Dring dring dring!
“Maura, kamu di mana? Ini dosennya udah dateng.”
Deg.
Maura sendiri masih berada di dalam bus, berdiri sempit-sempitan bersama para penumpang lainnya. Pagi menjadi perjalanan yang panjang karena jam sibuk.
“Aku masih di bus ini. Sepuluh menitan lagi.”
“Ini juga udah diabsenin. Kamu mau titip absen enggak?” Sisilia menawarkan diri agar temannya itu masih bisa lolos.
“Enggak usah, jangan. Aku usahain cepat.”
Menilik jam yang terpampang di layar serta merta menambah helaan napas kasar dari mulut Maura. Gadis itu merasa panik sekarang.
“Pemberhentian berikutnya, Halte Grogol. Periksa kembali barang bawaan Anda, dan hati-hati melangkah.”
Suara operator bus otomatis sudah terdengar.
Maura mempererat pelukannya pada ransel yang digendong ke depan. Melompat keluar dan segera berlari men-tap kartu e-money miliknya.
Langkah kaki Maura beradu cepat dengan lantai marmer koridor gedung Arsitektur. Napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri karena dipaksa berlari dari gerbang kampus. Ia melirik jam di pergelangan tangannya—08.15 WIB. Ia terlambat lima belas menit untuk mata kuliah Kritik Arsitektur, kelas paling mencekam yang diajar langsung oleh Samudra Reynand Hadiningrat.
Maura merutuki dirinya sendiri, atau lebih tepatnya, merutuki pria yang kini tengah berdiri di depan kelas itu.
“Satu ronde lagi, Maura. Atau kamu tidak akan kubiarkan pergi kuliah pagi ini,” bisikan serak Samudra pagi tadi di apartemen masih terngiang jelas di telinganya.
“Aku harus kuliah …” Maura masih berusaha memberikan alasan.
“Apa perlu aku benar-benar membeberkan rahasia kita?”
Maura menggigit bibirnya sendiri, terbelenggu dengan ancaman itu. Dia hanya bisa terbaring menerima permintaan Samudra.
Samudra dengan sengaja menahan pergelangan tangan Maura di atas bantal, mengabaikan alarm ponsel Maura yang berdering panik, hanya demi memuaskan ego dan gairahnya yang tak kenal waktu.
Bodohnya dia malah takut ancaman tapi tidak mengancam balik dan sekarang dirinya malah menjadi terlambat karena pria itu.
Dengan tangan gemetar, Maura mendorong pintu aula besar itu perlahan. Suara engsel pintu yang berdecit kecil seketika menghentikan suara bariton Samudra yang sedang menjelaskan teori Post-Modernism.
Cklek!
Puluhan pasang mata mahasiswa di dalam aula itu serentak menoleh ke arah pintu. Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti ruangan.
Maura semakin merasakan keringat di tangannya. “Halo Pak,” sapanya dengan suara yang halus, bahkan hampir diredam oleh detak jantungnya sendiri.
Samudra berdiri tegak di balik podium, melipat tangan di depan d**a bidangnya yang terbungkus kemeja abu-abu gelap. Ia melepaskan kacamata bacanya dengan gerakan lambat, menatap Maura dari kejauhan dengan tatapan yang sanggup membekukan darah siapa pun.
"Masuk," ucap Samudra. Suaranya tidak tinggi, namun otoritas di dalamnya begitu menekan.
Maura bergegas berdiri di hadapan Samudra, tidak peduli banyak pasang mata memperhatikannya, termasuk Sisilia saat ini.
“Maaf, saya … terlambat,” akunya dalam satu tarikan napas.
Dia tidak berani sama sekali mengangkat pandangannya.
Samudra mengambil absen kelas. “Namamu.”
“Maura … Anindya.”
Sisilia yang duduk di depan pun memperhatikannya dengan harap-harap cemas. Mengenai cara mengajar Samudra sudah terkenal kejam, dia khawatir akan sahabatnya.
“Di Jerman, saya tidak pernah mendapati seorang pun terlambat.”
Kata-kata itu meluncur mulus dari bibir Samudra. Tatapannya menghunus lurus pada Maura.
Rasanya Maura ingin melemparkan alasannya pada pria itu langsung, tetapi ini adalah kampus. Dia tidak akan pernah bisa melakukannya.
“Lima belas menit.” Bahkan Samudra sengaja melihat arloji jutaan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Tidak ada suara sama sekali di aula besar itu. Banyak yang mengambil mata kuliah yang diajar oleh Samudra dengan berbagai alasan, termasuk mengejar nilai tambahan.
“Dan itu bukan waktu yang singkat.”
Maura rasanya ingin menangis, dia hanya mampu menatap sepasang sepatu yang dipakainya. “Maaf Pak, terjebak macet.”
“Bukan alasan.” Sambar Samudra cepat. “Silakan berdiri di sana dan jangan duduk dulu.”
Deg.
Maura pikir, dosen-dosen di kampus tidak serta merta sekejam Samudra. Terlambat dan mengutarakan alasannya bisa dimaklumi atau tidak diberi izin masuk kelas. Itu adalah hal lumrah dengan status sebagai mahasiswa. Peraturan dibuat berbeda dari siswa yang harus datang dan masuk ke kelas.
Maura mematung di samping barisan kursi paling depan, wajahnya memanas karena malu. Seluruh mahasiswa berbisik-bisik. Sisilia, yang duduk di barisan depan, menatap Maura dengan wajah penuh simpati dan ngeri.
"Jam berapa kelas ini dimulai, Maura?" tanya Samudra dingin. Kacamata berbingkai menghiasi wajah tampan rupawannya.
"Delapan, Pak," cicit Maura pelan.
"Lalu, apa yang membuatmu merasa begitu spesial sehingga bisa datang sesuka hatimu di kelasku? Apa menurutmu standar kedisiplinan di sini bisa kamu beli seperti kamu membeli makanan di kantin?"
Kalimat Samudra sangat tajam. Maura menunduk dalam, jari-jarinya meremas tali tasnya hingga kaku. Rasanya sungguh ironis.
Pria yang sekarang mempermalukannya karena masalah kedisiplinan adalah pria yang sama yang beberapa jam lalu menolak melepaskan pelukannya meski Maura sudah memohon untuk berangkat.
"Maaf, Pak. Saya... saya ada urusan mendadak pagi tadi."
"Urusan mendadak?" Samudra berjalan turun dari podium, melangkah mendekat ke arah Maura. Langkah sepatunya yang beradu dengan lantai terdengar seperti hitungan mundur eksekusi. Ia berhenti tepat di depan Maura, jarak mereka hanya satu meter. "Apakah 'urusan mendadak' itu jauh lebih penting daripada pendidikanmu? Jika kamu tidak bisa menghargai waktuku, lebih baik kamu keluar dan jangan pernah injakkan kaki lagi di kelasku sampai akhir semester nanti."
Deg.
"Pak... beri saya kesempatan. Saya janji tidak akan mengulanginya," Maura memberanikan diri menatap Samudra, matanya berkaca-kaca.
Samudra menatapnya dengan pandangan meremehkan, seolah Maura hanyalah debu yang mengganggu pemandangannya. Tidak ada sedikit pun kilat gairah atau rasa bersalah di mata obsidian itu. Ia bersikap seolah-olah mereka benar-benar dua orang asing yang tidak memiliki hubungan apa pun di luar sana.
"Silakan berdiri di belakang kelas sampai jam kuliah saya selesai. Tanpa catatan, tanpa duduk. Mungkin dengan berdiri, otakmu bisa lebih fokus pada tujuanmu berada di universitas ini," putus Samudra tanpa ampun.
Maura hanya bisa mengangguk pasrah. Ia berjalan menuju barisan belakang, berdiri tegak di bawah tatapan kasihan teman-temannya.
Sepanjang dua jam kuliah, Samudra terus memberikan materi dengan sangat brilian, sesekali melemparkan pertanyaan sulit yang sengaja ditujukan pada Maura untuk menyudutkannya.
"Kasihan banget Maura, Pak Samudra emang nggak punya hati," bisik seorang mahasiswa di barisan belakang yang terdengar oleh Maura.
"Iya, mentang-mentang ganteng dan jenius, mulutnya kayak silet. Maura kan rajin, tumben banget dia telat sampai kena semprot begitu," timpal yang lain.
“Kadang rajin dan pintar bisa kalah sama orang dalam, Sis.”
Mereka saling berbisik di saat Samudra sibuk melemparkan diskusi dengan beberapa orang yang berani adu pengetahuan.
Maura hanya bisa menggigit bibir dalamnya, menahan sesak di d**a. Teman-temannya mengasihani dia karena menjadi korban kekejaman "Dosen Killer" itu.
Mereka tidak tahu bahwa di bawah kemeja kampus yang tertutup rapat ini, tubuh Maura masih dipenuhi jejak-jejak merah yang ditinggalkan Samudra pagi tadi. Mereka tidak tahu bahwa Maura telat karena Samudra sengaja menjadikannya pemuas sebelum ia sendiri berangkat mengajar dengan setelan rapi tak bercela.
Samudra mampu menutupi rahasianya dengan rapi, sementara dirinya, untuk menutupi rahasia itu malah jadi korban.
Saat kelas berakhir, Samudra merapikan berkas-berkasnya. Sebelum keluar, ia melirik Maura yang masih berdiri dengan kaki yang mulai mati rasa.
"Maura Anindya, temui saya di ruangan saya setelah ini untuk mengambil tugas tambahan sebagai hukuman keterlambatanmu," ucap Samudra formal di depan seluruh kelas, lalu melangkah keluar dengan angkuh.
“Baik Pak.” Maura mengangguk kecil, kakinya bahkan kesemutan sekarang sehingga sulit untuk bergeser.
Maura menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. Sisilia segera menghampirinya dan merangkulnya. "Ra, kamu enggak apa-apa? Gila, si Samudra beneran dosen killer ya kalau soal aturan!"
Maura tersenyum kecut, mencoba menutupi badai di hatinya. "Enggak apa-apa, Sil. Aku emang salah karena telat."
"Tapi hukuman berdiri dua jam itu keterlaluan! Kamu pucat banget, Ra."
Aku pucat bukan karena berdiri, Sil. Tapi karena aku tahu apa yang menungguku di ruangannya nanti, batin Maura menjerit.
“Mau aku temenin enggak?” tawar Sisilia, yang merasa prihatin dengan nasib sahabatnya itu.
Maura menggeleng cepat. “Enggak. Kamu ada kelas lagi kan? Aku udah ambil mata kuliah itu semester lalu.”
Sisilia mengangguk lemas, masih menatap penuh iba. “Maaf ya, aku enggak bisa temenin. Kalo dia apa-apain kamu, bilang sama aku.”
Maura tersenyum kecil, dia juga tidak akan mungkin membuat Sisilia kesusahan.
Dengan kaki yang bergetar, Maura melangkah menuju gedung dosen. Ia tahu, di balik pintu ruangan Samudra nanti, topeng "Dosen Berintegritas" itu akan tanggal, dan ia akan kembali menjadi milik pria yang baru saja mempermalukannya di depan puluhan orang. Permainan Samudra sungguh kejam, ia menghancurkan mental Maura di depan umum, hanya untuk memuaskan obsesinya saat mereka berdua saja.