Tawaran yang Aneh

807 Words
Hanum mengerjap, jantungnya berdegup kencang. Ia belum pernah bertemu orang seangkuh dan seaneh pria di depannya ini. Rasanya seumur hidupnya baru kali ini ia melihat wajah tampan tapi melihat dirinya seolah bisa dibayar. Apa maksudnya, dijadikan umpan, main drama dan kenapa harus dia? "Maaf, ehm .. siapapun namamu," jawab Hanum pelan namun tegas sembari menarik kembali toples nastarnya. "Aku ke sini cuma mau jualan kue, bukan mau main drama atau jadi umpan apa pun itu. Kalau kamu ehm … memang nggak butuh kuenya, nggak apa-apa. Aku permisi." Hans tertegun. Baru kali ini ada orang yang memakai baju sederhana, menjajakan kue di bawah terik matahari, tapi berani menolak tawaran dari seorang Hans Pradana. Biasanya, orang-orang akan sujud syukur kalau diajak bicara olehnya. Apalagi diajak jadi pacar bohongan meskipun hanya drama saja. "Heh, tunggu dulu!" Hans menghalangi langkah Hanum. Ia melepas kacamata hitamnya, menatap Hanum dengan tatapan meremehkan namun penuh selidik. "Lo tahu nggak berapa harga sepuluh toples lo ini? Buat gue, itu cuma recehan yang nggak ada harganya. Tapi kalau lo mau kerja sama, gue bakal bayar lo sepuluh kali lipat dari harga kue-kue ini." Hanum berhenti, ia menatap Hans dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilat kemarahan di matanya. "Bagimu mungkin ini cuma recehan, tapi bagiku dan Ibuku, setiap butir nastar ini adalah keringat dan harapan. Aku nggak mau uangmu kalau caranya nggak benar. Aku lebih milih capek keliling seharian daripada dapet uang banyak tapi harus bohongi orang." Hans bungkam seribu bahasa. Kata-kata "keringat dan harapan" itu entah kenapa menyentil sisi kecil di hatinya yang paling dalam, meski egonya segera menepisnya. Ia melihat Hanum yang sudah bersiap pergi, dan rasa paniknya muncul. Hanya gadis ini yang terlihat "bersih" dan bisa digunakan untuk membuat mantan kekasihnya percaya bahwa dia sudah beralih ke orang yang jauh lebih baik (meski sebenarnya ini cuma akting). "Oke, oke, sorry," Hans menurunkan nadanya, meski tetap terdengar kaku. "Gue nggak bermaksud ngehina kue lo. Gini aja... lo pikirin dulu." Hans merogoh saku celananya, mengeluarkan dompet kulit mahal dan menarik selembar kartu nama berwarna hitam elegan. Ia menyelipkannya di antara sela tutup toples nastar yang dipegang Hanum. "Gue nggak maksa lo jawab sekarang. Tapi gue serius. Gue butuh bantuan lo buat satu acara buka puasa bareng besok di hari pertama Ramadhan.aish ada waktu tiga hari dari sekarang. Dan Lo tetep bisa bawa nastar lo, anggap aja lo lagi promo kue, tapi di depan mantan gue... lo harus jadi orang yang spesial buat gue," ujar Hans, suaranya sedikit melunak namun tetap penuh tipu daya. "Pikirin baik-baik. Nomor gue ada di situ. Kalau lo berubah pikiran sebelum besok sore, hubungin gue. Gue bakal borong semua nastar nyokap lo sampai hari Lebaran kalau lo mau." Hans langsung masuk ke mobil sport-nya tanpa menunggu jawaban Hanum. Mesin mobil menderu keras, meninggalkan Hanum yang berdiri mematung di pinggir jalan mewah itu. Hanum menatap kartu nama di tangannya. Hans Pradana - CEO Pradana Group. "Astagfirullah..." gumam Hanum lirih. Hatinya bimbang. Di satu sisi, ia sangat ingin membantu Ibunya agar tidak perlu lagi kelelahan di dapur setiap hari. Namun di sisi lain, kepolosan hatinya menjerit bahwa berbohong bukanlah jalan yang diridhai, apalagi di bulan suci Ramadhan yang tinggal hitungan hari lagi. ** Hanum berjalan gontai menyusuri jalanan aspal perumahan elit yang mulai terasa membara. Di dalam keranjangnya, sepuluh toples nastar itu terasa jauh lebih berat dari biasanya. Kartu nama hitam milik Hans seolah membakar telapak tangannya. Sesampainya di rumah, suasana masih sama. Harum selai nanas masih memenuhi ruangan, dan ibunya sedang asyik menata oven cadangan. "Gimana, Num? Habis semua?" tanya Bu Maryam dengan mata berbinar penuh harap. Hanum tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kemelut di hatinya. "Eh... laku separuh, Bu. Tadi ada orang rumah di komplek atas yang ambil banyak." Hanum berbohong sedikit. Sebenarnya ia hanya menjual lima, sisanya ia simpan karena pikirannya terdistraksi oleh Hans. Malamnya, saat tiga hari menjelang puasa dimulai, Hanum duduk di kursi kayu di teras rumahnya. Ia menatap kartu nama Hans yang diletakkannya di atas meja. Nama "Hans Pradana" tercetak dengan tinta emas yang elegan, mencerminkan dunia yang sangat jauh dari jangkauan Hanum. “Lo harus jadi cewek gue. Pura-puranya sih...” Suara angkuh Hans terus terngiang-ngiang. Hanum memejamkan mata rapat-rapat. "Ya Allah, kenapa hamba harus dikasih ujian begini sebelum puasa?" bisiknya lirih. Ia mulai menghitung dalam hati. Jika ia menerima tawaran Hans, semua beban ibunya akan terangkat. Ibunya tidak perlu lagi bangun pukul dua pagi untuk mengaduk adonan sampai tangannya pegal. Biaya pengobatan ibu untuk beberapa bulan ke depan pun akan aman. Bahkan, ia bisa menyisihkan uang untuk modal usaha kue ibu agar lebih besar setelah Lebaran nanti. Tapi harganya dibayar dengan sebuah kebohongan. "Jadi pacar pura-pura?" Hanum bergidik sendiri. Membayangkan dirinya berdampingan dengan pria seangkuh Hans saja sudah membuatnya merinding, apalagi harus berpura-pura mencintai pria itu di depan orang lain. Ia hampir mual membayangkannya. Kalau benar-benar nanti terjadi pasti ... ah, ia bergidik ngeri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD