BAB 18

1104 Words

“Hallo. Citra ….” Hening. Lidahku kelu. Bayangan wajah Bu Rahma yang lemah dan tua melekat di pelupuk mata. Perasaan tak enak menyeruak di dalam d**a. Aku memutuskan sambungan telepon. Maaf, Mas Kisam. Maaf …. “Mas ….” Aku mendorong pelan Mas Fauzi. Mas Fauzi mendongak, menatapku. Matanya sayu dan berair. Ya Allah, Mas Fauzi. Kenapa kamu terus membuatku lemah, Mas. Kenapa? “Jangan pergi …,” lirih Mas Fauzi. Aku mengangguk. Kemudian membimbing Mas Fauzi supaya kembali tertidur di kasur. Bagaimanapun, detik ini Mas Fauzi masih suami sahku. Artinya, aku masih harus berbakti dan mengabdi padanya. Dia harus menjadi prioritas utama. Setelah menyuapi Mas Fauzi dengan bubur instan, aku juga memberinya paracetamol. Jika sampai besok demamnya tidak turun, mungkin sebaiknya dia dibawa ke

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD