Kepalanya berdenyut-denyut, jadi pusing rasanya karena terlalu memikirkan tentang tawaran aneh itu. Membayangkan jadi pacar Hans dan berkata manis pada pria itu, cukup menyesakkan d**a. Tak percaya jika ia mengalami kejadian aneh ini.
Hanum tahu, Hans hanya ingin menjadikan dirinya alat untuk membalas dendam pada mantannya.
Dan pastinya Hans tidak peduli pada perasaannya, tidak peduli pada martabatnya sebagai gadis penjual kue.
Pria itu hanya peduli pada harga dirinya yang terluka. Dengan uangnya, pria kaya bisa membuat mantannya menyesal.
Tinggal nanti apa benar-benar akan menyesal atau tidak, ia sempat bingung, hal apa yang harus dilakukan agar mantan Hans percaya dan menyesal saat Hans memiliki pacar seorang penjual kue.
"Kalau aku bohong, puasaku nanti berkah nggak ya?" batinnya bimbang.
Namun, saat ia menoleh ke dalam rumah dan melihat ibunya sedang memijat pergelangan tangan yang mulai bengkak karena terlalu banyak mencetak kue, hati Hanum tergugah.
Ia merasa tidak tega melihat ibunya berjuang sendirian di usia senja. Sementara ayahnya tidak lagi sanggup bekerja. Kelumpuhannya membuat ibunya harus menanggung beban keluarga.
Hanum mengambil ponsel jadulnya, menatap nomor yang tertera di kartu nama itu. Jarinya gemetar di atas layar.
"Cuma pura-pura kan? Cuma sampai mantannya kapok?" Hanum mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski nuraninya terus memberontak.
Tiga hari menuju Ramadhan, dan Hanum Sadiqah merasa ia sedang berdiri di persimpangan antara bakti pada orang tua dan kejujuran hati yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
**
Situasi mendadak jadi kacau balau di rumah Hanum. Yang tadinya tampak tenang dan damai berubah ricuh.
Ketenangan menjelang Ramadhan terusik oleh suara keras di depan pintu.
Seorang pria berwajah garang datang menagih hutang lama yang Hanum sendiri tidak tahu kapan ayahnya meminjam.
Ayahnya hanya tertunduk lesu, tak berdaya menghadapi gertakan sang penagih.
Ibunya hampir pingsan, tangannya yang masih berlumur tepung gemetar hebat. Jumlah hutang itu persis seharga sepuluh toples nastar premium yang belum sempat terjual—uang yang bagi keluarga Hans mungkin hanya uang parkir, tapi bagi Hanum adalah sebuah nyawa.
Dengan air mata yang ditahan di sudut mata, Hanum masuk ke kamar, mengambil kartu nama hitam itu, dan menekan nomor di sana dengan tangan gemetar.
Panggilan diangkat pada nada kedua.
"Halo?" suara berat dan angkuh Hans terdengar di seberang sana. "Lo akhirnya hubungin gue,"
"Ini Hanum, ehm … aku …" suara Hanum tercekat.
“Ya, aku tahu, ini kamu,”
"Soal tawaran mu ... kalau aku minta kamu bayar sepuluh toples nastarku sekarang, apa kamu mau?"
Hans di seberang sana tersenyum sinis, ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Sudah dari kemarin ia tunggu-tunggu. Ini benar-benar jadi hal yang sangat menyenangkan karena dia harus menunggu cukup lama meski hanya dia hari.
"Gue bisa bayar lebih dari itu kalau gue mau. Tapi lo tahu kan, nggak ada sesuatu yang gratis?"
Hanum menarik napas panjang, mencoba memantapkan hatinya. "Apa syaratnya masih sama?"
"Masih. Lo harus mau jadi pacar bohongan gue mulai besok. Akting total, nggak pakai tapi, nggak pakai bantah. Deal?"
Hanum menatap ibunya yang sedang menangis di ruang tengah. Ibunya yang tengah menghadapi para penagih hutang.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, merelakan prinsip kejujurannya demi keselamatan keluarganya.
“Jadi, gimana? Lo bersedia?”
"I-iya... aku mau," jawab Hanum lirih.
"Bagus," sahut Hans dengan nada puas. "Besok sore gue jemput. Lo harus tampil beda, gue nggak mau lo keliatan kayak penjual kue pas ketemu mantan gue. See you, pacar baru."
Klik. Telepon ditutup sepihak. Hanum terduduk lemas di lantai. Ramadhan tahun ini benar-benar akan menjadi perjalanan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
**
Di dalam kamarnya yang sempit, Hanum duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan campur aduk.
Ia baru saja mengirimkan nomor rekening bank atas nama ibunya kepada Hans melalui pesan singkat.
Pria itu memintanya sebagai kesepakatan mereka. Kepalanya masih berdenyut memikirkan bentakan penagih hutang tadi, namun di sisi lain, ada rasa takut yang besar terhadap apa yang baru saja ia setujui.
Tak sampai lima menit, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi m-banking masuk.
Mata Hanum membelalak. Nominal yang dikirim Hans jauh melampaui harga sepuluh toples nastar.
Bahkan bisa membayar hutang ayahnya tiga kali lipat.
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan dari Hans masuk.
"Udah masuk kan? Anggap aja itu DP buat kerja sama kita. Inget, sisanya lo pake buat ambil baju di butik yang alamatnya gue kirim habis ini. Gue udah pesenin atas nama lo. Besok pas gue jemput, gue mau lo udah pakai baju itu. Jangan ada alasan nggak nyaman atau apa pun. Lo sekarang 'pacar' gue."
Hanum menghela napas panjang. Jari-jarinya gemetar saat mengetik balasan.
"Iya, uangnya sudah masuk. Terima kasih. Besok aku akan bawa nastarnya dan pakai baju itu. Aku akan ikuti kemauanmu."
Di seberang sana, Hans hanya membalas singkat, "Good. Panggil Hans atau Sayang aja ... atau ya terserah lo asal jangan formal banget. Besok jam 4 sore gue sampe depan gerbang komplek lo. Jangan telat."
Hanum meletakkan ponselnya di atas bantal. Ia menatap ke arah pintu kamarnya, di mana di balik itu terdengar suara isak tangis ibunya yang mulai mereda.
Ia berjalan ke arah ruang tamu dan memberikan janji mengirim sejumlah uang untuk hutang yang harus dibayar.