seminggu berlalu dengan damai, tidak ada yang special, kael dan Clarisa tetap menjadi partner profesional ditempat kerja, walaupun kadang ada sewaktu-waktu mereka saling tahu sedikit tentang kepribadian masing-masing.
Jam istirahat selalu datang dengan cara yang sama: bel berbunyi, kursi-kursi digeser, dan lorong kantor mendadak hidup oleh suara tawa yang tidak selalu jujur. Bagi Clarisa, jam ini bukan tentang makan siang. Ia hanya mengikuti arus—berjalan menuju kantin, membawa nampan, lalu duduk di tempat yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Meja dekat jendela.
Empat kursi.
Dan tiga perempuan yang selalu tiba lebih dulu.
Christin duduk bersandar santai, rambutnya dicepol rapi, sorot matanya tajam seperti seseorang yang sudah terlalu lama bekerja dan terlalu cepat memahami manusia. Tari, dengan senyum ramah dan suara lembut, sering menjadi penyeimbang—perempuan yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Alina duduk paling ujung, tenang, pengamat sejati; ia jarang bicara banyak, tapi sekali bicara selalu tepat sasaran.
Mereka lebih tua tiga sampai lima tahun dari Clarisa.
Perbedaan usia itu tak pernah diucapkan, tapi terasa dalam cara mereka berbicara, menilai, dan menyimpulkan.
Clarisa duduk di antara mereka, mengaduk supnya pelan.
Ia mendengarkan.
“Eh,” Christin membuka percakapan sambil mencondongkan badan, “kalian sadar nggak sih, anak baru itu… Kael.”
Nama itu jatuh di udara seperti batu kecil ke air tenang.
Clarisa tidak mengangkat kepala.
“Kenapa Kael?” tanya Tari, pura-pura tidak terlalu tertarik.
“Dia beda,” lanjut Christin. “Aku perhatiin dari kemarin. Jarang ngomong. Nggak sok ramah. Tapi kalau kerja, rapi banget.”
Alina mengangguk pelan. “Dan dia hampir nggak pernah ngobrol sama perempuan lain.”
Tari menyeringai. “Kecuali Clarisa.”
Sendok Clarisa berhenti sejenak di udara.
Lalu ia melanjutkan makan seolah tak terjadi apa-apa.
“Kebetulan,” katanya ringan. “Aku duduk paling dekat.”
Christin tertawa kecil. “Ah, kamu itu terlalu rendah hati. Cowok kayak dia biasanya pilih-pilih.”
“Pilih-pilih?” Tari menaikkan alis. “Maksudmu…?”
“Pilih yang tenang. Nggak drama. Nggak banyak tingkah.” Christin melirik Clarisa. “Kayak kamu.”
Clarisa tersenyum tipis. Senyum aman. Senyum yang tidak mengundang pertanyaan.
Alina menyela, “Tapi aku jarang lihat dia menatap orang lain. Kalau kamu lewat, dia selalu—”
Ia berhenti, seolah sadar terlalu jauh.
“Selalu apa?” tanya Tari penasaran.
“Selalu fokus,” jawab Alina singkat.
Clarisa meneguk airnya. Dingin.
Fokus—kata itu terlalu dekat dengan kebenaran.
“Jadi…” Tari menyenggol lengan Clarisa pelan. “Kalian cocok, tahu. Kamu nggak kepikiran?”
Clarisa tertawa kecil, terlalu cepat.
“Tidak,” jawabnya. “Kami cuma rekan kerja.”
Christin menghela napas panjang. “Sayang banget. Pria baik itu langka. Apalagi yang kelihatan… bersih.”
Clarisa menunduk.
Mereka tidak tahu seberapa kotor luka di balik ketenangan Kael.
Atau miliknya.
“Lagipula,” lanjut Clarisa, berusaha mengalihkan, “kalian lihat presentasi klien kemarin? Yang hampir gagal itu?”
Tari mendesah. “Ah, iya. Itu bikin pusing.”
Topik bergeser. Suara kembali ringan. Tawa kembali muncul. Tapi bagi Clarisa, kata Kael masih menggantung di kepalanya—tak terlihat, tapi berat.
Sore hari, Clarisa kembali ke mejanya. Ia membuka layar komputer, menenggelamkan diri dalam angka dan laporan. Itu caranya bertahan: bekerja sampai pikirannya lelah.
Namun kehadiran Kael terasa bahkan tanpa ia menoleh.
Langkahnya tenang.
Gerakannya terkendali.
Dan jarak yang ia jaga—terlalu sempurna untuk disebut kebetulan.
Clarisa menahan diri untuk tidak melihat ke arah kanan.
Ia tahu, sekali saja ia menoleh, tembok yang susah payah ia bangun bisa runtuh.
Beberapa menit kemudian, sebuah kertas kecil diselipkan di samping keyboard-nya.
Topin gosip hari ini tentangku?
Clarisa menahan napas.
Ia tidak menjawab.
Hanya menulis di kertas lain dan menggesernya pelan.
Jangan mulai.
Kael membalas cepat.
Aku tidak mulai. Mereka yang memulai.
Clarisa meremas kertas itu, lalu membuangnya ke laci.
Ia menatap layar, tapi angka-angka tidak lagi bermakna.
Keesokan harinya, di kantin yang sama, dengan meja yang sama, percakapan itu kembali muncul—seperti pola yang tak bisa dihentikan.
“Aku dengar,” kata Christin sambil membuka bekalnya, “Kael nolak ajakan makan bareng anak divisi lain.”
“Serius?” Tari terkejut. “Kenapa?”
“Katanya mau fokus kerja.” Christin menyeringai. “Atau mungkin sudah ada target.”
Semua mata kembali ke Clarisa.
Ia mengangkat bahu. “Kalian terlalu membesar-besarkan.”
Alina menatapnya lama. “Kamu yakin?”
Clarisa membalas tatapan itu.
Untuk sesaat, ia merasa Alina tahu lebih banyak dari yang diucapkan.
“Yakin,” katanya.
Tari tersenyum lembut. “Kalau kamu berubah pikiran, bilang saja. Kami bisa bantu.”
Clarisa tersenyum balik.
Mereka tidak tahu—perubahan pikirannya sudah terjadi jauh sebelum gosip itu ada.
Malamnya, Clarisa duduk di kamar asrama, menatap cincin yang ia simpan dalam kotak kecil. Cahaya lampu redup memantul di permukaannya.
Di luar, hujan turun pelan.
Ia teringat kata-kata Christin: pria baik itu langka.
Ia teringat tatapan Alina yang seolah menembus dinding.
Ia teringat Kael—yang berdiri begitu dekat, tapi harus terasa jauh.
Clarisa menutup kotak itu.
Meletakkannya kembali ke laci terdalam.
Di kantor, di kantin, di meja yang sama, ia akan tetap menjadi Clarisa yang tenang.
Perempuan muda di antara perempuan dewasa.
Dengan rahasia yang duduk manis di meja makan—tak pernah ikut bicara, tapi selalu ada.