“Kata Vera, yang kemarin meninggal di kosan kita itu satu kampus sama kamu?” tanya Rissa sembari mengoleskan selai kacang di antara dua tumpuk roti di tangannya. Dengan kunyahan nasi goreng di dalam mulutnya, Rasa mengangguk. “Satu hari sebelum kejadian itu, aku sempet liat dia dibully di kampus.” “Mungkin karena itu dia nekat bundir!” seruak Ara, yang tahu-tahu ikut nimbrung. Padahal sebelumnya, ia asyik sendiri menikmati sarapan nasi goreng buatan Rissa kesukaannya. “Nanti aku coba selidiki, deh,” celetuk Rasa. Saat Rissa menatap cemas ke arahnya, Rasa segera memegang tangan Rissa. “Kak Rissa tenang aja. Aku nggak akan kenapa-kenapa,” tuturnya. “Kamu harus hati-hati, ya.” “Pasti,” tandas Rasa. Lalu kemudian ia teringat akan sesuatu yang membuatnya langsung merogoh isi tasnya. “Oiya

