“Maura!” sentak Sisilia mendesis tak sabaran untuk mendapatkan jawaban tetapi sahabatnya itu malah diam seribu bahasa dengan wajah pucatnya.
Maura tersentak kecil, matanya menatap penuh getar takut memandangi sahabatnya itu. “Sil … aku ini bukan hickey--”
“Ck, Ra, aku enggak akan marahin kamu kalo emang kamu pacaran.” Sisilia memang tahu betul kalau Maura itu penakut dan perempuan yang paling tidak mau terkena skandal. “Kamu bisa ngomong sama aku, Ra. Siapa cowok kamu sekarang.”
Maura menggeleng keras, “enggak ada, Sil. Serius. Ini… ini alergi, Sil! Kemarin aku makan seafood di kantin rumah sakit, terus gatal-gatal dan aku garuk sampai begini. Biasanya aku enggak alergi apa-apa."
"Alergi?" Sisil bertanya dengan nada tidak percaya. Ia mendekat, suaranya merendah namun penuh selidik. "Ra, kita sama-sama udah gede, aku paham kok. Kamu bisa pacaran sama siapa aja, enggak usah takut. Asal enggak kebablasan aja, Ra."
Maura semakin menggeleng kencang. "Bukan, Sil! Sumpah, ini cuma alergi gatal kayak parah banget, makanya merah begini. Aku garuknya pakai ujung pulpen karena gatal banget," Maura mulai mengarang cerita yang terdengar konyol bahkan di telinganya sendiri.
Sisilia jadi diam sebentar dan mengembuskan napasnya sendiri, terlihat masih ragu, tetapi ia memilih untuk tidak lagi mendesak lebih jauh ketika melihat mata Maura yang mulai berkaca-kaca. Sisilia memang tahu betul kalau Maura juga tengah tertekan karena masalah ekonomi dan kondisi Raka, bukan karena skandal panas.
"Oke, kalau itu emang alergi, nanti sore kita ke apotek, beli salep," ucap Sisilia akhirnya. "Tapi Ra, serius, kamu harus hati-hati. Apalagi bimbingan sama si Dosen Psikopat itu. Dia itu tipe orang yang bakal nyari-nyari kesalahan sekecil apa pun buat bikin mahasiswa makin menderita. Kamu bayangin kalau dia lihat 'alergi' kamu itu, bisa-bisa dia makin nganggep kamu mahasiswa nggak bener."
Maura hanya bisa mengangguk kaku bahkan ketakutannya masih tidak bisa diredam, dadanya terasa sesak karena rasa bersalah pada sahabatnya. Kalau kamu tau, Sil, orang yang kamu panggil psikopat itulah yang buat tanda ini di leherku, batin Maura getir.
"Dosen kayak dia itu harusnya dilaporin ke dekan," gerutu Sisil lagi saat mereka mulai melangkah menuju kantin. "Udah ganteng, kaya raya, pinter, tapi jahatnya minta ampun. Aku heran, kok ada ya perempuan yang mau jadi istrinya nanti? Pasti tiap hari kena mental abuse. Pantes sih." Ucapan Sisilia malah terdengar lebih diplomatis. “Belum punya istri,” kekehnya, puas mengejek Samudra.
Maura hanya terdiam, setiap kata makian Sisil untuk Samudra terasa seperti tamparan bagi dirinya. Ironisnya, di saat Sisilia sibuk memaki Samudra karena kekejamannya, Maura justru sedang menghitung jam sampai ia harus kembali ke apartemen pria itu nanti malam—menyerahkan dirinya untuk kembali dikuasai oleh pria yang sama yang baru saja mempermalukannya di depan seluruh angkatan.
Saat mereka duduk di kantin, sebuah notifikasi muncul di layar ponsel Maura yang tergeletak di meja. Sisilia yang duduk di depannya sempat melirik ke arah layar sebelum Maura sempat menyambarnya.
“Siapa, Ra?” tanya Sisilia, dia merasa ingin tahu tapi kali ini tidak menekan Maura.
Maura menggeleng kikuk, “biasa, Raka.”
“Oh … gimana sih sekarang dia, kapan bisa pulang?”
Maura jadi teralihkan fokusnya. Gadis itu bisa merasa lega setelah mengarang cerita bohong dan Sisilia malah mempercayainya.
“Raka sih bisa pulang minggu depan, semoga aja.”
Sisilia ikut tersenyum lega mendengarnya. “Syukurlah, abis ini kamu bisa merasa lega Ra.”
Harusnya. Tapi tetap saja dia harus tetap mencari uang agar bisa membawa Raka untuk kontrol rutin. Maura tidak mau memikirkan hal itu lebih dulu, masalahnya hanya nampak lebih besar jika ia terlalu memikirkannya.
“Aku ke RS ya, Sil.” Maura membereskan peralatan dan buku-bukunya.
Sisilia bahkan ikut membantu. “Mau aku anter enggak? Aku lagi enggak ada kegiatan UKM nih sore ini.”
“Boleh …”
Setidaknya Maura tidak mau terlalu menolak bantuan sahabatnya itu. Dia juga masih membutuhkan bantuan orang lain dan tidak mau sok kuat.
Mereka menuju ke parkiran bersama, masih bercengkerama dan saling melempar candaan. Hanya menjadi anak perantauan dengan kondisi seperti pada umumnya.
Baru saja Maura menerima helmet dari Sisilia sementara Sisilia memutar motor matic miliknya, Maura yang sedang mengitari pandangan ke sekelilingnya jadi terhenti di satu pusat.
Deg!
Tatapannya bersirobok dengan tatapan Samudra yang sedang berjalan bersama dosen lain.
Tiiin!
Maura segera memutus kontak mata mereka, berlari menghampiri motor Sisilia yang sedikit berjarak darinya dan dia segera duduk di boncengan.
Sementara Samudra masih memperhatikan sosok Maura sampai motor melaju menjauh dari pandangannya.
“Lo liat siapa sih?” tanya Hendruw, dosen sejawat yang seumuran dengan Samudra.
Samudra menggeleng kecil, “tidak ada.”
Hendruw terkekeh kecil, “kelamaan di Jerman nih pasti.”
“Apa?”
Wajah Samudra selalu dingin dan datar, seolah emosi tidak pernah bersatu dengan statusnya sebagai manusia.
“Ya lo nih. Masih aja kaku. Bahasa lo formal banget lagi. Pamer lo kalo lo bule?” goda Hendruw.
Samudra tidak meladeninya. “Saya balik dulu.”
“Ya, ya, lo enggak nawarin tumpangan buat gue huh?”
Samudra tersenyum kecil. “Terus mobil cicilanmu ditinggal di sini?”
Hendruw berdecak sendiri, “susah … susah … kaku kayak kanebo lo. Pantes enggak kawin-kawin.”
Samudra sendiri sudah kebal dengan godaan dari rekan dosennya itu. Memilih segera masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja.
Pikirannya melayang saat tadi berhasil mencumbu bibir manis nan menggoda milik Maura. Rasanya selalu sama dan ia bahkan masih ingat tekstur permukaan bibir gadis itu.
Samudra memilih mampir ke perusahaan yang dipimpinnya. Dia hanya menjadi dosen pengganti yang tidak mengharuskan untuk stand by di kampus sepanjang jam perkuliahan.
“Maura … Maura …” Mulutnya menggumamkan satu nama yang berhasil menambah rasa puasnya. Dia menyeringai ketika mengingat perilaku gadis itu.
Samudra melangkah lebar melintasi lorong firma arsitekturnya, jubah wibawanya sebagai principal architect terasa begitu berat dan dominan. Di belakangnya, Tomi—tangan kanan sekaligus orang kepercayaan yang telah bersamanya sejak ia merintis karier di Belanda—berjalan dengan ritme yang sama tenangnya. Gita, sekretaris pribadi Samudra, mengekor di posisi paling belakang sambil membawa setumpuk laporan.
Samudra segera memasuki gedung berlantai tiga yang hening. Berjalan dengan langkah tegas namun terkesan anggun dengan tatapannya yang tajam.
“Pak Reynand,” sapa Tomi menghampiri atasannya.
Samudra menerima tablet dari Tomi, “bagaimana project-project yang sedang dikerjakan?” tanyanya sembari menuju ruangannya sendiri.
"Proyek Apple Vision di Yogyakarta sudah berjalan 70 persen, Pak. Kendala di lapangan soal sirkulasi udara sudah ditangani tim," Gita melaporkan dengan nada profesional.
Samudra hanya berdeham pelan, lalu mendorong pintu ruangannya yang berdinding kaca satu arah. Begitu sampai di meja kebesarannya, Tomi langsung mengambil alih pembicaraan. Sebagai tangan kanan, Tomi tahu kapan harus bicara teknis dan kapan harus bicara strategi.
"Untuk proyek Kantor PLTB di Sumba, ada masalah dengan tekanan angin di puncak gedung. Karena lokasinya di pesisir, gedung cenderung berosilasi hebat. Kalau tidak dihitung ulang, penghuninya bisa mual karena goyangan gedung, atau lebih parah ... strukturnya bisa retak dalam lima tahun," Tomi menjelaskan sambil menyodorkan tablet berisi data simulasi beban angin.
Samudra menyesap kopinya yang dingin, matanya menatap tajam ke arah diagram. Ia bangkit, membuka tutup spidol dengan giginya—sebuah kebiasaan saat ia sedang berpikir keras—lalu mulai mencoret-coret whiteboard.
"Gunakan pemecahan aerodinamis," titah Samudra tegas. "Ubah fasadnya menjadi twisting (puntiran) untuk memecah aliran angin. Atau buat bagian atasnya meruncing secara asimetris. Cari efisiensi dari Plan B. Kita tidak bisa pakai cara konvensional di Sumba."
"Lalu soal pemasangan Tuned Mass Damper sebagai penyeimbang?" tanya Tomi.
"Pasang. Saya mau bola baja raksasa di puncak sebagai peredam dinamis."
Tomi menghela napas, ia satu-satunya yang berani memotong keinginan Samudra. "Budget-nya ditekan habis-habisan oleh PT. Wistana, Pak. Mereka minta kualitas bintang lima dengan harga kaki lima."
Samudra mendengus kasar, melempar spidolnya ke meja. "Tekan balik mereka, Tom. Katakan kalau mereka mau gedung yang aman dari badai, mereka harus bayar harganya. Saya tidak akan membiarkan nama firma ini hancur karena struktur yang ringkih hanya demi menghemat budget."
Tomi mengangguk paham. "Oke, saya akan mencoba melobby kembali orang-orang Wistana itu."
Setelah Gita keluar dari ruangan, suasana menjadi sedikit lebih santai. Samudra meraih ponselnya, menatap sebuah foto Maura yang sedang terlelap di ranjangnya tadi pagi—wajah yang begitu tenang namun menyimpan sejuta beban.
Tomi, yang sudah hafal luar dalam tingkah bosnya, menyipitkan mata. Ia bersandar di pinggiran meja Samudra tanpa permisi. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Tumben sekali kau menatap ponsel lebih lama daripada cetak biru." Memang, Tomi bukan sekadar bawahan Samudra, melainkan teman yang tumbuh satu kampus bersama Samudra.
"Bukan urusanmu," sahut Samudra dingin, namun ia tidak langsung mematikan layarnya.
"Cari beberapa toko fashion kelas atas untuk wanita usia awal dua puluhan. Yang tidak terlalu mencolok tapi harganya menunjukkan kualitas dan memang pantas," perintah Samudra kemudian.
Tomi spontan tersenyum lebar, kilat jahil muncul di matanya. "Wow. Samudra Reynand Hadiningrat belanja baju wanita? Siapa korbannya kali ini? Mahasiswi yang kemarin itu? Ah, aku lupa tanya. Jadinya bagaimana?"
Samudra menatap Tomi dengan tatapan mematikan. "Jaga mulutmu, Tom. Jangan sampai kakek tua itu tahu dan mulai mengirimkan brosur gedung pernikahan ke kantorku."
Tomi terkekeh, mengangkat tangan tanda menyerah. "Tenang saja, rahasiamu aman bersamaku. Aku akan carikan butik terbaik yang bisa membuat 'investasimu' itu terlihat seperti permaisuri."
Samudra mendengus, namun ia membiarkan Tomi pergi dengan senyuman kemenangan itu. Hanya Tomi yang tahu bahwa di balik kedinginan sang Arsitek, ada sebuah obsesi yang mulai tumbuh liar dan tak terkendali.