Pamit yang tidak Diucapkan

1050 Words
Pagi itu datang tanpa tergesa, seolah dunia sengaja menahan napas agar tidak mengganggu seseorang yang sedang belajar pergi. Udara dingin masih menggantung di sela-sela kamar kecil yang ditempati Clarisa sementara, menyisakan bau hujan dan tanah basah dari malam sebelumnya. Clarisa menutup kopernya dengan gerakan rapi—perlahan, terukur. Ia selalu mengemas barang dengan cara yang sama: dilipat rata, disusun efisien, tanpa ruang kosong yang berlebihan. Kebiasaan lama yang menenangkan. Barang-barangnya tidak banyak. Ia memang terbiasa hidup ringan, seolah hidup bisa dimasukkan ke dalam satu koper dan dipindahkan kapan saja. Di dekat pintu, Kael berdiri sambil menyandarkan bahu ke dinding. Tangannya terlipat, wajahnya tenang, matanya mengikuti setiap gerakan Clarisa tanpa komentar. Ia tidak bertanya ke mana mereka akan pergi. Ia sudah tahu. Ada satu tempat yang belum mereka datangi, dan tempat itu tidak bisa dilewati begitu saja. Perjalanan berlangsung sunyi. Jalanan keluar kota masih lengang, kabut tipis menggantung di antara pepohonan. Clarisa memandang ke luar jendela, membiarkan pikirannya berjalan lebih cepat dari mobil yang mereka tumpangi. Kael menyetir dengan kecepatan stabil—tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat—seperti caranya selalu menjaga jarak dari keputusan orang lain. Pemakaman terletak di pinggiran kota, dikelilingi pepohonan tua yang berdiri seperti saksi bisu dari waktu yang tidak pernah benar-benar berhenti. Tanah masih lembap oleh hujan semalam. Clarisa melangkah pelan, sepatu hitamnya sedikit tenggelam di tanah lunak. Setiap langkah terasa nyata, berat, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang pikirannya coba lupakan. Tiga nisan berdiri sejajar. Ibu. Ayah. Saudari. Clarisa berhenti di depan mereka. Tidak membawa bunga. Tidak membawa apa pun. Ia datang dengan tangan kosong—seperti caranya menerima kenyataan: tanpa hiasan, tanpa upaya memperindah luka. Kael berhenti beberapa langkah di belakangnya, memilih jarak yang menghormati. Ia tidak menunduk, tidak berpura-pura berdoa. Ia hanya berdiri, hadir tanpa mendesak. “Aku akan pergi,” kata Clarisa akhirnya, suaranya pelan. “Bukan untuk lari.” Angin bergerak, menggeser dedaunan kering di sekitar mereka. “Aku belum tahu harus memaafkan atau tidak,” lanjutnya. Nada suaranya datar, tapi ada kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. “Aku belum sampai di sana.” Ia menatap nisan ayahnya lebih lama. Ada banyak kalimat yang seharusnya terucap. Permintaan maaf. Kemarahan. Pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Tapi semuanya berhenti di dadanya, terlalu berat untuk dilepaskan. “Tapi aku tahu sekarang…” Clarisa menarik napas pendek. “Aku salah memahami.” Kata-kata itu menggantung di udara. Tidak ada tangis. Air mata sudah habis semalam, terkuras oleh kesunyian yang terlalu panjang. “Aku akan hidup,” katanya kemudian, lebih tegas. “Mungkin itu satu-satunya cara menghormati kalian.” Ia menepuk lututnya pelan, gerakan kecil yang menandai akhir. Clarisa menoleh sekali—bukan untuk mengingat, melainkan melepaskan. Kael mendekat setengah langkah, cukup dekat untuk terdengar, cukup jauh untuk tidak menekan. “Kita siap,” katanya pelan. Clarisa mengangguk. Perjalanan ke bandara berlangsung tanpa percakapan. Kota menjauh di balik jendela, berubah menjadi garis-garis cahaya yang tidak lagi bermakna. Kael memilih rute yang sederhana, aman. Clarisa menyandarkan kepala, memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bergerak sementara pikirannya tertinggal di tempat lain. Di dekat pintu keberangkatan, Kael menghentikan langkah. “Ada satu hal,” katanya. Clarisa menoleh. “Kita tinggal bersama,” lanjut Kael. “Sampai kontrakmu selesai.” “Tidak.” Jawaban itu keluar cepat. Tegas. Hampir refleks. “Ini soal keamanan,” Kael menahan nadanya tetap netral. “Aku tahu,” jawab Clarisa. “Dan aku tetap tinggal di asrama.” “Asrama itu terbuka,” Kael berkata pelan, tapi tajam. “Banyak orang keluar-masuk.” “Aku tidak mau hidupku berhenti,” kata Clarisa. “Aku kembali bekerja. Aku hidup seperti biasa.” Rahang Kael mengencang sesaat, lalu mengendur. “Keras kepala.” “Mandiri,” balas Clarisa. Hening jatuh di antara mereka. Bukan hening yang canggung—melainkan hening yang dipahami. “Aku akan tetap di dekatmu,” kata Kael akhirnya. “Tanpa melanggar pilihanmu.” Clarisa menatapnya lama, seolah menimbang sesuatu yang tidak bisa diucapkan. Lalu ia mengangguk. “Itu cukup.” Pesawat mendarat menjelang malam. Lampu kota menyala satu per satu, membentuk pola yang terlalu familiar—terlalu cepat untuk duka yang baru saja dikubur. Clarisa menarik kopernya keluar dari terminal. Kael berjalan setengah langkah di belakangnya, seperti biasa. Tidak menutup. Tidak meninggalkan. Asrama perusahaan berdiri sederhana, hidup oleh aktivitas kecil yang terus bergerak. Cahaya dari jendela-jendela sempit, suara langkah kaki, tawa samar dari koridor. “Aku akan baik-baik saja,” kata Clarisa di depan pintu masuk. Kael mengangguk. “Aku tahu.” “Kamu tidak harus mengawasi setiap langkahku.” “Aku tidak akan terlihat,” jawab Kael. “Itu juga caraku.” Clarisa masuk. Pintu menutup pelan. Kael berbalik dan pergi—bukan meninggalkan, hanya berpindah bayangan. Kamar asrama terasa terlalu akrab. Clarisa baru menaruh koper ketika pintu diketuk cepat. Terlalu cepat untuk sekadar sapaan. “Clarisa?” Ia mengenali suara itu. Temannya. Salah satu dari sedikit orang yang cukup dekat untuk merasa berhak tahu. Clarisa menarik napas pendek. Mengunci wajahnya pada ketenangan yang aman. “Masuk.” Pintu terbuka, dan pertanyaan datang beruntun. “Kamu ke mana aja?” “Kenapa cutinya mendadak?” “Kenapa nggak bisa dihubungi?” “Ada apa sebenarnya?” Clarisa tersenyum tipis—senyum yang tidak mengundang. “Ada keperluan darurat.” “Darurat apa?” Temannya mendekat, menatap lebih tajam. “Kamu kelihatan beda.” “Semua orang kelihatan beda setelah pulang jauh,” jawab Clarisa ringan. Temannya duduk di ranjang seberang, menyilangkan tangan. “HR juga aneh. Mereka cuma bilang izin khusus. Itu jarang.” “Aku minta begitu.” “Kenapa?” Clarisa menatap lantai sebentar. Cukup singkat agar tidak terlihat ragu. “Karena ini urusan pribadiku.” Hening jatuh. “Kamu baik-baik saja?” tanya temannya, lebih pelan. “Iya.” Jawaban itu cepat. Satu kata. Terlalu tegas. Temannya menghela napas, akhirnya menyerah. “Kalau kamu butuh apa pun—” “Aku tahu,” potong Clarisa lembut. “Terima kasih.” Pintu tertutup. Sunyi kembali mengisi kamar. Clarisa duduk di tepi ranjang. Tangannya berhenti bergerak. Kebohongan itu terasa pahit di tenggorokan—perlu, tapi menyakitkan. Ia menatap ponselnya. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan. Ia tahu Kael tidak akan menulis kecuali perlu. Dan itu, entah kenapa, membuat dadanya sedikit lebih ringan. Clarisa berbaring, menatap langit-langit asrama. Di tempat ini, hidup berjalan normal. Terlalu normal untuk duka yang baru saja ia kubur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD