Bab 05

1045 Words
Dia memikirkan uang agar bisa mengoperasi Raka, adiknya. Kali ini, dengan segala kesiapannya, kedua tangan kurusnya melingkar di leher Samudra. “Ya,” bisiknya. Satu kata yang lolos dari bibir gadis itu berhasil membuat katalis yang memicu gairahnya lepas kendali. Segera saja Samudra menarik kedua tangan Maura, mencekalnya di atas kepala dengan satu tangannya. Aroma parfum mawar menguar, membuatnya semakin terpancing. Miliknya sudah mengeras dan berkedut kencang. “Damn,” desisnya memaki. Maura terbaring pasrah. Pikirannya sudah tertutup kabut dan susah untuk fokus. Pandangannya sudah kacau, tidak bisa melihat dengan jelas. Dadanya membusung terangkat saat punggungnya ikut melengkung. Tiba-tiba, Samudra menarik diri. Ia meraih robekan gaun sutra merah yang tadi ia bawa dari sofa. Maura membelalak panik saat Samudra menarik kedua tangan Maura dan menyatukannya di atas kepala ranjang. “Sam! Apa yang—kenapa kau mengikat tanganku?!” Maura meronta, berusaha melepaskan diri dari lilitan kain sutra itu. “Diam kalau kau tidak ingin aku bertindak lebih jauh,” ancam Samudra tenang. Ia mengikat pergelangan tangan Maura di atas kepala gadis itu. “Aku tidak suka tanganmu mencoba mendorongku atau menyentuhku tanpa izin. Kau cukup diam dan nikmati saja.” Maura tidak sanggup merengek lagi. Ia hanya bisa memejamkan mata erat-erat saat Samudra mulai menjelajahi tubuh bagian atasnya. Pria itu mengecup, menggigit, dan meninggalkan jejak kemerahan di seluruh permukaan kulit Maura yang putih. Aroma mawar dari tubuh Maura benar-benar memicu gairah Samudra hingga ke titik tertinggi. Hingga saat yang paling ditakutkan Maura tiba. Ia merasakan sesuatu yang besar dan keras mulai menekan di bawah sana. “Sam, sakit! Berhenti, kumohon!” jerit Maura saat merasakan robekan yang luar biasa di ulu hatinya. Tubuhnya seolah terbelah menjadi dua. Air mata mengalir deras membentuk anak sungai di wajah cantiknya yang kini memucat. Samudra diam saja, napasnya memburu di ceruk leher Maura. Ia bisa merasakan perlawanan dari dinding hangat Maura yang masih sempit dan tersegel. “Kau bilang kau sudah sering melakukannya di depan teman-temanku tadi?” Samudra mendengus sinis, menyadari bahwa ia baru saja merenggut kesucian yang tak ternilai. “Kau pembohong besar, Maura. Dan ini adalah hukuman bagi pembohong.” Samudra tidak berhenti. Ia justru melakukan hentakan yang lebih kencang, membiarkan Maura menjerit hebat memenuhi ruangan kedap suara itu. Rasa sakit itu begitu nyata, membuat Maura kehilangan orientasi. Namun, Samudra adalah seorang ahli. Di tengah rasa sakit itu, ia mulai memberikan kecupan-kecupan lembut di wajah Maura, membisikkan kata-kata kotor yang justru memicu hormon di tubuh Maura untuk bereaksi di luar kendali. Saat itu juga, satu hentakan kencang membuat Maura menjerit hebat, merasakan tubuhnya seolah terbelah dua. “Aaa! Sa--sakit Sam … lepaskan aku hiks …” Air mata mengalir hingga membentuk anak sungai di wajahnya. Samudra diam saja. Dia merasakan miliknya sedang dijepit kuat oleh dinding hangat. Kali ini, pria itu segera mengecupi wajah Maura, membuainya agar Maura bisa merasa rileks. Lambat laun, rasa sakit itu mulai memudar, digantikan oleh sensasi asing yang membuat Maura merasa seolah sedang melayang di atas awan yang panas. Pikirannya mulai tertutup kabut. Tubuhnya yang terikat mulai bergerak mengikuti irama Samudra yang semakin liar dan tak terkendali. Maura menarik napasnya kuat-kuat, tubuhnya seolah lupa dengan rasa sakitnya sendiri sampai pergumulan panas itu berakhir dengan kepuasan. “Sam …” “Panggil namaku,” desak Samudra yang sudah merasakan di ujung tanduknya. Tubuh mungil yang berbaring di bawahnya terguncang kuat, selagi kedua tangannya terikat. Dia terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. “Eungh …” Maura mendesah kencang, berkali-kali. Kepalanya semakin tidak bisa berpikir. Dia kebingungan dengan perasaannya saat ini. “Sam …” “Good girl,” puji Samudra yang kini segera mencium ganas bibir Maura, dia membiarkan cairan kenikmatan itu menyembur deras saat miliknya ditarik keluar. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Samudra melepaskan ikatan di tangan Maura dan membiarkan gadis itu meringkuk sendirian di atas ranjang yang kini berantakan. Samudra kemudian tertidur menelungkup, kelelahan setelah memuaskan obsesinya. Maura hanya bisa menggigit bibirnya keras-keras, menahan isak tangis yang ingin meledak. Ia menatap pergelangan tangannya yang memerah akibat ikatan sutra tadi. Ia merasa hancur, namun ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini hanya untuk sekali. Besok, ia akan membayar rumah sakit, dan ia tidak akan pernah bertemu pria iblis ini lagi. Diam-diam gadis itu mencari keberadaan ponselnya. Turun dari ranjang tertatih-tatih menyeret kakinya. Selangkangannya begitu nyeri, bahkan dia sampai meringis sendiri. Maura tidak mau Raka khawatir menunggunya. “Halo Dek, maaf, Kakak besok pagi datangnya ya?” ucapnya lirih, sangat pelan. Dia takut mengganggu tidur Samudra. “Halo, maaf, pasien sudah tidur.” Pasti itu perawat yang tengah berjaga. Maura hanya bisa memeluk dirinya sendiri, terduduk di lantai tanpa suara. Pikirannya benar-benar kalut dan didominasi dengan ketakutannya. Sudah cukup dia harus menopang dirinya saat kehilangan kedua orangtuanya dan sekarang Raka, adiknya menjadi pertaruhan. Dia takut sendirian di dunia yang kejam ini. Maura sulit untuk tidur, dia hanya tidur ayam, lebih banyak terjaga sampai pagi. Sentuhan Samudra masih bisa dirasakan jejaknya, seolah-olah ingatan itu masih bisa membuat sentuhan di tubuhnya. Wanita muda itu merasa jijik pada dirinya sendiri dan segera memilih mandi. Mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berharap dosa yang diperbuatnya bisa luntur meskipun tidak mungkin. “Maafkan aku Tuhan, sungguh,” isaknya. Berbanding terbalik dengan Samudra yang terlelap nyaman di atas kasur usai mendapatkan kepuasannya setelah sekian lama dia berpuasa. Tangisan Maura tidak akan terdengar karena kamar mandi yang kedap suara. Maura kembali dengan bibir yang membiru. Dia ingin sekali menggunakan pakaian tetapi tidak ada yang bisa digunakan dengan layak. Suhu ruangan yang dingin tidak membuatnya bertahan. Lancang, dia memilih mengambil satu kemeja Samudra yang kebesaran dan menggunakannya. Memilih untuk kembali di kasur dan berusaha tidur walau hasilnya nihil. Dia hanya memikirkan berapa bayaran yang akan dia dapat. Jika kurang, dia harus mencari jalan lainnya untuk mendapatkan tambahan uang, atau … dia harus melayani p****************g lainnya? Namun, Maura tidak menyadari sesuatu. Di atas meja kerja Samudra yang terletak di sudut kamar, terdapat sebuah map berkas mahasiswa tingkat akhir yang belum sempat diperiksa Samudra. Di sana, tertempel foto Maura dengan latar belakang biru, lengkap dengan keterangan: "Mahasiswa Bimbingan: Maura Anindya. Dosen Pembimbing Utama: Samudra Reynand Hadiningrat, M.Ars." Samudra belum tahu siapa gadis yang baru saja dihancurkannya malam ini, dan Maura tidak tahu bahwa pria yang paling ia benci di dunia ini adalah sosok yang akan menentukan masa depannya besok pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD