Bab 09

1472 Words
“Pak--berhenti,” bisik Maura sembari menahan bahu Samudra saat tautan bibir mereka terlepas. Setelah lidah mereka malah saling membelit satu sama lain, gadis itu meminta berhenti. Membuat Samudra jadi kesal sendiri. Tidak tahukah kalau dirinya benar-benar sudah lepas kendali setelah berhari-hari menahan keinginannya? “Jangan memerintahku,” tekannya yang sembari menjepit dagu Maura. Maura sudah kehabisan napas, hanya sempat mengisi paru-parunya dengan oksigen, bibirnya kembali dijajah liar tanpa henti. Bibir Maura terasa kelu. Perintah Samudra yang begitu rendah dan penuh penekanan di sela-sela ciumannya membuat Maura merasa harga dirinya sedang diinjak-injak hingga lumat ke dasar bumi. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, ia mulai membalas lumatan Samudra. Gerakannya canggung, penuh keraguan, namun cukup untuk membuat Samudra mengerang puas di balik tenggorokannya. Samudra melepaskan tautan bibir mereka, namun tidak membiarkan Maura menjauh. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Maura, menghirup aroma tubuh gadis itu yang bercampur dengan bau antiseptik rumah sakit yang masih tertinggal. “Begitu lebih baik,” bisik Samudra, suaranya serak akibat gairah yang mulai membuncah. “Sekarang, mandi dan bersihkan dirimu. Aroma rumah sakit ini membuat terganggu.” “Ya,” cicit Maura. Gadis itu setidaknya merasa lebih lega ketika dirinya dilepaskan oleh Samudra. Maura hanya bisa mengangguk kaku. Ia melangkah menuju kamar mandi utama dengan kaki yang masih gemetar. Di dalam sana, di bawah kucuran shower air hangat yang mewah, Maura akhirnya luruh. Ia duduk bersimpuh di lantai marmer, membiarkan air menyamarkan isak tangisnya yang pecah. Ia merasa kotor. Bukan hanya karena apa yang baru saja ia tandatangani, tapi karena kenyataan bahwa tubuhnya memberikan reaksi pada pria yang baru saja mengancam akan menghancurkan hidupnya. Selesai mandi, Maura keluar dengan hanya mengenakan jubah mandi satin putih yang telah disediakan. Samudra sudah menunggu di tempat tidur raksasa di tengah ruangan, punggungnya bersandar pada headboard, menatap Maura dengan obsidian gelap yang seolah bisa menelanjangi jiwanya. “Kemari,” Samudra menepuk sisi tempat tidur di sebelahnya. Maura berjalan mendekat, kaku, setiap langkahnya terasa seperti menuju mezbah pengorbanan yang kedua. Begitu ia duduk, Samudra langsung menariknya ke dalam pelukan. Tangan pria itu merayap masuk ke balik jubah mandi Maura, menyentuh kulit halusnya dengan sentuhan yang posesif. Tubuhnya merinding, sentuhan tangan Samudra menimbulkan kejut listrik sekian volt yang memancing degup jantungnya lagi. “Kamu harus tahu satu hal, Maura,” ucap Samudra, jemarinya kini menelusuri garis rahang Maura yang menegang. “Aku paling benci pengkhianatan. Jika aku tahu kamu menemui pria lain—siapa pun itu—aku tidak akan segan-segan menghentikan napas adikmu di rumah sakit itu dalam satu detik.” Samudra mencoba menjelaskan sikap obsesifnya. Kepemilikan adalah hal yang harus dipertahankan oleh pria. Maura tersentak, matanya menatap Samudra dengan ngeri. “Anda … Anda tidak mungkin sekejam itu.” Samudra menyeringai tipis, sebuah seringai yang tidak mencapai matanya. “Coba saja aku, Maura. Kamu tahu kapasitas kekuasaanku. Lalu, stop bersikap formal seperti itu. Aku bukan atasanmu.” Maura menggigit lidahnya sendiri, mengangguk lagi dengan kaku. Dia masih merasa