Bab 05

1379 Words
Senyuman pasrah yang dipaksakan itu bergetar di bibir Maura, tampak begitu rapuh dan menghancurkan hati. Di dalam kepalanya, hanya ada satu mantra yang terus berulang mengalahkan rasa takutnya: Ini untuk Raka. Ini semua demi Raka. Ia memikirkan tumpukan uang yang bisa segera membiayai operasi adiknya. Ia memikirkan senyum Raka yang akan kembali merekah saat anak itu terbebas dari jeratan selang cuci darah. Bayangan itu memberikannya semacam keberanian semu yang nekat. Kali ini, dengan segala sisa keteguhan hatinya, Maura mengangkat kedua tangan kurusnya yang gemetar. Ia melingkarkan lengannya di leher kokoh Samudra, merengkuh pria yang telah membelinya itu. "Ya," bisik Maura lirih, matanya menatap pasrah ke dalam manik obsidian Samudra. "Lakukanlah, Sam." Satu kata persetujuan yang lolos dari bibir bergetar gadis itu seketika bertindak layaknya katalisator. Pertahanan terakhir Samudra runtuh, memicu gairah gelapnya untuk terlepas kendali sepenuhnya. Aroma alami tubuh Maura—perpaduan wangi mawar yang lembut dan kemurnian yang menggiurkan—menguar kuat, merasuki indra penciuman Samudra dan membuatnya semakin terpancing. "Damn," desis Samudra memaki dengan suara serak, frustrasi oleh seberapa besar pengaruh gadis ini terhadap kendali dirinya. Maura terbaring pasrah. Pikirannya sudah tertutup oleh kabut ketakutan, membuatnya susah untuk fokus. Pandangannya mengabur oleh air mata yang menggenang, tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana raut wajah pria di atasnya. Dadanya yang kini tak lagi terbalut apa pun membusung naik-turun dengan cepat seiring napasnya yang memburu, sementara punggungnya melengkung kaku merespons sentuhan panas yang mulai menjelajahi kulitnya. Namun tiba-tiba, Samudra menarik diri. Gerakan tiba-tiba itu membuat Maura membuka matanya yang basah. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke sisi ranjang, sebelah tangannya memungut robekan gaun sutra merah milik Maura yang tadi ia koyak dengan kasar. Maura membelalak panik. Jantungnya kembali berpacu gila-gilaan saat Samudra tiba-tiba meraih kedua pergelangan tangan Maura dan menyatukannya dengan kuat di atas kepala ranjang. "Sam! Apa yang—kenapa kau mengikat tanganku?!" Maura meronta panik. Tubuhnya menggeliat di bawah kukungan pria itu, berusaha keras melepaskan diri dari lilitan kain sutra yang mulai menjerat pergelangan tangannya. "Diam, kalau kau tidak ingin aku bertindak jauh lebih kasar dari ini," ancam Samudra dengan nada yang luar biasa tenang, namun sarat akan bahaya. Dengan sangat cekatan, ia menyimpulkan kain sutra merah itu, mengikat kedua pergelangan tangan Maura pada tiang headboard ranjang. Ikatan itu tidak melukainya, namun cukup kuat untuk memastikan Maura tidak bisa melarikan diri atau melawan. "Aku tidak suka tanganmu mencoba mendorongku, menutupi tubuhmu, atau menyentuhku tanpa izin saat aku sedang bekerja, Kelinci Kecil," bisik Samudra tepat di depan bibir Maura. Ia menahan dagu gadis itu. "Kau sudah dibayar mahal. Tugasmu sekarang cukup diam, patuh, dan nikmati saja permainannya." Mendengar hal itu, Maura tidak sanggup merengek lagi. Perlawanannya menguap, digantikan oleh kepasrahan yang absolut. Ia hanya bisa memejamkan matanya erat-erat saat Samudra mulai kembali merengkuhnya. Pria itu menjelajahi setiap inci tubuh bagian atasnya tanpa ampun. Samudra mengecup, menggigit pelan, dan meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang kontras di seluruh permukaan kulit pualam Maura. Setiap sentuhan bibir dan jemari pria itu memicu sengatan listrik asing yang membuat tubuh Maura melengkung tanpa sadar. Aroma mawar dari tubuh Maura, berpadu dengan peluh dan kepasrahan, benar-benar mendorong gairah dominan Samudra menembus titik tertinggi. Hingga saat yang paling ditakutkan Maura pun tiba. Waktu seolah berhenti berputar ketika ia merasakan sesuatu yang asing, besar, dan tak tertembus mulai mendesak paksa pertahanannya di bawah sana. "Sam… sa—sakit! Berhenti, kumohon!" Jeritan melengking itu lolos dari bibir Maura saat ia merasakan sensasi robekan yang luar biasa menyakitkan di ulu hatinya. Tubuhnya terasa seolah terbelah menjadi dua secara paksa. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, mengalir deras membentuk anak sungai di wajah cantiknya yang kini memucat pasi. Tangannya yang terikat di atas kepala menarik kain sutra itu dengan kuat, menyalurkan rasa sakit yang membutakan. Pergerakan Samudra terhenti seketika. Napas pria itu memburu kasar di ceruk leher Maura. Otot-otot di rahang dan lengannya menegang kaku. Samudra mematung, sangat terkejut saat ia merasakan perlawanan absolut dari dinding hangat Maura yang masih teramat sempit dan tersegel rapat. Tidak ada kelonggaran. Tidak ada jejak pria lain. Samudra mengangkat wajahnya, menatap Maura dengan mata obsidian yang melebar sesaat, sebelum akhirnya menajam oleh kemarahan dan keterkejutan yang bercampur menjadi satu. "Kau bilang kau sudah sering melakukannya di depan teman-temanku tadi?" Samudra mendengus sinis, menyadari bahwa ia baru saja secara paksa merenggut sesuatu yang tak ternilai harganya. Sesuatu yang bahkan tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah. "Kau pembohong besar, Maura. Kau perawan." Maura hanya bisa terisak, menggelengkan kepalanya dengan lemah tanpa bisa memberikan pembelaan. "Dan rasa sakit ini," geram Samudra, menahan instingnya untuk berhenti, "adalah hukuman yang pantas bagi seorang pembohong." Samudra tidak mundur. Pria itu justru kembali menekan, merangsek masuk dengan satu hentakan pasti yang mengklaim Maura seutuhnya, membiarkan jeritan panjang Maura menggema memenuhi ruangan kedap suara tersebut. "Aaa! Sa--sakit, Sam… lepaskan aku… hiks…" tangis Maura pecah berantakan. Rasa sakit itu begitu nyata, begitu membakar, hingga membuat Maura kehilangan orientasi. Ia merasa dirinya hancur berkeping-keping di bawah kungkungan kekuasaan pria ini. Namun, Samudra bukanlah pria amatir. Menyadari bahwa ia telah menyakiti gadis ini lebih dari yang ia rencanakan, Samudra menahan pergerakannya sejenak. Ia membiarkan miliknya dijepit kuat oleh dinding hangat yang berkedut karena syok. Di tengah isak tangis kesakitan itu, Samudra mencondongkan tubuhnya, mulai memberikan kecupan-kecupan lembut di dahi, pelipis, dan pipi basah Maura. Tangan besarnya mengusap perut dan paha gadis itu dengan gerakan yang jauh lebih lambat, membuainya agar Maura bisa merasa rileks. Ia membisikkan kata-kata pujian yang kotor namun memabukkan tepat di telinga Maura, memicu hormon di tubuh gadis itu untuk bereaksi di luar kendali. Lambat laun, rasa sakit yang merobek itu mulai memudar, luruh perlahan dan digantikan oleh sensasi asing yang membuat kepala Maura terasa ringan. Tubuhnya serasa melayang di atas gumpalan awan yang panas. Pikirannya perlahan tertutup kabut gairah yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Tubuhnya yang terikat secara naluriah mulai bergerak, memberikan respons tanpa sadar, mengikuti irama Samudra yang kini semakin liar, dalam, dan tak terkendali. Maura menarik napasnya kuat-kuat, meraup udara dengan bibir terbuka. Tubuhnya seolah lupa dengan rasa sakitnya sendiri, tenggelam dalam pusaran kenikmatan gelap hingga pergumulan panas itu mencapai puncaknya. "Sam…" racau Maura di luar kesadarannya. "Panggil namaku," desak Samudra dengan suara parau, menahan napas saat ia sudah merasakan pelepasan di ujung tanduknya. Tubuh mungil yang berbaring di bawahnya terguncang kuat. Meski kedua tangannya terikat, Maura tidak bisa menahan lenguhan panjang saat gelombang kepuasan itu menghantamnya untuk pertama kali. "Eungh… Sam!" Maura mendesah kencang, berkali-kali. Kepalanya sudah tidak bisa berpikir rasional. Ia kebingungan dengan perasaannya sendiri; antara rasa benci, sakit, dan kepuasan fisik yang mengkhianati logikanya. "Good girl," puji Samudra dengan suara serak yang mematikan. Pria itu segera mencium ganas bibir Maura, menelan seluruh sisa erangan gadis itu, sementara ia sendiri mencapai puncaknya dan membiarkan pelepasan itu terjadi di luar saat miliknya ditarik keluar. Beberapa menit berlalu. Hening yang menyesakkan turun menyelimuti Presidential Suite tersebut, hanya diselingi oleh suara napas yang terengah-engah. Dengan sisa tenaganya, Samudra melepaskan ikatan sutra di pergelangan tangan Maura. Tanpa sepatah kata pun, pria itu membalikkan badannya dan tertidur menelungkup, terlelap karena kelelahan setelah memuaskan obsesi liarnya. Ia telah berpuasa sekian lama, dan malam ini ia menuntaskan semuanya pada satu wanita. Meninggalkan Maura yang kini meringkuk sendirian di sudut ranjang king size yang berantakan. Maura menarik selimut tebal menutupi tubuhnya yang telanjang. Ia menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga terasa anyir darah, berusaha mati-matian menahan isak tangis yang mendesak ingin meledak keluar dari dadanya. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah akibat ikatan sutra tadi. Jejak kemerahan di sekujur tubuhnya menjadi bukti tak terbantahkan bahwa ia telah menjual dirinya, menjual kehormatannya. Ia merasa hina, kotor, dan hancur lebur. Namun, Maura mencoba meyakinkan dirinya sendiri sambil mengusap air matanya. Ini hanya untuk sekali. Besok, aku akan mendapat uangnya, melunasi tagihan rumah sakit, dan aku tidak akan pernah bertemu pria iblis ini lagi seumur hidupku. Dalam diam, gadis itu meraba-raba nakas, mencari keberadaan ponselnya di dalam tas. Begitu menemukannya, Maura turun dari ranjang. Kakinya bergetar hebat saat berpijak pada lantai. Ia tertatih-tatih menyeret kakinya menjauh dari ranjang. Area bawahnya terasa sangat nyeri, hingga ia harus meringis menahan sakit di setiap langkahnya. Maura tidak mau Raka khawatir menunggunya semalaman. Ia menekan nomor rumah sakit dengan jemari gemetar. "Halo, Dek? Maaf, Kakak besok pagi datangnya ya? Kakak masih ada urusan…" ucapnya dengan suara lirih dan berbisik, sangat pelan karena takut mengusik tidur pria pemangsa di atas kasur sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD