Part 15 Asistance Pribadi

1628 Words
"A-asisten ap-pa ...." Naira tergugup, sedang netra Jimin masih memandang lekat penuh makna. "Kenapa? Kau takut? Kau hanya jadi asisten bukan istriku." Pria itu mengalihkan pandangannya berpura-pura mengabaikan Naira padahal jantungnya sendiri sudah bertalu melihat tingkah Naira yang tergagap menggemaskan. "Tapi aku tak mungkin tinggal di rumahmu. Aku punya suami." "Suami yang mengabaikanmu?" sungut Jimin menunjukkan kekesalannya. Naira menunduk. Bayangan suasana romantis yang terjadi dini hari kemarin menyeruak. Ada rasa hangat seketika menyapa hatinya. "Jack tak sepenuhnya mengabaikanku. Hubungan kami semakin hari semakin membaik. Aku tak ingin menyakitinya dengan cara meninggalkannya. Mendapat izin bekerja seperti ini saja sudah cukup membuatku merasa bersalah padanya." Seolah ada hawa lain yang menyapa Jimin. Hatinya terenyuh mendengar jawaban Naira yang begitu tulus dengan senyum manis tersemat di bibir. "Naira, kalau disuruh memilih antara aku dan Jack siapa yang akan kau pilih?" Rasa penasaran pada kebaikan Naira membuat Jimin tak bisa lagi menahan diri untuk menanyakan hal itu. Ia pun menunggu jawaban Naira dengan harapan cemas. "Kalian terlihat berbeda tapi sejatinya satu. Saat bersamamu aku seakan melihat Jack, begitupun sebaliknya. Jujur saja, aku mengagumimu. Bahkan hatiku berdebar seperti yang dirasakan wanita-wanita di sekitarmu. Tapi jika itu menjadi landasank untuk mencintai seseorang maka aku akan merasa sangat berdosa pada Tuhan." "Berdo-sa pada Tu-han?" Jimin menegaskan ucapan Naira. Senyum hangat kembali mengembang di wajahnya. "Kenapa Tuhan menciptakan manusia tidak ada yang sempurna? Itu karena setiap manusia membutuhkan manusia lain untuk menyempurnakannya. Itulah kenapa, cinta sesungguhnya bisa dinilai dari seberapa besar kita mencintai kekurangan pasangan kita." Jimin tersenyum miring, ucapan Naira terlalu menggelitik. Ia menganggap Naira terlalu munafik dan naif dalam pikirannya. "Pemikiran yang bagus. Kalau begitu aku menantangmu," ucap Jimin membuat Naira memandang ragu. "Kau tinggal bersamaku sebagai asisten. Hanya satu bulan. Jika kau tak membandingkan aku dan Jack, juga tak jatuh cinta padaku maka kuakui aku kalah. Setelah itu aku tak akan mengusikmu dan kau bebas menikmati hidupmu dengan saudara kembarku." "Jadi kau memanggilku dengan alasan memberi pekerjaan hanya untuk ini?" Suara derit pintu mengganggu percakapan mereka. Tampak Selina datang membawa dua cangkir kopi. Tubuhnya melenggang dengan anggun disertai senyum genit yang tersemat di bibir. Bukannya senang Jimin malah mencibir dan membuang muka. "Pak, ini kopi yang Anda pesan," ucap Selina dengan suara sexy. Naira meliriknya dengan tatapan tak suka. Baru kali ini ia merasa gerah saat bertemu dengan perempuan. Mungkin karena Selina yang kecentilan atau ia yang merasa kesal sebab di sekitar Jimin ada begitu banyak wanita yang siap mengantre dan tebar pesona pada pemuda itu. Apa yang dikatakan Rendy sepenuhnya benar. Rasanya Naira ingin sekali menyiramkan kopi ke d**a perempuan itu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka hingga buah dadanya telihat menantang. "Taruh saja di situ." Jimin berucap datar. Naira melirik sang bos, sedikit mengulum senyum juga lega dalam hatinya sebab nampaknya Jimin tak tertarik dengan wanita itu. "Kau boleh pergi dan siapkan laporan terkait kerjasama dengan model baru yang ajan menjadi brand ambasador mobil keluaran terbaru perusahaan," titah Jimin tanpa menoleh pada Selina yang terus berusaha mempertahankan senyum genitnya. "Baik, Pak," sahut Selina dengan sedikit kesal, karena setelah berminggu-minggu tetap saja Jimin tak meliriknya. Keberadaan Selina benar-benar terabaikan. Ia melangkah keluar begitu saja. Setelah kepergian Selina, Jimin kembali fokus pada Naira yang masih terduduk berhadapan dengannya. "Jadi bagaimana kau mau menerima tantanganku?" "Maaf, Jim, aku tak bisa menerimanya. Hubunganku dengan Jack bukan sesuatu yang bisa dipertaruhkan." Wanita itu bersikukuh kalau dirinya tak berminat. Padahal dadanya sendiri sudah berkecambuk ingin mengucap iya. Memangnya wanita mana yang bisa menolak pesona CEO muda itu. Kekehan kecil terdengar dari arah Jimin. Seringai meremahkan jelas terlihat di wajahnya. Ia mendekatkan dirinya pada Naira hingga sapuan napas hangatnya menyentuh wajah wanita itu. "Katakan saja kalau kau takut, Naira. Aku tak ingin mempertaruhkan hubunganmu. Apalagi seperti yang kita tahu hubungan ini hanya sebuah kepalsuan. Yang kulakukan hanya ingin mencari tahu seberapa pantas kau untuk menjadi bagian dari keluarga Venien untuk selamanya. Jika memang kau bisa mencintai Jack kakakku dengan setulus hati sesuai pemahaman dan prinsipmu tadi, maka kontrak pernikahan itu akan diabaikan dan kau akan menjadi bagian dari kami untuk selamanya." "Sayangnya aku tak menginginkan itu Jim, apa yang kudapatkan sudah cukup. Ibu bilang operasinya berjalan lancar, adikku juga sudah mulai bersekolah di sekolah seni lukis. Itu sudah lebih dari cukup bagiku. Kalau pun seandainya nanti aku bekerja sebagai asistenmu itu hanya karena keinginan Jack. Jika Jack melarang aku tak akan memaksa. Aku menghormatinya." Jimin menjauhkan wajahnya. Kejujuran tergambar jelas di netra Naira. Sedikit ragu dengan tindakannya membuat Jimin merasa gugup. Hatinya terjbak dalam kebimbangan. Sesaat Jimin melirik Naira kembali, lalu meneguk kopinya. "Aku akan bicara dengan Jack. Jadi kau persiapkan saja dirimu. Aku yakin Jack akan mengijinkannya." Dilihatnya Naira hanya menunduk dengan jemari saling menggenggam. Jimin mengerutkan dahi. Mencoba menebak apa yang dipikirkan wanita di hadapannya. Ia berdehem untuk mencairkan suasana. Naira pun menoleh padanya. "Minum dulu kopinya. Kau jangan tegang seperti itu, aku tak akan memakanmu. Aku hormati keputusanmu. Tapi kali ini aku benar-benar membutuhkanmu. Kau lihat sendiri bagaimana sekretarisku. Jadi seorang asisten pribadi sangat kubutuhkan untuk membuatnya menyingkir." "Bukankah kau punya Rendy? Dia ajudanmu, 'kan?" "Iya, tapi yang kubutuhkan seorang asisten. Pembantu rumah tanggaku juga sedang cuti selama sebulan, aku tak punya pilihan selain memintamu. Karena kau kakak iparku." Naira masih mematung. Tepat ketika ia ingin membuka suara Jimin kembali berucap. "Apa pun yang kukatakan tadi jangan diambil hati. Aku tak akan memintamu untuk tinggal jika Jack tak mengizinkan. Kau bisa pulang setelah pekerjaanmu selesai. Yang harus kau lakukan hanya memasak, dan membantuku menyiapkan diri saat akan berangkat ke kantor. Membantuku di kantor juga. Dan, untuk malamnya aku tak akan merepotkanmu. Kau pulang dan temani Jack. Aku tau kau bosan, karen Jack selalu mangabaikanmu. Jadi tak ada salahnya untuk mencoba, 'kan?" "Tapi ...." "Tolonglah, kumohon. Hanya sebulan setelah itu kau bebas." Naira menghla napas. "Kalian berdua benar-benar berbeda. Tapi sama-sama keras kepala. Aku mau pulang. Sepertinya pekerjaan ini tak cocok untukku." Segera ia bangkit dari tempat duduknya, bermaksud untuk melangkah menjauh dari sana. Sampai kemudian langkahnya terhenti begitu mendengar ucapan Jimin. "Aku akan menelepon Jack. Jika kau tak mau maka Jack sendirilah yang akan mengantarmu ke rumahku." *** Nyatanya yang dikatakan Jimin waktu itu benar adanya. Sebelum Naira sempat menceritakan apa yang terjadi di kantor J-Company, Jack sudah mendahului bicara dengan mengatakan kalau mulai hari ini Naira akan tinggal dengan Jimin selama sebulan. Wanita itu tak bisa membantah. Karena membantah berarti kemarahan bagi Jack, dan ia tak ingin itu terjadi. Akhirnya di