PT DAFFA MAHA KARYA PRODUCTIONS.
Masih Di Ruang Kerja Daffa..
"Saya harus ke ruang kerja Daffi sekarang." kata Daffa.
Kediaman Pak Andi
Di Kamar Natasha..
"Ih.. Reno mana sih kok nggak ada kabar?" tanya Natasha.
"Natasha.." panggil pak Andi.
"Iya pak.." jawab Natasha.
"Breakfast.." kata pak Andi.
"Iya pak.." sambung Natasha.
Di Meja Makan..
"Natasha.." panggil pak Andi.
"Iya pak, kenapa?" tanya Natasha.
"Kok malah nanya kenapa? Kamu itu lho di meja makan malah lihatin HP mulu." keluh ibu Kasih.
"Eh iya eyang, maaf.. Oh iya pak, aku pergi ya.."
"Lho kok breakfast nya nggak di habiskan nak?"
"Sudah kenyang eyang. Pak, eyang, aku pamit ya." pamit Natasha.
"Iya nak.." kata pak Andi.
"Hati-hati di jalan ya." sambung ibu Kasih.
"Iya eyang.." seru Natasha.
"Bye.."
"Bye too honey.."
"Kamu itu lho kok ngajarin anakmu tata krama." keluh ibu Kasih.
"Sudah bu, ibu tahu sendiri kan Natasha itu seperti apa. Keras seperti ibunya." kata pak Andi.
"Kamu manjakan saja anakmu itu.." ibu Kasih meninggalkan pak Andi sendiri di meja makan.
"Tapi bu.." kata pak Andi.
PT DAFFA MAHA KARYA PRODUCTIONS.
Di Ruang Kerja Daffi..
"Daffi.." panggil Daffa.
"Iya, eh mas Daffa. Kenapa?" tanya Daffi.
"Anna, Daff.. Anna.." jawab Daffa panik.
"Haaaa.. Anna kenapa dengan Anna mas?"
"Anna pingsan dan Titah sedang bersama dengan Anna di rumah sakit."
"Ya sudah sekarang kita kerumah sakit yuk.." ajak Daffa.
"Iya ayo, eh tapi Reno gimana mas?"
"Sudah nanti kita beritahu dia pas kita berada di jalan menuju ke rumah sakit saja."
"Oh oke mas.." seru Daffi.
Di Meja Kerja Sarah..
"Lho pak Daffi dan pak Daffa mau kemana kok kelihatannya buru-buru sekali?" tanya Sarah.
"Oh ya Sarah nanti kalau kamu bertemu dengan Reno atau Reno sudah datang tolong kasih tahu Reno kalau kita menyusul Titah istrinya Daffa ke rumah sakit karena Anna istrinya Reno berada di rumah sakit sekarang ya." jawab Daffi.
"Baik Pak.." kata Sarah patuh.
"Mas bagaiamana sudah kasih kabar orang rumah belum?"
"Sudah yuk kita berangkat pakai mobil saya saja."
"Woooo.. Keeee...." seru Daffi menirukan supir Daffa.
"Ah.. Kau kaya Makmur saja.." keluh Daffa saat Daffi menirukan supirnya.
Di Lobby Kantor..
"Mur.. Makmur.. Mur.. Makmur.." panggil Daffa.
"Oh nggih pak Daffa enten menapa nggih enten sing kula saged tulung?" tanya Daffa.
"Enten mur.... Enten.." jawab Daffi panik.
"E.. Woooo.... Pak Daffi kenapa ta, tarik nafas buang.. Tarik nafas lagi buang.." kata Makmur menenangkan Daffi yang terlihat panik.
"Mur.. Kok malah masih di luar sih ayo masuk mobil terus jalan lho.." pinta Daffa.
"Nggih pak, nangging niki lho pak, pak Daffi...." kata Makmur memberikan penjelasan pada Daffa.
"Oke sudah agak baikkan sekarang ya sudah ayo jo kota pergi sekarang.."
"Lho kok jo ta pak, Makmur lho iki pak bukan Paijo.." keluh Makmur.
"Ah ya itu maksud saya sudah ayo kita naik mobil terus kita pergi cepat.."
"Nggih pak.." seru Makmur.
Di Mobil Daffa..
"Ngapunten nggih pak niki arepe marang pundi nggih?"
"Rumah sakit.."
"Woooo.... Keeee.." seru Makmur.
Beberapa Menit Kemudian..
"Eh pak.. Pak.. Pak Reno.." panggil Sarah.
"Ya Sarah kenapa, meetingnya sudah dimulai ya?" tanya Reno.
"Bukan itu pak, maksud saya.." jawab Sarah yang terpotong perkataannya oleh Reno.
"Oh ya saya tahu maksud kamu, om Daffa sedang pergi kan?" tanya Reno lagi yang memotong perkataan Sarah.
"Iya pak benar.. Tapi perginya nggak sendiri." jawab Sarah lagi.
"Oh nggak sendiri itu kan sudah biasa perginya sama tante saya." kata Reno.
"Bukan dengan bu Titah juga pak Reno, tapi pergi dengan pak Daffi, ayahnya pak Reno." sambung Sarah.
"Haaaa.... Sama papa.. Kemana?"
"Kerumah sakit pak Reno, istri pak Reno masuk rumah sakit sekarang ada di sana bersama dengan istrinya pak Daffa."
"Oh begitu ya sudah saya ke rumah sakit sekarang. Oh ya terimakasih Sarah.."
"Iya pak.."
Rumah Sakit Jakarta
Di Depan Ruang Unit Gawat Darurat (UGD)
"Sayang.." panggil Daffa.
"Mbak.." panggil Daffi juga.
"Iya mas, Daffi.." jawab Titah.
"Bagaimana keadaannya Anna mbak?" tanya Daffi panik.
"Belum tahu, dokter belum keluar dari ruang UGD." jawab Titah.
"Permisi keluarga dari ibu Anna..?" tanya Dokter.
"Iya dor.." jawab Daffa, Daffi, Titah dan Santi.
"Oh ya maaf sebelumnya suami ibu Anna yang mana ya?" tanya Dokter lagi.
"Suaminya belum datang dok, saya ayah mertuanya dok. Bagaimana keadaan menantu saya dok..?" tanya Daffi masih panik.
"Bapak tenang saja ibu Anna baik-baik saja kok. Oh ya saya juga mau mengucapkan selamat untuk keluarga ibu Anna. Karena ibu Anna saat ini sedang mengandung." jawab Dokter memberikan kabar bahagia untuk Daffi dan keluarga.
"Apa hamil dok? Jadi saya mau punya cucu dok? Alhamdulillah.." Daffi terlihat bahagia mendengar kabar bahagia yang di berikan Dokter padanya.
"Alhamdulillah.. Punya cicit ya kita pi.." ibu Fatma juga ikut bahagia mendengar kabar bahagia itu.
"Assalamu'alaikum.." Reno memberikan salam.
"Wa'alaikumussalam.." semua yang ada di depan ruang UGD menjawab salam dari Reno.
"Akung bagaimana keadaan Anna, istri Reno kung?" tanya Reno panik.
"Masih peduli kamu dengan istrimu itu..?" tanya Daffa emosi.
"Maksud om apa? Kenapa paman bertanya seperti itu pada saya dia istri saya om..?"
"Mas.. Sudah ini kan rumah sakit." Titah mencegah Daffa memarahi Reno.
"Apa jadi Anna hamil anak kamu Ren..?" tanya Natasha yang mendengarkan percakapan mereka.
"Natasha.." Reno terkejut saat melihat Natasha berada di rumah sakit.
"Oh jadi ini yang membuat kamu tidak ada kabar.. Gara-gara.." kata Natasha yang di potong perkataannya oleh Daffi.
"Gara-gara apa?! Gara-gara Anna maksud kamu, iya?" tanya Daffi yang memotong perkataan Natasha.
"Bukan begitu maksud saya om.." jawab Natasha.
"Bukan begitu kok kamu tiba-tiba berbicara seperti tadi pada keponakan suamiku. Saatnya saya yang berbicara Natasha, sudah cukup lama diam saya selama ini. Saya tanya kamu itu perempuan kan? Kenapa kamu tidak tahu malu mengejar laki-laki yang jelas-jelas dia itu adalah suami orang, suami dari Anna. Cucu menantu dari keluarga besar bapak Faisal dan Ibu Fatma. Lalu kamu datang ke sini memberitahu pada Reno kalau kamu itu lebih sakit daripada cucu menantu keluarga ini begitu? Iya!!" tanya Titah yang sudah tidak menahan emosinya kembali.
"Kalau iya kenapa? Kamu juga bukan siapa-siapa di keluarga besar Bapak Faisal dan Ibu Fatma. Kamu, Anna dan aku sama orang asing.."
"Sudah cukup, hentikan...." ibu Fatma menampar Natasha.
"Kamu salah.. Natasha, Titah itu sudah saya anggap anak saya sendiri dan Anna sudah saya anggap cucu saya sendiri walaupun mereka berdua hanyalah menantu dan cucu menantu saya. Mereka berbeda dengan kamu, kamu itu seorang ani-ani juga pelakor di hubungan Anna dan Reno cucu saya. Sedangkan Anna dan Titah adalah anggota keluarga di keluarga Bapak Faisal dan Ibu Fatma."
"Uti.. Uti menampar saya?"
"Iya supaya kamu sadar siapa yang anggota keluarga Bapak Faisal dan Ibu Fatma siapa dan yang bukan anggota keluarga Bapak Faisal dan Ibu Fatma itu siapa juga."
"Sekarang kamu pergi dari sini, kami tidak mau melihat kamu ada di sini. Sana pergi atau aku akan panggil security sekarang juga." Titah mengusir Natasha.
"Baik aku akan pergi, tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu Reno. Kamu harus memilih antara aku dan Anna. Siapa yang akan kamu pilih?"
"I'm sorry Natasha, I chose my wife and my future child."
"Nah sekarang kamu sudah dengar sendiri kan. Sudah sana cepat pergi...." Titah mengusir Natasha lagi.
"Baik kalau begitu aku pergi.. Tapi Reno, aku tidak akan tinggal diam dengan apa yang kamu lakukan padaku aku akan membalasnya dan aku akan ingat tentang kejadian hari ini. Aku pastikan kamu kembali kedalam pelukanku lagi, ini sumpahku Reno...." kata Natasha di dalam hati dengan senyum sinisnya.