Perintah Terakhir
Kael datang ke negara itu tanpa suara.
Ia membawa beberapa orang terlatih untuk membantunya jika ada situasi genting.
Tujuannya ke negara itu hanya satu.
sedangkan disisi lain seorang perempuan bernama Clarisa bekerja seperti biasa. Ia menyelesaikan pekerjaannya dengan wajah datar agar tidak ada yang bisa membaca pikirannya. ia fokus bekerja tanpa merasa gelisah. Hidupnya sangat teratur setelah merantau ke negara ini untuk bekerja. ekonomi keluarganya juga mulai membaik, walaupun sekarang jarak clarisa dan keluarganya sangat jauh ia tetap semangat bekerja.
Sampai ponselnya bergetar.
“Clarisa, ke ruangan saya sekarang.”
Pesan singkat dari atasannya.
Clarisa menghela napas pelan, merapikan rambutnya, lalu berdiri. Ia mengira ini evaluasi bulanan tentang pekerjaannya. Hal-hal yang selalu bisa ia hadapi tanpa rasa gugup.
Ia mengetuk pintu.
“Masuk.” suara itu terdengar tegas dari dalam ruangan bos nya.
Ruang itu terasa berbeda, bukan karena suasananya, melainkan karena seseorang yang berdiri di dekat jendela.
Pria itu tinggi, berpakaian gelap, sikapnya terlalu tenang untuk seseorang yang tidak seharusnya berada di sana. Tatapannya tidak langsung ke Clarisa, namun kehadirannya terasa seperti bayangan yang berdiri terlalu dekat.
Atasannya berdiri dari kursi.
“Clarisa, duduklah.”
Nada suaranya aneh, Clarisa mulai mencuriga, perasaannya juga mulai tidak enak.
Clarisa duduk. Matanya sempat kembali ke pria asing itu. Mereka tidak saling menyapa. Pria itu tidak memperkenalkan diri. Tidak tersenyum. Tidak menjelaskan apa pun.
Ia hanya berdiri. Diam. Mengamati.
“Clarisa, saya memberi mu cuti pulang karena keadaan mendesak” kata bos clarisa yang sudah mulai tampak tua itu.
Clarisa menunggu.
“saya tidak dapat kabar apapun dari keluarga saya pak, untuk apa saya pulang" tanya clarisa dengan perasaan campur aduk.
Atasannya menoleh sekilas ke pria asing itu, sekarang Clarisa mengerti pasti pria asing itu yang membawa informasi itu kepada atasannya. sangat jelas di ingatan clarisa bahwa ia tak mengenal pria asing itu, tapi ia ingin mendengarkan dulu dan membaca situasi yang membingungkan ini.
“Aku hanya diberi tahu secara garis besar,” lanjutnya. “ keluarga meninggal karena kecelakaan”
Clarisa merasakan sesuatu runtuh di dadanya, walaupun belum percaya sepenuhnya tapi firasatnya sekarang menagatakan informasi itu benar adanya, ingin menangis tapi ini bukan waktu yang tepat karena rasa penasaran lebih dominan dihatinya, gadis itu tenang dan tetap fokus padahal itu sangat sulit dilakukan banyak orang apalagi seorang perempuan yang sedang merindukan namanya rumah.
“Aku diberi izin untuk pulang?” tanyanya Clarisa pelan menahan gejolak perasaan yang campur aduk itu.
“iya. Atas nama perusahaan, kamu dibebaskan dari tugas. Segera kembali ke rumah. dan saya turut berduka cita.”
Clarisa mengangguk dan berterimakasih. Ia berdiri, mengambil tasnya.
Tidak menangis. Tidak bertanya lagi.
Saat ia berjalan keluar, pria asing itu akhirnya bergerak. Bukan mengejarnya hanya menunduk sedikit pada atasan Clarisa
“Terima kasih sudah menyampaikan seperlunya.” ujar pria itu dingin dan datar.
Clarisa hanya bisa menebak dalam hati bahwa pria asing itu dikirim oleh keluarganya untuk membawanya pulang agar tahu apa yang sudah terjadi. ternyata itu kenyataannya bukan hanya tebakan clarisa.
Clarisa berdiri dengan paspor di tangan. Tiket sudah diatur. packing kopernya sendiri membawa barang seperlunya. Pria asing itu Kael berdiri beberapa langkah darinya,
“Aku bisa pulang sendiri, aku bisa menjaga diriku sendiri” kata Clarisa dingin berhenti sejenak lalu menatap kael yang ada dibelakangnya dengan datar.
Kael menoleh.
“Tidak.” jawab kael tak kalah dingin.
“Aku tidak mengenalmu, dan belum mempercayai mu sepenuhnya” ujar Clarisa mengintimidasi.
“Aku mengenalmu, aku tahu keluargamu, terutama ayahmu” jawab Kael pelan. “Itu cukup.”
Clarisa menahan amarah. Pengumuman keberangkatan memotongnya. Kael melangkah lebih dulu, seolah keputusan sudah diambil sejak awal. Clarisa mengikuti bukan karena patuh, melainkan karena nalurinya mengatakan menolak sekarang hanya akan memperburuk segalanya.
dikepala Clarisa sekarang banyak sekali pertanyaan tapi hanya bisa ditahannya di sepanjang perjalanan udara itu, karena jika orang disebelahnya pun menjawab gadis itu belum ada kepercayaan, jadi dia memutuskan melihat keadaan sebenarnya dulu dirumah agar bisa mempercayai semua jawaban pria itu nanti.
Penerbangan itu sunyi.
Clarisa menatap jendela. Kael duduk di sampingnya, tidak mencoba bicara. Ia hadir seperti tembok kokoh dan tak tertembus.
“apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Clarisa tanpa menoleh.
“Kamu akan tahu,” jawab Kael. “Tapi bukan di sini.di rumah ayahmu.” ujarnya membuat Clarisa penasaran.
Clarisa menoleh cepat.
“bukankah semuanya ..”
“Belum,” potong Kael. “Belum semuanya.” jawab pria itu menatap Clarisa intens.
Malam sudah turun saat mereka tiba.
Rumah itu masih berdiri. Penjagaan diperketat. Bau antiseptik menggantung di udara.
Kael berjalan cepat, memberi isyarat singkat. Clarisa mengikutinya, jantungnya mulai berdetak lebih keras. Rasa takut yang datang terlambat mengencang di perutnya.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar.
“Dengar aku baik-baik, Clarisa,” kata Kael. Untuk pertama kalinya, suaranya berubah.
“Ayahmu masih hidup. Tapi kritis.”
Clarisa membeku.
“Kenapa kamu membawaku ke sini?” tanya Clarisa singkat karena sudah lama tidak pulang kerumah ayahnya, semenjak ibunya menyewa rumah sendiri membawa ia dan saudari nya.
“Karena ada hal yang hanya bisa dia katakan padamu.” Kael menarik napas. “Dan padaku.”
Mesin-mesin berbunyi pelan. Pria yang dulu Clarisa kenal sebagai sosok tak tergoyahkan kini terbaring lemah. Kulitnya pucat. Napasnya berat.
Clarisa melangkah pelan.
“Ayah…”
Kelopak mata itu terbuka susah payah. Ia menatap Clarisa, lalu melewati Clarisa ,menatap Kael.
Isyarat kecil. Tapi jelas.
Kael mendekat.
“Kael…” suara itu serak. “Dengar aku.”
“Aku di sini.” jawab pria itu seadanya.
“Musuhku tidak akan berhenti. Mereka akan mengejar Clarisa.” ujar ayah Clarisa dengan lemah.
Clarisa menoleh, bingung.
“Perintah terakhirku,” lanjut ayahnya. “Kau lindungi dia.”
“Seperti yang selalu aku lakukan,” jawab Kael.
“Tidak cukup.” Tatapan itu tajam meski tubuhnya rapuh. “Kali ini… kau harus jadi perisainya.”
Clarisa menggeleng. “Tidak. Aku tidak setuju.”
“Kael,” panggilan ayah clarisa mulai melemah, “Kau menikahinya.” Ruangan berhenti bernapas.
Clarisa menatap Kael. Kael menatap ayahnya.
“Pernikahan itu perlindungan,” lanjut ayahnya lirih.
“ikatan itu akan memperkuat Alasan untuk berdiri di sampingnya tanpa celah.”
“Aku tidak meminta cintamu,” katanya pada Kael. “Aku memerintahkan kesetiaanmu.”
Hening.
Lalu Kael menjawab, rendah dan pasti:
“Aku terima.”
Clarisa menatapnya, terkejut. “Kamu gila?”
Kael menoleh padanya.
“Ini bukan tentang pilihanmu,” katanya pelan.
“Ini tentang hidupmu.” lanjutnya lagi.
Dan saat itu Clarisa mengerti
pernikahan ini bukan janji cinta,
melainkan benteng terakhir yang dibangun dari darah, perintah, dan pengorbanan.