Part 9 Mari Bercinta, Jack

1561 Words
Geliat mentari pagi tampaknya sedikit malas hari ini. Buktinya sudah jam sembilan pagi, tetapi kota Jakarta masih saja sedikit gelap. Mendung berarak memutupi langit yang biasanya cerah. Sepoi angin pun menghantar hawa dingin mengalahkan suhu panas bumi yang serasa membakar diri. Naira menarik selimut hendak memperbaiki posisi tidur, ketika menyadari ada sesuatu yang menutupi matanya. "Apa ini?" gumamnya menarik ikatan kain hitam di matanya. Sedikit mengerjapkan netra, Naira berusaha menyesuaikan retina matanya untuk menerima cahaya mentari yang bersinar redup. Menyadari ada sesuatu yang ganjil atas dirinya, Naira pun menyingkap selimut yang membelit tubuh. Betapa terkejutnya wanita itu saat melihat tubuhnya tak lagi menganakan busana. Pakaiannya berserakan di atas lantai. "Ti-dak ...," lirihnya meneteskan air mata. Naira membenahi posisinya. Berusaha untuk turun dari ranjang, tetapi berakhir terjatuh bersimpuh di antara pakaiannya yang dibuka paksa menggunakan gunting. Tubuh gadis itu gemetar. Ia menangis terisak. "Kehidupan apa yang Kau gariskan untukku, Tuhan. Setelah kehilangan ayah, Kau membuatku menikah dengan Jack yang keterbelakangan, dan sekarang lihatlah, Kau membuatku dilecehkan seperti ini." Dipungutnya pakaian itu yang koyak, terpotong jadi dua. Kemudian mengambil selimut ia melangkah gontai menuju kamar mandi. Naira membenamkan diri di dalam wastafel yang penuh air. Berharap seluruh sesaknya akan tenggelam bersamanya yang mencelupkan seluruh tubuh ke sana. Namun, baru bebersapa saat ketika ia berniat melepaskan jiwa dari raga, Naira teringat akan ibu dan Tony, adiknya. Naira pun kembali menangis, karena hanya itulah yang bisa dilakukannya. Sementara itu, di bawah sana Jack dan Michael sudah kembali dari rumah Jimin. Pria autis itu melempar pandangan ke segala arah mencoba mencari istrinya. Ketika ia tak menemukan Naira, pria itu pun berlari mencari Bi Darsi yang sedang menyetrika di kamar belakang. "Naira mana, Bi?" tanyanya dengan tatapan yang tak fokus dan jemari sibuk memainkan kubik. Bi Darsi menoleh, meletakkan setrikaan di tempat yang aman barulah mendekati tuannya. "Nyonya belum bangun. Apa perlu saya bangunkan, Tuan?" "A-i-itu tidak usah, aku saja." Jack pun berlari meninggalkan Bi Darsi. Melewati Michael yang baru saja keluar dari dapur sambil membawa secangkir kopi. Pria itu pun mengabaikan tuannya dan memilih pergi ke halaman belakang untuk duduk. Senyum penuh arti terukir di dua sudut bibirnya. Jack mematung di depan pintu kamar Naira. Wajah merona, kembali teringat bagaimana Naira mencium wajahnya kemarin. Ada getar halus menyusup dalam hatinya, tanpa sadar ia mengusap pipinya. "Menggemaskan sekali," gumamnya. "Naira, Naira, kawan, kau sudah bangun?" Tak ada jawaban yang terdengar dari dalam sana. Jack pun memutar handle pintu. Hatinya berteriak senang, karena pintu kamar itu tidak terkunci. Ia memunculkan wajah pada celah pintu yang sedikit terbuka. Melempar pandangan ke sekeliling ruangan, kemudian mencebik kesal karena mendapati ranjang Naira sudah kosong. "Na-Naira ...," panggil Jack sekali lagi. Karena tak menemukan istrinya di sana, Jack pun berniat meninggalkan ruangan itu. Tepat pada saat itulah Naira keluar dari kamar mandi dengan handuk menyelimuti tubuhnya yang basah. "Jack ...," panggilnya ragu. Jack menoleh, kemudian mengalihkan pandangan sambil mengulum senyum. Hatinya kembali berdebar. Jika saja ia pria normal, mungkin saat ini Jack akan mendekati sang istri dan menyerangnya. Melihat keadaan istrinya yang mempertontonkan kemolekan tubuh, harusnya membuat Jack melahap istrinya detik itu juga. Akan tetapi, kondisinya yang tak normal hanya membuatnya merasa malu, hingga dirinya hanya bisa memalingkan wajah sambil memainkan kubik. Naira pun tersenyum tipis. Segera mengambil pakaian ganti di lemari, kemudian mengeringkan rambut dengan hairdryer. Sesekali Naira melirik Jack yang terus memainkan kubik sambil mencuri-curi pandang ke arahnya. "Jack," panggil Naira lembut sembari menyisir rambutnya yang telah kering. "Bagaimana tidurmu di sana? Apa kau tidur nyenyak?" "I-iya ...," jawab Jack tergagap. Gerakannya memainkan kubik semakin cepat ketika Naira mendekatinya. Rambut wanita itu dibiarkan tergerai, semerbak wangi lavender menguar dari tubuhnya yang telah berbalut busana. "Apa kau pernah belajar tentang alat reproduksi?" "Te-tentu saja." Pertanyaan Naira membuat Jack semakin gugup. Pikirannya mengingat kembali pelajaran yang ia dapatkan tentang alat-alat reproduksi pria dan wanita. Bagaimanapun Jack pria yang cerdas hampir secerdas Jimin adiknya. Ia hanya mempunyai masalah interaksi sosial, Sedikit mengalami keterlambatan dalam pertumbuhan, tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan otaknya. "Apa kau mau punya anak dariku?" pancing Naira dengan berani. Ia masih berharap kalau Jack mau bersetubuh dengannya, hingga jika suatu saat ia hamil karena kasus dua malam terakhir maka kehamilannya bisa diakui oleh suaminya. "Ta-tapi, aku tak tahu, aku-aku ...." Jack bergerak sangat gelisah. Ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya, tetapi tak bisa ia salurkan. Pikiran juga sarafnya menolak semua rasa itu. Jack yang malang terjebak dalam kebingungan. "Mau kuajarkan cara melakukannya?" Naira makin melancarkan aksinya. Tak tahan dengan tekanan dalam diri, Jack pun bangkit berdiri. "Ak-aku, mau-mau mengajakmu membeli buku," ucapnya semakin gugup. "Eh, tapi ...." Naira memberanikan diri memeluk tubuh pria itu dari belakang. Mengabaikan rasa lapar yang mendera perut karena ia belum sarapan. Naira ingin melakukan apa pun guna menjebak Jack dalam rencananya. Meski rasa sakit menyanyat hati, ia akan melakukannya. Sebab hanya Jacklah satu-satunya harapan hidupnya sekarang. Mendapat pelukan tak terduga spontan tubuh Jack membeku. Jemarinya terus memainkan kubik, sedang keringat dingin keluar menjalar di sepanjang tulang punggung. Dahinya pun mulai berkeringat. "Kau menyukaiku, 'kan?" Naira merayu dengan nada suara yang dibikin sesexy mungkin. Sementara air mata menetes dari netra indahnya. Merasa diri seperti w************n membuat harga dirinya sangat ternoda. Dilihatnya Jack mengangguk pelan. Tangan Naira membelai lembut d**a Jack, dengan posisi kepala menyandar pada punggungnya. Meski autis tubuh pria itu benar-benar sempurna. Sepertinya kembarannya selalu membawa Jack fitnes untuk membentuk bodynya. Dari pertemuan Naira dengan Jimin kemarin, jelas terlihat sesayang apa pria itu pada adiknya. Hanya saja Naira masih belum memahami kenapa Jimin memutuskan untuk tinggal berjauhan. Apa mungkin Jimin sudah menikah, atau mungkin karena Jack yang sudah menikah. Naira tak mau ambil pusing soal itu. Merasakan gerakan tangan Naira yang mengusap dadanya pelan, Jack jadi semakin gelisah. Sepertinya itu reaksi alami yang ditunjukkan gairah mudanya. Jack masih berusaha menahan gejolak aneh itu. Perlahan Naira semakin berani. Membalik badan pria itu kemudian memeluknya kembali. Kepalanya menyender di d**a bidang suaminya. Sementara jemari tangan mulai nakal melepas satu per satu kancing baju sang suami yang semakin gemetar menahan gugup. "Jack, aku ingin mengajakmu bermain pagi ini." Naira meraba d**a shirtless Jack Venien. Mencium d**a itu perlahan menghadirkan getaran yang semakin membakar jiwa sang pria. Kubik dalam genggamannya sudah tak beraturan warnanya. Jack tak terkendali. Naira tersenyum dalam hati, Perlahan ia menuntun Jack untuk duduk di atas ranjang. Dengan berani Naira mendudukkan dirinya di pangkuan sang suami. Tangannya bergerak menyentuh jemari Jack Venien yang memainkan kubik. "Na-Naira ...," gugup pria itu. "Sstt ...." Naira menyentuhkan telunjuk ke bibir prianya. "Jangan bicara, biar aku yang menuntunmu. Aku tutup matamu dengan ini, ya?" Sebuah ide muncul saat Naira melihat kain penutup matanya tadi pagi. Tanpa diduga olehnya, Jack mengangguk patuh. Sebelum Jack berubah pikiran, Naira segera melaksanakan niatnya. Segera ia menutup netra pria itu dengan kain hitam. Naira memandang suaminya yang semakin salah tingkah. Teringat persetubuhannya di malam pertama, bagaimana ia menikmati setiap sentuhan pria yang belum ia ketahui kejelasannya. Hanya siluetnya yang begitu mirip dengan Jack yang bisa tertangkap netranya. Menjadi satu-satunya pengingat akan sosok yang mengambil kesuciannya. "Jack ...," panggilnya dengan nada mendesah pelan. "Katakan kau mencintaiku, katakan kau ingin bercinta denganku, Sayang." "Ak-ak ... aku ...." Tiba-tiba Jack mendorong Naira hingga tubuhnya jatuh terlentang di atas ranjang. Jack menarik penutup matanya. "Ak-aku mau men-mencari, Mic-Michael," gagap pria itu. "Jack, tunggu." Naira bergegas bangkit, tetapi tetap saja gagal mencegah kepergian suaminya. Jack telah menghilang di balik pintu. Naira kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Rasa lapar yang sejak tadi ditahan pun menguap sirna. Yang ada dalam dirinya hanya kekalutan pikiran dan emosi yang mengaduk jiwa. Ia sadar ini kegilaan dan tak akan mudah. Namun, terjebak dengan jalan buntu, membuat Naira merasa tak punya pilihan. "b******n kau Michael. Kenapa kau begitu tega melakukan semua ini, apa salahku? Dasar b******n," rutuknya sambil terisak di balik bantal. Wanita itu terus menangis, tak menyadari jika di depan pintu kamarnya sesosok pria mematung mendengarkan setiap kata-kata yang keluar darinya. Sosok pria itu tersenyum penuh makna yang tersembunyi. Sesaat ia melihat orang kepercayaannya berderap mendekat. "Masuklah," titahnya setengah berbisik. "Kau tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya." "Baik, Tuan," sahut orang kepercayaannya itu. Setelah memastikan anak buahnya masuk ke kamar Naira, ia pun beringsut pergi dari sana. Netra Naira mungkin sudah bengkak karena terlalu lama menangis. Ia tak tahu kalau sekarang ada sosok seorang pria yang duduk di tepi ranjang. Ketika sosok itu mengelus punggungnya barulah, Naira terperanjat. "Kenapa kaget begitu manis," suara berat orang itu menyapa rungu wanita malang itu. Naira melempar pandangan ke arah pintu. Mendadak jantungnya berdetak cepat melihat daun pintu yang tertutup sempurna dan kunci masih tercentel di sana. "Ap-apa yang ingin kau lakukan. Kenapa kau masuk ke kamarku?" "Oh, ayolahh, Sayang. Jangan sok jual mahal begitu. Aku sudah masuk ke kamarmu dua kali. Juga sudah memasuki milikmu berulang kali." Pria itu mencondongkan badan ke arah Naira yang terpojok dengan tubuh terbentur di sandaran ranjang. "Kau tahu, kau sangat nikmat, Nyonya. Rasanya aku ingin mencicipinya lagi dan lagi." j*****m itu meniup wajah Naira yang mendadak pias. "Aku ingin memasukimu lagi. Jadi bagaimana kalau kita melakukannya. Mumpung Tuan Jack sedang mengunci diri di kamar. Kita bisa menjemput surga dunia bersama-sama. Aku merindukan desahanmu, Sayang." "Tidak, lepaskan aku. Lepas!" jerit Naira menepis tangan pria yang mengaku sudah menyetubuhinya. Air mata terus menetes jatuh membasahi pipinya. Tenaganya terlalu lemah untuk melakukan perlawanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD