Bab 07

1171 Words
Keheningan di ruangan itu terasa begitu mencekik, jauh lebih dingin daripada udara AC yang berembus pelan dari sudut plafon. Maura merasa seolah seluruh pasokan oksigen di paru-parunya lenyap seketika, meninggalkan sesak yang membakar di dadanya. Lututnya gemetar hebat, sebuah reaksi fisiologis yang tak mampu ia kendalikan, memaksanya untuk mencengkeram tali tas ranselnya hingga buku-buku jarinya memutih dan kaku. Pria itu—pria yang malam lalu merobek kesuciannya dengan cara yang paling dominan di bawah remang lampu hotel—kini duduk dengan angkuh di balik meja dosen kayu jati yang megah. Samudra Reynand Hadiningrat. Nama itu kini bukan lagi sekadar nama seorang dosen pembimbing baru bagi Maura, melainkan sebuah kutukan yang nyata. Samudra menyandarkan punggungnya ke kursi kerja ergonomis miliknya. Ia mengenakan kemeja putih slim-fit yang disetrika sempurna, kontras dengan kemeja hitam berantakan yang ia kenakan semalam. Ia menatap Maura dengan ekspresi datar, seolah-olah wanita di hadapannya hanyalah selembar kertas kosong yang membosankan dan tidak berharga. Tidak ada sisa kehangatan semu, tidak ada napas memburu yang semalam ia hembuskan di ceruk leher Maura, yang ada hanyalah tatapan profesional yang mematikan. "Kenapa diam saja di sana, Saudari Maura Anindya?" Suara Samudra memecah keheningan dengan bariton yang berat dan tenang. "Masuk dan tutup pintunya. Aku tidak punya banyak waktu untuk melayani mahasiswa yang tiba-tiba menjadi bisu di depan ruanganku." Maura menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa seperti terganjal duri. Kakinya yang terasa seperti jeli dipaksa melangkah maju, menghasilkan bunyi gesekan sepatu yang terdengar sangat keras di ruangan sunyi itu. Suara detak jantungnya sendiri beradu dengan bunyi pintu yang tertutup rapat—klik—sebuah bunyi yang mengingatkannya pada suara kunci hotel semalam. Ia duduk di kursi kayu di depan meja Samudra, menjaga jarak sejauh mungkin, seolah meja jati itu adalah benteng terakhir yang membatasi harga dirinya dan kehancuran total. "Sa—saya... saya ingin bimbingan, Pak. Revisi Bab 4, Metode Penelitian," suara Maura keluar dengan getaran yang tak bisa disembunyikan. Tangannya gemetar saat meletakkan bundel kertas yang sudah mulai lembap oleh keringat dinginnya. Samudra tidak langsung menjawab. Ia meraih pena Montblanc miliknya—pena perak mahal yang tadi sengaja ia letakkan di atas berkas Maura sebagai tanda klaim. Ia memutar-mutarnya di antara jemari panjangnya yang kokoh. Mata tajamnya tidak lepas dari wajah Maura yang pucat pasi, menelanjangi setiap rasa takut yang terpapar di sana. "Revisi Bab 4?" Samudra menarik bundel skripsi Maura dengan gerakan lambat dan penuh penghinaan. Ia membacanya sekilas, lalu mendengus sinis. "Kamu menyebut sampah ini sebagai sebuah revisi ilmiah?" Krap! Samudra melemparkan bundel itu kembali ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentuman yang membuat Maura berjengit di kursi. "Analisis tapaknya dangkal, tidak sesuai dengan metode percobaannya. Konsep desainmu hambar, tidak memiliki jiwa arsitektural sama sekali. Semuanya berantakan, Maura," kritik Samudra tajam, kata-katanya menghujam seperti belati. Ia mulai mencoret-coret lembaran kertas itu dengan tinta hitam tanpa ampun, merusak hasil kerja keras Maura berminggu-minggu. "Apa kamu mengerjakan ini sambil tertidur? Atau kepalamu terlalu penuh dengan hal lain—mungkin uang—sehingga kamu lupa bagaimana cara menjadi mahasiswa arsitektur yang kompeten?" Maura mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menancap ke telapak tangan. Penghinaan itu terasa seperti tamparan fisik yang telak. "Saya sudah mengerjakannya sesuai arahan Pak Idrus sebelumnya, Pak..." "Pak Idrus sudah pensiun. Sekarang aku yang memegang kendali atas kelulusanmu," potong Samudra dingin. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menginvasi ruang gerak Maura hingga gadis itu secara refleks memundurkan bahunya. "Jika kamu ingin lulus, buang egomu dan ikuti standarku. Tapi melihat kualitas karyamu hari ini... aku ragu kau bisa lulus tahun ini. Mungkin kau lebih cocok mencari pekerjaan lain yang tidak mengandalkan otak. Kau pasti tahu pekerjaan apa yang kumaksud." Maura merasa matanya mulai memanas, namun ia menolak untuk menangis di hadapan predator ini. Ia mencoba mempertahankan sisa profesionalitasnya, meski hatinya menjerit ingin lari keluar dari ruangan yang mendadak kekurangan oksigen ini. Samudra kemudian terdiam. Ia meletakkan penanya dengan perlahan, lalu bangkit dari kursi. Langkah kakinya yang berat terdengar di atas lantai parket saat ia berjalan memutar, mendekati kursi tempat Maura duduk. Maura membeku, tubuhnya kaku saat merasakan kehadiran Samudra yang mendominasi tepat di belakang punggungnya. Bau parfum kayu cendana yang sama dengan aroma yang melekat di sprei hotel beberapa malam yang lalu kembali menyerbu indra penciumannya, memicu kilasan-kilasan memori memalukan saat tubuh mereka bersatu. Samudra menunduk, mendekatkan wajahnya ke telinga Maura hingga helai rambut gadis itu bergerak tertiup napasnya. "Di kampus, kamu hanyalah mahasiswi bimbinganku yang tidak kompeten," bisik Samudra, suaranya kini berubah rendah dan serak, meninggalkan topeng dosen formalnya sejenak. "Tapi di luar sini..." Tangan Samudra yang besar merayap turun, menyentuh pundak Maura dan meremasnya perlahan, tepat di tempat bercak kemerahan yang ia tinggalkan tadi pagi bersembunyi di balik kain kemeja kampus. Maura meringis, rasa perih di kulitnya tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya. "...aku lebih suka saat kau memanggil namaku tanpa embel-embel 'Pak'. Suaramu terdengar jauh lebih... merdu, saat kau sedang memohon padaku agar aku tidak berhenti malam itu." Darah Maura mendesir hebat. Ia merasa mual sekaligus dihina di tempat yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu. Maura segera bangkit, membuat kursi kayunya bergeser kasar dan menimbulkan bunyi nyaring. Ia menatap Samudra dengan kemarahan yang tertahan di balik mata yang mulai berkaca-kaca. "Tolong... jangan begini, Pak. Ini di kampus," bisik Maura dengan suara bergetar menahan tangis. Samudra hanya menyeringai kecil, sebuah seringai predator yang puas melihat mangsanya terpojok tanpa daya. Ia kembali ke kursinya dengan santai, seolah tidak baru saja melakukan pelecehan mental yang brutal pada mahasiswinya sendiri. "Bawa sampah ini dan perbaiki dalam tiga hari," ucap Samudra sambil menyodorkan bundel skripsi yang kini penuh coretan tinta hitam yang berantakan. "Dan Maura... jangan terlambat. Kamu tahu sendiri apa konsekuensinya jika kamu membuatku menunggu. Aku tidak suka barang milikku tidak disiplin." Maura menyambar berkas itu dan berbalik tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah keluar ruangan dengan setengah berlari, mengabaikan tatapan penasaran mahasiswa lain di koridor. Saat pintu ruangan itu tertutup, Samudra menyandarkan kepalanya, menatap pintu dengan tatapan penuh rencana gelap. Di tangannya, ia memegang kartu identitas mahasiswa milik Maura yang tertinggal di hotel—kartu yang kini ia putar-putar dengan senyum kemenangan. "Kau tidak akan bisa lari, Maura. Kontrakmu denganku baru saja dimulai," gumam Samudra pelan, sebelum kembali menyesap kopinya yang dingin. Maura berlari menuju toilet terdekat di lantai dua. Ia mengunci pintu bilik dan terduduk di atas kloset, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isaknya pecah. Kepalanya berdenyut hebat. Bagaimana bisa takdir mempermainkannya sekejam ini? Dosen pembimbing yang memegang kunci kelulusannya adalah pria yang telah membelinya seharga dua ratus juta rupiah. "Tuhan... apa yang harus aku lakukan?" bisiknya di sela tangis yang sesak. Namun, di tengah keputusasaannya, ponsel Maura di dalam tas bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun pesannya sangat jelas Apartemen Grand Luxury, Unit 22-A. Jam 08:00 malam ini. Pakai kemeja hitam yang kau bawa pulang. Jangan membuatku menjemputmu, Maura. Maura mematikan ponselnya dengan tangan gemetar hebat. Ia tahu, bimbingan yang sebenarnya baru saja akan dimulai malam ini di apartemen itu. Dan kali ini, tidak akan ada meja jati yang membatasi otoritas Samudra atas tubuhnya. Maura terjebak dalam sarang serigala yang ia sebut sebagai penyelamat adiknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD