Chapter 7 :
Arcane (5)
******
SAKING kuatnya hujaman Jaekyung, Harin jadi merasa seperti benar-benar sedang digagahi. Entah mengapa rasanya sangat luar biasa, dia bisa merasakan kejantanan Jaekyung yang sangat besar dan keras itu menempel pada v****a-nya yang masih tertutupi oleh celana dalam tipis. Selain itu, dia yakin celana dalamnya sekarang sudah sangat basah sehingga Jaekyung pun pasti bisa merasakan tekstur v****a-nya dengan sangat jelas. Mulai dari kedua bibir v****a-nya, klitorisnya…pasalnya erangan Jaekyung terdengar semakin kuat. Pemuda itu menggeram, mengerang, dan mendesah di telinga Harin. It feels so f*****g good. Sebelah tangannya masih menahan kedua tangan Harin, sementara sebelah tangannya lagi sedang meremas p******a Harin. Menarik putingnya kuat-kuat. Dia mencium bibir Harin dengan penuh nafsu, hujamannya di bawah sana terasa semakin kuat. Dia seolah ingin benar-benar memasukkan kejantanannya ke dalam v****a milik Harin.
“Sayang…” Jaekyung mengerang tatkala ciuman mereka terlepas. Bibirnya berada tepat di depan bibir Harin, napas mereka terasa begitu hangat, memburu, dan penuh gairah. “Sayang... My Rin…”
“Jangan dimasukkan, Jaekyung, kumohon…” pinta Harin. Matanya berkaca-kaca, antara merasa nikmat dan merasa gelisah. “Jangan…ya?”
“Percayalah, Sayang, aku ingin menyetubuhimu dengan sangat kuat sekarang juga; aku ingin menusuk, menghujam v****a milikmu yang begitu cantik dan sempit ini hingga kau menangis dan memohon padaku untuk berhenti,” ujar Jaekyung dengan mata yang melebar penuh penekanan. Rahangnya mengeras. Tatapannya penuh dengan intimidasi. “tetapi meski aku sangat lapar, meski v****a-mu terasa begitu mengundangku saat ini, aku tetap tidak akan memecah keperawananmu jika kau tidak mengizinkanku. Aku lebih baik mati daripada dibenci olehmu seumur hidup.”
Harin yang matanya berkaca-kaca itu mendadak berteriak lagi ketika ia merasa bahwa Jaekyung kembali menghujamnya dengan satu gerakan yang paling kuat, sebelum akhirnya pemuda itu membuat gerakan memutar dengan seksi. Sesekali dia menggesekkan kejantanannya tepat ke k******s Harin hingga desahan Harin jadi tak terkontrol. Pemuda itu lalu kembali membuat gerakan memutar, tepat di k******s Harin, hingga refleks Harin berteriak kencang. Ada sesuatu yang rasanya terpancing di dalam tubuh Harin. Seolah ia tak mau Jaekyung berhenti bergerak. Ia refleks menarik kedua tangannya dari cengkeraman Jaekyung yang sangat kuat itu dan Jaekyung mengizinkan hal itu terjadi. Jaekyung melepas cengkeramannya—yang sudah membuat lengan Harin jadi memerah itu—dan membiarkan kedua tangan Harin bebas. Kedua tangan Harin pun spontan memeluk leher Jaekyung dan hal itu membuat Jaekyung jadi mabuk kepayang. Rasanya nikmat sekali. Bagian sensitif yang saling bergesekan, saling memutar, saling bertabrakan dengan keras, saling merasa tak cukup, saling membutuhkan, semuanya membuat Jaekyung dan Harin seolah lupa segalanya.
“Jaekyung! Ha—ah! Jaekyung…!” teriak Harin. Ah, sungguh indah sekali namanya tatkala diteriakkan oleh Harin dengan penuh desahan seperti itu. “Haaangh!! Jae—sesuatu…sesuatu seperti ingin—ingin keluar! A—Aku—ah!!”
Gila. Jaekyung kini benar-benar jadi gila. Dia yakin, kemungkinan tetangga sebelah akan mendengar aktivitas mereka saat ini. Apartemen Harin bukanlah apartemen yang kedap suara. Hanya saja mereka dibantu dengan dinding yang cukup tebal. Unit-unit apartemen itu memang bersebelahan, tetapi dindingnya cukup tebal. Jarak antar kediaman tidak begitu berdempetan satu sama lain meski masih satu bangunan. Jaekyung lalu mulai menghujam v****a Harin dengan sangat kuat, sangat cepat, dan sangat brutal. “Keluarkan, Sayang. Keluarkan. Keluarkan semuanya. Aku di sini.”
“Jaekyung! Haanghh!! Ah! Ke—keluar!” Harin mendesah kencang, dia berteriak dengan putus asa. Desahannya terdengar begitu seksi dan erotis. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Jaekyung, kedua kakinya yang tadinya mengangkang di bawah Jaekyung kini refleks mengalung di pinggang pemuda itu. Sesuatu di dalam dirinya menuntutnya untuk menyelesaikan semua ini. Dia ingin selesai. Dia tak ingin Jaekyung berhenti. Dia ingin...selesai sampai akhir. Dia ingin klimaks. “Ahhh! O—Oh! Haa! Haanggh!!”
Setelah itu, dengan satu hujaman yang amat kuat dari Jaekyung, Harin pun melengkungkan tubuhnya ke belakang dan kepalanya terdongak. Dia pun berteriak kencang, “Jaekyung…!!!!”
Dengan satu teriakan kencang itu, Harin pun akhirnya klimaks. Ada cairan yang keluar dari v****a-nya, merembes keluar dari kedua sisi celana dalam tipisnya. Kepalanya yang terdongak itu kini terasa begitu ringan. Ia merasa seperti berada di atas awan, melambung tinggi ke langit. Dia sedang berada di puncak kenikmatan; kedua matanya seolah melihat bintang. Rasanya tubuhnya ringan sekali.
Dia tak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Rasanya seakan semua hal di sekitarnya jadi memutih semua. Akalnya hilang. Dia baru sadar kalau ternyata puncak kenikmatan itu rasanya seperti ini. Dia berasa seperti baru saja berhubungan seks dengan Jaekyung, bercinta dengan hebat, padahal kenyataannya mereka belum sejauh itu. Meskipun demikian, rasanya dia seperti baru saja disetubuhi habis-habisan oleh Jaekyung.
Namun, tatkala sudah bisa meraih kewarasannya kembali, Harin pun menatap ke bawah sana. Soalnya dia merasa bahwa kejantanan Jaekyung masih menekan v****a-nya; Jaekyung masih menggoyangkan dan menggesekkan kejantanannya di sana. Tentu saja Jaekyung belum keluar.
“Jaekyung…?” panggil Harin dengan lemas. Tubuhnya mendadak terasa lelah setelah klimaks. Suaranya serak.
“Iya, Sayang?” jawab Jaekyung dengan mesra. Dia menatap Harin yang ada di bawahnya itu dengan penuh cinta. Namun, Harin masih melihat ke bawah sana. Ke kejantanan Jaekyung. Gadis itu jadi berpikir.
“Masih mau…ya?” tanya Harin pada Jaekyung dengan polosnya. Dia bahkan tak sadar bahwa dia telah menanyakan hal yang segamblang itu. Soalnya yang dia pikirkan hanyalah: dia sudah klimaks, tetapi Jaekyung belum. Jaekyung juga pasti ingin selesai, seperti dia tadi yang ingin sekali klimaks.
Namun, pertanyaan polosnya itu justru membuat Jaekyung kembali mengeraskan rahang. Dia langsung menatap Harin dengan tatapan tajam. “Jangan pancing aku, Sayang. Nanti aku jadi benar-benar menusukmu.”
Mata Harin membulat sempurna tatkala mendengar jawaban Jaekyung itu. Dia menatap mata Jaekyung dan pipinya merona. “Aku—aku tidak memancingmu. Aku hanya…”
Jaekyung tersenyum miring. “Bantu aku klimaks, ya?”
Harin menggigit bibirnya. Pipinya semakin memerah. “Bagaimana...caranya?”
“Menungging untukku, hm?” pinta Jaekyung seraya berbisik di depan bibir Harin. “Aku janji tidak akan menusukmu. Aku hanya akan menggesekkan milikku di antara kedua pahamu. Boleh?”
Kini wajah Harin sudah semerah kepiting rebus. Itu—maksudnya—
“Boleh, Sayang?” tanya Jaekyung sekali lagi dengan napas yang memburu. Wajahnya dengan wajah Harin sekarang hampir menempel satu sama lain. “Kejantananku sudah sakit sejak tadi. Kau seksi sekali. Kau begitu nikmat. Tidak usah lepas celana dalammu.”
“Apakah kau akan melepas celana dalam…mu?” tanya Harin dengan ragu, dia sesungguhnya malu mengucapkan itu dari mulutnya sendiri.
Jaekyung terkekeh pelan, pemuda itu terdengar seksi sekali. “Bagaimana caraku menggesekkannya di antara kedua pahamu, hingga mengenai v****a-mu yang indah itu, jika aku tidak melepas celana dalamku?”
Sontak Harin jadi semakin malu. Napasnya tertahan. Pipi gadis itu semakin merona (jika itu memungkinkan) dan dia semakin salah tingkah luar biasa. Jantungnya berdebar kencang. Sungguh, Jaekyung vulgar sekali. Baru kali ini mereka b******u seberani ini. Atau lebih tepatnya, sebenarnya Jaekyung memang seberani itu, tetapi selama ini Harin tidak mengizinkannya. Harin sangat malu tatkala memikirkan bahwa kali ini…dia benar-benar akan merasakan bentuk kejantanan Jaekyung melalui kedua pahanya dan melalui v****a-nya yang hanya tertutupi oleh celana dalam tipis.
Dia jadi takut celana dalam tipis itu akan tergeser ke samping. Benar juga! Ini berbahaya!
“T—Tapi jangan dimasukkan, ya?” pinta Harin dengan pipi yang memerah. Matanya memandangi Jaekyung dengan penuh permohonan, masih berkaca-kaca. Aah, Jaekyung jadi benar-benar tidak tahan.
“Iya, Ratuku,” jawab Jaekyung. Dia tertawa pelan. Wajahnya terlihat luar biasa tampan di antara cahaya yang menerangi kamar Harin. Tubuhnya yang besar itu mengurung Harin sepenuhnya. “Menungging, ya, Sayang? Aku akan membantumu. Masih lemas, hmm? Pegangan ke bantal, ya, Sayang. Aku akan menusuk sela-sela pahamu dari belakang.”
Setelah itu, Jaekyung membantu Harin untuk berbalik. Ketika Harin baru saja berada dalam posisi menyamping (belum benar-benar berbalik), Jaekyung tiba-tiba berbisik di telinganya.
“Boleh aku menginap di sini malam ini, Sayang?” tanyanya dengan suara yang serak, seksi, dan menggoda. “Kurasa aku tidak akan pulang dalam waktu dekat.”
“Eh...?” Harin melebarkan matanya, spontan menoleh ke arah Jaekyung. Maksudnya…apa?
“Pastikan celana dalammu tidak tergeser, Sayang,” pesan Jaekyung—tak menghiraukan Harin yang keheranan—dia berbisik perlahan seraya membalikkan tubuh Harin. “Aku tak yakin kalau aku bisa menahan nafsu untuk tidak memasukkan kejantananku ke dalam lubang v****a-mu jika celana dalammu terbuka. You hear me?”
Harin hanya bisa mengangguk perlahan. Dengan rasa gelisah dan takut, ia pun menjawab, “Hng.”
Jaekyung lalu menaikkan pinggul Harin agar Harin benar-benar menungging di hadapannya. Pemuda itu lalu merapatkan kedua paha Harin dan dia mulai mengagumi b****g Harin yang sangat bulat dan indah. Matanya melebar penuh hasrat. Ia benar-benar berahi. Napasnya memburu, mulutnya sedikit terbuka. Dia betul-betul takjub melihat pemandangan yang ada di depannya saat ini.
Harin. Gadis yang sangat ia cintai. Gadis yang sangat ia inginkan. Sumber mimpi basahnya. Objek fantasi liarnya. Satu-satunya gadis yang mampu membuatnya terobsesi. Cinta matinya, segala pusat kehidupannya selama ini…kini menungging di depannya. Menunggu untuk dihujam. Menunggu untuk ditusuk. Menunggunya dengan patuh.
Rahang tegasnya yang menawan itu kini nyaris terlihat berurat. Dia menggeram rendah. Seekor binatang buas di dalam tubuhnya seakan bangkit. Terlepas dari belenggunya.
Setelah itu, seraya menurunkan boxer yang ia kenakan, Jaekyung pun menatap Harin dari belakang dengan mata yang segelap malam dan sedalam samudra. “You will be the death of me, My Queen. Stay put for me, yeah? I won’t let you go for the next few hours.” []