan. Seperti misteri berlapis…yang sangat sulit untuk dipecahkan. Dia sangat membingungkan. Namun, Harin jadi paham sesuatu. Dia jadi paham mengapa Jaekyung mengucapkan “Jangan tinggalkan aku,” dan “Aku akan mengikutimu sampai aku mati,” ketika mereka berhubungan tadi. Oh. Andaikan Harin juga sadar bahwa: Itulah sebabnya Jaekyung bercinta seperti seekor binatang buas yang sedang putus asa. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD