Sejenak kepanikan dan rasa bersalah pun membuncah di dalam d**a. Ya Allah, Bu Rahma. Ya Allah, jangan ambil beliau secepat ini. Aku masih belum meminta maaf kepadanya. “Citra.” “Huh?” Aku menurunkan telapak tangan yang menutupi wajah. Buram, tampak Mas Kisam berdiri. Aku mengucek-ucek mata, mengembuskan napas lega. Entah kenapa merasa tenang melihat Mas Kisam. “Mas, Ibu?” tanyaku. “Ibu masuk ICU tadi malam.” “Innalillahi wainnalillahi rojiun. Ya Allah. Aku … aku minta maaf, Mas. Semalam ….” “Kamu nggak salah apa-apa, Citra. Saya yang minta maaf karena terus merepotkan kamu. Saya minta maaf kalau kehadiran saya dan Ibu memperumit masalah rumah tangga kamu.” Aku menggeleng untuk menyangkal. Hubunganku dan Mas Fauzi memang sudah rumit sejak sebelum bertemu Mas Kisam. Mas Kisam juga tid

