Seketika dadanya seperti dihantam oleh palu ketika mendapati Sisilia yang ada di depannya, berdiri dan memandanginya.
Tidak!
Apa Sisilia mendengarnya?
Gadis itu meremas ponsel yang masih ada di tangannya.
Bagaimana kalau Sisilia bertanya? Apa dia akan dijauhi? Apa Sisilia akan membencinya.
“Kamu tadi teleponan sama siapa?”
Maura tidak menjawab, lidahnya terasa kelu bukan main hanya karena mendengar pertanyaan yang meluncur dari mulut Sisilia.
Tangannya semakin berkeringat dingin, membuat telapak tangannya semakin basah mencengkeram gadget. “Sil …” Suaranya bahkan sulit untuk dikeluarkan.
Sisilia mengamati ekspresi pucat pasi Maura. “Jangan-jangan …” Kalimatnya menggantung.
Segera saja Sisilia maju dan menggenggam kedua tangan Maura.
Deg deg deg.
Dada Maura semakin sesak, kepalanya tidak bisa menemukan satu point yang bisa digunakan untuk menebak apa yang akan dikatakan oleh Sisilia.
Bagaimana kalau Sisilia mendengar seluruh percakapannya?
Apa yang akan dilakukan Sisilia padanya?
Embusan napasnya terdorong pelan, tidak bisa menenangkan keresahan di dalam pikirannya.
“Kamu ngutang sama rentenir, Mau?”
“Y--ya?” Maura mengerjap bingung ketika mendengar pertanyaan itu.
Sisilia mengangguk cepat, “iya, tadi kamu bilang Madam, aku akan transfer uangnya, gitu,” tutur Sisilia.
Maura masih kehilangan jawabannya.
“Berapa utangnya? Pasti kamu capek banget ya cari uang buat operasi Raka,” cerocos Sisilia yang kini memandangi Maura penuh iba.
Jadi Sisilia tidak mendengarnya?
Entah Maura merasa lega atau merasa menang, dia harus membuat karangan cerita sekarang, membuat kebohongan di depan sahabatnya yang sudah berteman sedari kecil.
“Berapa utangnya, Mau?” tanya Sisilia lagi.
Maura menggeleng pelan, “aku cuma pinjam 10 juta,” jawabnya berbohong.
Sisilia membelalak, “astaga … banyak banget.”
Segera saja gadis itu memeluk Maura erat. “Aku bantu carikan uangnya ya, kamu tenang aja. Yang penting kita sama-sama lulus nantinya.”
Maura terkejut mendengar itu, dia menggeleng pelan, “enggak, Sil. Aku … aku akan cari uangnya kok, kamu enggak usah khawatir--”
“Kalo kamu ada apa-apa, bilang aku ya?”
Maura kali ini merasa bersalah dengan opini negatifnya terhadap Sisilia juga dengan kebohongan yang dia utarakan kepada sahabatnya itu. “Iya, makasih Sil.”
Sisilia mengangguk cepat. Maura dan Sisilia memilih mengobrol di kantin, itu pun atas dasar paksaan dari Sisilia.
“Kamu enggak usah nolak, aku yang traktir makan. Kamu tuh makin kurus tau enggak, pasti capek banget ya mikirin biaya rumah sakit Raka.”
Maura terenyuh dengan segala sikap perhatian Sisilia padanya. “Sil, aku enggak apa-apa kok.”
Sisilia melotot tajam, “apa yang enggak apa-apa?” tanyanya galak.
Hanya Sisilia yang membuat Maura merasa tidak sendirian. “Raka sekarang udah dioperasi, jadi sisanya mungkin dialisis rutin aja, Sil.”
Penjelasan itu malah membuat Sisilia memandangi Maura berkaca-kaca. “Ya Tuhan, Mau … aku mau nangis nih jadinya. Kok kamu kuat banget sih.”
Maura hanya mengedikkan bahunya saja. Dia lebih sibuk memesan mi ayam saat kantin begitu ramai. “Pak Jo, mi ayam bakso satu pake cabe yang banyak sama mi ayam biasa satu pedasnya sedikit aja.”
Sisilia semakin merangkul lengan Maura, “kok tau banget sih pesenanku itu,” kekehnya.
Maura tentu saja hapal beberapa hal dari sahabatnya itu. Sama halnya dengan Sisilia yang juga tahu kondisinya dan bagaimana dia harus kehilangan banyak hal.
Setidaknya, Sisilia tidak akan tahu hal buruk tentangnya. Itu membuatnya lega luar biasa.
“Abis ini ke kosanku aja, Mau--”
“Aku harus jenguk Raka, lain kali ya.”
Sisilia mengangguk kecewa, “oke deh. Udah lama juga kamu enggak menginap. Aku juga belum jenguk Raka, kayaknya aku beliin jus buat dia aja ya?”
Maura merasa tak enak hati, tetapi tidak bisa menolak. Sisilia mudah untuk memaksanya menerima pemberian gadis itu.
Di tangannya jadi menenteng dua cup jus yang dibelikan oleh Sisilia, bergegas menuju rumah sakit agar Raka senang.
Benar saja, Raka menyambutnya semringah. “Kak … Kak Sisil baik banget ya? Nanti Raka mau ucapin terima kasih sama dia.”
Maura merasa lega saat melihat Raka yang sudah bisa tersenyum. “Sakit enggak Dek, perutnya?”
Raka menggeleng kuat, “enggak. Dokternya baik-baik Kak. Dikasih salep juga, nih, liat.”
Maura meringis, memalingkan wajahnya dengan cepat. Dia tidak mampu untuk melihat perban yang masih menutupi perut Raka. Anak kecil yang tubuhnya bahkan lebih kurus itu harus menahan rasa sakit.
Mencoba menahan tangisannya, Maura segera menurunkan baju yang dikenakan oleh Raka. “Jusnya habiskan, nanti Kak Sisil marah.”
Raka mengangguk patuh. “Iya Kak.”
“Kakak harus pulang Dek. Adek enggak apa-apa ya tidurnya ditemenin Bu Yuyun dulu? Nanti kalau libur … Kakak menginap.”
Raka mengangguk kecil, “enggak apa-apa kok, Kak Maura juga pasti capek ya urusin Raka. Maaf, Raka nyusahin Kak Maura …”
Sial.
Maura kesulitan tersenyum karena ucapan Raka. Dia hanya merangkul erat adiknya, “jangan ngomong begitu. Kak Maura cuma punya Adek di sini. Kak Maura akan cari uang banyak-banyak biar Raka sembuh.”
Itu tekadnya.
Mempertahankan kehadiran Raka untuknya. Dia akan menggugat Tuhan kalau Tuhan mengambil Raka.
Ponselnya bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Aku sudah minta sopirku menjemput, bersiaplah.
Dengan berat hati, Maura melangkah keluar kamar usai berpamitan dan meninggalkan pesan pada perawat yang mengurus adiknya.
Meringis, dia bahkan hanya menyisakan uang tiga puluh juta saja di akun Samudra. Pengeluaran besar untuk Raka yang terasa mencekiknya.
Maura merasa tubuhnya kaku saat melangkah masuk ke unit 22-A malam itu. Aroma rumah sakit yang masih menempel di kulitnya seolah langsung menguap, digantikan oleh wangi maskulin Samudra yang mendominasi ruangan. Dia tidak disambut hangat, yang ada hanyalah Samudra yang duduk santai di meja kerjanya dengan laptop yang menyala.
“Mandi dulu dan ganti bajumu,” perintah Samudra tanpa mengalihkan pandangannya sama sekali. Sepasang mata obsidian pekatnya dihalangi kacamata antiradiasi.
Maura selalu kesulitan bernapas jika berhadapan dengan pria itu.
“Duduk di sini, Maura,” perintah Samudra tanpa mengalihkan pandangan. Ia tidak menunjuk kursi di depan meja, melainkan ke arah pangkuannya sendiri saat Maura sudah selesai melakukan perintahnya.
Gaun tidur yang tipis dan pendek itu membuatnya malu. Tangannya menarik gaun satin itu agar bisa lebih panjang.
Maura berdiri kaku, tidak segera menuruti ucapan Samudra. Jantung Maura berdegup kencang. “Pak, saya ke sini untuk bimbingan skripsi seperti yang Bapak minta di kampus tadi.”
Samudra akhirnya menoleh, seringai tipis menghiasi wajahnya yang dingin. “Memang. Makanya, bawa laptopmu kemari. Bab tiga yang kamu kerjakan itu masih banyak sampah yang harus dibersihkan. Hentikan panggilan itu, Maura.”
Dengan tangan gemetar, Maura mendekat. Ia tidak punya pilihan selain menuruti kemauan pria itu. Saat ia duduk di pangkuan Samudra, ia bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus gaun tipis yang dikenakannya.
Tangan besar Samudra melingkar posesif di pinggangnya, sementara tangan lainnya menggerakkan kursor untuk menyorot paragraf di layar laptop Maura.
“Analisis ini dangkal, Maura. Kamu mahasiswa beasiswa, harusnya otakmu lebih tajam dari ini,” bisik Samudra tepat di telinga Maura. Napas hangatnya membuat bulu kuduk Maura meremang.
“A--aku akan perbaiki sekarang, Sam,” jawab Maura terbata. Jemarinya mulai mengetik di atas papan ketik, mencoba fokus pada deretan kata meski konsentrasinya hancur berantakan.
Samudra tidak membiarkannya bekerja dengan tenang. Ia mulai mengecup bahu Maura yang terbuka, perlahan naik ke arah leher jenjangnya. “Perbaiki sekarang. Kalau satu paragraf selesai tanpa kesalahan, aku akan membiarkanmu istirahat lima menit. Tapi kalau ada satu saja salah ketik...”
Samudra menjeda kalimatnya, jemarinya kini mulai bermain di permukaan kulit paha Maura, memberikan tekanan yang membuat napas Maura tercekat. “... hukumannya akan jauh lebih berat daripada harus merevisi lagi.”
Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Maura dipaksa bertarung dengan otaknya sendiri untuk tetap terlihat cerdas secara akademis, sementara di saat yang sama, tubuhnya dipaksa tunduk pada otoritas Samudra yang menyesakkan. Di apartemen ini, batas antara dosen dan pria pemiliknya benar-benar telah lebur menjadi satu labirin gairah yang menyiksa.
“Kenapa berhenti mengetik?” gumam Samudra, kini menggigit kecil daun telinga Maura. “Lanjutkan, Maura. Atau kamu memang sengaja ingin dihukum?”
Maura memejamkan mata sejenak, menelan ludah yang terasa pahit. Ia kembali mengetik dengan air mata yang menggenang, menyadari bahwa mulai malam ini, skripsinya bukan lagi sekadar tiket menuju kelulusan, melainkan alat bagi Samudra untuk mengikatnya lebih dalam.
Dia merasa takut dengan keadaannya. Kehadiran Samudra membuatnya semakin tidak tenang.