Bab 08

1425 Words
“Dek, kok enggak tidur?” Maura segera menutup pintu begitu memasuki ruang perawatan. Raka tersenyum lebar pada kakaknya, “aku lagi nonton pelajaran sekolah, Kak. Biar enggak ketinggalan.” Maura tersenyum kecil, mengelus lembut kepala Raka. “Besok aja lagi, kamu harus tidur lebih awal biar cepet sehat Dek.” Raka mengangguk kecil, “kalo ada Kak Maura, Raka tidur kok. Nih, tidur.” Anak berusia sepuluh tahun itu membaringkan tubuhnya, berpura-pura memejamkan matanya. Namun, Maura sendiri tidak merasa keberatan. “Selamat malam Kak, Kak Maura juga tidur ya.” Maura mengangguk kecil, pikirannya sedang terdistraksi dengan banyak hal. Aroma antiseptik yang tajam biasanya memberikan ketenangan bagi Maura, sebuah tanda bahwa adiknya, Raka, berada di tempat yang aman. Namun malam ini, udara di bangsal perawatan terasa mencekik. Maura duduk di samping ranjang Raka, memandangi wajah adiknya yang masih pucat namun napasnya sudah mulai teratur. Jemari kurus Raka menggenggam jemari Maura dengan lemah, sebuah ikatan persaudaraan yang menjadi satu-satunya alasan Maura masih sanggup berdiri. Baru saja Maura ingin memejamkan mata sejenak, ponsel di sakunya bergetar hebat. Layarnya menampilkan deretan angka tanpa nama. Maura mengerutkan kening. Siapa yang menelepon selarut ini? "Halo?" bisik Maura setelah menjauh dari ranjang Raka. "Sepuluh menit lagi, sopirku akan sampai di lobi rumah sakit. Kalau kamu tidak ada di sana, anggap saja biaya operasi yang kamu bayar tadi adalah sumbangan terakhirmu untuk rumah sakit ini." Suara itu. Dingin, berat, dan penuh otoritas. Maura merasa sekujur tubuhnya membeku. "P--pak Samudra? Saya… saya sedang menjaga adik saya. Dia baru saja sadar, saya tidak bisa—" "Aku tidak meminta penjelasan, Maura. Aku memberikan perintah," potong Samudra tanpa ampun. "Turun sekarang, atau aku akan menelepon bagian administrasi untuk membatalkan seluruh jaminan medismu atas dasar penipuan identitas. Pilihanmu." Klik. Telepon diputus sepihak. Maura menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. Samudra memiliki kuasa dan pria itu seolah sudah tahu persis di mana letak kelemahan Maura dan menekan titik itu tanpa belas kasihan. “Tidur yang nyenyak ya Dek, nanti Kakak belikan cromboloni,” bisiknya lirih. Dengan berat hati, Maura mencium kening Raka yang terlelap, membisikkan janji akan segera kembali, lalu melangkah menuju lobi dengan kaki yang terasa seberat timah. “Loh … mau ke mana? Kamu enggak menginap di sini, Maura?” tanya Bu Yuyun, perawat yang disewa Maura untuk menemani adiknya sampai nanti keluar dari rumah sakit. Biayanya pun tidaklah murah. Jika semakin dipikirkan, terlalu besar jumlah uang yang digelontorkan olehnya. Apa Samudra keberatan saat uangnya digunakan berlebihan? Maura masih berusaha tersenyum walau raut wajahnya menunjukkan kelelahan. “Masih ada tugas, Bu, jadi harus ke kosan. Tolong jaga Raka ya Bu?” Bu Yuyun mengangguk kecil. Sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu di depan pintu masuk. Sang sopir membukakan pintu tanpa suara, mengisyaratkan Maura untuk masuk. Sepanjang perjalanan menuju Grand Luxury Apartment, Maura hanya menatap lampu-lampu kota yang buram karena air mata. Ia merasa seperti domba yang sedang diantar menuju mezbah pengorbanan. “Non, ini kartu akses masuknya.” sopir itu menyerahkan selembar keycard. Maura mengangguk kecil, “iya Pak.” Segera gadis itu masuk ke dalam lift, menuju lantai 22, di mana unit apartemen mewah Samudra berada. Langkahnya terasa sangat berat. Perasaannya kacau bukan main. Menempelkan keycard ke pemindai hingga ada kedipan lampu biru di kenop pintu otomatis itu, menandakan dia bisa masuk. Ragu, dia mendorong kenop pintu. “Permisi,” ucapnya. Unit 22-A sangat sunyi saat Maura melangkah masuk. Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu temaram dan cahaya dari city light Jakarta yang menembus jendela kaca raksasa. Samudra duduk di sofa velvet gelap, mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memegang gelas kristal berisi cairan amber. "Duduk," perintah Samudra tanpa menoleh. Maura tetap berdiri, tangannya meremas ujung kemeja hitam—milik Samudra—yang ia kenakan sesuai perintah pria itu di pesan singkat tadi. "Apa yang Bapak inginkan? Saya sudah melayani Bapak dan Bapak sudah memberikan uangnya. Kenapa Bapak membawa transaksi ini sampai ke kampus dan rumah sakit?" Tangannya mengepal kencang, dadanya terlalu sesak sekarang ini. Samudra bangkit, langkah kakinya tidak terdengar di atas karpet tebal. Ia mendekat hingga Maura bisa mencium aroma wiski, tembakau dan parfum maskulin yang kini terasa seperti aroma ancaman. Samudra meletakkan gelasnya di meja, lalu meraih sebuah map kulit yang tergeletak di sana. "Dua ratus juta rupiah. Itu angka yang besar untuk seorang mahasiswi yang ayahnya bangkrut dan menjadi penjudi, bukan?" Samudra menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Maura bergidik. "Secara hukum, uang itu diberikan kepadamu atas dasar transaksi ilegal di sebuah klub malam. Jika aku mau, aku bisa melaporkanmu atas tindakan penipuan dan pencucian uang. Aku punya bukti bahwa kau bukan 'wanita panggilan' profesional, melainkan mahasiswa yang sengaja menjerat pria kaya untuk biaya medis." Maura terbelalak. "Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan! Saya tidak menjebak Bapak, malam itu, anda yang memilih saya!" sanggahnya sampai wajahnya ikut merah padam. "Siapa yang akan percaya?" Samudra mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Maura. "Di mata publik, aku adalah arsitek ternama dan dosen berprestasi. Kalau kamu? Gadis putus asa yang menghalalkan segala cara." Samudra membuka map itu, mengeluarkan dua lembar kertas yang berisi poin-poin perjanjian. "Aku memberikanmu dua pilihan, Maura. Pertama, kembalikan uang itu malam ini juga—yang aku tahu kamu tidak bisa melakukannya—dan hadapi tuntutan hukum serta penghentian perawatan adikmu." Samudra menjeda sejenak, membiarkan ketakutan meresap ke dalam pori-pori Maura. Napas Maura memburu, dia yang sudah letih baik tubuh dan pikirannya pun merasa ingin menangis karena mendapatkan ancaman dari ucapan sinis Samudra. Suaranya bahkan sulit untuk keluar, hanya mandek di kerongkongannya saja. Perutnya sampai mulas melilit, mungkin … karena dia juga belum makan, bahkan dia melewatkan makan siangnya. "Kedua, tandatangani ini. Kamu bisa menjadi simpananku secara eksklusif. Kamu akan tinggal di sini setiap kali aku menginginkannya, melayaniku kapan pun aku mau, dan sebagai imbalannya... aku akan menjamin pengobatan adikmu sampai sembuh total, serta memastikan skripsimu lulus dengan nilai sempurna di bawah bimbinganku. Soal beasiswamu? Aku bisa merekomendasikannya, tapi bisa juga menghentikannya.” Deg! Maura menggeleng kuat. "Ini gila! Anda memeras mahasiswamu sendiri!" pekiknya, merasa tidak terima. Ancaman itu mencabik-cabik seluruh pertahanannya. "Aku tidak memeras, aku sedang berinvestasi," Samudra meraih dagu Maura, memaksa gadis itu menatap obsidian matanya yang gelap. "Jangan berpura-pura suci, Maura. Kamu yang memulainya malam itu. Sekarang, aku hanya ingin meresmikan kepemilikanku." Sial. Mata gadis itu memandang nanar Samudra yang berekspresi datar, seolah emosinya memang terkendali. "Sampai kapan?" tanya Maura dengan suara pecah, suaranya bergetar. "Sampai kamu lulus. Atau sampai aku bosan," jawab Samudra enteng. Ia menyodorkan pena Montblanc miliknya—pena yang sama yang tadi siang menindas berkas skripsi Maura di kampus. "Tandatangani, Maura. Simpan harga dirimu di laci, dan selamatkan nyawa adikmu. Bukankah itu tujuanmu? Operasi itu tidak serta merta menyembuhkan penyakitnya secara total. Itu artinya kamu masih butuh uang untuk perawatannya.” Penjelasan Samudra berhasil menambah beban di pikiran Maura. Penuturan Samudra sangat logis, tapi dia enggan. Terpaksa berhadapan dengan pria yang sudah menidurinya, dan dia mengharapkan tidak akan pernah bertemu Samudra kembali, nyatanya … pria itu malah sangat dekat jaraknya. “Jangan berpikir terlalu lama, Maura. Juga … hentikan panggilan formal itu selagi di luar kampus.” Maura menatap kertas di depannya. Setiap kata di sana terasa seperti paku yang menghujam jantungnya. Menjadi simpanan dosennya sendiri? Menjual tubuhnya setiap malam demi selembar ijazah dan nyawa adiknya? Namun, bayangan Raka yang tersenyum di rumah sakit kembali muncul. Maura tahu, di dunia yang kejam ini, orang miskin tidak punya kemewahan untuk memiliki prinsip. Dengan tangan yang gemetar hebat, Maura meraih pena itu. Air matanya jatuh tepat di atas kolom tanda tangan, memudarkan sedikit tinta hitam di sana. Tidak membaca klausul secara lengkap, dia menarik napasnya kuat-kuat. Selesai. Maura telah menjual jiwanya pada iblis yang kini berdiri dengan angkuh di hadapannya. Samudra mengambil kembali kertas itu, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum puas. Ia menarik Maura ke dalam pelukannya, mencengkeram pinggang gadis itu dengan posesif. "Pilihan yang cerdas, Maura. Mulai malam ini, kamu adalah milikku. Di kampus, kamu mahasiswaku. Di sini... kamu adalah pemuasku. Jangan pernah berani melanggar satu poin pun, atau kamu akan tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam waktu singkat." Samudra membungkuk, membungkam bibir Maura dengan ciuman yang tidak lagi meminta, melainkan mengklaim. Maura hanya bisa memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan yang ia buat sendiri, sementara hatinya terus berbisik meminta maaf pada Raka. Pelajaran pertama dalam bimbingan maut Samudra telah dimulai, dan harganya adalah sisa martabat yang Maura miliki. “Balas ciumanku, jangan menjadi seperti papan yang kaku,” perintah Samudra dengan suara rendah di sela-sela lumatannya. Sudah beberapa hari ini dirinya mendambakan mencumbu gadis itu. Pikirannya juga terdistraksi sampai akhirnya ketidaksabarannya terobati begitu melihat Maura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD