Hening. Mas Fauzi sudah pulang—mungkin sembari membawa luka di hatinya. Daripada terus saling melukai seperti ini, mungkin perpisahan memang jalan terbaik, Mas. Mungkin kebahagiaan kita ada di depan, dengan jalan masing-masing. Aku menghela napas, menatapi semburat cahaya yang menembus jendela kaca. Maafkan hamba-Mu yang masih belum bisa menjadi hamba yang taat Ya Rabb. ♡♡♡ Petang. Aku menekan stop kontak untuk menyalakan lampu di halaman. Tampak beberapa tanaman teronggok bisu di sana. b******u bersama remang malam yang menelan. “Kalian menginap lagi?” tanyaku pada Clara di seberang sana. “Iya, Kak. Kak, tolong buatin surat izin Clara ke Bu Riana, ya.” “Iya. Nanti Kakak buatin.” “Kakak nggak apa-apa kan tinggal sendiri? Rumah kita kan agak jauh dari tetangga.” Aku bisa menan

