Pernikahan itu terjadi di kamar yang bau antiseptik, ditemani bunyi mesin yang berdetak pelan seolah menghitung waktu yang tersisa untuk seseorang yang tidak ingin pergi sebelum memastikan satu hal terakhir.
Clarisa berdiri di sisi ranjang. Pakaian gelap yang sama sejak ia turun dari pesawat masih melekat di tubuhnya. Rambutnya rapi, wajahnya tenang ketenangan yang dipelajari sejak kecil untuk bertahan. Ia tidak menangis. Ia tidak bertanya. Ia hanya berdiri, menunggu takdir menyelesaikan urusannya.
Kael berdiri di seberangnya. Setelan hitam. Sikap tegak. Tatapan lurus.
Ia menjaga jarak. Ia tahu, satu langkah terlalu dekat bisa mengubah sumpah ini menjadi sesuatu yang tidak seharusnya.
Di ruangan itu hanya ada orang-orang yang diperlukan.
Seorang pejabat yang tidak bertanya.
Seorang saksi dari pihak Kael.
Dan seorang ayah yang sedang sekarat.
Ayah Clarisa membuka mata dengan susah payah saat mereka berdiri di sisinya. Napasnya berat, terputus-putus, namun tatapannya tetap tajam tatapan seorang pria yang sedang memastikan benteng terakhir putrinya berdiri.
“Clarisa…” suaranya serak.
Clarisa mendekat.
“Ayah.”
“Aku tidak memberimu pernikahan,” katanya lirih. “Aku memberimu perisai.”
“Aku tidak membutuhkannya,” jawab Clarisa pelan.
Ayahnya tersenyum tipis. “Kamu membutuhkannya… bahkan sebelum kamu mengakuinya.”
Tatapan itu beralih ke Kael.
“Kau tahu sumpahmu.”
Kael mengangguk satu kali.
“Aku tahu.”
Prosesi dimulai tanpa musik.
Suara pejabat itu datar, profesional kata-kata hukum dibacakan seolah ini hanya dokumen lain yang harus ditandatangani. Clarisa mendengarkan tanpa benar-benar hadir. Ia merasa seperti berdiri di luar tubuhnya sendiri, menyaksikan seorang perempuan menikah demi hidupnya.
“Apakah Anda bersedia...”
Clarisa terdiam.
Kael menoleh sedikit.
“Ini tidak mengikat hatimu,” katanya pelan, cukup untuk didengar Clarisa.
“Hanya hidupmu.”
Clarisa menutup mata sejenak.
“Bersedia,” katanya akhirnya.
“Apakah Anda..”
“Aku bersedia,” jawab Kael tanpa ragu.
Tidak ada cincin.
Hanya tanda tangan.
Dan satu kalimat terakhir.
“Dengan ini, kalian sah sebagai suami dan istri.”
Ayah Clarisa mengangkat tangannya dengan sisa tenaga. Clarisa menangkapnya. Kael berdiri di sisi lain.
“Dengarkan aku, Kael,” kata ayahnya, napasnya terputus-putus.
“Mulai hari ini… hidupmu tidak lagi milikmu.”
“Aku tahu,” jawab Kael.
“Jika harus memilih… pilih dia.”
Kael menunduk. “Aku akan memilihnya.”
Clarisa menoleh cepat. “Jangan berjanji seperti itu.”
Kael tidak menatapnya.
“Janji itu bukan untukmu,” katanya.
“Itu untuk ayahmu.”
Napas ayahnya melemah.
Mesin di samping ranjang mulai berbunyi dengan ritme yang berbeda—lebih lambat, lebih jarang. Clarisa merasakan genggaman tangan itu mengendur.
“Ayah?” suaranya nyaris pecah.
Ayahnya membuka mata sekali lagi, menatap Clarisa lama—seolah ingin menyimpan wajah itu di tempat yang tidak bisa direnggut siapa pun.
“Bertahanlah,” bisiknya. “Jangan pernah minta izin… untuk hidup.”
Lalu tatapannya meredup.
Bunyi panjang dari mesin memotong udara. Sunyi menyusul sunyi yang terlalu besar untuk sebuah ruangan kecil.
Clarisa tidak menangis.
Ia berdiri kaku, memegang tangan yang sudah dingin, seolah jika ia melepasnya, dunia akan runtuh sekaligus.
Kael melangkah mendekat. Tidak menyentuh Clarisa. Tidak memeluknya.
Ia hanya berdiri di sampingnya hadir, seperti yang dijanjikan.
Di hari yang sama ia menikah, Clarisa menjadi yatim piatu sepenuhnya.
Mereka meninggalkan rumah itu tanpa kata.
Malam sudah jatuh sepenuhnya ketika mobil melaju, menelan jarak dengan keheningan yang terlalu berat untuk diisi percakapan. Clarisa duduk tegak di kursinya. Wajahnya kaku. Matanya kosong. Tidak ada isak. Tidak ada suara.
Kael tidak berbicara karena ini bukan waktu yang tepat.
Rumah itu berdiri megah di balik gerbang besi tinggi tenang, luas, dan terlalu rapi untuk seseorang yang hidupnya dibangun dari bayang-bayang. Lampu-lampu menyala lembut, memantulkan kilau dingin pada lantai marmer. Setiap langkah terasa terukur, seolah rumah itu terbiasa menyimpan rahasia.
“Ini rumahmu sekarang,” kata Kael singkat.
Clarisa menoleh sekilas.
“Tidak,” katanya pelan. “rumahku tidak ada lagi didunia ini”
Kael tidak membantah.
Ia mengantarnya ke lantai atas, melewati koridor panjang, lalu membuka pintu kamar besar di ujung lorong.
"istirahat lah, hari ini berat untukmu” katanya.
Clarisa masuk. Ruangan itu luas—jendela tinggi, tirai tebal, tempat tidur besar yang tampak tak tersentuh. Terlalu sempurna. Terlalu tenang. Seolah dunia di luar tidak pernah terjadi.
Clarisa berdiri di tengah ruangan.
“Kael,” katanya tanpa menoleh. “bisakah aku minta waktu sendiri dulu?”
Ia menarik napas.
“aku butuh mencerna semuanya dengan menyendiri seperti biasa yang aku lakukan”
Kael mengangguk satu kali.
“Aku akan memastikan tidak ada yang masuk.”
Ia menoleh ke kamar mandi.
“kalau begitu aku mandi dulu”Pintu kamar mandi menutup pelan.
Begitu kunci berputar, ketenangan itu pecah.
Clarisa menunggu beberapa detik memastikan benar-benar sendiri. Lalu lututnya melemah. Ia menahan mulutnya dengan telapak tangan agar suara tidak lolos. Tangis itu keluar tanpa jeritan, tanpa drama bunyi dan keras, seperti napas yang patah.
Ia tergelincir ke lantai. Bahunya bergetar. Air mata jatuh membasahi punggung tangannya.
Ia menangis untuk ibu yang tak sempat ia peluk.
Untuk saudari yang tak sempat ia lindungi.
Untuk ayah yang menjadikannya kuat dengan cara yang kejam.
Dan untuk dirinya sendiri yang kehilangan segalanya di hari yang sama ia dinikahkan pada pria asing.
Kael berdiri di bawah pancuran air panas. Air mengalir deras, menenggelamkan suara napasnya yang berat. Ia menunduk, menahan sesuatu yang tidak boleh muncul rasa bersalah, amarah, dan sesuatu yang lebih berbahaya: kepedulian.
Jangan masuk ke dalam lukanya, katanya pada dirinya sendiri.
Bukan penghibur.
Ketika Kael kembali ke kamar, Clarisa sudah berdiri di dekat jendela. Wajahnya kering. Mata sedikit merah, tapi punggungnya kembali tegak. Tangisannya telah ia kunci rapi di tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun.
“Kita sekamar, dan satu ranjang saja” kata Clarisa tanpa menoleh. "aku rasa kamu cukup dewasa untuk tahu batasan, apalagi pernikahan ini tanpa perasaan."
Kael menatapnya sejenak.
“Baik.”
Mereka berbaring di ranjang yang sama
dipisahkan oleh jarak yang sengaja dijaga.
Clarisa di sisi jendela.
Kael di sisi pintu.
Hening kembali turun, clarisa sedikit gelisah karena beluim pernah satu ranjang dengan lawan jenis.
“Aku tidak akan menyentuhmu, aku ahli dalam menjaga batasan, tenang saja.” kata Kael akhirnya, tau kegelisahan gadis itu.
Clarisa memejamkan mata, bernapas lega sekarang dia bisa tidur dengan tenang.
“Dan aku tidak butuh penjaga yang berubah jadi penjara.” ujar clarisa sebelum menuju dunia mimpi.
“Aku tidak akan menjadi itu.” jawab kael.
Mereka tertidur di ranjang yang sama—
tanpa sentuhan, tanpa pelukan, tanpa janji.
Namun di antara dua napas yang akhirnya sinkron itu,
lahir sesuatu yang lebih berbahaya dari cinta, rasa aman yang tidak diminta, namun perlahan menjadi kebutuhan.
Dan Kael tahu malam ini adalah batas terakhir sebelum perannya sebagai penjaga mulai berubah menjadi sesuatu yang tidak boleh ia izinkan.