14. Unzip Those Jeans (2)

1148 Words
Chapter 14 : Unzip Those Jeans (2) ****** JAEKYUNG melepaskan kedua tangan Harin, membuat Harin berada dalam posisi merangkak—on fours—dan dari wajah lemasnya itu, agaknya Harin belum benar-benar bisa mencerna apa yang terjadi. Setelah itu, secara tiba-tiba… …Jaekyung melepaskan celana dalam Harin. Mendorongnya ke bawah…hingga hampir ke area lututnya. Harin sempat berteriak, “Ah!! Jaekyung—mengapa—" Sekarang, b****g Harin benar-benar terpampang jelas di depan mata Jaekyung. …dan pemuda itu terpaku. Dia memandangi b****g Harin dari belakang dengan mata yang melebar. Mulutnya terbuka. Cantik… Cantik sekali. Bentuknya bulat, indah, dan terlihat…lembut. Jaekyung meneguk ludahnya, lalu mengetatkan rahang. Matanya memancarkan gairah yang sudah terbakar. Kejantanannya berdenyut. Dia bisa melihat belahan v****a Harin dari belakang. “Sial, Sayang!” erang Jaekyung. Pemuda itu langsung memosisikan dirinya kembali di belakang b****g Harin dan menyelipkan kejantanannya di antara kedua paha Harin. Dia memastikan penisnya mengenai b****g Harin yang bergoyang dan juga masuk di antara belahan v****a Harin…agar bisa menghantam klitorisnya. “AHHH!!!!” teriak Harin ketika Jaekyung menumbuk klitorisnya dengan sangat kuat dan cepat, seperti seekor binatang buas. Lengan Harin mendadak melemah dan kembali terlipat karena tak sanggup menahan guncangan itu. Dia mencengkeram bantal, merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga tubuhnya berkali-kali serasa tersengat listrik, berkali-kali tersentak. Jaekyung sangat tahu titik-titik terlemahnya dan pemuda itu terus-menerus menyerang di area itu. “Ooh…kau nikmat, Sayang… Nikmat sekali. Kau begitu nikmat…” puji Jaekyung dengan penuh damba. Dia mengucapkan pujian itu dengan suara seraknya yang seksi. “Ah…aku sangat ingin bercinta denganmu.” Oh, God. It feels so good. “I love you, Sayang… I’m so in love with you,” ungkap Jaekyung dengan putus asa. Dia mengucapkan itu seraya masih menusuk paha Harin. “So…in love…with you…” Jaekyung mengerang, dahinya berkerut. Pernyataan cinta itu mengalir bagaikan mantra. Keringat muncul di dahinya, di lehernya, di dadanya, dan di perutnya. Oh, melakukan ini dengan Harin adalah olahraga ternikmat. “Sayang… Ratuku…” “J—Jaekyung—ahh!! Jaekyung…!” “Hmm?” tanya Jaekyung dengan mesra. “Iya, Sayang…?” Harin mendesah kencang, tetapi pipinya kembali merona. Bisa-bisanya Jaekyung berbicara dengan manja saat sedang menghunjamnya seperti ini!! “Jae—kyung—ah!!—Jae—” Suara Harin terputus-putus. “T—Tadi—oh!! Haangh!! K—Kau bilang—tidak perlu—hnggh!! Tidak perlu melepas celana da—" Jaekyung tersenyum, lalu mencium punggung Harin. Kecupannya begitu sensual. “Maafkan aku, Sayang... Aku takkan benar-benar menyetubuhimu, tetapi biarkan aku merasakanmu. Aku sangat menginginkanmu…” “Ahhh!! J—Jangan di—” Sebelah tangan Harin refleks meraih tangan Jaekyung yang sedang mencengkeram pinggulnya. “Jangan dimasukkan—ya…? Angh!!” Jaekyung menggeram. Tiap kali Harin berkata seperti itu—seolah-olah memohon padanya—hal itu justru memancingnya untuk semakin liar. Memancingnya untuk benar-benar mendorong kejantanannya masuk ke liang Harin yang sempit itu. “Sayang, sudah kubilang jangan memancingku.” Tiba-tiba saja, Jaekyung meraih tubuh Harin. Pemuda itu mengangkat tubuh Harin hingga gadis itu berada dalam posisi yang sama sepertinya (punggung tegak, berlutut), lalu dia memeluk gadis itu dari belakang. Harin lagi-lagi cukup lambat dalam memproses apa yang sedang terjadi. Dia merasa tangan kanan Jaekyung tiba-tiba melingkari tubuhnya dari belakang dan menangkup p******a sebelah kirinya. Meremas p******a itu dengan kencang hingga ia berteriak. Sementara itu, tangan kiri Jaekyung memeluk pinggangnya. Tubuhnya benar-benar dikunci. Dipenjara. Jaekyung pun kembali menghunjam sela-sela pahanya dengan keras. Rough. Cairan dari kelamin mereka membuat penyatuan itu menimbulkan bunyi yang sangat kotor. c***l. Kalau kau bertanya soal kewarasan Jaekyung, itu tidak akan ada bila ia sedang bersama Harin. “Ohh!! Jaekyung—Jaekyung!! Aaaangh!! Ah, ah!!! Nghh!!!” desahan dan teriakan Harin bercampur jadi satu. Harin sudah tak bisa mengontrol suaranya lagi; ia bahkan sudah tak bisa memikirkan soal ‘apa yang akan tetangganya pikirkan kalau mereka mendengar semua ini?’ Pikirannya kosong. Kosong melompong. Dia terus merengek, menangis, mendesah, berteriak, dan hanya bisa bersandar di d**a bidang Jaekyung seraya mendongak. Dia aslinya sedang marah pada Jaekyung, tetapi…dia tak bisa lari dari kenikmatan luar biasa yang pemuda itu berikan padanya malam ini. Jaekyung terus menghunjamnya, meremas payudaranya…sambil menggigit lehernya dengan kuat. Sejak tadi…Jaekyung memang agak aneh… Apa…yang sebenarnya terjadi pada Jaekyung? “Jaekyung—anghh!!! Se—sebentar—a—aku—” Harin menunduk, dia mencengkeram kedua tangan Jaekyung yang sedang mengunci tubuhnya. Dia pun menganga. “O—Oh!! Anghhh!” Saat tiba-tiba Jaekyung menarik putingnya, Harin spontan berteriak kencang. “AHHH!!!” Jaekyung melepaskan gigitannya pada leher Harin, lalu menarik wajah Harin agar menoleh kepadanya. Setelah itu, dia langsung mencium bibir Harin dengan penuh gairah. Dia melumat dan menggigit bibir Harin, memasukkan lidahnya ke dalam mulut Harin, dan melilit lidah Harin bersamanya. Ciuman itu sangat panas, sangat liar, dan sangat cepat. Saat ciuman itu terlepas, Jaekyung langsung mengerang. “Argh…Sayaang... Jangan pernah tinggalkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku akan mengikutimu ke mana pun kau pergi, hm?” Harin hanya terus mendesah; telinganya mendengar ucapan Jaekyung, tetapi otaknya belum sampai ke sana untuk bisa merespons. Jaekyung menggigit telinganya sejenak, lalu menggeram dan melanjutkan, “Aku akan mengikutimu sampai aku mati. Kau dengar aku?” Jaekyung mendongak, merasakan betapa nikmatnya melakukan itu bersama Harin. Dia berfantasi bagaimana jika penisnya benar-benar masuk ke liang senggama Harin. “Oh…Sayang…ssh… Boleh aku menjilat vaginamu?” Mata Harin membulat. Ia spontan menoleh dengan mata sayunya itu. “E…h?” Jaekyung menciumi leher Harin dengan sangat lembut, sangat sensual. Bunyi kecupannya terdengar begitu erotis. Oh, momen ini terasa semanis madu. Memabukkan. Membuat Jaekyung tergila-gila. “Boleh, Sayang? Aku akan membersihkan seluruh cairanmu…” Wajah Harin memerah bak kepiting rebus. Itu—itu maksudnya— Belum sempat Harin merespons kalimat Jaekyung, tiba-tiba saja Jaekyung mencabut penisnya dari antara paha Harin. Dia langsung membalikkan tubuh Harin dan mengempaskan Harin ke ranjang. Harin terperanjat; dia membulatkan mata tatkala punggungnya kembali menghantam permukaan ranjang. Harin menggeleng. “Se—sebentar—Jaekyung—apa yang—” Jaekyung tidak menghiraukan ucapan Harin sama sekali. Dalam waktu sepersekian detik, ia langsung mengangkat kedua kaki Harin ke atas; dia mendorong bagian belakang paha Harin hingga kedua kaki gadis itu naik ke atas dan mengangkanginya. Harin bisa melihat bagaimana lututnya hampir sejajar dengan dadanya sendiri saking jauhnya Jaekyung mendorong kakinya. Jaekyung ingin melihat semuanya. Seketika, Harin merasa seratus persen terbuka di depan Jaekyung. Tatapan mata Jaekyung langsung tertuju ke tengah-tengah. Ke v****a Harin yang terbuka sempurna. Bagian dalam v****a Harin tampak begitu merah dan dipenuhi cairan kental akibat aktivitas mereka sejak tadi; bibir vaginanya betul-betul terbuka lebar. Klitorisnya yang membengkak itu seolah-olah tak mampu lagi bersembunyi. Setelah itu…bagian liang senggamanya yang ketat itu… Oh, f**k. Jaekyung bisa melihat semuanya. Semuanya. Pemuda itu tak berkedip. Ia menatap v****a Harin dengan penuh damba, penuh nafsu, penuh obsesi. Itu terlihat begitu menggugah selera. She is so beautiful. Everything about her is so beautiful. So delicious. So f*****g sexy. So tempting. So juicy. So…damn perfect. []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD