Clarisa kembali menjadi dirinya yang dingin. Nada suaranya datar, langkahnya terukur, dan ekspresi wajahnya nyaris tak memberi celah bagi siapa pun untuk membaca isi kepalanya. Hari itu ia masuk kerja seperti biasa—rapi, profesional, dan menjaga jarak. Seolah hari-hari cuti yang dihabiskannya bersama Kael tak pernah terjadi. Namun Kael tahu. Dingin Clarisa kali ini bukan karena ia baik-baik saja, melainkan karena emosinya belum sepenuhnya stabil. Hari pertama datang bulan memang sudah terlewati, tapi sisa-sisa nyeri masih tinggal, menggantung di tubuh dan pikirannya. Kael memperhatikannya dari balik layar komputer. Tidak berlebihan, tidak mencolok. Hanya sesekali memastikan Clarisa minum air, duduk dengan posisi yang benar, atau tidak memaksakan diri berdiri terlalu lama. Clarisa sudah

