bc

The Nastar Girl & Mr. Hearthbreak

book_age18+
2
FOLLOW
1K
READ
revenge
love-triangle
family
fated
forced
opposites attract
second chance
playboy
badboy
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
kicking
bold
single daddy
city
cheating
childhood crush
disappearance
enimies to lovers
rejected
secrets
love at the first sight
affair
polygamy
assistant
like
intro-logo
Blurb

Bagi Hanum Sadiqah, bulan Ramadhan adalah tentang kerja keras.

Ia membantu ibunya dengan cara berkeliling dari satu rumah mewah ke rumah mewah lainnya di kawasan elit demi menjajakan nastar buatan ibunya.

Dan itu menjadi rutinitas yang ia jalani dengan ikhlas.

Senyumnya tulus, tutur katanya santun, dan hatinya hanya berharap dagangannya ludes demi tambahan biaya hidup mereka yang pas-pasan.

Namun, sore itu di depan sebuah mansion megah, Hanum bertemu dengan sesuatu hal yang akan mengubah hari-harinya.

Hans Pradana, pria dengan tatapan sedingin es yang sedang hancur lebur. Baginya, cinta itu sampah setelah sang mantan kekasih mencampakkannya demi pria lain.

Hans tidak butuh nastar, Hans tidak butuh empati. Yang Hans butuhkan hanyalah cara untuk membalas dendam dan membuat mantan kekasihnya menyesal.

"Heh, denger ya. Gue nggak butuh kue lo. Tapi gue butuh muka lo yang cantik ini. Lo mau nastar lo gue borong semua? Gampang. Syaratnya cuma satu, lo harus jadi cewek gue. Pura-pura aja sih, tapi lo harus akting total depan mantan gue biar dia tau gue udah move on. Gimana? Deal?"

Hanum tertegun. Tawaran pria itu sebenarnya adalah sebuah penghinaan namun sekaligus peluang yang sulit ditolak.

Di antara aroma mentega nastar yang manis dan keangkuhan Hans yang pahit, sebuah kesepakatan gila pun dimulai.

Dapatkah kepolosan dan ketulusan Hanum mencairkan hati Hans yang membatu? Ataukah Hanum justru akan terjebak dalam skenario egois sang tuan muda yang sedang patah hati?

chap-preview
Free preview
Laku Keras
Dapur kecil di sudut rumah sederhana itu sudah dipenuhi kepulan uap harum sejak fajar menyingsing. Aroma wijsman yang gurih beradu dengan wangi selai nanas yang sedang diaduk hingga mengental. Baunya sangat harum membuat para tetangga kadang mampir datang atau sekedar berbasa basi ingin mencicipi. Di sana, di rumah kediaman Pak Goro dah Bu Maryam, Hanum Sadiqah, gadis berusia 19 tahun itu sedang sibuk dengan loyang-loyangnya. Sementara sang ibu, Bu Maryam, duduk di kursi kayu sambil membulatkan adonan dengan cekatan. "Hanum, coba dicek ovennya, Sayang. Jangan sampai terlalu coklat, nanti nastarnya kurang cantik kalau ditaruh di toples," ujar Bu Maryam dengan wajah berseri-seri. Meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, semangat Ramadhan seolah memberi energi tambahan baginya. Hanum tersenyum, menyeka keringat di dahinya dengan ujung jilbab. "Iya, Bu. Ini sudah pas warnanya. Kuning keemasan, persis seperti kemauan pelanggan tetap kita di perumahan Gold Garden." Suasana dapur itu terasa begitu hangat. Suara denting spatula dan tawa kecil Hanum saat menceritakan rencananya berkeliling di hari pertama puasa besok membuat lelah mereka tak terasa. Bagi Hanum, setiap butir nastar ini adalah harapan untuk membayar kebutuhan rumah dan juga biaya sekolah adiknya. Hannah, sedang bersekolah di SD kelas 6, sebentar lagi ujian dan butuh uang banyak untuk kelulusan nanti dan juga daftar sekolah SMP. "Ibu senang, Num. Ramadhan tahun ini pesanan kita sudah mulai masuk sejak sebelum puasa. Semoga ini jadi berkah buat kita ya, Nak," ucap Ibunya lembut. Hanum mengangguk tulus. "Amin, Bu. Hanum bakal usahain keliling ke komplek elit besok. Biasanya mereka nggak mikir dua kali kalau lihat nastar sekelas buatan Ibu." Hannah datang dengan wajah sedih, ia duduk termenung. “Ada apa, Nah? Kok murung?” tanya ibunya. “Bu, aku belum bayar LKS,” Hanum melirik adiknya, ia juga belum punya pekerjaan, jadi tak bisa bantu apa-apa dalam hal ini. Ayahnya, mengalami kecelakaan jadi saat ini kondisinya lumpuh semenjak kecelakaan itu terjadi sekitar satu tahun yang lalu. “Nah, besok ada pesanan kue nastar, lima toples. Kamu bilang saja pada gurumu kalau bukunya akan dibayar sekitar dua hari lagi,” Hannah langsung tersenyum. Ia merasa senang dan memeluk ibunya hangat. “Bu, terima kasih, semoga kue nya laris manis. Mbak Hanum, boleh nggak Hannah bantuin?” Hanum mengedikkan bahunya, “Kayanya nggak bisa, ini aja Mbak hampir selesai mengepak,” jawab Hanum. Di sisi lain kota... Suasana hangat di dapur Hanum berbanding terbalik dengan dinginnya atmosfer di sebuah kafe mewah bergaya industrial di pusat kota. Hans Pradana duduk mematung, menatap dua orang di hadapannya dengan rahang yang mengeras. Di depannya, Mila—kekasih yang sudah ia dampingi selama dua tahun—tengah menggenggam erat tangan seorang pria lain. Pria itu bukan orang asing. Dia adalah Raka, sahabat Hans sendiri sejak zaman sekolah. "Jadi... ini maksud lo ngajak gue ketemuan?" suara Hans terdengar rendah, namun penuh penekanan. "Lo mutusin gue di H-1 puasa demi... dia?" Mila mendengus, menyesap iced americano-nya dengan gaya angkuh. "Duh, Hans. Jangan drama deh. Gue tuh udah bosen sama lo yang terlalu controlling. Lagian, Raka jauh lebih ngertiin gue dibanding lo yang sibuk sama urusan bisnis lo itu." Raka, pria yang selama ini Hans anggap saudara, hanya menepuk bahu Hans dengan seringai tipis yang menyebalkan. "Sorry ya, Hans. Namanya juga perasaan, nggak bisa dipaksa. Gue sama Mila emang udah ngerasa cocok dari lama. Lo cari yang lain aja lah, yang selevel sama lo." "Selevel?" Hans tertawa sinis, meski hatinya terasa seperti dihantam palu godam. "Lo berdua beneran mau main di belakang gue? Bagus. Lo pikir gue bakal mohon-mohon?" "Ya emang harusnya lo tau diri," sela Mila tajam. "Gue butuh cowok yang seru, bukan cowok kaku kayak lo. So, we're done, Hans. Jangan hubungin gue lagi. Gue mau fokus jalanin Ramadhan sama cowok yang bener." Mila dan Raka beranjak pergi, meninggalkan Hans yang masih duduk terpaku. Gelas kopinya masih penuh, sedingin hatinya saat ini. Hans mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih. Amarahnya memuncak, bukan hanya karena diputuskan, tapi karena harga dirinya diinjak-injak tepat di depan matanya sendiri. "Sialan! Lihat aja nanti, gue bakal buktiin kalau gue bisa dapet yang lebih baik dari lo, Mila. Gue bakal bikin lo nyesel udah milih sampah kayak Raka!" batin Hans penuh dendam. ** Sore itu, matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga di langit yang cerah. Hanum melangkah masuk ke rumah dengan wajah yang tak kalah cerah dari langit sore. Di tangannya, ia memegang beberapa lembar uang kertas yang masih rapi. "Ibu! Assalamualaikum," seru Hanum sambil melepas sandal jepitnya di teras. Ia setengah berlari menuju ke dalam rumah. Bu Maryam yang sedang merapikan toples-toples kosong di ruang tengah langsung menoleh. Senyumnya mengembang lebar melihat binar di mata putri sulungnya itu. "Wa'alaikumussalam. Gimana, Nak? Lancar?" Hanum mendekat, lalu mencium tangan ibunya dengan takzim sebelum menyerahkan uang hasil penjualannya. "Alhamdulillah, Bu. Lima toples yang tadi Hanum bawa ke komplek sebelah langsung ludes. Padahal Hanum baru nawarin ke tiga rumah, eh, ibu-ibu yang lagi kumpul arisan langsung borong semua." Mata Bu Maryam berkaca-kaca karena haru. Ia mengusap kepala Hanum dengan lembut.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.2K
bc

Kali kedua

read
219.2K
bc

TERNODA

read
200.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook