DUA: Kesialan yang Pertama

1418 Words
Ega belum tidur saat menerima panggilan telepon jarak jauh dari bapaknya yang sedang berada di Boston. Ia baru saja hendak mengistirahatkan mata yang lelah karena seharian mengurus persyaratan ini dan itu untuk beasiswanya dengan menyalakan Permainan Stasiun 4 dan menyambungkan ke televisi layar datar. "Le, tolong ambilkan arsip Bapak yang ketinggalan di kantor. Nanti bilang aja sama Pak Yadi satpam buat bukakan pintu ruangan Bapak, kamu tahu kan yang mana orangnya? Ada map yang kelupaan Bapak bawa." “Hmm,” Ega bergumam. “Kayak gimana mapnya, Pak?” ponsel pintarnya dijepit dengan leher dan bahu sementara kedua tangannya sibuk mengurai gulungan kabel stik Permainan Stasiun. “Revisi skripsi Manyari Rukmasara. Bapak lupa kalau janji kasih revisinya hari ini. Sudah bapak kerjakan sebelum berangkat, tapi ketinggalan. Tolong ya, Le.” Ega melirik arlojinya, waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam lebih tujuh menit. Di Boston sana orang-orang baru saja memulai hari mereka. Ega tidak bisa membayangkan jika bapaknya baru akan mengirimkan revisi malam ini, pukul berapa mahasiswa yang bernama Manyari akan menerima surelnya. “Kenapa nggak diurus nanti aja pas Bapak pulang dari Boston? Bapak kan cuma seminggu di sana, dua hari lagi juga pulang.” “Nggak bisa, Le, soalnya harus buru-buru biar anak ini bisa cepet sidang kayak temen-temennya yang lain. Bapak juga terlanjur janji sama anaknya mau revisi tanggal 24, tapi lupa kalau posisi lagi ada seminar di Boston tanggal segitu.” “Oke, Pak. Aku beresin ini dulu.” Ega menghela napas berat. Mau bagaimana lagi, Ega pernah jadi mahasiswa tahun terakhir dan skripsi yang ditunda-tunda adalah mimpi buruk semua orang. Urung sudah niatnya bermain PES. Ia segera mengemas kembali permainan konsolnya ke dalam kotak lalu menyambar jaket di belakang pintu. Ega tak lupa mengambil kunci mobil di cawan khusus untuk menyimpan kunci di samping kulkas, ketika ia melewati ruangan tersebut dari kamarnya menuju pintu keluar. Pandangan Ega tertumbuk pada gantungan kunci berbentuk bebek pemberian Kamira, seseorang yang saat ini dekat dengannya. Senyum yang terulas di bibirnya dengan cepat berganti cemberut. Masih ada dua bulan lagi, ucapnya dalam hati. Dua bulan sebelum keberangkatannya ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana di MIT. Dua bulan lagi untuk dihabiskan bersama Kamira. Pak Yadi, satpam jurusan bahasa yang dimaksud Bapak Ega sedang ngopi di pos depan sambil nonton drama India di televisi ketika Ega turun dari mobil dan mengetuk kaca jendelanya. Beliau tampak begitu terlarut dalam cerita hingga terdengar isakan dan sesekali terlihat lengannya terangkat untuk mengusap mata. Ega berdeham, mengetuk lebih keras. “Permisi, Pak Yadi. Saya Ega, anaknya Pak Djatmiko Utomo, dosen mata kuliah Semantic.” Sapa Ega dengan lancar dan lengkap. “Tadi bapak saya telepon minta tolong untuk diambilkan dokumen di kantor. Apa Bapak bisa membantu saya?” Pak Yadi hampir melompat dari kursinya mendengar suara Ega. Beliau buru-buru menyambar kertas koran bekas bungkus gorengan di meja untuk membersihkan wajah dan menyeka ingus lalu meremas-remas kertas tersebut dan melemparkan ke keranjang sampah. Pak Yadi membalikkan wajah dengan mata sembab seperti habis menangis. Ega benar-benar menahan dirinya untuk tidak tertawa. “Nggih, Mas? Oooh, ini Mas yang anaknya Pak Djatmiko.” Pak Yadi tampak mengingat-ingat nama Ega tetapi tidak kunjung menemukan jawabannya. “Masnya mau jemput Bapak? Lho, bukannya Pak Djatmiko lagi pelatihan di Amerika?” Ega mengembuskan napas berat, sepertinya sia-sia dia memperkenalkan diri di awal jika Pak Yadi tidak mendengarnya. “Iya, tadi Bapak saya telepon minta diambilkan dokumen dari meja kerjanya. Boleh saya ke sana, Pak? Bapak bisa ikut saya masuk kalau Pak Yadi nggak percaya.” Pak Yadi manggut-manggut, “Bisa, Mas. Tunggu saya cari kunci serepnya dulu.” Ega menemukan map berwarna biru bergambar bebek—bukan, burung Twitsy—yang bapaknya maksud dan menemukan salinan skripsi dari seseorang bernama Manyari Rukmasara. Ega lekas mengambil benda tersebut, menyelipkan ke dalam saku belakang tas selempangnya dan keluar dari ruangan dosen. Ega tidak lupa berterima kasih pada Pak Yadi yang telah menemaninya sampai lantai tiga, lalu kembali masuk mobil. Ega tidak lupa mengirim pesan pada bapaknya yang langsung dibalas dengan cepat. Tampaknya, Bapak Ega sedang daring. Wiraga Arundaya Mapnya udah saya bawa, Pak. Bapak Fotokan revisinya, le. Nanti biar bapak kirim ke burung Manyar. Sekarang ya. Ega mengemudi keluar dari lingkungan kampus. Dari sudut matanya ia melihat kedai kopi Express To yang sepertinya tidak banyak pengunjung. Ia berbelok masuk, memesan makanan dan mulai memotret halaman mana saja yang perlu dikirimkan ke bapaknya. Sambil memotret, Ega membaca sepintas isi skripsi Manyari. Tema skripsinya tentang analisa diksi dari novel Demian yang ditulis oleh Hermann Hesse dalam kajian pragmatik. Sebagai anak teknik, Ega mungkin sama sekali tidak memahami pembahasan di dalamnya, tetapi Ega bisa menilai kelebihan Manyari dalam mengolah kata. Manyari tampak seperti seseorang yang telah membaca banyak buku, dilihat dari betapa halusnya cara bertutur dalam bab landasan teori tersebut serta seberapa sering Ega menemukan kosakata yang terdengar asing, padahal semuanya ditulis dalam bahasa Indonesia. Sekitar satu jam kemudian, Ega selesai mengirimkan semua revisi yang diminta bapaknya. Ega menyimpan kembali map biru tersebut bersamaan dengan mengeluarkan tablet dari dalam tas. Ada beberapa surel yang masuk, salah satunya dari pihak beasiswa yang menyatakan bahwa semua berkas yang dibutuhkan telah diterima serta memberikan selamat atas penerimaannya di Massachusetts Institute of Technology. Ega menyesap kopinya yang hampir dingin bersamaan dengan datangnya seorang gadis muda yang langsung duduk di meja sebelah Ega dengan tergesa. Ia mengeluarkan laptop yang tampak cukup ketinggalan zaman dibandingkan dengan keluaran baru belakangan ini, lalu memakai kacamata bulat berdiameter besar. Ega mungkin tidak akan peduli dengan seraut wajah yang terlihat gusar tersebut, jika saja dia tidak mengangkat telepon dari seseorang lalu mulai memaki-maki tentang seorang dosen yang bernama Djatmiko dan mengirimkan revisi skripsi malam-malam begini. Jantung Ega mencelus saat mendengarnya. Ia mencoba berpikir positif bahwa mungkin bukan Djatmiko Utomo dosen sastra bapaknya yang dimaksud. Ada banyak orang dengan nama Djatmiko di dunia ini. Dilihat dari penampakan cewek itu yang cukup berantakan—rambut digelung acak-acakan, jumper kusut seperti langsung ditarik dari jemuran tanpa disetrika, serta sepatu kets belel yang warnanya pudar, sepertinya dia bukan anak sastra. Mungkin anak teknik, karena gedung kedua fakultas itu berdekatan dan kafe ini kebetulan berada di tengah-tengahnya. Bahkan saat cewek sinting itu menyebutkan soal anak Pak Djatmiko yang dapat beasiswa, Ega masih menepis dugaan yang mengarah ke bapaknya. Namun, jika benar dia sedang menyumpahi bapaknya, keterlaluan sekali! Bapaknya sudah meluangkan waktu untuk bimbingan skripsi di tengah-tengah seminar di luar negeri agar membantunya cepat lulus, tetapi dia bukannya berterima kasih malah menyulut api. Jika memang benar gadis itu mahasiswi bimbingan bapaknya, Ega sangat menyesal telah memuji cara bertuturnya yang indah. Terlepas dari beberapa saltik, Ega mungkin akan menunjuk anak ini untuk menerjemahkan jurnal ilmiah atau tesisnya jika diperlukan. Namun, Ega sudah kepalang ilfil dengan tingkah lakunya. Tidak mungkin mereka berdua orang yang sama. Rasanya Ega ingin cepat pulang dan melanjutkan permainannya yang tertunda, atau tidur lebih awal karena besok ia ada wawancara visa di kantor imigrasi, tetapi ia tidak kunjung beranjak dari kursinya. Mungkin Ega penasaran dengan Manyari yang dipanggil bapaknya ‘burung Manyar’. Mungkin juga dia hanya ingin memastikan bahwa dugaannya keliru. Lalu, secepat kedatangannya, gadis itu membereskan barangnya dengan tergesa-gesa. Mengapa waktu sepertinya berjalan begitu cepat di sekitarnya, atau memang dia orang yang grusa-grusu. Saat Ega menengok kembali ke meja sebelah yang kini telah kosong tak berpenghuni, ia menangkap kilatan benda mungil yang tertinggal. Ega buru-buru mengambil barang itu. Ega mungkin akan sangat menyayangkan mengapa benda sepenting itu bisa sampai ketinggalan, tetapi saat membaca identitas pemiliknya, ia mendengkus geram. “Rasakan, karmamu ternyata datang lebih dulu karena udah nyumpahin saya,” gerutu Ega. Tetapi ia membawa benda tersebut ke meja konter dan menyerahkan pada barista yang bekerja di sana. Murni karena ia masih memiliki rasa iba dan dia tidak ingin jadi orang jahat dengan membalas dendam pada orang yang telah menghina bapaknya. “Mas, ini tadi ada yang ketinggalan di meja sebelah saya.” Barista tampan berkulit sawo matang tersebut menerima USB dari Ega, lalu membaca nama pemiliknya. “Oalah, punya Mbak Yari ketinggalan lagi,” serunya. Dilihat dari reaksi tersebut, tampaknya ini bukan pertama kali barang milik Yari ketinggalan di sini. Mungkin dia langganan di sini, hingga bisa mengenal akrab si barista. “Makasih ya Mas, besok juga palingan dia ke sini lagi buat nanyain ini. Udah sering kayak gini, soalnya. Kalau nggak buku, ya charger laptop. Atau kalau nggak kotak pulpen. Ada aja lah, pokoknya.” Ega ingin sekali menepuk jidatnya dengan gemas. Benar, Manyari ‘si burung Manyar’ sepertinya cuma pandai mengolah bahasa saja. Dalam hal-hal lain dia nggak punya nilai lebih sama sekali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD