PMS

916 Words
Hari itu berakhir lebih lambat dari biasanya. Setelah teamwork yang membuat satu kantor terdiam kagum, Clarisa justru merasa lelah dengan cara yang berbeda. Bukan lelah fisik—melainkan lelah menahan diri. Sejak pagi, tubuhnya tidak benar-benar bersahabat. Kepalanya berat, perutnya nyeri samar, dan emosinya seperti benang yang ditarik terlalu kencang. tentu saja Kael menyadari hal itu, tapi ia Hanya bekerja seperti biasa—sedikit lebih hati-hati, sedikit lebih memperhatikan. Hingga jam pulang tiba dan lorong kantor mulai lengang. “Clarisa,” ucap Kael pelan saat mereka berdiri di dekat lift. “ikutlah Makan malam di rumahku, sekalian membicarakan tentang aset orangtuamu" Clarisa menoleh, terkejut kecil. “Malam ini?” “Iya,” jawab Kael. “lagian besok kita cuti”. Clarisa ragu Bukan karena Kael—melainkan karena pikirannya sendiri. Seharian ini, ada satu hal yang berputar-putar di kepalanya: warisan orang tuanya. Dokumen lama. Hak yang belum pernah disentuh. Beban yang selama ini ia simpan sendiri. Ia menarik napas. Mungkin… sudah waktunya dibicarakan. “Oke,” katanya akhirnya. “Aku ikut.” Kael mengangguk, seolah itu keputusan paling sederhana di dunia. Padahal Clarisa tahu—tidak ada yang sederhana dari pertemuan mereka di luar kantor. Rumah Kael tenang. Bersih. Tidak berlebihan. Rumah seseorang yang hidup sendiri, tapi rapi oleh kebiasaan, bukan kesepian. “Kamu duduk dulu,” kata Kael sambil meletakkan tas. “Aku mau bersih-bersih sebentar.” Clarisa mengangguk. “Aku ke dapur saja. Kita masak.” Kael sempat ragu. “Kamu tidak lelah.” “tidak, lagian sudah biasa masak setelah bekerja" jawab Clarisa. “Percayakan saja padaku” Kael tersenyum kecil, lalu menghilang ke kamar mandi. Dapur itu sangat tertata rapi, Clarisa menggulung lengan bajunya dan mulai menyiapkan bahan—gerakan yang otomatis, seperti pulang ke sesuatu yang pernah ia miliki. Namun ia tidak melihat lantai dapur sedikit lebih tinggi dari lorong. Saat ia melangkah mundur, kakinya tersandung. Tubuhnya kehilangan keseimbangan. “Aaa!!!” teriak Clarisa refleks karena menahan sakit. Ia jatuh terduduk, menahan dengan tangan. Rasa nyeri menjalar cepat—di pergelangan kaki, lalu… perutnya. Napas Clarisa terhenti. Tangannya refleks menekan perut. Keringat dingin muncul di pelipisnya. “Clarisa?” Suara Kael datang bersamaan dengan langkah cepat. Ia belum sempat berpakaian rapi—hanya celana panjang, d**a telanjang, rambut masih basah. Clarisa pun langsung melihat ke sumber suara, dia mengagumi sebentar tubuh atletis Kael, tapi rasa sakit membuat ia tak bisa lama-lama dengan rasa kagum itu. Kael membeku sesaat melihat Clarisa di lantai. “Jangan berdiri,” katanya cepat, berlutut di hadapannya. “Di mana sakitnya?” “Kakiku… dan—” Clarisa terdiam. Wajahnya memucat. “Tidak apa-apa.” Kael tidak percaya. Ia melihat perubahan di wajahnya—dan kemudian… noda kecil di rok Clarisa. Oh. Kael mengerti. Clarisa ikut menyadari. Wajahnya memanas, campuran sakit dan malu membuat matanya berkaca-kaca. “Aku… maaf. Aku bocor.” “Tidak perlu minta maaf,” jawab Kael lembut. Ia hendak menggendong Clarisa. “Jangan!” Clarisa refleks menahan lengannya. “Aku—aku malu.” Kael berhenti. Menatapnya. Lalu tersenyum kecil. “Clarisa,” katanya pelan. “tidak apa-apa, kali ini aku bantu ya” bujuk kael lembut. Detik berikutnya, Clarisa mengangguk kecil. Itu cukup. Kael menggendongnya dengan hati-hati—seolah ia membawa sesuatu yang sangat rapuh, padahal yang ia bawa adalah perempuan paling keras kepala yang ia kenal. Di kamar mandi, Kael bekerja cepat tapi sopan. Membantu Clarisa duduk, mengambil handuk, lalu keluar sebentar untuk membelikan pembalut di minimarket dekat rumah—masih dengan rambut setengah kering, mengenakan jaket seadanya. Saat kembali, ia menaruh kantong di depan pintu kamar mandi. “Aku di luar.” Clarisa menggigit bibir, menahan senyum kecil. Ia tidak menyangka… akan diurus seperti ini. Beberapa menit kemudian, Kael kembali masuk. Kali ini membawa kaus longgar dan celana pendek. “Pakai ini,” perintah Kael. Clarisa menerima. Kaus itu kebesaran—menutupi pahanya. Celana pendek itu pas, longgar, hangat. Ia keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan. Kael menoleh. Dan terdiam. “Kenapa?” tanya Clarisa, canggung. Kael menggeleng. “Tidak apa-apa.” Padahal hatinya sangat gemas melihat Clarisa memakai pakaiannya. Makan malam akhirnya sederhana. Mereka duduk berhadapan, Clarisa menyelipkan kaki di kursi, kaus Kael masih kebesaran di tubuhnya. “Maaf,” Clarisa berkata pelan. “Aku jadi merepotkan.” “Kamu tidak merepotkan,” jawab Kael tanpa ragu. Clarisa menatapnya. “pantesan aku emosian banget di kantor tadi, ternyata pms” Kael terkekeh pelan. “Aku juga menyadari emosi mu di kantor.” “Kamu tidak marah?” “Tidak.” Ia mengangkat bahu. “Sekarang aku tahu alasannya.” Clarisa menutup wajahnya sebentar. “Aku malu.” Kael tersenyum. “Aku malah senang kamu jujur.” Mereka diam sejenak. Lalu Clarisa menghela napas panjang. “Kael… tentang warisan orang tuaku.” Kael langsung fokus. “Aku dengar.” Clarisa mulai bercerita—pelan, teratur. Tentang aset yang belum disentuh. Tentang tanggung jawab yang ia hindari. Tentang rasa takut membuka kembali luka lama. Kael tidak menyela. Tidak memberi solusi cepat. Hanya mendengarkan. “Besok,” katanya akhirnya, “kita atur pelan-pelan. Bersama.” Clarisa mengangguk. Matanya lembap—bukan karena sedih, tapi karena akhirnya tidak sendirian. Malam itu, Clarisa tertidur lebih cepat. Di kamar Kael. Dengan kaus kebesaran dan selimut yang hangat. Kael duduk di tepi ranjang sejenak, memastikan napasnya teratur. “Perempuan kuat,” gumamnya pelan. “tapi sekarang dia berbeda, apakah semua perempuan emang begitu saat datang bulan” gumamnya dalam hati. Ia mematikan lampu. Dan untuk pertama kalinya sejak lama, rumah itu terasa benar-benar hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD