Laku Keras
Dapur kecil di sudut rumah sederhana itu sudah dipenuhi kepulan uap harum sejak fajar menyingsing.
Aroma wijsman yang gurih beradu dengan wangi selai nanas yang sedang diaduk hingga mengental.
Baunya sangat harum membuat para tetangga kadang mampir datang atau sekedar berbasa basi ingin mencicipi.
Di sana, di rumah kediaman Pak Goro dah Bu Maryam, Hanum Sadiqah, gadis berusia 19 tahun itu sedang sibuk dengan loyang-loyangnya.
Sementara sang ibu, Bu Maryam, duduk di kursi kayu sambil membulatkan adonan dengan cekatan.
"Hanum, coba dicek ovennya, Sayang. Jangan sampai terlalu coklat, nanti nastarnya kurang cantik kalau ditaruh di toples," ujar Bu Maryam dengan wajah berseri-seri.
Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, semangat Ramadhan seolah memberi energi tambahan baginya.
Hanum tersenyum, menyeka keringat di dahinya dengan ujung jilbab. "Iya, Bu. Ini sudah pas warnanya. Kuning keemasan, persis seperti kemauan pelanggan tetap kita di perumahan Gold Garden."
Suasana dapur itu terasa begitu hangat. Suara denting spatula dan tawa kecil Hanum saat menceritakan rencananya berkeliling di hari pertama puasa besok membuat lelah mereka tak terasa.
Bagi Hanum, setiap butir nastar ini adalah harapan untuk membayar kebutuhan rumah dan juga biaya sekolah adiknya.
Hannah, sedang bersekolah di SD kelas 6, sebentar lagi ujian dan butuh uang banyak untuk kelulusan nanti dan juga daftar sekolah SMP.
"Ibu senang, Num. Ramadhan tahun ini pesanan kita sudah mulai masuk sejak sebelum puasa. Semoga ini jadi berkah buat kita ya, Nak," ucap Ibunya lembut.
Hanum mengangguk tulus. "Amin, Bu.
Hanum bakal usahain keliling ke komplek elit besok. Biasanya mereka nggak mikir dua kali kalau lihat nastar sekelas buatan Ibu."
Hannah datang dengan wajah sedih, ia duduk termenung. “Ada apa, Nah? Kok murung?” tanya ibunya.
“Bu, aku belum bayar LKS,”
Hanum melirik adiknya, ia juga belum punya pekerjaan, jadi tak bisa bantu apa-apa dalam hal ini.
Ayahnya, mengalami kecelakaan jadi saat ini kondisinya lumpuh semenjak kecelakaan itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu.
“Nah, besok ada pesanan kue nastar, lima toples. Kamu bilang saja pada gurumu kalau bukunya akan dibayar sekitar dua hari lagi,”
Hannah langsung tersenyum. Ia merasa senang dan memeluk ibunya hangat. “Bu, terima kasih, semoga kue nya laris manis. Mbak Hanum, boleh nggak Hannah bantuin?”
Hanum mengedikkan bahunya, “Kayanya nggak bisa, ini aja Mbak hampir selesai mengepak,” jawab Hanum.
Di sisi lain kota...
Suasana hangat di dapur Hanum berbanding terbalik dengan dinginnya atmosfer di sebuah kafe mewah bergaya industrial di pusat kota.
Hans Pradana duduk mematung, menatap dua orang di hadapannya dengan rahang yang mengeras.
Di depannya, Mila—kekasih yang sudah ia dampingi selama dua tahun—tengah menggenggam erat tangan seorang pria lain.
Pria itu bukan orang asing. Dia adalah Raka, sahabat Hans sendiri sejak zaman sekolah.
"Jadi... ini maksud lo ngajak gue ketemuan?" suara Hans terdengar rendah, namun penuh penekanan.
"Lo mutusin gue di H-1 puasa demi... dia?"
Mila mendengus, menyesap iced americano-nya dengan gaya angkuh. "Duh, Hans. Jangan drama deh. Gue tuh udah bosen sama lo yang terlalu controlling. Lagian, Raka jauh lebih ngertiin gue dibanding lo yang sibuk sama urusan bisnis lo itu."
Raka, pria yang selama ini Hans anggap saudara, hanya menepuk bahu Hans dengan seringai tipis yang menyebalkan.
"Sorry ya, Hans. Namanya juga perasaan, nggak bisa dipaksa. Gue sama Mila emang udah ngerasa cocok dari lama. Lo cari yang lain aja lah, yang selevel sama lo."
"Selevel?" Hans tertawa sinis, meski hatinya terasa seperti dihantam palu godam.
"Lo berdua beneran mau main di belakang gue? Bagus. Lo pikir gue bakal mohon-mohon?"
"Ya emang harusnya lo tau diri," sela Mila tajam.
"Gue butuh cowok yang seru, bukan cowok kaku kayak lo. So, we're done, Hans. Jangan hubungin gue lagi. Gue mau fokus jalanin Ramadhan sama cowok yang bener."
Mila dan Raka beranjak pergi, meninggalkan Hans yang masih duduk terpaku.
Gelas kopinya masih penuh, sedingin hatinya saat ini. Hans mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih.
Amarahnya memuncak, bukan hanya karena diputuskan, tapi karena harga dirinya diinjak-injak tepat di depan matanya sendiri.
"Sialan! Lihat aja nanti, gue bakal buktiin kalau gue bisa dapet yang lebih baik dari lo, Mila. Gue bakal bikin lo nyesel udah milih sampah kayak Raka!" batin Hans penuh dendam.
**
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di langit yang cerah.
Hanum melangkah masuk ke rumah dengan wajah yang tak kalah cerah dari langit sore.
Di tangannya, ia memegang beberapa lembar uang kertas yang masih rapi.
"Ibu! Assalamualaikum," seru Hanum sambil melepas sandal jepitnya di teras.
Ia setengah berlari menuju ke dalam rumah. Bu Maryam yang sedang merapikan toples-toples kosong di ruang tengah langsung menoleh.
Senyumnya mengembang lebar melihat binar di mata putri sulungnya itu. "Wa'alaikumussalam. Gimana, Nak? Lancar?"
Hanum mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim sebelum menyerahkan uang hasil penjualannya. "Alhamdulillah, Bu. Lima toples yang tadi Hanum bawa ke komplek sebelah langsung ludes. Padahal Hanum baru nawarin ke tiga rumah, eh, ibu-ibu yang lagi kumpul arisan langsung borong semua."
Mata Bu Maryam berkaca-kaca karena haru. Ia mengusap kepala Hanum dengan lembut.