“Pak?” Maura menghadap Samudra yang sibuk berbicara dengan mahasiswa lainnya. Samudra hanya melirik sekilas, seolah gadis itu tidak ada. “Jadi, maksudmu dari Dema sendiri mau meminta kontribusi saya untuk mengisi acara seminar akbar ini.” Maura masih diam saja, melirik sekilas pria yang ada di sampingnya. Dia tahu orang itu, Galang Pudana, sang mahasiswa presiden. Aktivis kampus yang suaranya akan didengar oleh banyak orang. Samudra menatap lagi proposal yang ada di tangannya itu. “Saya akan pertimbangkan, kalau jadwalnya kosong, saya akan kabari.” Galang tersenyum lega, “baik Pak. Terima kasih.” Namun, Galang tidak segera pergi sampai Samudra lah yang segera mengusirnya. “Kau bisa keluar sekarang, jika tidak ada keperluan lagi.” Galang mengangguk canggung, “I--iya Pak. Terima kasih.

