Sebulan berlalu sejak Kael dan Clarisa bekerja bersebelahan.
Sebulan penuh pura-pura.
Sebulan menjaga jarak yang terlalu rapi untuk dua orang yang pernah mengucapkan bersedia untuk berbagi hidup.
Bagi orang lain, mereka hanyalah dua rekan kerja yang kebetulan sefrekuensi. Tak lebih. Tak kurang. Tak ada yang tahu, di balik meja yang hanya dipisahkan sekat tipis itu, ada dua jiwa yang saling mengerti bahkan tanpa bicara.
Clarisa menjadi lebih tenang.
Kael menjadi lebih terkontrol.
Dan justru karena itu, mereka terlihat… berbahaya bagi siapa pun yang ceroboh.
Pada suatu hari ada masalah dikantor, Sebuah proyek besar yang seharusnya dikerjakan lintas divisi tiba-tiba terhambat. Data keuangan tidak sinkron dengan laporan operasional. Deadline tinggal tujuh hari. Ruang rapat dipenuhi wajah tegang dan suara saling menyalahkan.
“Ini jelas kesalahan data awal,” ujar salah satu staf senior.
“Tidak,” balas yang lain. “Operasionalnya yang tidak sesuai.”
Clarisa duduk diam, menatap layar presentasi.
Kael berdiri di dekat papan, memperhatikan pola yang tak disadari orang lain.
“kurasa bukan karena itu?” Kael akhirnya bersuara.
Ruangan hening.
Ia bukan tipe yang banyak bicara dalam rapat.
Kael menunjuk grafik. “Masalahnya bukan di data atau operasional. Tapi di waktu pencatatan. Ada selisih dua hari yang tidak diakui sistem.”
Clarisa langsung menangkap maksudnya.
Ia membuka laptopnya, jari-jarinya bergerak cepat. “Kalau kita tarik ulang data mentah dan sinkronkan berdasarkan jam server, bukan tanggal laporan, selisihnya akan kelihatan.” sambung Clarisa
Beberapa orang menoleh, terkejut.
“Bisa?” tanya leader ragu.
“Bisa,” jawab Clarisa tenang. “Kami sudah cek simulasi kecilnya.”
Kata kami meluncur begitu alami.
Tak ada yang curiga.
Dua hari berikutnya, Kael dan Clarisa hampir tak beranjak dari meja. Tanpa drama, tanpa ego. Kael fokus pada struktur dan logika. Clarisa merapikan detail dan presentasi. Mereka bekerja seperti satu sistem utuh—lengkap, presisi, dan saling menutup celah.
Hari ketiga, solusi itu dipresentasikan.
Hasilnya bersih.
Rapi.
Tak terbantahkan.
Ruangan rapat dipenuhi gumaman kagum.
“Kerja bagus.”
“Ini teamwork yang jarang.”
“Kalian cocok banget satu tim.”
Clarisa hanya mengangguk sopan.
Kael tersenyum tipis.
Tak ada yang tahu—ini bukan pertama kalinya mereka bekerja bersama untuk bertahan hidup.
Di kantin, reaksi berbeda muncul.
Christin hampir menjatuhkan sendoknya. “Kalian lihat nggak? Mereka berdua kayak… satu otak.”
Tari tertawa kecil. “Aku bilang juga apa. Jarang cowok yang bisa seirama sama Clarisa.”
Alina menatap Clarisa lebih lama dari biasanya. “Kalian nggak pernah debat?”
Clarisa mengangkat bahu. “Ngapain debat kalau bisa saling melengkapi.”
Christin langsung berseru, “Dengar itu, Tari? Itu jawaban orang yang cocok.”
“Sudah, sudah,” Clarisa terkekeh, mencoba mengalihkan. “Makan kalian dingin nanti.”
Tapi senyum-senyum itu tak berhenti.
Penjodohan diam-diam semakin terang-terangan.
Tidak semua orang menyukai cahaya itu.
Di sudut lain kantor, seseorang memperhatikan Clarisa dengan tatapan tak ramah. Perempuan itu—rekan satu divisi yang merasa posisinya terancam—menyimpan iri yang tumbuh perlahan sejak pujian itu datang.
Ia melihat bagaimana Clarisa dipercaya.
Bagaimana Kael berdiri di sisinya.
Bagaimana nama Clarisa disebut dalam rapat dengan nada hormat.
Dan ia memutuskan—itu terlalu banyak.
Kesempatan datang ketika Clarisa ditugaskan mengirim dokumen penting ke lantai arsip. Lorong itu sepi. Lampu salah satu sudut mati sejak pagi.
Saat Clarisa membungkuk mengambil map, langkah kaki terdengar cepat dari belakang.
Seseorang mendorong rak logam di sampingnya.
Refleks Clarisa bergerak.
Ia mundur setengah langkah—cukup untuk menghindari benturan penuh, tapi map di tangannya jatuh berserakan.
Rak itu berhenti miring, tertahan oleh tangan lain.
Kael.
Ia berdiri di samping Clarisa, satu tangan menahan rak, satu lagi melindungi bahunya. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam.
“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya rendah.
“Aku baik,” jawab Clarisa cepat.
Perempuan itu membeku.
Tak menyangka Kael ada di sana.
Kael menoleh padanya. “Lorong ini bukan tempat aman buat dorong barang sembarangan.”
Nada suaranya datar. Bukan marah. Lebih menakutkan.
Ia pergi tanpa menunggu jawaban.
Clarisa memungut mapnya sendiri. Menepuk debu di lutut. Lalu menoleh pada Kael.
“Kamu ngapain di sini?”
“Aku lihat kamu ke sini sendirian.” Kael berhenti sejenak. “Aku khawatir.”
Clarisa menatapnya—lama, penuh makna.
Lalu tersenyum kecil.
“Makasih,” katanya. “Tapi sisanya… biar aku.”
Keesokan harinya, Clarisa berdiri di depan meja perempuan itu.
“Aku tidak jatuh kemarin,” katanya tenang. “Dan aku tidak bodoh.”
Perempuan itu menegang.
“Kita kerja di tempat yang sama,” lanjut Clarisa. “Kalau kamu punya masalah, bicarakan. Jangan cari cara licik.”
“Aku—”
“Aku tidak akan lapor,” Clarisa memotong. “Tapi ini peringatan satu-satunya.”
Tatapan Clarisa tidak tinggi suara. Tidak mengancam.
Tapi cukup tegas untuk membuat lawannya menunduk.
“Aku bukan perempuan lemah,” tutupnya. “Dan aku tidak butuh diselamatkan untuk berdiri.”
Ia berbalik pergi.
Dari kejauhan, Kael melihatnya.
Dadanya terasa penuh—bukan karena ingin melindungi, tapi karena bangga.
Kael tersenyum.
Di sekitar mereka, kantor terus berjalan. Gosip terus hidup. Penjodohan terus terjadi. Tak ada yang tahu, dua orang yang mereka kagumi itu sudah terikat jauh sebelum pujian pertama muncul.
Dan Clarisa—duduk tenang di kursinya—tahu satu hal pasti yaitu kael selalu berjalan beriringan dengannya sekarang, ia tak sendirian lagi.