sinilah Naiar berada. Mematut diri di depan rumah mewah Sang CEO yang tampak lengang karena seperti yang dikatakannya sekarang ia tinggal sendiri setelah Bi Inah pembantunya meminta izin pulang kampung. Naira masih terbengong di depan pintu gerbang setelah Michael menurunkannya di sana kemudian pergi kembali ke kediaman Jack. Sebelum menekan pintu wanita itu menghela napas berat. Lama menunggu tak kunjung ada yang membukakan pintu untuknya. Sudah sekitar lima kali ia melakukannya, baru ketika ingin menekan bel untuk ke enam kalinya kedatangan sebuah mobil mewah menghentikan gerakannya. Naira menoleh, memasang raut kesal memandangi Jimin yang keluar dari mobil masih mengenakan pakaian kantor. "Sendirian saja? Jack mana? Atau Michael?" tanya Jimin mendekati wanita itu. "Kau lihat sendiri kalau mereka tak ada di sekitarku, 'kan? Itu artinya mereka sedang ada di rumah. Berkencan dengan urusannya masing-masing," sungut Naira kesal. "Itulah kenapa kau akan merasa jauh lebih baik saat ada di sini." Jimin membuka gerbang rumahnya. Lalu tanpa diminta menarik koper ukuran sedang yang dibawa Naira. Ia memasukkannya ke mobil. "Naiklah," ucapnya pada Naira. Enggan membantah, Naira pun mengikuti semua yang dikatakan Jimin. Pria itu kembali melajukan kendaraan masuk ke pelataran parkir rumahnya. Setalh itu kembali ia keluar dari mobil dan mengunci gerbang. Sekali lagi tanpa diminta Jimin menggeret koper yang dibawa Naira. "Kau masih kesal padaku?" tanya Jimin saat melihat Naira yang membungkam mulutnya kesal. "Tidak, hanya saja ... aku kesal dengan hidupku sendiri," gerutu Naira sambil mengikuti langkah Jimin masuk ke dalam rumah. "Setelah bertemu kalian hidupku benar-benar seperti boneka. Terseret ke sana-sini sangat tidak jelas. Bersembunyi dari ibuku, padahal aku ingin sekali menemaninya saat menjalani operasi." Mengingat sang ibu netra Naira berkaca-kaca. Hatinya merasa perih, karena di saat di mana ia harus ada di samping ibunya, Naira justru terjebak dengan orang-orang yang seakan telah mempermainkan hidupnya begitu rupa. Kehilangan keperawanan di tangan pria yang tak diinginkan, juga kekhawatiran akan kehamilan yang mungkin saja terjadi. Tanpa sepengetahuan Naira, perubahan ekspresinya terkunci dalam manik Jimin yang kini menatapnya dengan rasa bersalah. 'Apa aku bersikap begitu jahat padanya?' bhatin Jimin bergolak. Akan tetapi, segera ditepiskannya semua itu. Jimin ingin semua berjalan seperti apa yang diinginkannya. Tungaki pemuda itu menyeret koper milik Naira masuk ke sabuah kamar. Ia meletakkan koper itu di dekat ranjang. "Kau rapikan dulu pakaianmu, setelah itu kita bisa berbincang sambil makan malam," ucap Jimin, lalu pergi begitu saja. Wanita itu pun hanya bisa mematung melihat sikap apatis Jimin. Bukankah yang tidak normal itu Jack, tetapi rupanya Jimin juga memiliki sikap yang tak peduli sama dengan Jack. Rasanya tak bisa dipercaya kalau Jimin juga memiliki sikap yang sedemikian kasar dan tak pedulian. Naira menghela napas, mendudukkan diirinya di tepi ranjang. Cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya menjadi pandangan Naira. Ie menyentuhnya ketika setitik air mata meluruh jatuh membasahi pipinya. "Jika ibu tahu aku sudah menikah, apa yang akan dipikirkannya? Apa ibu akan memaafkanku jika tahu aku menikah kontrak?" Isakan kecil pun keluar dari bibirnya. Sementara itu di luar sana, Jimin masih mematung di depan pintu. Rasa yang mengusik hatinya membuat ia menghentikan langkah, mencoba mencari tahu apa yang sekiranya dilakukan oleh Naira di dalam sana. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Jimin bisa melihat bagaimana air mata mengalir dari pipi wanita yang dicintaiya. "Apa aku harus mengakhiri semua ini sekarang?" gumamnya pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD