8. Elysian (1)

1235 Words
Chapter 8 : Elysian (1) ****** 5 TAHUN YANG LALU “LANGSUNG ke UKS saja, ya, Harin. Ruangannya tidak Ibu kunci,” ujar Bu Mari saat Harin bertemu dengannya di koridor beberapa saat yang lalu. Berhubung kepala Harin sakit saat itu, mungkin karena bergadang semalam, Harin berencana untuk meminta obat dan beristirahat di UKS. Namun, tahu-tahu ia berpapasan dengan Bu Mari, guru yang biasa menjaga UKS, di koridor. Tentu saja, Harin langsung menegurnya dan berkata bahwa ia ingin pergi ke UKS. “Memangnya tidak apa-apa, Bu, kalau saya langsung ke sana?” tanya Harin, dahi gadis itu agak berkerut. Ia agak segan sebab di UKS biasanya agak sepi. “Tidak apa-apa, Harin, pergilah ke sana. Langsung ambil saja obatnya dan beristirahatlah. Kau tahu yang mana obatnya, ‘kan?” tanya Bu Mari seraya tersenyum. Ah, ya. Seminggu yang lalu, Harin pergi ke UKS dengan masalah yang sama. Akhir-akhir ini, dia sering bergadang karena para guru di kelasnya agaknya sedang kompak mengadakan ulangan harian. Meski Harin anak yang pintar, dia tidak belajar setiap hari. Namun, kalau sudah ujian…dia bisa belajar hingga lupa waktu. Ia tak bisa belajar setiap hari karena kegiatannya di sekolah sudah cukup melelahkan. Ia adalah Ketua OSIS di sekolahnya, ia juga merupakan seorang Ketua Kelas. Oleh karena itu, dia tidak bisa belajar setiap hari. Namun, guess what? Dia tetap menjadi siswi top di sekolah itu. Dia sering ikut Olimpiade Matematika, dia juga selalu juara satu di kelasnya. Singkat kata, dia adalah siswi yang sangat berprestasi di bidang akademik. Harin pun mengangguk. “Baik, Bu. Saya istirahat di sana, ya, Bu. Sudah diizinkan oleh guru di kelas saya.” Bu Mari lalu tersenyum dan mengangguk. “Oke. Titip UKS, ya. Ibu mau ke Ruang Kepala Sekolah dulu. Ibu dipanggil ke sana.” “Baik, Bu,” jawab Harin, lalu gadis itu menunduk dengan sopan. Bu Mari pun menepuk pundak Harin sejenak, lalu pergi meninggalkan Harin. Ia mulai berjalan ke Ruang Kepala Sekolah. Harin pun kembali berjalan. Lurus terus…hingga akhirnya ia sampai di depan Ruang UKS. Ia lantas membuka pintu Ruang UKS itu, lalu masuk ke sana setelah menutup pintunya kembali. Ruang UKS itu…ternyata memang sedang sepi. Tidak ada seorang pun di sana. Harin bernapas lega. Syukurlah. Ia lebih senang jika tempat istirahatnya hening. Ia tak harus khawatir ini itu; ia tak harus takut membangunkan seseorang ataupun takut orang lain akan mengganggu waktu istirahatnya. Dia benar-benar harus minum obat sakit kepala dan tidur. Harin mulai membuka lemari obat-obatan di UKS itu dan mencari obat sakit kepala yang waktu itu pernah Bu Mari berikan padanya. Lemari yang menyimpan obat sakit kepala itu tergantung cukup tinggi di dinding, jadi Harin mesti mendongak dan berjinjit untuk mencari obatnya. Tiba-tiba saja, pintu Ruang UKS itu terbuka. Terbukanya tidak santai; Harin yakin barusan pintu itu dibuka dan didorong dengan cepat hingga menimbulkan bunyi yang keras. Harin kontan menoleh ke pintu itu. Di sana, Harin melihat seorang pemuda. Wajah pemuda itu tampak lebam di daerah bibir dan tulang pipinya. Ada darah di sudut bibir pemuda itu. Pemuda itu berdiri di ambang pintu seraya memperhatikan Harin dengan bola matanya yang kelam. Ah. Bukankah itu… …Kwon Jaekyung? Selaku Ketua OSIS, Harin kenal pemuda itu. Dia adalah anak dari pemilik sekolah swasta ini. Dia itu berandal, tetapi karena parasnya yang tampan, dia sangat populer di sekolah. Dia juga tak pernah mendapat masalah apa pun; dia tak pernah dihukum walau dia berandal. Bagaimana mungkin orang-orang berani menghukumnya saat dia adalah anak dari pemilik sekolah ini? Harin—yang merupakan Ketua OSIS—pun sebenarnya tahu bahwa Kwon Jaekyung seharusnya menjadi anak yang bermasalah di sekolah, tetapi karena Harin orangnya tidak berapi-api, Harin pun membiarkannya. Sama seperti Kepala Sekolah dan para guru, OSIS pun tak ingin berurusan dengan Kwon Jaekyung. Lebih kepada…yah…dibiarkan saja. Kwon Jaekyung akan tetap mendapatkan masa depan yang cerah meskipun dia berandal di masa SMA-nya. Kwon Jaekyung tidak pernah mem-bully orang lain. Pemuda itu juga tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan ayahnya terhadap sekolah itu. Kata ‘berandal’ yang dimaksudkan untuk Kwon Jaekyung itu lebih kepada…dia sering bertengkar. Dia akan menghabisi setiap orang yang mengganggunya. Dia juga hobi balap motor liar. Jadi, sebetulnya tak ada alasan bagi warga sekolah ini untuk benar-benar membencinya. Harin bukan orang yang berkoar-koar mau menuntut keadilan atau apa pun itu; dia juga tak ada dendam pada Kwon Jaekyung, jadi dia diam saja. Bisa dibilang, dia tak begitu memedulikan keberadaan Kwon Jaekyung, apalagi Kwon Jaekyung juga tak sekelas dengannya. Well, meskipun Harin menjabat sebagai Ketua OSIS, dia memilih untuk menjalaninya dengan normal saja. Dia enggan mencari masalah yang tidak perlu. Dia hanya ingin lulus dari sana dengan prestasi terbaik, lalu kuliah di jurusan yang dia inginkan. Simpel. Saat menyadari bahwa ternyata waktu istirahatnya takkan setenang yang ia duga, Harin pun menghela napas pelan dan memalingkan wajahnya. Kembali mencari obat sakit kepala di lemari itu. Harin mendengar Jaekyung melangkah masuk. “Bu Mari ke mana?” Ah. Agaknya, ini adalah pertama kalinya Harin mendengar suara Kwon Jaekyung. Tanpa menoleh, Harin pun menjawab, “Beliau sedang pergi ke Ruang Kepala Sekolah.” Tidak ada jawaban dari Jaekyung. Bertepatan dengan itu, Harin akhirnya menemukan obat yang dia cari. Gadis itu langsung mengambil satu tablet dan menutup pintu lemari gantung itu kembali. Sebetulnya, ini adalah pertama kalinya Harin berada sedekat ini dengan Kwon Jaekyung. Mereka selama ini seperti orang asing, padahal masih satu angkatan. Akan tetapi, kembali lagi ke kenyataan bahwa: Harin bukan orang yang terlalu memedulikan hal itu. Dia adalah gadis yang tenang. Composed. Oleh karena itu, meskipun dari sudut matanya Harin bisa melihat Jaekyung yang sudah menggeret salah satu kursi di ruangan itu dan duduk di sana, Harin hanya diam dan langsung berjalan ke arah dispenser. Gadis itu langsung menadah air minum dari sana, lalu meminum obat yang telah ia ambil. “Kau Seo Harin, ‘kan?” ucap Jaekyung tiba-tiba. “Ketua OSIS.” Harin menghabiskan air di dalam gelas itu sambil membatin. Ternyata dia tahu. Setelah meletakkan gelasnya di wastafel yang ada samping dispenser, Harin pun menjawab Jaekyung, “Masih, untuk saat ini.” Soalnya, sekarang aku sudah kelas tiga. “Kau sakit?” Harin mengernyitkan dahinya, lalu menoleh kepada Jaekyung. Mengapa Jaekyung bertanya seperti itu padanya? “Bukankah semua orang datang ke UKS karena sedang sakit?” tanya Harin seraya menaikkan sebelah alisnya. “Akhirnya, kau melihat ke arahku,” jawab Jaekyung seraya tersenyum miring. Pemuda itu duduk seraya menyilangkan tangannya di depan d**a. Dia ini sedang bicara apa, sih? Tadi aku sudah melihatnya saat dia berdiri di ambang pintu. Harin menghela napas. Dia ingin menyudahi percakapan ini karena sejak tadi tujuannya ke sini adalah ingin meminum obat dan beristirahat. “Bu Mari mungkin sebentar lagi akan kembali. Kalau kau ingin cepat, semua obatnya ada di dalam lemari. Aku tidur dulu.” “Apa kau bisa menahan sakit kepalamu setidaknya selama lima menit?” tanya Jaekyung tiba-tiba, membuat Harin—yang baru saja mau berjalan ke salah satu ranjang UKS itu—kontan menoleh kepadanya lagi. “Mengapa kau tahu bahwa aku sedang sakit kepala?” tanya Harin. Alisnya menyatu. Jaekyung memiringkan kepalanya. “Kau tadi membawa obat sakit kepala, Nona Ketua OSIS.” Oh. Pemuda itu melihat semuanya. Akhirnya, Harin pun menghadap sepenuhnya ke arah Jaekyung. Gadis itu menghela napas. “Alright. Ada apa dengan lima menit?” “Aku ingin meminta tolong padamu,” jawab Jaekyung. Harin kembali mengernyitkan dahinya. “Tolong apa?” “Tolong obati aku. Bisa?” tanya Jaekyung seraya tersenyum. Sebentar. Apa? []
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD