Chapter 15 :
Unzip Those Jeans (3)
******
JAEKYUNG meneguk ludahnya dengan kasar; jakunnya naik turun. Lima tahun lamanya mereka bersama, baru kali ini dia benar-benar melihat bagian terprivat Harin. Dia sampai bisa melihat a**s Harin karena kaki gadis itu terangkat terlalu tinggi. Agaknya, akal sehatnya takkan kembali lagi setelah ini. Rangsangan ini sungguh luar biasa. Jika ini adalah malam terakhirnya hidup di dunia, ia akan tetap bahagia. Namun, setelah mati nanti, ia akan tetap mampir ke apartemen Harin setiap hari untuk menghantui gadis itu dan menggagahinya setiap malam.
Harin spontan menutup area privatnya itu dengan kedua tangannya. Pipi Harin merona luar biasa, warna merahnya sampai ke telinga.
“J—Jaekyung…kumohon…sudah…” pintanya. “Jangan dilihat…”
Ah. Sial. Lagi-lagi, permintaan itu justru berefek sebaliknya pada Jaekyung. Pemuda itu kontan menggertakkan giginya.
Tanpa aba-aba, dia pun langsung menarik celana dalam Harin (membuangnya ke lantai) dan mencengkeram kedua tangan Harin dengan satu tangannya. Dia lalu membawa kedua tangan Harin ke samping dan menahan pergelangan tangan itu dengan sangat kencang hingga Harin tak bisa melepaskan diri sama sekali. “Ah! Jae—”
Kata-kata Harin terputus ketika tiba-tiba saja, Jaekyung mengisap vaginanya.
“AAHHH!!!” Harin berteriak; ia bisa merasakan bagaimana lidah Jaekyung menyapu vaginanya. Mulai dari bagian bawah bibir vaginanya, ke area tengah…lalu ke dekat klitorisnya. Pemuda itu benar-benar menjilat dan membersihkan seluruh cairan Harin yang sudah bercampur dengan precum-nya sendiri. Dia menjilat dan menelan semuanya.
Agar v****a Harin tetap terbuka, Jaekyung tetap menahan kaki kanan Harin dengan sebelah tangannya yang bebas. Dia merangsang bibir v****a dan liang senggama Harin dengan lidah dan bibirnya; dia juga berdeham sesekali untuk menghasilkan getaran. Hal itu sukses membuat tubuh Harin menggeliat. Gadis itu terus mendesah—dia hampir menangis—tetapi tatkala Jaekyung tiba-tiba mengisap klitorisnya, dia lantas terkesiap. Punggungnya kontan melengkung, matanya membulat, mulutnya menganga, dan sekujur tubuhnya bergetar hebat. Itu terasa seperti sengatan yang benar-benar dahsyat.
“AAAHHH!!!! Ahhh!! J—Jaekyung—ahh—i—itu—aahngghhh!! AH!” Air mata mulai mengalir ke pipinya, ia benar-benar tak tahan dengan seluruh kenikmatan itu. “J—Jaekyung—tolong—tolong berhenti—aku—ahhh!! Aku—”
Kedua kaki Harin menegang. Her toes curls; dia menarik tangannya sendiri dari cengkeraman Jaekyung karena tak tahan…dan Jaekyung mengizinkannya. Pergelangan tangannya memerah, tetapi ia tak merasa sakit sama sekali. Soalnya, kenikmatan yang tengah ia rasakan itu telah mengalahkan semuanya. Setelah terbebas, kedua tangannya pun langsung mencengkeram rambut Jaekyung yang masih mengisap vaginanya dengan penuh gairah. Rambut Jaekyung berantakan dibuatnya, tetapi hal itu justru membuat Jaekyung semakin bersemangat.
“Jae—kyung…su—sudah—AHHHH!!” Dia berteriak saat Jaekyung menggigit klitorisnya. Dia hampir klimaks karena gigitan itu; sesuatu di dalam dirinya terasa mau meledak, tetapi dia takut. Dia tak ingin Jaekyung terkena cairannya. Dia terengah-engah, suaranya hampir habis, tetapi biarpun begitu, ia tetap berusaha untuk berbicara, “Jaekyung—hnggh!! Su—sudah, ya…? Anghhh—itu—itu sudah bersih…Jaekyung…”
Oh, damn. Jaekyung tahu itu. Sejak awal, tujuan pemuda itu tidak hanya untuk membersihkan, melainkan membersihkan…dengan ‘bonus’.
Jaekyung sudah tak tahan lagi. Kejantanannya sudah sakit. Melihat Harin yang benar-benar telanjang di bawahnya, berbaring telentang sambil mengangkang untuknya, tubuh yang bergetar dan pipi yang memerah, p******a yang bergoyang seirama dengan napas Harin yang terengah-engah…
Gila. Jaekyung sudah gila.
Harin bisa mengambil nyawanya saat ini juga.
Mengetatkan rahang, Jaekyung pun langsung memosisikan dirinya di tengah-tengah kedua kaki Harin. Dia menindih tubuh Harin, mengungkung tubuh Harin dari atas. Tubuhnya yang besar dan berotot itu benar-benar sukses menutupi tubuh Harin sepenuhnya. Setelah itu, dia pun mencium bibir Harin bagaikan tak ada hari esok. Mereka berciuman panas selama semenit…tetapi selama semenit itu, Harin beberapa kali terkejut di dalam ciuman itu karena Jaekyung mulai menggesekkan kejantanannya ke v****a Harin. Pemuda itu menggesekkan penisnya…lalu bergoyang memutar. Memijat k******s Harin. Membuat Harin kehilangan akal sehatnya.
“Hmmp—” Desahan itu tertahan di mulut Harin karena Jaekyung memperdalam ciuman mereka. Tangan Jaekyung juga tak pernah diam; tangan besarnya yang dipenuhi dengan urat itu sibuk meremas p******a Harin. Tatkala dia tiba-tiba mencubit p****g Harin, gadis itu refleks melepaskan ciuman mereka dan berteriak.
Di sisi lain, begitu ciuman itu terlepas, Jaekyung langsung mencumbu leher Harin dan berbisik dengan penuh permohonan. “Peluk aku, Sayang… Peluk aku.”
Secara refleks, karena merasa bahwa tusukan Jaekyung di bawah sana mulai semakin kencang, Harin pun memeluk leher Jaekyung.
Namun, ternyata, itu adalah penanda dimulainya aktivitas brutal itu kembali. Karena begitu Harin memeluk lehernya, Jaekyung langsung menggesekkan kejantanannya ke v****a Harin dengan brutal. Membelah vaginanya dan menumbuk klitorisnya habis habisan. Sebelah tangannya mengangkat kaki kanan Harin ke atas—urat-urat di lengan bertatonya itu sampai menonjol saking kuatnya ia mencengkeram paha Harin—sementara sebelah tangannya lagi tengah memegang bagian belakang kepala Harin. Dia menggigit leher Harin hingga leher gadis itu penuh dengan bercak merah. Dia mengeluarkan seluruh hasratnya saat itu. Melampiaskan seluruh rasa cintanya. Rasa inginnya. Rasa rindunya. Obsesinya. Kegilaannya.
Semuanya.
Ah, dia benar-benar dimabuk asmara. Mabuk berahi. Kasmaran.
Dia berkali mencium-cium wajah Harin, menjilat dan menggigit telinga Harin, dan berakhir saling pandang dengan Harin saat kedua alat kelamin mereka saling bergesekan satu sama lain. Harin terus mendesah, memanggil nama Jaekyung dengan nada memohon, berteriak, dan Jaekyung membalasnya dengan ciuman mesra. Hidung mereka bersentuhan saat Harin memejamkan matanya kuat-kuat akibat kewalahan menerima rangsangan hebat dari Jaekyung, sementara Jaekyung menatapnya dengan penuh gairah. Penuh hasrat yang membara. Penuh cinta.
He worships her. Obsessed with her.
Mereka berciuman kembali. Ketika ciuman itu terlepas, gerakan Jaekyung semakin tak terkendali. Desahan Harin juga semakin tak terkontrol; tubuhnya membutuhkan Jaekyung. Dia membutuhkan pelepasan.
“Aargh…” erang Jaekyung di ceruk leher Harin. Gerakan dan goyangannya sungguh tidak waras. Ranjang itu berdecit, seprainya sangat berantakan, headboard-nya menghantam dinding seolah-olah ada gempa dahsyat yang sedang terjadi. “Oh, My Love. My Queen…”
Harin terengah-engah, desahannya terputus-putus; suaranya tak bisa keluar dengan benar karena tubuhnya sedang berguncang dahsyat. Tubuhnya terentak-entak ke atas akibat dorongan keras Jaekyung. “Jaekyung, aku—ahh! Aku—aku sepertinya—m—mau—"
“Aah…Sayang—” Jaekyung menggertakkan giginya. Dia juga merasakan hal yang sama. “Sayang… Sayang…”
“Aaanghh!! Jaekyung… Jaekyung…!” Harin menggeleng kencang; dia tanpa sadar melakukan banyak hal karena overstimulation. Dia memeluk leher Jaekyung dengan semakin erat, meremas rambut pemuda itu, dan mencakar punggungnya. “Aanghh!! Ohhh!! J—Jae—”
Jaekyung mengerang hebat tatkala menyadari bahwa Harin melakukan banyak hal padanya dalam keintiman mereka ini. Harin menyentuhnya. Harin berpegangan dengannya. Harin meneriakkan namanya. Harin mencakar punggungnya, meremas rambutnya, dan memeluk lehernya dengan putus asa. Tak ada lagi jarak di antara mereka; kulit ke kulit, kelamin bertemu kelamin… Mereka tak pernah sedekat ini selama lima tahun mereka berpacaran. Mimpi-mimpi liarnya malam ini menjadi kenyataan, meskipun dia belum sampai memasukkan penisnya ke dalam v****a Harin. “Argh, Sayaang… My Rin… Boleh kukeluarkan di perut, Sayang?”
Harin tak merespons apa-apa karena akal sehatnya sudah melayang entah ke mana. Ia hanya mendesah; ada air mata yang muncul di sudut matanya. Air mata karena merasa terlalu nikmat.
Jaekyung menggeram. Gerakannya yang sudah sangat cepat itu kini semakin tak masuk akal karena dia tengah mengejar klimaksnya. “Aaargh—Sayang—Sayaaang—kukeluarkan di perut, ya? Hm? Ya, Sayang? Aargh—”
“Ah! Ha—angh!! Ahhh!! Jaekyung! Jaekyung…! Aku—aku—OHHH!!!”
Harin klimaks lebih dulu, tetapi segera setelah itu, Jaekyung menggeram dan langsung mengangkat kejantanannya untuk diletakkan di atas pusar Harin.
Dia pun o*****e di sana. Menyemburkan spermanya di perut Harin.
Harin bisa merasakan hangatnya cairan Jaekyung. Jaekyung mengerang hebat ketika mengeluarkan cairan itu; dia merasa seperti berada di atas awang-awang. Dia merasakan puncak kenikmatan; isi kepalanya seakan memutih semua.
…dan cairan itu…
…sangat banyak.
Banyak sekali…hingga mengalir ke kasur karena terlalu penuh di perut Harin. Harin menyaksikan semua itu sambil masih terengah-engah, masih high, dan masih lemah. Matanya masih sayu, pipinya masih merah…tetapi ia bisa melihat bagaimana kejantanan Jaekyung menyemburkan cairan itu berkali-kali di perutnya.
Jaekyung langsung mencium bibir Harin begitu ia selesai o*****e. Ciuman itu panas, tetapi sangat mesra. He just can’t get enough of her.
Namun, jauh di dalam benaknya, Harin memikirkan satu hal. Satu hal yang sukses membuat jantungnya hampir berhenti berdegup dan pipinya kembali memanas hingga ke telinga.
Jika tadi mereka melakukan s*x yang sebenarnya, dengan penetrasi,
…dan s****a Jaekyung keluar sebanyak itu di dalam vaginanya,
…dia…mungkin akan…
…hamil. []