Pagi itu Clarisa bekerja seperti biasa.
Ia datang tepat waktu, menggantungkan kartu identitas, lalu duduk di mejanya. Layar menyala. Email masuk. Daftar tugas tersusun rapi. Kantor menyambutnya dengan ritme yang familiar—cukup sibuk untuk menenggelamkan apa pun yang tidak ingin ia ingat.
Ia fokus. Tenang. Profesional.
Seolah tidak ada malam penuh kebenaran. Tidak ada pelukan. Tidak ada rahasia yang ia simpan rapat.
“Perhatian sebentar,” suara leader terdengar. “Hari ini ada beberapa karyawan baru. Mohon dibantu adaptasinya.”
Clarisa mengangguk bersama yang lain.
Satu per satu wajah asing masuk ke ruangan. Senyum canggung. Perkenalan singkat. Tepuk tangan ringan.
Lalu—
Napas Clarisa tersendat.
Pria terakhir melangkah masuk dengan langkah tenang, pakaian rapi, ekspresi netral. Wajah itu terlalu ia kenal untuk disebut kebetulan.
Kael.
Jari Clarisa membeku di atas keyboard. Ia menunduk cepat, mengunci wajahnya pada ketenangan yang sudah terlatih.
Tidak. Ini tidak mungkin.
Namun suara leader memastikan semuanya.
“Ini Kael. Mulai hari ini bergabung di tim kita.”
Beberapa orang mengangguk. Ada yang tersenyum. Clarisa tidak menoleh.
Kael berdiri beberapa langkah darinya. Tatapannya lurus ke depan. Tidak ada isyarat. Tidak ada pengakuan. Seperti mereka tidak pernah saling mengenal.
Hari berjalan.
Clarisa memaksa jarinya kembali bergerak. Ia menelan keterkejutan itu, menyimpannya di tempat paling aman di dalam diri.
“Clarisa,” panggil leader. “Meja Kael di sebelahmu. Tolong jelaskan proses kerja kita.”
Clarisa berdiri perlahan. Profesional.
“Iya.”
Ia menoleh untuk pertama kalinya.
“Halo,” katanya ramah dan datar. “Aku Clarisa.”
Kael menatapnya. Tenang. Netral.
“Halo,” jawabnya. “Kael.”
Mereka berjabat tangan.
Sentuhan singkat. Formal.
Namun Clarisa merasakan getaran kecil di pergelangan—bukan karena rindu, melainkan karena jarak yang dipaksakan.
“Selamat datang,” lanjut Clarisa. “Aku jelaskan alurnya.”
“Terima kasih.”
Nada yang tepat. Senyum seperlunya.
Tak satu pun dari mereka terlihat sedang berbohong.
Mereka duduk berdampingan.
Clarisa membuka dokumen, menjelaskan prosedur dengan suara stabil. Ia tidak menoleh terlalu lama. Tidak memperlambat. Tidak memberi ruang bagi kenangan.
“Di bagian ini,” katanya sambil menunjuk layar, “kita gunakan sistem internal. Aksesnya terbatas.”
“Baik,” jawab Kael, mencatat.
“Kalau ada yang tidak jelas, tanya langsung.”
“Siap.”
Percakapan mereka terdengar seperti dua orang yang baru bertemu.
Namun Clarisa menangkap satu hal yang mengganggu: Kael belajar terlalu cepat. Setiap langkah ditangkap. Setiap istilah dipahami. Seolah ia tidak benar-benar baru.
“Kamu cepat,” kata Clarisa tanpa sengaja.
Kael menoleh sedikit. “Aku terbiasa.”
Dengan apa? hampir saja Clarisa bertanya—namun ia menahannya.
“Baik,” katanya singkat. “Kita lanjut.”
Beberapa rekan melirik. Ada yang tersenyum, ada yang berbisik kecil. Clarisa tetap fokus. Ia tidak menuntut penjelasan. Ia memilih perannya. Dan Kael memilih perannya juga—menjadi orang asing yang duduk di meja sebelah.
Saat jam kerja berakhir, Clarisa menyimpan berkas dan berdiri bersama arus orang-orang yang pulang. Ia berjalan keluar gedung tanpa menoleh ke meja di sebelahnya. Baru setelah jarak cukup aman, ia mengeluarkan ponsel.
Tangannya berhenti sepersekian detik sebelum mengetik.
Jangan sampai ada yang tahu.
Tentang kita. Tentang pernikahan itu.
Aku ingin menghabiskan kontrakku dengan damai.
Tenang.
Tentram.
Pesan terkirim.
Clarisa berhenti di tepi trotoar, menunggu lampu hijau, menunggu balasan—bukan dengan cemas, melainkan dengan kewaspadaan yang tenang.
Tak lama, ponselnya bergetar.
Dipahami.
Di sini kita orang asing.
Aku akan berada di jarak yang kamu tentukan.
Clarisa menarik napas panjang. Ia mengetik lagi.
Aku tidak ingin hidupku berhenti hanya karena aku dilindungi.
Aku ingin menyelesaikan ini sebagai Clarisa—
bukan sebagai istrimu.
Balasan datang cepat.
Aku tidak akan memanggilmu apa pun selain namamu.
Di kantor, aku rekan kerjamu.
Di luar itu… aku tetap bertanggung jawab.
Clarisa memejamkan mata sejenak. Lampu hijau menyala. Ia menyeberang bersama orang-orang yang tidak tahu apa pun tentang hidupnya.
Terima kasih, Kael.
Itu kesepakatan.
Clarisa menyimpan ponselnya dan berjalan menuju asrama.
Keesokan harinya, kantor berjalan seperti biasa.
Clarisa dan Kael bekerja berdampingan—netral, profesional, rapi. Tidak ada keakraban berlebihan. Tidak ada jarak mencurigakan. Di mata semua orang, mereka hanyalah dua rekan kerja yang baru saling mengenal.
Namun sebuah aturan sunyi telah ditetapkan:
tidak ada nama panggilan, tidak ada kebiasaan pribadi, tidak ada jejak masa lalu
Dan Kael menjalankannya dengan sempurna.
Ia tidak menatap Clarisa terlalu lama. Tidak mendekat tanpa alasan. Tidak melindungi dengan cara yang terlihat.
Ia melindungi dengan cara tidak terlihat. Clarisa menyadarinya dari hal-hal kecil seperti jalur pulang yang selalu terasa aman, tatapan asing yang berhenti memperhatikan rasa tenang yang tidak bisa ia jelaskan. Hari itu, Clarisa mengerti satu hal dengan menyembunyikan pernikahan mereka bukanlah penolakan melainkan cara bertahan. Sementara Kael memahami sesuatu yang lebih berat yaitu menjadi suami yang tidak diakui adalah harga kecil dibandingkan kehilangan Clarisa di tengah dunia yang belum selesai dengannya.