Kesalahpahaman

1017 Words
Malam turun tanpa suara. Lampu kamar diredupkan. Kota di balik jendela hanya meninggalkan kilau jauh—indah, acuh, dan tidak peduli pada apa pun yang akan pecah di dalam ruangan ini. Clarisa duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak seperti kebiasaannya menjaga diri. Di hadapannya, Kael berdiri beberapa langkah diam, menunggu. “Ada yang harus kamu jelaskan,” kata Clarisa akhirnya, tanpa menoleh. “Tentang ayahku.” Kael tidak langsung menjawab. Ia tahu, begitu kata-kata itu keluar, tidak ada jalan kembali. “Kamu yakin?” tanyanya pelan. Clarisa mengangguk. “Aku lelah hidup dengan setengah cerita.” Kael menarik napas dalam—satu tarikan panjang yang menandai keputusan. Lalu ia mulai. “Di matamu,” kata Kael rendah dan terkendali, “ayahmu adalah pria yang temperamental. Emosional. Dekat dengan banyak perempuan. Selingkuh.” Clarisa menutup mata. “Itu yang kami lihat.” “Dan sebagian itu benar,” lanjut Kael. “Tapi tidak utuh.” Clarisa menoleh cepat. “Ayahmu memang sering bersama seorang perempuan,” kata Kael. “Bukan sebagai pasangan. Dia menyewanya—untuk merawat seorang anak.” Clarisa membeku. “Anak itu… aku.” Ruangan seakan menyempit. “Ayahku dibunuh saat aku enam tahun,” Kael melanjutkan, suaranya tetap datar meski rahangnya mengeras. “Oleh musuhnya.” Clarisa menelan ludah. “Ibuku bunuh diri,” lanjut Kael. “Dia hamil. Anak kembar. Dia tidak bisa menyelamatkan adikku.” Sunyi menekan. “Sejak bayi, aku yatim piatu,” kata Kael. “Dan ayahmu adalah satu-satunya orang yang dipercaya ayahku untuk mengurusku.” Clarisa berdiri perlahan. “Kenapa… tidak membawamu ke rumah keluarga ku?” “Karena bahaya,” jawab Kael. “Ayahmu tidak ingin keluarganya menjadi target.” Ia menjelaskan tentang rumah kecil yang disewa. Tentang perempuan yang dipercaya. Tentang kunjungan ayah Clarisa—selalu singkat, selalu diam-diam. Tentang satu hari ketika Clarisa bayi ikut dibawa, hanya sekali. “Ibumu dan adikmu tidak pernah tahu,” kata Kael. “Dan itu memang rencananya.” “Masalahnya,” lanjut Kael, “bahaya tidak berhenti.” Mereka berpindah-pindah tempat. Nama yang harus disamarkan. Wajah-wajah yang tidak boleh diingat. “Di salah satu tempat,” katanya, “kami bertemu kenalan ibumu.” Clarisa memejamkan mata. Ia sudah tahu ke mana cerita itu menuju. “Mereka melihat ayahmu bersama perempuan itu,” kata Kael. “Tanpa konteks. Tanpa penjelasan. langsung menyimpulkan perselingkuhan, dari keluarga besar ibu dan ayahmu, semuanya mulai membenci ayahmu, tapi ayahmu tetap bersikeras tidak menjelaskan kejadian sebenarnya”. Clarisa menghela napas gemetar. “Dan ibuku—” “Mati rasa,” sambung Kael. “Bukan karena tidak cinta. Karena tidak diberi waktu untuk mengerti.” “Kenapa ayahku tidak menjelaskan?” tanya Clarisa, suaranya bergetar untuk pertama kalinya. “Karena saat itu,” jawab Kael, “dia sudah terlalu dalam.” Kael melangkah setengah langkah lebih dekat. “Ayahmu diminta menangkap bandar besar,” katanya. “Dengan cara menyamar sebagai bandar.” Clarisa tertawa kecil—retak. “Dan kami mengira dia pecandu.” “Awalnya alat,” kata Kael jujur. “Lalu pelarian.” Ia berhenti sejenak. “Stres. Tekanan. Dan kebencian dari rumahnya sendiri.” Clarisa menutup wajahnya dengan telapak tangan. “Dia memilih melindungi banyak orang,” lanjut Kael. “Dan kehilangan keluarganya sendiri.” Hening panjang. “Ayahmu bukan orang baik,” kata Kael pelan. “Tapi dia bukan penjahat seperti yang kamu kenal.” Pertahanan Clarisa runtuh. Bahunya bergetar. Napasnya pecah. Untuk pertama kalinya, air mata tidak ia tahan. Ia terjatuh duduk di ranjang, menutup mulutnya—tangis itu keluar kasar, tidak rapi, tidak anggun. “Aku membencinya,” isaknya. “Seumur hidup aku membencinya.” Kael tetap diam. Ia tahu, ini saatnya membiarkan luka menjadi miliknya. “Aku tidak pernah memberinya kesempatan,” lanjut Clarisa, suaranya patah. “Dia mati… dan aku hanya mengenalnya sebagai orang yang menyakiti ibuku.” Tangisnya semakin keras. “Aku selalu kuat,” katanya tersengal. “Aku selalu kuat sendirian. Tapi ini—” Tubuhnya gemetar hebat. Kata-kata terhenti. Kael mengepalkan tangannya. Rasa bersalah menekan dadanya—bukan karena berkata jujur, melainkan karena kebenaran itu datang terlambat. Terlambat untuk ayah Clarisa. Terlambat untuk pemahaman. Terlambat untuk penyesalan yang kini tak punya tempat pulang. Ia tidak bisa hanya berdiri. Tidak malam ini. Kael melangkah mendekat—perlahan, hati-hati, seolah mendekati sesuatu yang rapuh. Ia berlutut di depan Clarisa, mengangkat tangannya dengan ragu, memberi sepersekian detik untuk mundur jika Clarisa menolak. Clarisa tidak menolak. Kael menariknya ke dalam pelukan. Bukan pelukan posesif. Bukan pelukan yang menuntut. Melainkan pelukan yang menahan agar seseorang tidak runtuh sepenuhnya ke lantai. Tubuh Clarisa menegang sejenak—lalu melemah. Dahinya menempel di d**a Kael. Tangisnya tertahan oleh kain kemeja hitam itu, berubah menjadi isak-isak berat yang akhirnya keluar tanpa perlu disembunyikan. “Aku minta maaf,” kata Kael pelan. Suaranya serak untuk pertama kalinya. “Aku tidak ingin ini menghancurkanmu.” Clarisa mencengkeram kemejanya, jarinya gemetar. “Kenapa… kenapa aku baru tahu setelah dia mati?” isaknya. Kael memejamkan mata. “Karena aku takut,” akunya lirih. “Takut jika aku membuka semuanya, kamu akan hancur.” Ia menunduk sedikit. “Dan aku tetap menghancurkanmu.” Clarisa menggeleng. “Bukan kamu,” katanya tersengal. “Ini hidupku… yang selama ini salah arah.” Kael mempererat pelukan itu—sedikit saja, cukup untuk membuat Clarisa tahu ia tidak akan dilepas. “Kamu tidak lemah,” katanya rendah. “Kamu terlambat tahu.” Tangis Clarisa perlahan berubah. Tidak lagi meledak, tapi dalam—seperti luka yang akhirnya bernapas. Kael tetap memeluknya. Tidak menghitung waktu. Tidak memikirkan batas. Malam ini, tugasnya bukan menjaga dari jauh. Malam ini, tugasnya adalah menahan seseorang yang dunianya baru saja runtuh—dan ia ikut bertanggung jawab atas runtuhnya itu. Dan di dalam pelukan yang sunyi itu, Kael tidak hanya menjadi penjaga. Ia menjadi manusia yang juga pertama kali memberikan pelukan hangat nya untuk menenangkan seorang yang lebih berharga dari pada nyawa nya sendiri. Clarisa juga sangat menyayangkan ibu dan saudari nya yang belum tahu hal ini sampai maut menjemput. apakah di alam sana mereka berkumpul dan ayah menjelaskan semuanya, itu isi pikiran gadis yang dunia nya sedang runtuh sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD