"Halo, maaf Mbak, pasien atas nama Raka sudah tidur setelah diberikan obat penenang ringan tadi," terdengar sahutan lembut dari seberang telepon. Pasti itu perawat yang tengah berjaga shift malam.
Mendengar adiknya sudah tertidur aman, Maura mematikan sambungan telepon. Pertahanannya runtuh. Ia terduduk merosot di atas karpet lantai bersandar pada dinding, memeluk kedua lututnya erat-erat, dan menangis dalam diam tanpa suara. Pikirannya benar-benar kalut didominasi oleh ketakutan yang mencekam.
Sudah cukup ia harus menopang dirinya sendiri saat kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan nahas itu. Sekarang, Raka, nyawa satu-satunya yang ia miliki, menjadi pertaruhan. Ia takut sendirian di dunia yang terlampau kejam ini.
Malam itu, Maura sulit untuk memejamkan mata. Ia hanya tertidur sesaat sebelum kembali terbangun, lebih banyak terjaga menatap kekosongan. Sentuhan tangan Samudra, hisapan bibirnya, dan rasa sakit yang merobek itu seolah masih menempel permanen di kulitnya.
Menjelang subuh, wanita muda itu merasa luar biasa jijik pada dirinya sendiri. Ia bangkit dan berjalan terseok menuju kamar mandi yang luas dan berlapis marmer mewah. Maura menyalakan shower, mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang membeku. Ia menggosok kulitnya dengan sabun berkali-kali, menangis di bawah guyuran air, berharap sisa dosa dan sentuhan pria itu yang diperbuatnya semalam bisa luntur larut terbawa air—meski ia tahu, itu sama sekali tidak mungkin.
"Maafkan aku, Tuhan… sungguh maafkan aku," isaknya lirih di antara gemercik air. Tangisan Maura aman tersimpan, tidak akan pernah terdengar keluar karena kamar mandi hotel itu dibangun dengan dinding kedap suara. Sangat kontras dengan Samudra yang masih terlelap nyaman di atas kasur, tak terganggu sedikit pun.
Setelah satu jam berlalu, Maura keluar dengan bibir yang membiru karena kedinginan. Ia ingin sekali menggunakan kembali pakaiannya dan segera pergi, tetapi gaun merahnya telah hancur terkoyak menjadi lap tak berguna. Suhu ruangan yang disetel sangat dingin oleh Samudra membuat Maura tidak bisa bertahan tanpa penutup tubuh.
Dengan lancang dan terpaksa, Maura membuka koper kecil yang terbuka di dekat lemari. Ia mengambil sehelai kemeja hitam kebesaran milik Samudra dan mengenakannya. Kemeja itu membungkus tubuh mungilnya hingga menutupi separuh paha. Maura kembali duduk di sofa sudut, berusaha memejamkan mata walau hasilnya nihil. Kepalanya hanya berputar memikirkan berapa nominal bayaran yang akan ia dapatkan pagi ini.
Jika kurang dari biaya operasi, apa yang harus ia lakukan? Ke mana ia harus mencari tambahan? Apakah ia harus kembali menemui Madam Anni dan… melayani pria hi-dung be-lang lainnya? Pemikiran itu membuat perutnya mual.
Maura memeluk dirinya sendiri di atas sofa, menatap kosong ke arah meja kerja berbahan kayu eboni yang terletak di sudut ruangan. Namun, dalam keremangan pagi buta itu, Maura sama sekali tidak menyadari sesuatu yang tergeletak tepat di bawah sorot lampu baca.
Di atas meja kerja Samudra, terdapat sebuah map plastik bening berisi berkas proposal tugas akhir mahasiswa yang belum sempat diperiksa pria itu sebelum pergi ke klub. Di halaman sampul paling depan, tertempel pasfoto Maura dengan latar belakang biru, lengkap dengan sebuah keterangan yang dicetak tebal:
Mahasiswa Bimbingan: Maura Anindya. Dosen Pembimbing Utama: Samudra Reynand Hadiningrat, M.Ars.
Di ranjang itu, Samudra belum tahu siapa sebenarnya identitas gadis perawan yang baru saja ia hancurkan masa depannya malam ini. Dan di sudut ruangan, Maura sama sekali tidak tahu bahwa pria kejam yang paling ia benci di dunia ini, adalah sosok absolut yang akan menentukan nasib kelulusannya besok pagi.
"Kau sudah bangun rupanya. Aku tidak mengira kau morning person."
Suara bariton yang serak dan sedingin es itu menusuk keheningan pagi, membuat Maura menoleh seketika. Maura masih terduduk di kursi sudut kamar, tubuhnya yang mungil tampak tenggelam dalam kemeja hitam milik Samudra yang sangat kebesaran. Pikirannya carut-marut, masih tertinggal pada sisa-sisa gairah kasar semalam yang meremukkan harga dirinya hingga menjadi serpihan tak berharga.
Maura hanya bisa mengangguk kecil. "Ya," sahutnya lirih, hampir tak terdengar. Suaranya serak, tenggorokannya terasa kering seolah seluruh energinya telah habis tersedot ke dalam lubang hitam bernama Samudra Reynand Hadiningrat.
Samudra tidak bertanya lebih lanjut. Ia tidak butuh basa-basi. Dengan gerakan maskulin yang penuh kendali, pria itu melangkah menuju lemari pendingin di sudut ruangan.
Ia hanya mengenakan celana kain panjang, tanpa atasan, memamerkan punggung tegap dan otot-otot yang bergerak elastis di bawah kulit kecokelatannya. Ia mengambil sebotol air mineral dan menenggaknya hingga setengah, membiarkan beberapa tetes air mengalir di sudut bibirnya dan jatuh ke dadanya yang bidang.
Tatapannya menusuk intens pada Maura. Maura langsung membuang muka, tak sanggup beradu pandang dengan iris pekat yang semalam menatapnya layaknya seekor predator yang sedang mencabik mangsa.
"A-apa aku bisa segera mendapatkan uangnya?" Maura memberanikan diri bertanya. Suaranya bergetar, namun tuntutan itu harus ia suarakan. Masa depan Raka bergantung pada rasa malu yang kini ia telan bulat-bulat.
Samudra mendecih sinis, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang tipis. "Kau benar-benar wanita yang pragmatis, ya? Segala sesuatu ada harganya di matamu. Bahkan keperawananmu pun punya label harga yang jelas."
Maura menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, meremas jemarinya hingga memutih. Ia ingin berteriak bahwa ia tidak punya pilihan, tapi lidahnya kelu. Samudra tidak menjawab lagi, matanya justru tertuju pada pemandangan di depannya. Kemeja hitam miliknya yang melorot di satu sisi bahu Maura, mengekspos bahu jenjang gadis itu yang kini dihiasi bercak kemerahan—jejak kepemilikan yang ditinggalkan Samudra dengan kasar beberapa jam yang lalu.
Hasrat Samudra berkedut kencang secara tak terduga. Sial. Ia mengingat dengan jelas bagaimana ia menghancurkan pertahanan gadis itu semalam. Bercak darah di sprei putih adalah bukti absolut, namun alih-alih merasa bersalah, Samudra justru merasakan kepuasan yang gelap. Ia ketagihan pada aroma mawar dan gemetar ketakutan yang terpancar dari tubuh Maura.
Maura hanya menghembuskan napasnya pelan, dadanya berderu deram hanya karena sikap dingin dan apatis Samudra. Ah, ya, mungkin karena memang pria itu merasa jijik padanya.
Menjual diri demi mendapatkan uang.
Maura hanya bisa menunggu. Jelas dirinya tidak bisa pergi begitu saja, mencoba untuk bersikap tidak tahu malu demi bisa mendaftarkan Raka operasi.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Samudra masuk ke kamar mandi untuk meredam libidonya yang kembali naik. Sementara di luar, Maura menarik napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya. Ia merasa seperti sampah yang sedang menunggu bayaran setelah kerja keras yang menyakitkan.
Samudra mengguyur tubuhnya dengan rintik air hangat sembari terus mengurut miliknya yang tegang. Pikirannya dipenuhi visual Maura yang tak mengenakan sehelai pakaian pun.
Beberapa saat kemudian, Samudra keluar dengan bathrobe abu-abu dan rambut yang masih meneteskan air. Maura dengan canggung bangkit dan menyerahkan handuk kering yang ada di dekatnya. Samudra menerimanya tanpa ekspresi, namun tatapannya tetap terkunci pada wajah pucat Maura.