Hans memutar bola matanya, sebenarnya ia enggan melihat Hanum membawa toples kuenya, tapi karena melihat penampilan Hanum yang cukup memuaskan terpaksa ia menyudahi perdebatannya.
Hans menghela napas lalu membuka pintu mobil untuk Hanum. "Terserah lo deh. Tapi taruh di kursi belakang. Sekarang masuk. Gue mau briefing lo di jalan tentang apa aja yang harus lo lakuin begitu kita ketemu Mila dan si pengkhianat Raka."
Hanum masuk ke dalam mobil yang aromanya sangat wangi dan mewah, sangat kontras dengan aroma mentega yang biasanya ia hirup.
Saat mobil mulai melaju membelah jalanan kota, Hans mulai bicara dengan nada serius.
"Inget ya, nama lo tetep Hanum, tapi lo bukan penjual nastar di depan mereka. Lo itu mahasiswi berprestasi yang gue kenal dari kolega bokap gue. Lo harus kelihatan kalem, berkelas, dan yang paling penting... lo harus kelihatan sayang banget sama gue. Ngerti?"
Hanum menelan ludah. "Harus... pura-pura sayang?"
"Iya! Pegang tangan gue kalau gue kasih kode, atau senyum pas gue lagi ngomong sama mereka. Pokoknya bikin Mila ngerasa kalau dia itu cuma sampah dibanding lo," ucap Hans dengan nada penuh dendam.
Hanum menoleh ke arah jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berlalu. Hatinya merasa miris. Besok sudah mulai puasa, dan ia justru memulai perjalanannya dengan sebuah kebohongan besar.
"Semoga ini cuma sebentar," batin Hanum sambil meremas ujung gamis mahalnya.
**
Di perjalanan menuju restoran, Hans berulang kali melirik ke arah kiri, tempat Hanum duduk dengan gelisah.
Meski matanya sesekali fokus ke jalanan, sudut matanya tidak bisa berbohong. Sosok di sampingnya benar-benar berbeda. Wangi parfum mahal yang tadi disemprotkan di salon beradu tipis dengan aroma vanila dari nastar yang masih tersisa di keranjang di kursi belakang.
"Lo... nggak usah tegang gitu. Santai aja, muka lo kayak orang mau ujian nasional," celetuk Hans, berusaha mencairkan suasana padahal dia sendiri merasa aneh di balik kemudi.
"Gimana aku nggak tegang? Aku belum pernah bohong sejauh ini," sahut Hanum pelan, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan.
"Inget, panggil gue dengan sebutan yang cukup enak didengar, panggil Sayang sesekali, karena kalo nggak, gue potong honor lo," ancam Hans, meski nadanya tak sedingin biasanya.
Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah restoran rooftop yang sangat mewah.
Lampu-lampu kota mulai menyala, menambah kesan glamor tempat itu. Hans menarik napas panjang, merapikan kemejanya, lalu keluar dan membukakan pintu untuk Hanum.
"Waktunya showtime," bisik Hans saat Hanum turun dari mobil.
Begitu memasuki area restoran, Hans langsung menangkap sosok Mila dan Raka yang sedang duduk santai di pojok ruangan, tertawa seolah dunia milik berdua.
Rahang Hans mengeras. Ia memberi isyarat pada Hanum agar mendekat.
Ingat akan janji dan bayaran yang sudah ia terima, Hanum memberanikan diri.
Dengan gerakan perlahan, ia melingkarkan tangannya di lengan Hans, menggandeng pria itu dengan lembut.
Deg.
Hans tersentak kecil. Tubuhnya mendadak kaku seperti robot yang kehilangan pelumas.
Ia tidak menyangka sentuhan lembut dari tangan Hanum yang kecil itu bisa membuatnya kikuk luar biasa. Padahal dia yang menyuruh, tapi kenapa malah dia yang mendadak lupa cara berjalan dengan normal?
Jantungnya serasa tak akan, ada getaran aneh disana, tapi ia segera menepisnya.
"Hans? Kamu nggak apa-apa?" bisik Hanum, menyadari perubahan sikap Hans yang tiba-tiba jadi tegang.
"Gue... gue nggak apa-apa. Jalan aja terus," jawab Hans dengan suara yang sedikit serak.
Ia berusaha mengimbangi langkah Hanum, namun detak jantungnya yang berpacu liar membuatnya merasa canggung.
Mereka berjalan melewati meja Mila dan Raka. Mila yang sedang tertawa tiba-tiba terdiam saat melihat sosok Hans datang.
Matanya membelalak bukan karena melihat Hans, melainkan melihat gadis anggun bersahaja yang sedang menggelayut mesra di lengan mantan kekasihnya itu.
Tanpa sadar, Mila berdiri dan menatap dua sejoli itu. Secara tidak langsung, udah Hans ternyata berhasil. Mantan kekasihnya terkejut melihat kedatangannya bersama seorang gadis.
"Hans?" Mila bersuara, nadanya penuh rasa tidak percaya.
"Lo... Lo sama siapa ini?"
Hans yang tadi kikuk, tiba-tiba mendapatkan kembali rasa percaya dirinya berkat genggaman tangan Hanum yang seolah memberinya kekuatan.
Ia menarik Hanum sedikit lebih dekat ke tubuhnya.
"Kenalin, ini Hanum," ujar Hans dengan nada bicara yang sengaja dibuat sangat manis—sesuatu yang belum pernah Hanum dengar sebelumnya.
"Calon masa depan gue. Cantik, kan? Jauh lebih berkelas dibanding apa pun yang pernah gue temuin sebelumnya."
Hanum tersenyum tipis, persis seperti yang dilatih Hans di jalan tadi, meski dalam hati ia terus beristigfar.
Mila meletakkan gelas kristalnya dengan denting yang cukup keras, matanya yang tajam memindai Hanum dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ada kilat iri dan cemburu yang berusaha ia tutupi dengan senyum meremehkan.
"Calon masa depan?" Mila tertawa hambar, suaranya terdengar melengking di antara musik jazz restoran.
"Hans, lo nggak perlu segitunya kali buat bikin gue cemburu. Lo dapet di mana cewek ini? Agensi model mana yang lo sewa buat pake jilbab rapi begini?"
Raka yang duduk di samping Mila ikut menyeringai, ia menyandarkan punggungnya sambil menatap Hanum dengan tatapan yang membuat Hanum merasa risih.
"Iya, Hans. Gaya lo oke juga. Tumben selera lo ganti ke yang... ya, 'alim-alim' gini. Biasanya kan lo carinya yang gaol kayak Mila." sahut Raka setengah mengejek.