BAB 10

1136 Words
Telingaku berdengung. Sesaat ruangan seperti berotasi. Butuh beberapa waktu bagiku untuk bisa mencerna tiga patah kata dari Mas Kisam. Putri Mas Fauzi. Tiga kata yang menghancur dan memorak-porandakan jiwaku. Putri Mas Fauzi. Tiga yang membuat hatiku tercabik-cabik. Putri Mas Fauzi. Tiga kata yang seakan mampu meruntuhkan langit. Sejenak aku bergeming. Menganga. Tidak mampu berekspresi apa-apa. “Mas Kisam yakin?” Akhirnya tiga patah kata itu pulalah yang keluar dari mulutku. Pria di depanku tampak kelihatan iba. Dia mengangguk, tangannya menarik laci lalu mengambil beberapa berkas. Berkas-berkas itu diletakkan di atas meja. “Sebelum menikah dengan Mbak Citra, Pak Fauzi sudah pernah menikah dengan wanita bernama Maera. Tepatnya pada tahun 2006, pernikahannya terdaftar di KUA setempat. Waktu itu usia Pak Fauzi baru 20 tahun dan Maera 19 tahun. Satu tahun kemudian, Maera melahirkan dan meninggal. Ica, putri mereka dirawat oleh orang tua Maera. Pada tahun 2008, Pak Fauzi pergi ke Jawa bersama uaknya. Pada tahun 2012, Pak Fauzi menikah dengan Mbak Citra, usianya sudah 26 tahun.” Setelah menarik napas, Mas Kisam kembali melanjutkan, “Kemungkinan besar, alasan Pak Fauzi tidak mau memiliki anak bukan karena selingkuh ataupun pesugihan, melainkan trauma di Masa lalu. Pak Fauzi sakit, tetapi dia tidak menyadarinya. Luka batin akibat kehilangan istri pertamanya pasti sangat membekas dan membuatnya paranoid.” Telingaku berdengung-dengung. Mas Fauzi sudah pernah menikah, bahkan memiliki putri yang beranjak dewasa. Ya Allah, ujian apa ini? Aku tidak siap. Ya Allah, sungguh aku tidak siap. Badanku terasa leMas. Bahkan tenaga untuk menangis pun rasanya tidak ada. Ya Allah hatiku sakit. Mas Fauzi membohongiku selama bertahun-tahun. Aku merasa sangat bodoh. “Mbak, Mbak Citra enggak apa-apa.” Mas Kisam menghampiri. Aku mengangguk. Namun, kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Seluruh tubuhku gemetar. Dadaku terasa sesak. “Mas, boleh nggak saya urus pelunasan biayanya besok. Sekarang saya mau pulang dulu.” Mas Kisam mengangguk. “Boleh, Mbak.” LeMas, aku menyeret langkah menuju ruang tunggu. Namun, ternyata Nia tidak ada. Kata resepsionis, Nia izin pamit dulu karena ditelpon pihak sekolah anaknya. Dia titip pesan supaya aku menunggunya. Tapi tidak. Aku tidak bisa menunggu. Aku butuh tempat untuk menumpahkan semuanya. Kekecewaan, kesedihan, dan kemarahan. “Mbak mau saya antar pulang?” tawar Mas Kisam. “Enggak, Mas. Terima kasih,” tolakku, halus. Aku bergegas meninggalkan ruangan. Entah mau ke mana. Namun, yang pasti tidak pulang ke rumah. Aku ingin pergi ke tempat di mana tidak ada seorang pun yang mengenalku. Aku ingin menumpahkan gejolak yang menyesakkan d**a. ??? Setelah berjalan tanpa arah tujuan, aku akhirnya sampai di sebuah Masjid. Tidak tahu ada di mana, sementara hari sudah menjelang siang. Masjid itu sepi. Jadi, aku bisa menangis sendirian. Ya Allah, rasanya ini seperti mimpi. Aku tidak percaya Mas Fauzi membohongiku selama ini Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Di satu sisi, aku merasa sangat kecewa. Di sisi lain, aku merasa kasihan sama Mas Fauzi. Aku benar-benar bingung ya Allah. Aku tidak tahu akan berakhir seperti apa rumah tanggaku ini. Haruskah aku memaafkan Mas Fauzi? Tapi rasanya aku begitu kecewa telah dibohonginya selama ini. ??? Aku tetap berada di Masjid hingga waktu Ashar. Perutku lapar karena tidak makan apapun seharian ini. Namun, aku juga masih tidak ingin pulang. Aku bingung harus bersikap seperti apa nanti kalau bertemu Mas Fauzi. Aku juga tidak ingin pulang ke rumah Bapak sama Ibu. Soalnya, Mas Fauzi pasti akan mencariku ke sana. Aku tidak ingin bertemu Mas Fauzi dulu untuk sementara waktu. "Citra." Nia melambaikan tangannya. Nia datang bersama Mas Kisam. Dari mana dia tahu aku ada di sini? "Kamu ke mana aja?" tanya Nia, "maaf, ya, tadi anakku ada Masalah di sekolah. Jadi, aku pergi ke sekolah dulu." "Iya, enggak apa-apa, Ni." "Tadi Mas Fauzi telepon, katanya kamu nggak ada di rumah. Dia tanya apa kamu ada di rumah aku. Anakku berantem di sekolah, kepalanya sobek lima jahitan akibat jatuh. Tadi aku panik banget sampai lupa sama kamu. Kalau Mas Fauzi nggak telepon, aku benar-benar lupa. Duh, maafkan aku, ya, Cit." Aku menggeleng maklum. "Terus Riyan gimana?" "Alhamdulillah, sekarang dia baik-baik ajah." Syukurlah. "Aku bingung kamu belum pulang, Cit. Jadi aku nyusul kamu ke kantor Mas Kisam. Tapi Mas Kisam bilang kamu udah pulang. Akhirnya Mas Kisam lacak kamu lewat ponsel. Sebenarnya ada apa, sih?" Jadi Mas Kisam belum menjelaskan semuanya? Seakan mengerti Mas Kisam menatapku. Katanya, "Rahasia klien, saya tidak akan membocorkannya pada siapa pun. Walaupun pada sahabat baik Mbak Citra." Aku mengangguk. Aku lalu menceritakan semuanya kepada Citra perihal Mas Fauzi yang ternyata sudah memiliki anak dan istri. Aku belum siap untuk bertemu Mas Fauzi. "Ya udah kamu tinggal di rumah aku aja dulu buat sementara waktu." Nia memandangku dengan mata berkaca-kaca. Aku menggeleng. "Enggak bisa, nggak enak sama suami kamu. Lagipula Mas Fauzi pasti mencari aku ke rumah kamu." "Kalau Mbak Citra mau, Mbak Citra bisa tinggal dulu di rumah saya. Kebetulan saya jarang ada di rumah. Di sana juga ada ibu saya yang udah sepuh. Beliau pasti senang kalau Mbak Citra tinggal di sana untuk sementara waktu." Mas Kisam ikut menawarkan. "Ya udah, kamu tinggal di sana aja dulu buat sementara waktu." Nia mengangguk setuju. Tapi aku merasa bimbang. Bagaimana pun aku belum mengenal Mas Kisam. Tapi aku nggak punya pilihan. Kalau pun mau ngontrak buat sementara waktu, ke mana harus mencarinya. Selamanya ini aku jarang keluar rumah. Walau segan, aku memutuskan untuk tinggal di rumah Mas Kisam untuk dua atau tiga hari. ??? Nia mengantarku ke rumah Mas Kisam. Rumahnya cukup sederhana, tetapi memiliki penjagaan yang ketat. Di sana ada seorang ibu yang sudah sepuh menyambutku, Mas Kisam, dan Nia. "Dia siapa?" tanya wanita yang usianya kira-kira sudah 70 tahun. "Ini citra, Bu. Dia akan tinggal di sini untuk sementara waktu," jawab Mas Kisam. "Calon istrimu?" Ibu itu menampilkan ekspresi terkejut. Mas Kisam terkekeh sembari menggeleng. "Bukan, Bu. Dia klien Kisam." "Oh! Ibu pikir dia calon istri kamu." Aku menangkap raut kekecewaan di wajah ibu itu. "Ayo! Masuk, Nak. Jangan sungkan, anggap aja rumah sendiri." Ibu itu meraih lenganku. Nia lantas izin pamit pulang. Dia berjanji tidak akan memberitahukan keberadaanku kepada Mas Fauzi. Mas kisam juga pamit kembali ke kantor. Dia meminta ibunya untuk menelpon jika terjadi sesuatu atau ada apa-apa. Aku sedikit tidak mengerti dengan kalau ada apa-apa, menangnya suka ada kejadian apa? Ibu Mas Kisam memperkenalkan dirinya bernama Rahmawati. Aku bisa memanggilnya Bu Rahma, katanya. "Padahal tadi ibu berharapnya kamu ini calon istri Kisam, loh," canda Bu Rahma. "Emang Mas Kisam belum menikah, Bu?" tanyaku hati-hati. Sebab di usia Mas Kisam sekarang harus nya dia sudah menikah. Bu Rahma menggeleng, beliau menghela napas cukup panjang. "Kisam itu dulu pernah punya tunangan, tapi meninggal dalam kecelakaan. Semenjak saat itu dia gak pernah punya hubungan lagi sama wanita. Makanya tadi Ibu pikir kamu itu calon istrinya Kisam." Aku tertegun tanpa bisa berkata apa-apa. Apa luka dari seorang laki-laki itu memang akan selalu bertahan sepanjang waktu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD