Rahasia yang tidak pernah diperlihatkan

1142 Words
Kael terbangun lebih dulu. Itu kebiasaan lama, bangun sebelum dunia bergerak, memastikan semuanya aman sebelum orang lain membuka mata. Ia duduk sejenak di tepi ranjang besar itu, menoleh singkat ke arah Clarisa. Perempuan itu tertidur miring, napasnya pelan, wajahnya tenang dengan sisa lelah yang belum sepenuhnya pergi. Kael berdiri tanpa suara. Ia mengenakan kemeja sederhana, lalu turun ke dapur. Rumah besar itu sunyi, terlalu luas untuk pagi yang baru saja lahir. Kael menyalakan lampu, mengeluarkan bahan-bahan, dan mulai menyiapkan sarapan—bukan karena ingin berperan sebagai suami, melainkan karena rutinitas memberi kendali. Hal-hal yang menenangkan karena bisa diprediksi. Clarisa terbangun oleh aroma kopinya. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit kamar yang masih asing. Beberapa detik berlalu sebelum ingatannya menyusul—pernikahan tanpa cinta, kematian ayahnya, dan seorang pria yang kini berbagi ruang hidup dengannya. Ia bangkit. Merapikan diri sekadarnya. Saat Clarisa turun, Kael sudah menata meja. “Pagi,” katanya singkat. “Pagi,” jawab Clarisa. Mereka duduk berhadapan. Tidak ada basa-basi. Hanya bunyi sendok, cangkir, dan napas yang kembali menemukan ritmenya. Setelah beberapa suap, Clarisa mengangkat pandangan. “Aku diberi izin seminggu.” Kael mengangguk. “Aku tahu.” “Setelah itu, mereka menunggu keputusanku,” lanjut Clarisa. “Mengundurkan diri… atau menghabiskan kontrak.” Kael meletakkan cangkirnya. “Kontrakmu berapa lama?” “Tiga bulan.” Hening sejenak. “Kamu ingin apa?” tanya Kael menatap intens kearah clarisa. Clarisa terdiam. Ia menatap meja, lalu jendela. “Aku tidak terbiasa membuat keputusan besar saat semua orang menatap.” “Aku tidak menatap,” kata Kael tenang. “Aku mendengar.” Clarisa menarik napas. “sayang jika mengundurkan diri , nanggung 3 bulan lagi” “Keamananmu tidak fleksibel,” kata Kael. “Waktu dan tempat bisa.” Clarisa menatapnya. “Kamu menyarankan apa?” “Aku tidak menyarankan,” jawab Kael. “Aku memetakan.” Ia mengambil tablet dan membuka kalender. “Pilihan satu: kamu mengundurkan diri. Kita atur perlindungan penuh, minim pergerakan, fokus pemulihan.” “Pilihan dua?” “Kamu menyelesaikan kontrak. Aku ikut. Jarak dekat. Protokol ketat.” Clarisa menyipit. “Kamu ikut?” “Aku tidak akan membiarkanmu kembali sendirian,” katanya datar. “Bukan setelah apa yang terjadi.” Clarisa menatapnhya curiga. “Aku tidak suka diawasi.” “Aku tidak suka kehilangan orang yang harus kujaga,” balas Kael. Kalimat itu menggantung, tidak saling menyerang, tidak saling menang. “Aku butuh waktu,” kata Clarisa akhirnya. “Kamu punya seminggu,” jawab Kael. “Gunakan.” Mereka keluar rumah tanpa tujuan yang diumumkan. Udara pagi bersih, rumput masih basah oleh embun. Jalur setapak mengarah ke padang rumput luas yang berakhir pada danau airnya tenang, memantulkan langit yang belum sepenuhnya biru. Kael menjaga jarak setengah langkah di samping Clarisa cukup dekat untuk berjaga, cukup jauh untuk tidak menekan. Clarisa berhenti di tepi rumput. Menatap danau lama-lama. “Kamu tidak banyak bicara tentang dirimu,” katanya akhirnya. “Padahal… sekarang hidupku berputar di sekitarmu.” Kael mengamati garis air. “Tidak ada yang perlu diputar.” “Itu bukan jawaban,” Clarisa menoleh. Kael mengangguk kecil. “Aku anak sahabat ayahmu.” Clarisa mengernyit. “Sahabat?” “Kami tidak sering bertemu,” lanjut Kael. “Ayahmu sengaja menjaga jarak.” “Kenapa?” “Karena keluargamu tidak perlu mengenalku.” Kael berhenti sejenak. “Ibumu dan adikmu tidak pernah melihatku. Dan itu memang rencananya.” Clarisa terdiam. “Jadi… aku juga?” “Kamu pernah melihatku,” kata Kael pelan. “Sekali.” Clarisa menoleh cepat. “Kapan?” “Kamu bayi,” jawab Kael. “Ayahmu membawamu ke rumah lama di seberang danau. Hanya sebentar.” Clarisa memejamkan mata. Ia tidak mengingat apa pun—hanya sensasi aneh, seolah kisah itu menempel di kulitnya tanpa gambar. “Ayahmu memintaku satu hal,” lanjut Kael. “Bukan untuk ikut campur. Bukan untuk hadir. Hanya… bersiap.” “Bersiap untuk apa?” “Untuk hari seperti kemarin.” Clarisa menghembuskan napas. “Ibu dan adikku tidak tahu apa-apa?” “Tidak,” Kael menggeleng. “Ayahmu ingin mereka hidup tanpa bayangan.” Clarisa tertawa pendek—pahit. “Dan aku?” “Kamu hidup dengan jarak,” jawab Kael. “Itu perlindungan juga.” Mereka duduk di rumput, berjarak satu lengan. Angin menggerakkan permukaan danau. Beberapa detik berlalu dalam hening yang tidak canggung. “Keluargamu?” tanya Clarisa akhirnya, berhati-hati. Kael tidak menoleh. “aku belum siap membahasnya.” Clarisa menerima jawaban itu tanpa memaksa. “Baik.” Ia memetik sehelai rumput, memutarnya di antara jari. “Ayahku mempercayaimu sampai menit terakhir. Itu berarti kamu juga kehilangan sesuatu kemarin.” Kael mengencangkan rahang, lalu mengendurkannya kembali. “Aku kehilangan… satu janji lama yang akhirnya harus dibayar.” Clarisa menatapnya lama. “Aku tidak suka rahasia.” “Aku tahu.” “Tapi aku lebih tidak suka kebohongan,” lanjut Clarisa. Kael menoleh. “Aku tidak akan berbohong padamu.” “Dan aku tidak akan memaksamu bicara,” kata Clarisa. “itu Kesepakatan, setuju?” Kael mengangguk. “setuju” Mereka berdiri. Matahari naik sedikit lebih tinggi, menghangatkan punggung tangan Clarisa. Saat kembali ke jalur setapak, Clarisa berhenti. “Kael.” “Iya.” “Terima kasih… karena menjaga dari jauh. Dan karena tidak membuatku tontonan.” Kael menunduk tipis. “Itu caraku menghormati ayahmu.” Mereka tiba kembali di rumah saat pagi benar-benar matang. Di dapur, Clarisa menuangkan air ke gelas. Tangannya stabil. Wajahnya kembali pada ketenangan yang ia kenal ketenangan yang bukan berarti damai, melainkan siap menghadapi apa pun. “Aku sudah memutuskan,” katanya tanpa menoleh. Kael berdiri beberapa langkah darinya. “Tentang kontrakmu.” Clarisa mengangguk. “Aku akan melanjutkannya.” Kael menunggu. “Bukan karena pekerjaan,” lanjut Clarisa. “Ada sesuatu yang belum selesai.” “Di sana,” kata Kael. “Iya.” Clarisa menatap gelasnya. “Aku pergi terlalu cepat. Ada benang yang terputus. Dan aku tidak ingin hidup dengan pertanyaan yang tidak pernah aku jawab.” “Keputusan itu menambah risiko,” ujar Kael datar. “Aku tahu,” kata Clarisa. “Dan aku tidak mengambilnya sendirian.” Kael mengangguk satu kali. “Aku ikut.” “Dengan syarat,” Clarisa menambahkan. “hanya berjaga” Hening sebentar. “setuju" kata Kael. Clarisa menghembuskan napas panjang, seolah baru saja meletakkan beban di tempat yang tepat. “Aku berangkat dua hari lagi. Aku akan menyelesaikan kontrak itu.” Kael membuka ponselnya. “Aku atur ulang rencana nya.” Clarisa tersenyum tipis senyum seseorang yang tahu ia sedang melangkah ke sesuatu yang berbahaya, tapi perlu diselesaikan. “Kael,” panggilnya sebelum beranjak. “Iya.” “Kalau aku menemukan apa yang kucari,” katanya pelan, “dan itu tidak menyenangkan… kamu tetap di sisiku?” Kael menatapnya lurus. “Itu inti tugasku.” Clarisa mengangguk dengan senyuman tipis diwajahnya, clarisa pikir pernikahan ini tidak buruk karena kael selalu menghormati keputusannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD