Bayang-bayang vonis medis yang mengharuskan adiknya segera menjalani transplantasi ginjal memang menjadi alasan utamanya berada di sini. Namun saat ini, napas Maura mulai tersengal-sengal bukan hanya karena memikirkan nasib Raka, melainkan karena rasa takut absolut yang mendadak menyesakkan dadanya.
Di bawah tatapan gelap pria itu, insting pertahanan diri Maura meronta. Ia mencoba menahan tangan besar Samudra yang terus bergerak liar di balik gaun tipisnya.
"Tapi, Sam… aku—"
SRAAAK!!!
Suara robekan kain yang tajam memecah keheningan ruangan yang sunyi itu. Maura membelalak kaget, mulutnya ternganga saat gaun sutra merah mahalnya terbelah dalam satu sentakan kuat tangan Samudra. Kain yang membalut tubuhnya kini hanyalah helaian compang-camping, memperlihatkan kulit putih susunya yang seketika terpapar udara dingin apartemen.
"Sam! A—apa yang kau lakukan?!" Maura berteriak kaget. Tangannya dengan cepat menyilang, mencoba menutupi dadanya yang kini terekspos. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sedih, melainkan karena syok atas agresivitas pria tersebut.
Samudra menatapnya dengan iris mata yang menggelap, memancarkan kilat obsesi dan domi-nasi yang mencekam. Ia mencengkeram rahang Maura, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
"Aku tidak suka menunggu, Maura. Dan aku sangat benci penghalang," bisik Samudra dengan nada dingin yang mematikan. "Lepaskan sisa bajumu sekarang, atau aku yang akan melakukannya dengan cara yang jauh lebih kasar."
Maura tersentak. Pandangan matanya bergetar karena rasa takut yang merayap ke sekujur tubuhnya. Ia menggeleng panik. "A--aku…"
Alih-alih menuruti perintah, tangan Maura justru semakin menyilang erat di depan daada, mencoba melindungi sisa harga dirinya yang terakhir. Maura bisa melihat pantulan dirinya di mata pekat pria itu—seorang gadis malang yang sedang ditelanjangi oleh keadaan dan keputusasaan.
Samudra tidak membalas dengan kata-kata manis atau bujukan. Pria itu tahu betul bagaimana cara menekan titik terlemah seseorang. Ia justru melepaskan cengkeramannya, lalu bersandar angkuh di sofa. Samudra menyilangkan kakinya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a, menatap Maura seolah sedang membedah setiap inci tubuh gadis itu dengan pisau bedah.
"Keluar sekarang jika kau datang ke mari hanya untuk mempermainkanku, Maura," ancam Samudra tanpa emosi. "Tapi ingat, saat kakimu melangkah keluar dari pintu itu, nyawa adikmu tidak lagi menjadi urusanku. Biarkan saja dia membusuk di bangsal rumah sakit."
Kalimat itu menghantam kewarasan Maura lebih keras daripada tamparan fisik mana pun.
Wajah pucat Raka seketika terbayang di benaknya. Uang. Hanya bayaran dari pria inilah yang bisa menyelamatkan adiknya dari kematian.
"A--aku akan melakukannya," cicit Maura dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Suara itu terasa enggan keluar dari mulutnya sendiri. Dadanya berdebar semakin kencang, menyadari bahwa ia telah kalah telak. Dengan jemari yang gemetar hebat dan air mata yang akhirnya luruh melewati pipinya, Maura memejamkan mata erat-erat dan mulai meloloskan sisa gaun yang menempel di tubuhnya.
Sial.
Batin Samudra justru memaki keras. Melihat pergerakan kecil penuh keraguan dan kepasrahan dari gadis yang berdiri gemetar di hadapannya itu ternyata memicu gairahnya hingga menggelegak tak terkendali. Samudra segera bangkit dari duduknya. Tanpa aba-aba, ia mengangkat tubuh mungil Maura ke dalam gendongannya.
Maura memekik terkejut. Ia bergerak panik di dalam kukungan lengan baja itu. "Turunkan aku!"
"Diam, kalau kau tidak ingin aku melemparmu," desis Samudra dengan tenang namun mengancam.
Maura langsung bungkam, hanya bisa menggigit bibir bawahnya keras-keras untuk mengontrol ketakutannya sendiri. Hanya perlu melakukannya sekali, dan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Ia merapal sugesti itu berkali-kali di dalam kepalanya, meski deru napasnya memendek dan wajah cantiknya kian memucat seiring detak jantungnya yang memukul keras tulang rusuk.
Langkah lebar Samudra membawa gadis itu ke dalam kamar utama yang berukuran sangat luas. Kamar itu didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang sangat pekat. Samudra membaringkan Maura di atas ranjang king size yang luar biasa empuk. Sesaat, Maura merasa tubuhnya seolah tenggelam di dalam lautan kemewahan yang menyesakkan. Jika saja ia berada di sini bukan untuk menjual diri demi biaya operasi, Maura pasti akan dengan senang hati terlelap di kasur semahal ini.
Kini, tidak ada lagi kain yang menutupi dirinya. Samudra memperhatikan bukit kembarnya yang membusung dengan tatapan intens yang membuat seluruh permukaan kulit Maura terasa terbakar.
Samudra segera menindihnya. Ia tidak serta-merta menumpukan seluruh berat tubuhnya, namun keberadaannya sudah cukup membuat Maura merasa tercekik. Sikunya menahan bobot tubuhnya di sisi kepala Maura, mengunci pergerakan gadis itu.
"Lihat aku," perintah Samudra.
Namun gadis itu hanya memalingkan wajahnya, menatap ke arah nakas, terlampau enggan dan malu untuk bertatapan langsung dengan pria yang telah membelinya. Maura merasa sesak, tapi ia menahan diri untuk tidak memberontak. Kegugupannya semakin melanda. Meski secara teori ia paham apa yang akan terjadi dari tontonan yang ia pelajari, pikirannya tetap melayang pada ketakutan akan rasa sakit di pengalaman pertamanya ini.
Samudra tidak membiarkan penolakan kecil itu. Ia kembali mencengkeram rahang Maura, memaksa wajah gadis itu menoleh dan bersitatap dengannya.
"Aku ingin kau mengingat wajah pria yang memilikimu malam ini," bisik Samudra tepat di depan bibirnya, sebelum akhirnya membungkam bibir Maura dengan pagutan yang ganas dan tanpa ampun.
Ciuman itu liar, menuntut, dan penuh domi-nasi. Samudra melumat bibir Maura seolah ingin menghisap habis seluruh sisa napas gadis itu. Maura diam terpaku. Ia kaku bak manekin, tidak tahu bagaimana harus merespons serangan sedekat ini.
"Ck. Balas ciumanku, Jalang Kecil," perintah Samudra dengan suara tertahan.
Nada dingin itu berhasil menekan tombol kepatuhan di kepala Maura. Dengan sangat kaku dan amatir, ia mulai menggerakkan bibirnya, mencoba mengimbangi permainan Samudra yang sudah sangat ahli dan berpengalaman.
Tangan Samudra mulai menjelajah, membelai setiap lekuk tubuh Maura dengan telapak tangannya yang sedikit kasar. Kontras antara kulit halus Maura dan kekasaran tangan pria itu menciptakan sensasi panas yang asing, membuat tubuh Maura menggeliat tak nyaman. Kedua tangan Maura kini bertengger kaku di da-da kekar pria itu, seolah bertindak sebagai tameng terakhir yang rapuh.
"Eungh…"
Maura membelalak panik. Ia berusaha menarik kepalanya ke belakang untuk melepaskan tautan bibir mereka, namun sama sekali tidak berhasil. Kesalahan fatal. Saat Maura membuka mulutnya untuk mengambil napas, Samudra menjadikan celah itu sebagai kesempatan emas untuk merangsek masuk, menginvasi dan menjelajah ruang mulut Maura dengan lidah liatnya secara rakus.
Samudra telah berhasil menelanjangi gadis itu sepenuhnya, baik fisik maupun egonya. Saat pria itu menangkup bongkahan dadaa Maura yang belum pernah tersentuh oleh siapa pun sebelumnya, gadis itu semakin merasakan ketakutan luar biasa hingga tanpa sadar meneteskan air matanya.
Samudra bisa merasakan jejak cairan asin yang mengalir di sela-sela cumbuannya. Ia menarik diri sejenak. Tatapannya yang gelap kini tampak berkabut oleh hasrat.
"Jangan menyesalinya, Nona," bisik Samudra di depan wajahnya.
Demi Raka, dan demi mengakhiri malam ini secepatnya, Maura berusaha menarik sudut bibirnya yang gemetar, memaksakan sebuah senyuman pasrah yang menghancurkan hatinya sendiri.