bahwa bisa saja keputusan Samudra berubah, tapi tidak. Malam itu, apartemen mewah di lantai 22 itu menjadi saksi bisu penyerahan diri Maura yang paling hina. Ia melayani Samudra dengan hati yang mati rasa, membiarkan pria itu mengambil apa pun yang ia inginkan sebagai bayaran atas nyawa Raka. Maura tidak siap saat mengingat rasa sakit yang dirasakannya. Ketika Samudra ingin memasukkan miliknya, tangannya segera mendorong d**a Samudra sampai pria itu terdiam sesaat. “Ada apa?” tanyanya. Maura merasa malu bukan main. Dia sampai berpaling agar wajahnya tidak berhasil ditatap oleh Samudra. “A--apa akan sakit?” Samudra menyeringai, dia meraih satu tangan Maura yang halus, menggerakkannya mengusap permukaan perut kekar pria itu lantas bergerak turun sampai menyentuh bagian yang sudah panas dan keras. Gasp! Maura menarik tangannya dengan segera tetapi ditahan oleh Samudra. “Kamu harus menikmatinya supaya tidak sakit.” Maura kehilangan napasnya sendiri. Wajahnya sangat panas ketika Samudra melakukan hal paling tidak senonoh di kepalanya. Berbaring pasrah, tubuh tegangnya berusaha menerima milik Samudra sampai pria itu berhasil memuntahkan lava hasil dari klimaks yang didapatkan oleh Samudra. Di balik setiap sentuhan kasar dan klaim posesif Samudra, Maura hanya bisa membayangkan wajah Raka yang tersenyum, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini sepadan. Keesokan paginya, Maura terbangun dengan tubuh yang terasa remuk. Sisi tempat tidur di sebelahnya sudah kosong, namun aroma parfum Samudra masih melekat kuat di bantal. Sebuah catatan pendek tergeletak di meja samping tempat tidur. Sopir akan mengantarmu ke kampus pukul sembilan. Pakai baju yang ada di meja rias. Jangan terlambat, aku menunggumu di jam bimbingan skripsi. Maura menatap gaun floral berwarna pucat yang tampak sangat sopan namun mahal itu. Dia segera duduk dengan meringis kecil ketika merasakan miliknya berkedut tak nyaman. Mengenakan gaun berdesain sederhana yang ternyata begitu pas di tubuhnya, sedikitnya ia bertanya seorang diri. “Gimana bisa dia tau ukuranku?” Tapi tentu saja itu hanya misteri untuknya. Maura memilih menyisir rambutnya, ditemani sepi di penthouse mahal milik Samudra. Gadis itu terdiam mendapati banyak jejak-jejak hickey di permukaan kulit tubuhnya, termasuk di leher. Dia bukan gadis polos yang tidak tahu kalau itu hasil dari perbuatan Samudra. Resah, karena takut ketahuan tentunya. Mau tidak mau, sebelum tiba di kampus, Maura memilih menghampiri minimarket dan mencomot foundation. Bahkan dia terburu-buru mengoleskannya sampai jejak kemerahan itu sudah menipis, Maura merasa lebih lega. Setibanya di kampus, Maura melangkah dengan kepala tertunduk. Ia merasa seolah semua orang bisa melihat tanda "kepemilikan" Samudra di sekujur tubuhnya. “Mau … di sini!” Sisil, sahabatnya menyambut kedatangannya. “Sil, nanti dulu, aku harus bimbingan. Revisi babku,” jelas Maura sembari melewati Sisilia. Sisilia memberikan semangat untuk sahabatnya itu. “Semangat, cepat lulus kita.” Maura melambaikan tangannya. Menarik napasnya kuat-kuat, gadis itu mencoba untuk menenangkan debaran di dadanya yang menggila. Bahkan dia memeluk erat laptopnya. Tok tok tok! Mengetuk pintu lebih dulu, dia segera membuka pintu ruangan dosen itu. Saat ia memasuki ruang bimbingan, Samudra sedang duduk di balik meja kerjanya yang elegan, kacamata bertengger di hidungnya, sedang memeriksa tumpukan berkas. “Selamat pagi, Pak Samudra,” ucap Maura pelan, kembali ke peran formalnya. Samudra mengangkat kepalanya. Untuk sekejap, sorot matanya yang dingin berubah menjadi lebih tajam saat melihat Maura mengenakan gaun pilihannya. “Duduk, Maura. Mari kita bahas revisi bab empatmu yang berantakan ini.” Sepanjang jam bimbingan, Samudra bersikap seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam. Ia mengkritik tulisan Maura dengan pedas, menuntut ketajaman analisis yang lebih dalam, dan bersikap layaknya dosen yang paling berintegritas. “Kamu salah dalam menempatkan metode penelitian kalau begini. Kamu hitung ulang lebih dulu untuk uji ketahanan beton rancanganmu. Kurasa kamu masih bisa berhitung standar kan?” Maura mengangguk kaku. Bimbingan dengan Samudra ternyata lebih mengerikan. Beberapa kali mahasiswa datang menemui Samudra dengan takut dan ragu, sama seperti yang dirasakan olehnya. “Ini harusnya bisa kamu selesaikan besok.” Bahkan Samudra tanpa ragu mencoret kertas milik Maura. Maura hanya bisa menerima pasrah. Nelangsa memikirkan bermalam-malam mengerjakannya dan dibuat berantakan dalam hitungan menit. Saat Maura hendak mengambil naskahnya, jemari Samudra sengaja mengusap telapak tangan Maura, sebuah sentuhan rahasia yang membuat Maura hampir memekik. “Ah, maaf Pak.” “Datanglah ke apartemen setelah mengunjungi adikmu nanti malam,” ucap Samudra tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. “Dan jangan lupa makan siang. Kamu kelihatan pucat. Pakai uangku yang masih tersisa di kartumu. Aku tidak mau dicap menjadi manusia kejam sampai tak membiarkanmu makan.” Memang benar. Samudra kejam. Tapi Maura hanya menahan validasi itu dalam kepalanya saja. Maura menggigit bibirnya, “iya Pak,” cicitnya sembari mengangguk patuh, lalu segera keluar dari ruangan itu dengan jantung yang berdegup kencang. Ia merasa sedang terjebak dalam labirin tanpa pintu keluar. Drrrt … drrrt … Maura terdiam kaku mendapati satu kontak yang tertera di layar ponselnya, membuat layar gadget itu berkedip-kedip tak sabaran. Deg! Madam Anni. Maura tak sanggup untuk menjawab panggilan itu, memilih segera menolak panggilan seluler itu dan bergegas menuju kamar mandi di ujung lorong karena panggilan itu kembali masuk serta menambah degupan kencang di balik dadanya. Dia celingukan, berharap tidak ada siapa pun yang mendengar percakapannya. “Ha--halo?” Maura menutupi ujung ponselnya sendiri agar suaranya bisa sedikit teredam. “Sepertinya kamu lupa denganku, Maura?” “Enggak, Madam. Saya enggak lupa.” Maura berusaha menyanggah, ketakutannya begitu membuncah. “Beneran? Yah baguslah. Gimana? Dia kaya raya kan?” Maura tidak menjawabnya. Terdengar Madam Anni yang tertawa cekikikan. “Poroti aja uangnya, Maura. Buat dia tergila-gila dengan badanmu.” Deg. Maura menggigit pipi dalamnya kencang, sakit, tapi ucapan Madam Anni lebih menyakitkan. Seolah-olah hal itu sangat lumrah. “A--aku akan transfer uangnya sore ini, anda jangan khawatir saya kabur, Madam.” jelasnya. Bagian Madam Anni. Mucikari yang menagih hasil jasanya, yang dengan mudahnya meminta uang bayaran juga. Cklek. Maura membeku saat baru saja keluar dari bilik kamar mandi saat berhadapan dengan Sisilia, sahabatnya. Suaranya menjadi tercekat hebat seketika, lehernya seolah dicekik atas kehadiran sahabatnya itu. “Ra?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD