Sepagi ini Manyari sudah merasa lelah.
Bagaimana tidak, semalam ia baru berhasil mengumpulkan revisi skripsi pukul tiga pagi dengan mengandalkan peranggitan telepon selulernya yang minim kuota dan koneksi super lambat, tetapi Pak Djatmiko malah mengomel di kotak masuk pesannya hanya karena ia lupa mencantumkan nomor bimbingan yang ke-berapa. Lalu setengah jam lalu saat membongkar isi ranselnya, Yari baru menyadari jika USB-nya ketinggalan.
Tempat terakhir yang dia datangi adalah kedai kopi Express To dekat gedung fakultasnya, dan di sinilah Yari berada, bahkan sebelum kedai kopinya buka. Yari belum sempat menyunting materi untuk Podcast-nya yang akan tayang malam ini, sementara materi tersebut bersemayam dengan rapi di dalam penyimpanan eksternal yang entah di mana nasibnya saat ini. Apesnya, rekaman tersebut disponsori oleh salah satu merek minuman teh keluaran baru yang menghubunginya untuk program sponsor, dan Yari tidak mungkin merekam ulang karena waktunya mepet sekali.
Yari duduk di teras kedai kopi tersebut dengan lemas. Buku catatan di pangkuannya terbuka pada satu halaman kosong. Biasanya Yari selalu menggunakan waktu luang yang dia miliki untuk membuat materi baru Podcast, sehingga dia selalu punya stok untuk episode baru setiap minggu. Tetapi, pagi ini otaknya sedang macet, tidak bisa diajak bekerja sama. Mungkin faktor stres bisa membuat proses berpikir kreatif seseorang menjadi tumpul.
Semalam ia sibuk meminta maaf pada Erika dan berjanji untuk tidak akan mengulangi kebodohan yang sama lagi. Bahkan Yari akan membuat janji dengan psikolog untuk memeriksakan kesehatan mentalnya segala, segera setelah ia menuntaskan urusan bernama skripsi ini. Untungnya Erika mau memaafkan Yari. Ia mengerti pada saat ini ada banyak hal yang berkelebatan dalam pikiran Yari, sehingga dia semalam begitu emosi. Erika tahu manusia memiliki banyak keterbatasan, dalam hal ini khususnya batas toleransi seseorang terhadap stres. Andai saja Yari bukan anak produk dari keluarga disfungsional, mungkin Yari tidak harus menanggung semuanya sendirian. Tetapi, setiap orang tak bisa mendapatkan semua yang mereka inginkan, jadi Erika menyadari dan menerima dengan segala kelapangan hati setiap kurang dan lebihnya seorang Manyari.
Yari menghela napas berat beberapa kali. Ia keluarkan ponselnya dan membuka aplikasi perbankan-el. Masih belum ada tanda-tanda transferan uang masuk di rekeningnya, padahal ia sudah melakukan penarikan uang dari PayPal sejak tiga hari lalu. Mungkin bagi mereka uang dua juta tidak seberapa banyak, tetapi bagi Yari dia bisa membayar kos dan WiFi serta mengirimkan sedikit uang untuk biaya sekolah adiknya. Jika saja jadwal Yari tidak kacau, tentu sepagi ini dia sudah akan mengedit materi Podcast agar malam ini bisa tayang dan besok invoice-nya dari iklan tersebut bisa cair. Mungkin ia perlu mencari pekerjaan sampingan lain atau bahkan pekerjaan penuh disamping penerjemah lepas di situs Freelancer, karena ia akan memiliki amat banyak waktu luang setelah lulus kuliah nanti. Kurang dari dua bulan, Yari harus optimis jika dia bisa wisuda tahun ini.
“Lho, Mbak Yari? Ngapain di sini?”
Yari mengangkat kepalanya cepat-cepat ketika mendengar sapaan tersebut. Ia hampir menangis ketika melihat Mas Anto, bartender kenalannya datang untuk membuka kedai dan bekerja sif pagi.
"Mas, ada flashdisk-ku yang ketinggalan di sini nggak?" rengek Yari. "Tolong lah, Mas, ada dong."
Mas Anto tampak kebingungan menatapnya yang panik. "Lho, 'kan kemarin udah ketemu?"
Sekitar sebulan lalu, data USB Yari juga sempat ketinggalan di sini, tetapi tidak sampai menginap sehari, Yari langsung kembali untuk mengambilnya. Benda sekecil itu memang rentan hilang, apalagi jika sang pemilik berwatak teledor seperti dia.
"Hilang lagi, Mas." Yari tertunduk lesu. Ia merekam materi Podcast menggunakan aplikasi rekam suara di ponsel, lalu memindahkan ke laptop melalui On the Go, dan mengedit di sana karena menurutnya cara bekerja yang seperti ini lebih efektif. Namun, setelah kejadian ini, ia akan mempertimbangkan untuk membeli mikrofon yang bagus dan piranti lunak perekam suara yang memadai, meski harganya tentu tidak murah. Yari menghela napas berat. Salahnya sendiri tidak pernah menyisihkan pendapatan untuk membeli peralatan rekam yang bagus. Tetapi apakah salah jika ia menggunakan uang tersebut untuk bertahan hidup di kota lain seorang diri dan menyekolahkan adiknya di kampung?
"Ya udah jangan nangis, yok tak bantu cari. Palingan juga jatuh di kolong meja kayak kemarinan itu." Mas Anto menepuk-nepuk bahu Yari lembut kemudian mengajaknya masuk ke dalam.
Mas Anto segera menyalakan lampu siang untuk menerangi toko, menyalakan mesin-mesin di balik meja konter, lalu membuka buku memo dari sif kemarin malam. Dari sudut matanya ia melihat Yari sibuk mencari-cari di kolong salah satu meja kafe. Mungkin semalam dia duduk di sana. Ia memicingkan mata melihat coretan cakar ayam Bona, tetapi ia bisa mengira-ngira apa isinya.
-Mesin coffee maker sudah dibersihkan sebelum pulang.
-Hari ini kiriman Arabica datang, katanya sih pagi.
-Stok Robusta ada di gudang dekat rak s**u. Kemarin malam hujan jadi dipindah biar nggak ketetesan genteng bocor.
-Flashdisk Mbak Yari ketinggalan lagi, yang nemuin customer lain. Ada di laci tempat penyimpanan kertas termal kalau besok dia dateng buat nanyain.
-Selamat bekerja. Ganbatte kudasai!
Mas Anto memutar bola matanya ketika membaca kalimat terakhir. Bona yang memang dikenal sebagai wibu sering kali menyelipkan kata-kata berbahasa Jepang jika dia ditugaskan menulis memo, hingga barista lain lama-lama jadi terbiasa dengan hal itu. Mas Anto buru-buru membuka laci kertas termal dan flashdisk milik Manyari yang terkenal di kalangan barista muncul di sana. Ia mengambil benda tersebut dan mengayunkannya pada Yari.
"Mbak Yari, ketemu nih flashdisk-nya. Udah disimpen sama Bona. Mungkin ditemuin kemarin pas bersih-bersih sebelum pulang."
Yari langsung berlari menyongsong benda tersebut untuk memeriksanya sendiri.
"Iya, bener ini, Mas." Ia hampir menangis saat menggenggam kembali benda kesayangannya itu, lalu mengucapkan banyak terima kasih pada Mas Anto dan Mas Bona. Ia segera berpamitan karena masih ada urusan lain, dan langsung memacu motornya menjauh. Tidak, Yari tidak punya kendaraan pribadi, sependek pengetahuannya. Mungkin dia pinjam motor teman atau apa, agar bisa cepat sampai ke kafe ini sepagi mungkin.
Sekarang masih jam 7 pagi, tetapi Mas Anto sudah lelah melihat Manyari yang tidak bisa berhenti bergerak. Ia sudah mendengar dari beberapa teman Yari yang juga jadi pelanggan kafe ini jika Yari kuliah di sana berkat program bidikmisi dari pemerintah untuk anak yang tidak mampu, dan ia juga bekerja paruh waktu di berbagai tempat untuk bisa bertahan hidup. Tetapi, siapalah dia yang mengasihani orang lain, di saat dia sendiri harus menafkahi istri dan anaknya yang masih balita.
Setiap orang memiliki perjuangan masing-masing dalam hidup mereka, jadi Mas Anto hanya bisa mendoakan semoga apapun yang mengganjal di pikiran Yari segera tuntas.