Diajak Main Drama

810 Words
Menjelang bulan ramadhan, rasanya sangat menyenangkan. Apalagi Hanum mulai sibuk membantu ibunya menyiapkan pesanan kue nastar. Padahal ini baru masuk bulan nifsu sya'ban, banyak pengajian yang dijadikan menjelang bulan ramadhan. Dan ibunya selesai memasukkan kue nastar ke dalam toples memintanya untuk membantu memberikan stiker label produk di atas tutup toplesnya. “Num, kamu kalau sudah selesai, cepat keliling ke perumahan elit itu ya, ibu mau siap-siap mandi dulu. Bu Hasna sudah bilang mau berangkat bareng,” Hanum mengangguk. “Ya, Bu. Aku mau ganti baju dulu.” Pagi itu, mentari bersinar cerah namun udara masih terasa sejuk, khas pagi dengan suasana yang ramai di halaman rumahnya. Hanum sudah rapi dengan gamis sederhana dan jilbab yang menutupi d**a. Di tangannya, sebuah keranjang berisi sepuluh toples nastar berjejer rapi, siap untuk dipersembahkan. Aroma manis dari nastar itu bahkan samar-samar tercium di udara. "Hati-hati ya, Nak. Jangan lupa baca doa sebelum berangkat," pesan Bu Maryam dari ambang pintu, menatap putrinya dengan tatapan penuh harap. "Iya, Bu. Doakan Hanum laku banyak ya," jawab Hanum sambil tersenyum, lalu melangkahkan kaki menuju gerbang perumahan Grand Elit. Perasaan gembira bercampur sedikit gugup menyelimuti hatinya. Ini kali pertama ia mencoba peruntungan di kawasan paling elite di kota. Setibanya di sana, Hanum sedikit terintimidasi oleh gerbang tinggi dengan penjaga keamanan yang berjaga ketat. Dengan sedikit keberanian, ia mendekati pos satpam. "Permisi, Pak. Namaku Hanum, penjual kue nastar rumahan. Boleh aku masuk untuk menawarkan kue ke dalam?" Hanum bertanya dengan sopan, menunjukkan keranjang nastarnya. Satpam itu menatap Hanum dari atas ke bawah, lalu menggeleng pelan. "Maaf, Mbak. Di sini nggak boleh ada pedagang masuk tanpa izin khusus penghuni. Aturan kompleks." Hati Hanum menciut. Sudah ia duga akan begini. Ia mencoba lagi. "Tapi, Pak... nastar Ibuku ini enak sekali, buatan sendiri. Mungkin ada ibu-ibu di dalam yang ingin mencicipinya dan untuk persiapan hidangan buka puasa?" Saat Hanum masih mencoba merayu, tiba-tiba sebuah mobil sport mewah berwarna gelap melaju pelan, mendekati gerbang. Kaca jendela mobil itu terbuka dan tampaklah wajah Hans Pradana, dengan sorot mata yang masih memancarkan kekesalan sisa semalam. Ia tampak berantakan, kantung mata menghitam, dan wajahnya dipenuhi raut ketidakpedulian dan juga keputusasaan. Hans hendak keluar dari kompleks untuk menenangkan pikirannya, namun terhenti melihat seorang gadis berkerudung dengan keranjang kue di depan gerbang, beradu argumen dengan satpamnya. "Ada apa ini?" suara Hans terdengar dingin, membuat satpam dan Hanum menoleh. "Maaf, Den Hans. Ini ada pedagang kue ingin masuk, tapi saya larang karena sesuai aturan disini," jelas satpam dengan sedikit gemetar. Hans menatap Hanum sejenak. Matanya yang tajam menelusuri keranjang berisi nastar di tangan gadis itu. Ekspresinya sulit ditebak, namun sorot matanya yang kosong semalam, kini entah mengapa terlihat sedikit berbinar—bukan karena tertarik pada nastar, melainkan pada ide licik yang tiba-tiba muncul di benaknya. "Lo, siapa? Ngapain nawarin kue di sini?" Hans bertanya, nadanya merendahkan. Hanum sedikit tersentak oleh pertanyaan Hans yang tiba-tiba dan nada bicaranya yang kasar. Ia menatap Hans yang berwajah tampan namun terlihat angkuh. "Aku Hanum. Menjual nastar buatan ibuku. Kalau kamu mau, bisa dicoba, ini enak sekali," jawab Hanum pelan, sedikit takut namun tetap sopan, sambil menyodorkan salah satu toples nastar. Hans mendengus geli, sebuah ide gila kini merasuk di kepalanya. Tiba-tiba, ia melihat wajah Mila dan Raka terlintas. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Nastar? Pffft. Gue nggak butuh kue. Tapi..." Hans menghentikan ucapannya, sorot matanya kini tertuju tajam pada Hanum. Tiba-tiba Hans melirik satpam yang berdiri di samping Hanum dan memintanya untuk mengijinkan Hanum berbicara dengannya di depan taman dekat dengan pos keamanan. “Lo ikut gue, kita bicarakan ini di taman itu!” sahut Hans dengan penuh percaya diri. “Ngapain?” Hans tidak menjawab langsung. Ia malah menatap ke arah satpam yang diam membeku. "Biarin dia masuk. Gue yang ngijinin." Satpam itu terkejut, namun tidak berani membantah titah majikannya. Hanum sendiri masih kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. Hans kemudian keluar dari mobilnya, mendekati Hanum, dan tanpa disangka, ia mengambil satu toples nastar dan membukanya. “Aku mau mencicipinya asal kamu mau duduk disana,” Hanum mengangguk lalu berjalan menuju ke taman dan duduk disana. Ada beberapa bangku taman yang ada disana dengan pemandangan yang cukup indah. “Ada apa, ya? Kamu mau pesan kue ini?” tanya Hanum. Hans tampak diam tapi matanya menatap secara menelisik ke arah Hanum yang polos dan cantik natural, menurut Hans. "Gini, gue butuh lo. Gue butuh lo buat gue jadiin umpan." Hanum mengerutkan keningnya, tidak mengerti maksud perkataan Hans. "Umpan? Maksudnya gimana, ya?" "Dengerin gue baik-baik," bisik Hans dengan suara yang hanya bisa didengar Hanum, namun penuh intimidasi. "Lo mau nastar lo gue borong semua?” Hanum tersentak karena kaget dengan ucapannya. “Se-semuanya?” “Semuanya. Tapi lo harus mau gue ajak main drama." Hanum menatap Hans dengan mata polosnya, tidak mengerti apa maksud Hans. Namun, melihat sorot mata Hans yang dingin dan penuh tekad, Hanum tahu bahwa pria ini tidak sedang bercanda.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD