Bab 14

1759 Words
Mobil sudah ke sana. Bersiaplah. Aku enggak suka kamu terlambat -- Pak Samudra Maura hanya membacanya sekilas, tetapi pesan singkat itu membuat dadanya berdebar kencang. Dia tidak pernah terbiasa untuk tenang jika memikirkan Samudra setelah kejadian besar yang mengubah alur hidupnya saat ini. “Tumben Raka udah tidur,” kekehnya sembari merapikan rambut adiknya. Dia membetulkan selimut dan seperti biasa, berpamitan kepada perawat yang tengah menemani Raka. “Bu Yuyun, aku tinggal dulu ya?” Bu Yuyun tersenyum, senyuman kecil khas ibu-ibu yang teduh. Maura memang sengaja mempertahankan Bu Yuyun menjadi perawat adiknya sepanjang dia harus mencari uang dan kuliah. Wanita itu mampu ia percayai. “Hati-hati di jalan, Ra. Jangan sampai kelelahan ya. Itu mukanya sampe pucat begitu.” Maura tersenyum kecil mendengarnya. Memang, aktivitasnya bertambah. Apalagi … sekarang dirinya bahkan merasa kurang tidur karena Samudra yang tidak membiarkannya beristirahat. Blush! Wajahnya memanas saat otaknya malah tak sengaja mengingat kegiatan-kegiatan yang tak senonoh itu. “A--aku pergi dulu, Bu,” pamitnya segera dengan canggung. Dia merasa bisa saja orang-orang yang berdekatan dengannya memergoki isi pikirannya yang seperti orang m***m. Efek film dewasa dan kegiatan itu benar-benar mempengaruhi pikirannya sendiri. Maura hanya menunggu di halaman rumah sakit. Sering kali dia mendengar tangisan di lorong rumah sakit, menyaksikan bagaimana orang-orang yang kehilangan. Hal itu sudah pernah dilaluinya, terlalu getir karena mengalaminya di usia muda. Suara lolongan ambulans yang membawa banyak manusia yang bertaruh kehidupan, atau … melihat bahagianya sang orang tua yang menyambut kelahiran para bayi. Maura merasa terbiasa dan berbaur dengan nasib-nasib yang tidak selalu baik itu. Sopir yang biasa membawa Maura pun masuk ke lobi dan menghampirinya dengan segera. “Non, ayo.” Maura bangun dari duduknya, berjalan mengekori sopir pribadi suruhan Samudra. Dia sendiri mencengkeram tasnya. Seolah sudah menjadi kegiatan rutin padahal sekarang masihlah malam ke tujuh, tapi rasanya malah jadi terbiasa. Terbiasa bukan berarti dia sudah menerima. Nyatanya, tubuhnya masih saja bereaksi berlebihan kalau berinteraksi dengan Samudra. Pria itu … seperti macan liar yang tidak pernah bisa dijinakkan. Maura melangkah masuk menggunakan kartu akses yang terasa berat di tangannya—sebuah kunci perak menuju sangkar emas. Apartemen di kawasan Sudirman ini adalah definisi kemewahan yang angkuh terasa sepi, eksklusif, dan dipenuhi aroma maskulin yang kental. Meskipun jantungnya berdebar kaku saat berpapasan dengan resepsionis di lobi, Maura berusaha menegakkan bahu, menelan bulat-bulat rasa rendah diri yang selalu muncul setiap kali ia menginjakkan kaki di gedung ini. Ia melepas sepatu kets lusuhnya, meletakkannya di rak kayu mahoni yang kosong, dan menggantinya dengan sandal rumahan berbahan beludru yang sangat lembut. Di ruang tengah, Samudra tampak sangat berwibawa di balik layar laptopnya. Obsidian pria itu melirik Maura sekilas tanpa memutus pembicaraan seriusnya dalam bahasa Inggris yang fasih. Ia hanya menunjuk sofa di depannya dengan gerakan dagu yang imperatif. Maura menurut. Ia duduk diam, berusaha tidak terlihat seperti orang asing yang tersesat di istana. "Atur saja, Madeline. Pastikan kau memilah emiten dengan fundamental yang kuat. Indonesia dipenuhi perusahaan cangkang yang dikelola orang-orang bodoh. Aku tidak mau asetku menguap begitu saja," ucap Samudra dingin. Maura tidak paham soal bursa saham atau dunia bisnis, namun ia paham arti tatapan Samudra. Meski bibir pria itu bicara soal angka, matanya terus menguliti Maura seolah sedang merencanakan struktur bangunan di atas kulitnya. Tatapan itu membuat perut Maura mulas melilit—sebuah reaksi antara benci dan antisipasi yang tidak ia sukai. Merasa terintimidasi, Maura bangkit dan melangkah menuju dapur yang selama ini tak berani ia sentuh. Ia butuh oksigen, atau setidaknya air dingin untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Ia membuka pintu lemari pendingin dua pintu yang sangat besar, mengambil sebotol air mineral, dan menenggaknya dengan cepat. Sambil memegang botol, Maura melamun memandangi pantry marmer hitam di depannya. "Dapurnya aja udah seluas kamar kosku," bisiknya getir. Perbedaan kasta di antara mereka seolah menjadi tembok raksasa yang setiap saat siap meruntuhkan harga dirinya. Tiba-tiba, sebuah tangan besar merampas botol dari genggamannya. Maura tersentak. "Sam! Itu... itu bekasku," ujarnya panik, wajahnya memanas. Samudra tidak peduli. Dengan gerakan provokatif, ia meminum sisa air di botol itu tanpa melepas pandangan dari mata Maura. Tubuh tegapnya maju satu langkah, menghimpit Maura di antara dadanya yang keras dan tepian pantry. Satu tangannya bertumpu di marmer, mengurung Maura, sementara tangan lainnya masih memegang botol yang kini terasa dingin di kulit Maura. Jarak mereka terlalu berbahaya. Maura bisa mencium aroma wiski tipis dan parfum kayu cendana yang merangsang sarafnya. "Kenapa? Kamu takut berbagi sisa airmu denganku, Maura?" bisik Samudra rendah. Sebelum Maura sempat menjawab, Samudra menaruh botol itu dengan suara dentum pelan dan langsung mencengkeram tengkuk Maura. Tanpa peringatan, ia membungkam bibir Maura. Ciuman itu tidak lagi terasa kasar seperti di kantor dosen. Ciu-man yang terasa lambat, menuntut, dan penuh teknik. Samudra masih menyisakan sedikit air dingin di dalam mulutnya saat ia memagut bibir Maura, mengalirkannya masuk ke dalam mulut gadis itu dalam sebuah pertukaran gairah yang menyesakkan. Maura tersentak, hampir tersedak saat sensasi dingin itu mengalir di tenggorokannya sementara bibir Samudra memberikan sensasi terbakar yang kontras. Kali ini, Maura tidak pasif. Instingnya mengambil alih. Jemarinya merambat naik, melingkar di leher kokoh Samudra, mencoba mencari pegangan di tengah badai sensorik yang melanda. Samudra mendengus puas, lalu dengan satu sentakan kuat, ia mengangkat tubuh mungil Maura dan mendudukkannya di atas pantry marmer yang dingin. "Hhh..." Maura terengah-engah saat Samudra akhirnya menarik diri beberapa senti. Wajah Maura memerah, matanya sayu kehilangan fokus, dan bibirnya membengkak cantik akibat pagutan beringas tadi. Samudra mengusap bibir bawah Maura dengan ibu jarinya, menatap hasil "karyanya" dengan tatapan posesif yang gelap. "Kau belajar dengan cepat, Mahasiswaku," bisik Samudra serak. "Kita lanjutkan di kamar mandi." Maura terbelalak, napasnya masih belum stabil. "A-aku... aku udah mandi tadi sebelum ke sini..." Samudra menyeringai tipis, sebuah seringai yang menjanjikan malam yang panjang. "Kalau begitu, kau akan mandi sekali lagi. Temani aku mandi, kita bisa mandi bersama,” bisik Samudra dengan suara rendah, sialnya hembusan napasnya itu mengandung tarikan sensual yang membuat getaran di dalam tubuh Maura. Maura tidak bisa menolaknya. Dia membiarkan Samudra menggendongnya ala bridal dan kedua tangannya memegangi bahu kekar Samudra. “Ja--jangan menatapku begitu,” kata Maura dengan kegugupannya. Tatapannya sendiri beralih ke banyak benda di dalam kamar mandi, asalkan tidak bertatapan dengan mata tajam Samudra. Samudra menyeringai, dia sudah menanggalkan pakaiannya, begitu juga Maura. “Kau harus tahu caranya memuaskanku, Maura.” Maura bergidik ngeri mendengarnya. Tangan basah Samudra menjelajah, menyentuh setiap inci tubuhnya. Tak harus menunggu, Samudra sudah melakukannya lagi. Memberikan sedikit banyaknya foreplay agar membuat Maura rileks. Satu hal yang dia selalu lakukan demi gadis itu, yaitu membuatnya menikmatinya dan tidak merintih kesakitan. Maura hanya bisa mendesah berkali-kali ketika milik Samudra yang keras dan besar itu menghujam di dalam inti tubuhnya. Keras dan liar sampai tubuh mungilnya terentak-hentak hebat. “Ouch … berhenti Sam … eugh …” Sialnya, keluhan itu tidak dihiraukan oleh Samudra. Milik Maura yang selalu sempit dan menghimpitnya dengan dinding yang licin semakin membuat tubuhnya tidak tahan, beringas. Tangan Maura terikat dan melingkar di lehernya. Dia tidak pernah mengizinkan kedua tangan Maura menyentuhnya kecuali atas perintahnya. Maura menengadahkan wajahnya dengan mata terpejam dan bibir setengah terbuka, meloloskan desahannya tanpa malu. Samudra akan mencapai pelepasannya. Dia segera menurunkan Maura dari gendongannya, menarik keluar kejantanannya dan membalik tubuh Maura kasar menghadap dinding hingga posisinya membelakanginya. “Angkat pinggulmu,” perintah Samudra dengan geraman kecil. Samudra melakukan dengan gaya yang lain, sama seperti saat di ranjang tetapi posisinya berdiri. Pikirannya terus berfantasi melakukan banyak gaya bercinta ketika bersama Maura, mengeksplorasi kegiatan penuh hasrat itu membuatnya semakin b*******h. Rambut pajnag Elena yang halus dikumpulkan dalam genggaman tangannya yang besar. Sementara tangan Elena yang terikat dasi menekuk, menahan bobot tubuhnya sendiri. Samudra menarik rambut maura dan memaksa gadis itu semakin mendongak sementara punggungnya semakin melengkung dan kedua kakinya berjinjit karena mengimbangi tubuh tinggi Samudra. Samudra kembali melakukan penyatuannya, gerakannya semakin tidak terkontrol. Sekuat tenaga, pria itu mencoba menyalurkan gairah liarnya. “Ah … Sam … pe--pelan pelan … kumohon …” Maura merengek sembari mendesah gusar. Samudra tidak mempedulikannya. Rengekan itu berhasil membuat Samudra semakin mendorong pinggulnya lebih cepat dan keras. Hingga miliknya menyemburkan cairan kental penanda pelepasannya dan Maura hanya memejamkan matanya sembari tubuhnya diam menegang, mencapai klimaks di saat yang sama. Maura merasa lemas, kehilangan banyak tenaganya. Dia hanya duduk bersandar di da-da Samudra dengan nyaman, meskipun d-ada pria itu terasa keras juga. Napasnya yang tadi memburu mulai teratur. "Lebih baik kau pindah ke sini," tukas Samudra tiba-tiba. Kalimat itu bukan sebuah saran, melainkan sebuah titah yang dijatuhkan di tengah sisa-sisa napas yang belum teratur. Mata Maura terbuka lebar. Ia tersentak, refleks menarik tubuhnya sedikit menjauh untuk menciptakan jarak, meski punggungnya tetap terperangkap di antara lengan kokoh Samudra. Ia menatap wajah pria itu dari jarak yang begitu intim, mencoba mencari celah gurauan, namun yang ia temukan hanyalah sepasang obsidian yang dingin dan tak terbantahkan. Samudra tidak memedulikan keterkejutan Maura. Perhatiannya justru teralih pada tangan kurus gadis itu. Ia meraih pergelangan tangan Maura, mengusap pelan gurat kemerahan yang melingkar di sana—jejak yang tertinggal akibat lilitan dasi sutranya beberapa saat lalu. Sentuhannya terasa lembut, namun Maura tahu itu adalah belaian seorang pemilik pada miliknya. "Aku... aku harus mengurus adikku, Sam. Lagipula tempat kuliahku jauh dari sini—" "Kau bisa menempati unit apartemen tepat di depan pintuku. Adikmu juga," potong Samudra datar, seolah memindahkan hidup seseorang adalah hal yang semudah memindahkan bidak catur. Tawaran itu terdengar seperti kemewahan yang luar biasa, namun Maura tahu tidak ada yang gratis dalam dunia Samudra. "Kenapa?" bisiknya ragu. "Setidaknya dengan begitu aku tau kamu enggak akan punya kesempatan untuk bermain-main di belakangku," Samudra menatap Maura tajam, jemarinya kini menekan sedikit lebih kuat di pergelangan tangan yang memerah itu. "Dan aku bisa mengawasimu untuk tidak menjadi gadis nakal." "Aku enggak pernah main-main dengan kesepakatan ini," sangkal Maura dengan suara bergetar. "Hm. Buktikan padaku," sahut Samudra skeptis. Ia menarik Maura kembali ke dalam dekapan posesifnya. "Setelah adikmu keluar dari rumah sakit, kamu harus pindah. Barang-barangmu akan diangkut oleh orang-orangku. Tidak perlu membantah." Maura meringis, menatap Samudra dengan pandangan takut-takut. Ia merasa seolah jeruji besi yang mengurungnya kini semakin menyempit. "Tidak bisakah aku pulang-pergi aja, Sam?” Samudra tidak menjawab. Ia tidak suka permohonan yang terdengar seperti negosiasi ulang. Baginya, Maura adalah aset yang sudah ia beli, dan tempat terbaik untuk aset berharga adalah di dekat sang pemilik. Alih-alih memberi jawaban verbal, Samudra justru memajukan wajahnya, kembali memagut bibir Maura yang sudah membengkak kemerahan. Ciu-man itu adalah cara Samudra untuk membungkam protes Maura, sekaligus pengingat bahwa di tempat ini, satu-satunya napas yang boleh Maura hirup adalah napas yang ia izinkan. Samudra kembali kehilangan akal, tenggelam dalam rasa manis yang selalu berhasil menyalakan kegilaan di dalam kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD