Maura mengerutkan kening, mencoba mencerna istilah medis yang terdengar asing namun mengerikan itu. “Maksudnya… apa, Dok? Raka hanya butuh obat, kan?”
Dokter itu menatap Maura tepat di mata. “Raka mengalami Gagal Ginjal Kronis Stadium Akhir, Mbak. Ginjalnya sudah tidak bisa lagi menyaring racun dari tubuhnya sendiri. Kondisi ini sangat berbahaya bagi jantung dan pH darahnya.”
Kalimat itu meledak seperti bom di telinga Maura. Ia menggeleng kuat, bibirnya bergetar hebat hingga ia kesulitan bersuara. “Dokter pasti bercanda. Adik saya masih sangat muda! Dia sehat Dok, dia—”
“Ini bukan tentang sehatnya pasien di mata orang lain, Mbak. Ini bisa terjadi karena banyak faktor. Raka harus segera menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin untuk bertahan hidup. Dan jika ingin dia sembuh total…” dokter itu menjeda sejenak, “Dia membutuhkan transplantasi ginjal segera. Dan biayanya tidak murah.”
Maura merasakan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya dihimpit batu besar hingga ia harus memegang pinggiran meja agar tidak jatuh tersungkur. Takdir seolah sedang menertawakan kemiskinannya.
Vonis itu adalah titik di mana Maura menyadari bahwa doa saja tidak cukup. Untuk menyelamatkan nyawa Raka, ia membutuhkan uang yang tidak akan pernah bisa ia hasilkan sebagai mahasiswi biasa. Dan di titik itulah, benih-benih keputusasaan mulai menuntun langkahnya menuju gerbang The Abyss, tempat ia bertemu dengan Samudra—pria yang akan menyelamatkan nyawa adiknya, namun menghancurkan kesuciannya.
Napasnya mulai tersengal-sengal saat memikirkan kondisi Raka, bukan karena gairah, melainkan karena rasa takut yang menyesakkan d**a. Ia mencoba menahan tangan Samudra yang terus bergerak liar di balik gaun tipisnya. “Tapi, Sam… aku—”
SRAAAK!!!
Suara robekan kain yang tajam memecah keheningan ruangan yang sunyi itu. Maura membelalak kaget, mulutnya ternganga saat gaun sutra merah mahalnya terbelah dalam satu sentakan kuat tangan Samudra.
Kain indah itu kini hanyalah sampah yang menggantung compang-camping di tubuhnya, memperlihatkan kulit putih susunya yang kini terpapar udara dingin apartemen.
“Sam! A—apa yang kau lakukan?!” Maura berteriak kaget, tangannya dengan cepat mencoba menutupi dadanya yang kini hanya tertutup kain yang compang-camping. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sedih, melainkan karena syok atas agresivitas pria itu.
Samudra menatapnya dengan iris mata yang menggelap, penuh dengan kilat obsesi yang mencekam. Ia mencengkeram rahang Maura, memaksa gadis itu menatap langsung ke dalam kegelapan matanya.
“Aku tidak suka menunggu, Maura. Dan aku benci penghalang,” bisik Samudra dengan nada dingin yang mematikan. “Lepaskan sisa bajumu sekarang, atau aku yang akan melakukannya dengan cara yang jauh lebih kasar.”
Maura tersentak, pandangan matanya bergetar karena rasa takut yang merayap ke sekujur tubuhnya. Menggeleng panik, “a--aku …” Bahkan tangannya malah menyilang, seolah tidak akan melakukannya.
Samudra tahu betul, tetapi dia juga bukan orang yang mudah mengasihani orang lain.
Maura bisa melihat bayangan dirinya di mata pekat pria itu—seorang gadis malang yang sedang ditelanjangi oleh keadaan. Ia menggeleng panik, tangannya justru menyilang di depan d**a, mencoba melindungi sisa harga dirinya yang terakhir.
Samudra tidak membalas dengan kata-kata. Ia justru bersandar angkuh di sofa, menyilangkan kakinya dengan kedua tangan terlipat di depan d**a. Ia menatap Maura seolah sedang membedah setiap inci tubuh gadis itu. “Keluar sekarang jika kau sedang mencoba mempermainkanku, Maura. Tapi ingat, saat kau melangkah keluar dari pintu itu, nyawa adikmu tidak lagi menjadi urusanku. Biarkan dia membusuk di bangsal rumah sakit.”
Maura terperanjat, “a--aku akan melakukannya,” cicitnya.
Suaranya bahkan enggan untuk keluar dari mulutnya sendiri, dadanya berdebar semakin kencang ketika mata pekat pria itu tertuju lurus padanya seolah sudah menelanjanginya tanpa ampun.
Kalimat itu menghantam Maura lebih keras daripada tamparan fisik.
Wajah pucat Raka seketika terbayang di benaknya. Uang. Hanya itu yang bisa menyelamatkan adiknya. Dengan jemari yang gemetar dan air mata yang akhirnya luruh, Maura mulai meloloskan sisa gaunnya. Samudra memperhatikannya tanpa berkedip, menyesap keindahan yang ia beli dengan harga selangit itu dengan tatapan lapar.
Memejamkan matanya erat-erat, Maura mencoba menarik resleting gaunnya.
Sial.
Batin Samudra jadi memaki karena gairahnya menggelegak keras hanya karena menyaksikan pergerakan kecil penuh keraguan dari gadis yang berdiri di hadapannya.
Segera saja pria itu bangun dari duduknya.
Tiba-tiba saja mengangkat tubuh mungil Maura tanpa aba-aba sampai gadis itu pun memekik terkejut. Dia bergerak panik, “turunkan aku!”
“Diam kalau kau tidak ingin aku lempar,” ancam Samudra dengan tenang.
Maura hanya bisa menggigit bibir bawahnya keras, mencoba mengontrol ketakutannya sendiri. Hanya perlu melakukannya sekali dan mereka tidak akan bertemu lagi.
Dia yakin itu.
Bahkan deru napasnya sangat pelan, nampak kesulitan dengan wajah cantik memucat sementara degupan di balik dadanya memukul keras.
Langkah lebar Samudra membawa gadis itu ke dalam kamar utama yang berukuran sangat luas. Kamar itu didominasi warna gelap dan aroma maskulin yang pekat. Samudra membaringkan Maura di atas ranjang king size yang sangat empuk. Maura merasa tubuhnya seolah tenggelam di dalam kemewahan yang menyesakkan.
Jikalau saja bukan karena misinya mendapatkan uang, maka Maura pasti akan dengan senang hati terlelap di kasur mahal itu.
Bukit kembarnya yang membusung masih terbungkus cantik. Samudra memperhatikan dengan intens hingga Maura merasakan tubuhnya terbakar panas.
Samudra segera menindihnya. Ia tidak serta-merta menumpukan seluruh berat tubuhnya, namun keberadaannya sudah cukup membuat Maura merasa tercekik. Sikunya menahan bobot tubuhnya di sisi kepala Maura.
“Lihat aku,” perintah Samudra.
Gadis itu hanya memalingkan wajahnya, enggan untuk bertatapan dengan Samudra tentunya.
Maura merasa sesak, tapi tidak memberontak.
Kegugupannya semakin melanda. Dia sudah paham soal teori dari film dewasa, tetapi tetap saja pikirannya melayang pada banyaknya cerita kalau akan menyakitkan saat melakukannya pertama kali.
Namun, Samudra tidak membiarkan itu. Ia kembali mencengkeram rahang Maura, memaksanya untuk bersitatap.
“Aku ingin kau mengingat wajah pria yang memilikimu malam ini,” bisik Samudra sebelum akhirnya membungkam bibir Maura dengan pagutan yang ganas.
Ciuman itu liar, menuntut, dan penuh d******i. Samudra melumat bibir Maura seolah ingin menghisap seluruh napas gadis itu. Maura diam terpaku, ia tidak tahu bagaimana harus merespons. Pikirannya melayang pada cerita-cerita mengerikan tentang malam pertama yang menyakitkan.
“Ck, balas ciumanku, Jalang Kecil,” perintah Samudra.
Suara dinginnya berhasil membuat Maura patuh. Dengan kaku dan amatir, ia mulai menggerakkan bibirnya, mencoba mengimbangi permainan Samudra yang sudah sangat ahli.
Tangan Samudra mulai menjelajah, membelai setiap lekuk tubuh Maura dengan telapak tangannya yang kasar. Kontras antara kulit halus Maura dan kekasaran Samudra menciptakan sensasi panas yang membuat tubuh Maura menggeliat tak nyaman.
Kedua tangannya sudah bertengger di d**a kekar pria itu.
“Eungh …” Maura membelalak panik, dia menarik kepalanya untuk melepaskan tautan bibir mereka tetapi tidak berhasil.
Saat membuka mulutnya, bahkan Samudra menjadikan kesempatan untuk semakin menjelajah dengan lidah liatnya.
Samudra sudah berhasil menelanjangi gadis itu.
Dia menangkup bukit kembar milik Maura yang belum pernah tersentuh apa pun. Gadis itu semakin merasakan ketakutan luar biasa hingga meneteskan air matanya.
Samudra bisa merasakan cairan asin di sela-sela cumbuannya. Dia menarik diri, tatapannya berkabut. “Jangan menyesalinya, Nona,” bisiknya.
Maura berusaha tersenyum.