"Kau sudah bangun rupanya. Aku tidak mengira kau morning person."
Suara bariton yang serak dan sedingin es itu menusuk keheningan pagi, membuat Maura menoleh seketika. Maura masih terduduk di kursi sudut kamar, tubuhnya yang mungil tampak tenggelam dalam kemeja hitam milik Samudra yang sangat kebesaran. Pikirannya carut-marut, masih tertinggal pada sisa-sisa gairah kasar semalam yang meremukkan harga dirinya hingga menjadi serpihan tak berharga.
Maura hanya bisa mengangguk kecil. “Ya,” sahutnya lirih, hampir tak terdengar. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering seolah seluruh energinya telah habis tersedot ke dalam lubang hitam bernama Samudra Reynand Hadiningrat.
Samudra tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak butuh basa-basi. Dengan gerakan maskulin yang penuh kendali, pria itu melangkah menuju lemari pendingin di sudut ruangan.
Ia hanya mengenakan celana kain panjang, tanpa atasan, memamerkan punggung tegap dan otot-otot yang bergerak elastis di bawah kulit kecokelatannya. Ia mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya hingga setengah, membiarkan beberapa tetes air mengalir di sudut bibirnya dan jatuh ke dadanya yang bidang.
Tatapannya menusuk intens pada Maura. Maura langsung membuang muka, tak sanggup beradu pandang dengan iris pekat yang semalam menatapnya layaknya seekor predator yang sedang mencabik mangsa.
“A-apa aku bisa segera mendapatkan uangnya?” Maura memberanikan diri bertanya. Suaranya bergetar, namun tuntutan itu harus ia suarakan. Masa depan Raka bergantung pada rasa malu yang kini ia telan bulat-bulat.
Samudra mendecih sinis, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang tipis. “Kau benar-benar wanita yang pragmatis, ya? Segala sesuatu ada harganya di matamu. Bahkan keperawananmu pun punya label harga yang jelas.”
Maura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meremas jemarinya hingga memutih. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak punya pilihan, tapi lidahnya kelu. Samudra tidak menjawab lagi, matanya justru tertuju pada pemandangan di depannya. Kemeja hitam miliknya yang melorot di satu sisi bahu Maura, mengekspos bahu jenjang gadis itu yang kini dihiasi bercak kemerahan—jejak kepemilikan yang ditinggalkan Samudra dengan kasar beberapa jam yang lalu.
Hasrat Samudra berkedut kencang secara tak terduga. Sial. Ia mengingat dengan jelas bagaimana ia menghancurkan pertahanan gadis itu semalam. Bercak darah di sprei putih adalah bukti absolut, namun alih-alih merasa bersalah, Samudra justru merasakan kepuasan yang gelap. Ia ketagihan pada aroma mawar dan gemetar ketakutan yang terpancar dari tubuh Maura.
Maura hanya menghembuskan napasnya pelan, dadanya berderu deram hanya karena sikap dingin dan apatis Samudra. Ah, ya, mungkin karena memang pria itu merasa jijik padanya.
Menjual diri demi mendapatkan uang.
Maura hanya bisa menunggu. Jelas dirinya tidak bisa pergi begitu saja, mencoba untuk bersikap tidak tahu malu demi bisa mendaftarkan Raka operasi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Samudra masuk ke kamar mandi untuk meredam libidonya yang kembali naik. Sementara di luar, Maura menarik napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya. Ia merasa seperti sampah yang sedang menunggu bayaran setelah kerja keras yang menyakitkan.
Samudra mengguyur tubuhnya dengan rintik air hangat sembari terus mengurut miliknya yang tegang. Pikirannya dipenuhi visual Maura yang tak mengenakan sehelai pakaian pun.
Beberapa saat kemudian, Samudra keluar dengan bathrobe abu-abu dan rambut yang masih meneteskan air. Maura dengan canggung bangkit dan menyerahkan handuk kering yang ada di dekatnya. Samudra menerimanya tanpa ekspresi, namun tatapannya tetap terkunci pada wajah pucat Maura.
Tanpa basa-basi, Samudra meraih salah satu kartu debit platinum miliknya dari atas meja rias, lalu menyodorkannya ke hadapan Maura. “Gunakan ini. Pinnya satu sampai enam.”
Maura terkesiap, tangannya tertahan di udara. Kartu itu tampak berkilau di bawah lampu kamar, simbol dari p********n yang baru saja ia setujui. “Lebih baik transfer aja, Sam,” lirihnya. Memegang kartu pria itu terasa seperti menyerahkan seluruh kendali hidupnya.
Samudra mendengus kasar, wajahnya mengeras karena penolakan kecil itu. “Ambil, atau aku akan mematahkan kartu ini sekarang juga dan kau tidak akan mendapatkan sepeser pun. Pakai sampai saldonya habis, terserah kamu. Aku tidak suka mengulang perintah.”
Ragu-ragu, Maura menerimanya. Jemarinya yang dingin bersentuhan dengan jemari Samudra yang panas, menciptakan sengatan listrik yang menyakitkan. “Terima kasih, Sam.”
Setelah berpamitan dengan suara yang hampir menghilang, Maura segera melesat pergi dari hotel mewah itu. Ia tidak peduli lagi dengan penampilannya yang berantakan tertutup outer panjang yang ia temukan di tasnya. Tujuannya hanya satu, Rumah Sakit.
Sementara Samudra pun memilih sibuk dengan pekerjaannya, membaca draft yang ada di meja kerja. Dia terpekur mendapati foto Maura. Draft sidang proposal tugas akhir yang dibacanya dengan judul Mahasiswa Bimbingan: Maura Anindya. Dosen Pembimbing Utama: Samudra Reynand Hadiningrat, M.Ars.
Diam-diam Samudra tersenyum kecil. Dia menyandarkan kepalanya sampai mendongak, memikirkan hal apa yang harus dia lakukan.
Maura berdiri di depan mesin ATM di sudut lobi rumah sakit dengan jantung berdebar tak karuan. Ia memasukkan kartu itu dan menekan pin dengan jari yang gemetar. Begitu angka saldo muncul di layar, Maura hampir jatuh terduduk.
Rp200.000.000,00
"Dua ratus juta?" bisiknya tak percaya. Dadanya bergemuruh hebat. Jumlah itu fantastis bagi Maura, lebih dari cukup untuk menutupi seluruh biaya operasi cairan, dialisis, hingga perawatan intensif Raka untuk berbulan-bulan ke depan. Maura merasa seperti mendapatkan durian runtuh, meski ia tahu bahwa durian itu berlumuran darah harga dirinya.
Ia segera mengurus administrasi. Raka pun menjalani operasi kecil sore itu untuk mengeluarkan cairan yang menumpuk di paru-paru dan perutnya. Setelah memastikan adiknya aman dan berada di bawah pengawasan perawat khusus, Maura memutuskan untuk kembali ke kampus. Ia harus menyelesaikan tugas akhirnya, ia tak boleh membiarkan pengorbanannya menjadi sia-sia.
“Kakak ke kampus dulu ya, kamu sama Ibu Margareth enggak apa-apa kan?”
Raka sangat memahami kondisi kakaknya. Dia hanya memiliki Maura yang berusaha memenuhi kebutuhan hidup mereka. Merangkul erat Maura, dia berujar, “Raka pasti sembuh, Kakak jangan sedih ya. Raka enggak akan nyusul Papa Mama dulu.”
Maura mendongakkan kepalanya, berusaha menahan laju airmatanya.
Sesampainya di kampus, Maura menemui Sisil, sahabatnya yang sudah menunggu di kafetaria.
"Maura! Kamu dari mana aja? Susah banget telepon kamu, chat juga," seru Sisil panik. "Ada pengumuman besar di jurusan. Pak Idrus pensiun mendadak karena alasan kesehatan, dan seluruh mahasiswa bimbingannya dialihkan ke dosen baru. Katanya dia arsitek jenius lulusan Belanda yang ditunjuk langsung oleh dekan."
Maura menghela napas lelah, memijat keningnya yang berdenyut. "Siapa namanya? Aku ada jadwal bimbingan sore ini buat kasih revisianku."
Sisil menunjuk sebuah kertas di papan pengumuman besar di lobi gedung Arsitektur. Maura menelusuri daftar itu dengan jari gemetar hingga berhenti di satu nama yang membuat dunianya seolah berhenti berputar.
SAMUDRA REYNAND HADININGRAT, M.ARS.
Lutut Maura melemas seketika. Namanya terlalu spesifik untuk disebut sebagai sebuah kebetulan. Tidak mungkin. Pria semalam adalah pengusaha atau ekspatriat, bukan seorang dosen, batinnya menolak kenyataan dengan keras.
"Namanya keren ya? Katanya dia juga punya firma arsitektur besar. Banyak mahasiswi yang sudah antre di depan ruangannya cuma buat lihat wajahnya," celoteh Sisil tanpa menyadari wajah Maura sudah sepucat kertas.
Dengan sisa keberanian yang ada, Maura berjalan menuju ruang dosen bimbingan baru itu. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin itu hanya kemiripan nama. Tidak mungkin pria yang menghancurkannya di atas ranjang semalam adalah orang yang akan menentukan kelulusannya.
Maura menarik napas dalam, membasahi bibirnya yang kering, lalu mengetuk pintu kayu jati itu pelan sebelum membukanya.
"Permisi, Pak..."
Suaranya terhenti. Napasnya tercekat di kerongkongan, membuat dadanya terasa sangat sesak. Maura mematung di ambang pintu saat melihat seorang pria sedang duduk di balik meja besar yang penuh dengan maket-maket bangunan mewah. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih dengan lengan yang digulung rapi, memamerkan jam tangan mewah dan garis otot lengan yang sangat ia kenali.
Pria itu mendongak perlahan. Ia melepaskan kacamata bacanya, lalu menatap Maura dengan sorot mata yang dingin namun sarat akan kemenangan. Seringai tipis yang tadi pagi Maura lihat di hotel, kini kembali muncul di sana—di tempat yang seharusnya menjadi tempat suci bagi ilmu pengetahuan.
Maura gemetar hebat. Tasnya nyaris jatuh dari genggamannya saat matanya menangkap sesuatu di atas meja kerja pria itu.
Tepat di samping laptop, terdapat sebuah pena Montblanc berwarna hitam perak yang sangat mahal. Pena itu diletakkan dengan posisi menindih tumpukan berkas proposal skripsi milik Maura, seolah-olah sedang mengklaim bahwa seluruh masa depan gadis itu kini berada di bawah tekanan ujung penanya.