Bab 15

1770 Words
"Sam ... cukup. Jangan membuatku harus menanggung hukuman lagi di kampus besok," bisik Maura dengan suara yang nyaris habis. Tubuhnya terasa remuk, lelah luar biasa setelah pergulatan intens yang menguras seluruh tenaganya di atas ranjang king-size itu. Maura memberanikan diri untuk mengutarakan rasa kesalnya meski ada ketakutan yang tetap bersemayam di balik dadanya. Ia tidak ingin dipermalukan lagi di depan ratusan mahasiswa hanya karena hasrat egois pria ini yang tak mengenal waktu. Samudra tetap bergeming, duduk bersandar pada headboard ranjang sembari membaca sebuah buku desain arsitektur seolah tidak baru saja melakukan hal yang beringas. Malam ini, ia tidak benar-benar berniat menghabiskan seluruh sisa energi Maura dan sudah merasa cukup kenyang. "Semuanya akan baik-baik saja, Maura," sahut Samudra tanpa mengalihkan pandangan dari barisan kalimat di bukunya. Suaranya rendah dan tenang, namun sarat akan penekanan. "Asal kau menjadi gadis penurut yang tahu posisinya." Maura tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu. Memangnya sejak kapan ia punya keberanian untuk tidak patuh? Sejak kontrak terkutuk itu ditandatangani, setiap helai napasnya seolah sudah menjadi aset yang disita oleh Samudra. Samudra menutup bukunya, lalu menoleh. Ia menatap Maura dengan kilat kepuasan yang belum pernah ia rasakan dari wanita mana pun sebelumnya. Maura berbeda, ada sensasi penaklukan yang membuat ego Samudra membumbung tinggi. "Tidur," perintah Samudra sembari mematikan lampu nakas. "Sebaiknya kau tidak menyalahkanku lagi jika besok pagi kau terlambat dan aku harus memberimu hukuman berdiri lagi di depan kelas." Maura memberengut dalam kegelapan, menyembunyikan wajahnya di balik selimut sutra yang dingin. Sejujurnya, ia merasa sangat tidak nyaman harus berbagi ranjang dengan pria ini. Biasanya, ia akan tertidur sambil memeluk Raka di kamar kos mereka yang sempit namun hangat. Kini, posisinya digantikan oleh seorang pria yang membayar harga dirinya dan juga memegang kendali atas nilai skripsinya. Maura berusaha memejamkan mata, memaksakan diri untuk pura-pura tertidur agar Samudra tidak kembali menyentuhnya. Namun, rasa lelah yang ekstrem akhirnya mengkhianati kewaspadaannya. Ia jatuh terlelap dalam kegelapan yang pekat. Saat cahaya matahari tipis mulai menembus gorden satin yang mahal, Maura tersentak bangun. Ia meraba sisi ranjang di sebelahnya, namun hanya menemukan sprei yang sudah mendingin. Samudra sudah pergi. Tak mau membuang sedetik pun demi menghindari murka Samudra di kampus, Maura segera melompat dari ranjang. Dengan kaki yang masih terasa lemas dan sedikit gemetar—sisa dari intensitas malam tadi—ia berlari menuju kamar mandi. Guyuran air dingin itu terasa menyakitkan sekaligus melegakan, seolah ia sedang berusaha membilas habis jejak-jejak sentuhan Samudra yang masih terasa membakar di permukaan kulitnya. Namun, kejutan lain menunggunya di luar. Maura tertegun saat langkah kakinya membawanya ke area dapur. Di sana, di balik pantry marmer yang mewah, sosok Samudra tampak sangat berbeda. Pria itu tidak sedang memegang cetak biru atau pena Montblanc-nya, melainkan tengah menata piring dengan ketenangan yang ganjil. Mendengar suara langkah Maura, Samudra mendongak, matanya yang sepekat obsidian menatapnya datar. "Sarapan?" tanyanya singkat. Maura mendekat dengan langkah kikuk, jemarinya meremas ujung kemejanya sendiri. Ia tidak pernah membayangkan pria seperti Samudra—seorang arsitek elite yang angkuh—bisa terlihat begitu menyatu dengan peralatan dapur. "Kenapa... kenapa enggak bangunkan aku? Aku bisa membantu memasak," ucap Maura pelan. Ia tidak ingin dicap sebagai benalu. Bertahun-tahun bertahan hidup dalam kemiskinan telah menanamkan insting kuat dalam dirinya. Ia harus berguna jika ingin diterima di suatu tempat. "Tidak perlu. Duduklah. Kau ada kelas pagi, jangan sampai kau punya alasan lain untuk terlambat," sahut Samudra dingin tanpa menoleh. Maura menurut dan segera duduk di kursi bar yang tinggi. Samudra menyodorkan sepiring bubur abalone yang aromanya begitu menggoda selera. "Aku pernah belajar memasak saat menangani proyek di Seoul. Cobalah." Maura menatap piring di depannya dengan perasaan campur aduk. Untuk sesaat, ia merasa tuduhan Sisilia bahwa Samudra adalah "dosen psikopat" terasa sedikit berlebihan. Buktinya, pria ini bangun lebih awal dan menyiapkan makanan mewah untuknya. Namun, Maura segera menepis pikiran itu dan dia tahu kebaikan ini adalah bagian dari "fasilitas" yang dibeli Samudra, bukan ketulusan. "Terima kasih," ucap Maura malu-malu, nyaris berbisik. Samudra tidak menanggapinya. Ia hanya menyesap kopinya sembari menatap layar tabletnya, kembali ke mode pria dingin yang tak tersentuh. Mereka sarapan dalam keheningan yang menyesakkan. Tidak ada denting sendok yang beradu, tidak ada obrolan hangat layaknya sepasang kekasih. Bagi Samudra, percakapan pagi ini bukan hal penting, sementara bagi Maura, setiap detik di ruangan ini terasa seperti sedang berjalan di atas lapisan es tipis yang siap retak kapan saja. Tiga puluh menit kemudian, Maura sudah berada di dalam sedan mewah milik Samudra. Namun, sesuai permintaan Maura yang penuh permohonan, sopir pribadi Samudra hanya mengantarnya sampai halte bus yang berjarak satu kilometer dari gerbang kampus. Maura turun dengan terburu-buru, merapikan rambutnya yang tergerai dan memastikan rambutnya menutupi leher dengan sempurna, dia masih takut kalau kissmark yang ditinggalkan Samudra jadi terlihat walau sudah ditutup oleh foundation. Ia harus menjaga rahasia kotor ini dengan nyawanya. Ia harus tetap menjadi Maura sang mahasiswi biasa yang rajin, bukan Maura sang simpanan yang baru saja menyantap bubur abalone di apartemen mewah dosen pembimbingnya. *** Perpustakaan pusat universitas sore itu terasa seperti oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk tugas akhir yang mencekik. Maura duduk di salah satu meja pojok yang tersembunyi di balik rak buku-buku Arsitektur Klasik, fokus menatap layar laptopnya yang penuh dengan denah bangunan. Namun, ketenangannya terusik saat sebuah kursi di depannya ditarik. "Masih belum selesai, Maura?" Maura mendongak, mendapati Vino—mahasiswa populer dari jurusan Teknik Sipil—tersenyum lebar ke arahnya. Vino adalah tipikal pria yang disukai semua orang. Ramah, tampan, dan selalu membawa energi positif. "Eh, Vino. Iya nih, revisinya lebih banyak daripada aslinya," sahut Maura sambil tersenyum tipis. Ini adalah interaksi normal pertama Maura setelah berhari-hari tertekan oleh Samudra. Bersama Vino, ia merasa kembali menjadi mahasiswi biasa. "Sini, coba aku liat. Anak Sipil mungkin bisa kasih perspektif beda soal strukturmu," Vino menggeser kursinya lebih dekat ke arah Maura. Maura dengan senang hati menunjukkan draft-nya. Mereka mulai berdiskusi, sesekali Vino melontarkan candaan ringan yang membuat Maura tertawa kecil—sebuah tawa lepas yang sudah lama tidak muncul di bibirnya. “Biasanya sama Sisil? Mana cewek cerewet itu?” tanya Vino disela-sela diskusi mereka. Maura terkekeh mendengarnya. “Sisil kamu katain cerewet. Kalo orangnya tau, kamu bisa ditendang deh, Vin.” “Ya, emang begitu kok. Aku lebih suka yang pendiam, kupingku rusak kalo dekat-dekat Sisil.” Maura tergelak sendiri. Dia memang selalu bersama Sisilia. “Kalo ada Sisil, aku enggak capek. Dia yang nyerocos ladenin temen-temen, kalo enggak ada, aku bingung jadinya,” tuturnya. Vino memandangi Maura. “Kamu berarti introvert dan Sisil tuh Ekstrovert.” Maura mengangguk cepat. “Emang.” Tanpa Maura sadari, kedekatan mereka dari kejauhan terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah asyik memadu kasih di sela belajar. Vino bahkan sempat mengulurkan tangan untuk merapikan sehelai rambut Maura yang menutupi matanya. Maura tidak tahu, bahwa di lantai dua perpustakaan, di balik pagar pembatas kaca, berdiri sosok pria yang tengah memandanginya dengan tatapan yang sanggup membakar seluruh ruangan itu. Samudra Reynand Hadiningrat. Tangan Samudra yang memegang ponsel mencengkeram benda itu hingga buku-buku jarinya memutih. Obsidiannya menggelap, memancarkan aura predator yang haus darah saat melihat tangan laki-laki lain menyentuh rambut milik 'barangnya'. Cemburu? Samudra lebih suka menyebutnya sebagai rasa tidak suka saat miliknya dikotori oleh tangan rendahan. Ia telah menghabiskan ratusan juta untuk gadis itu. Ia telah menandainya. Namun, di sini, di bawah hidungnya sendiri, Maura berani memamerkan senyum manisnya pada mahasiswa ingusan yang bahkan tidak bisa membedakan kualitas beton yang baik? Samudra merogoh ponselnya, mengetik pesan singkat dengan raut wajah yang mendingin. Maura tersentak saat ponselnya di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan dari nomor yang ia hapal di luar kepala muncul di layar. Pergi ke toilet lantai tiga sekarang. Atau aku akan menyeretmu keluar dari perpustakaan ini di depan teman lelakimu itu. Darah Maura mendesir hebat. Ia segera mengalihkan pandangannya ke lantai atas secara insting, dan di sana, ia menangkap sosok Samudra yang berdiri angkuh. Pria itu tidak menatapnya dengan wajah dosen pembimbing, melainkan dengan wajah 'Tuan' yang murka. "Eh, Vin maaf... aku ada urusan mendadak. Aku pergi dulu ya," Maura segera membereskan bukunya dengan tangan gemetar. "Loh, Ra? Kenapa buru-buru banget?" tanya Vino bingung. "Maaf ya, Vin!" Maura hampir berlari meninggalkan Vino yang mematung keheranan. Begitu Maura sampai di koridor sepi menuju toilet lantai tiga, sebuah tangan besar menariknya dengan kasar ke dalam sebuah ruangan arsip yang tak terpakai. “Eh?!” Maura memekik saat tangannya ditarik. Brak! Pintu dibanting tertutup dan dikunci dalam satu gerakan cepat. "Sam! Lepas, sakit!" rintih Maura saat tubuhnya dihimpit ke dinding dingin. Samudra tidak melepaskannya. Ia justru mencengkeram kedua rahang Maura, memaksa gadis itu menatap kegelapan di matanya. "Siapa dia, Maura? Siapa laki-laki yang berani menyentuh apa yang sudah aku beli?" Maura membelalak kaget. Bagaimana bisa Samudra tahu? Apa pria itu mengintainya? "Dia cuma teman, Sam! Kami cuma bahas skripsi!" sanggah Maura cepat. Dia tidak mau disalahkan tentunya. Tangannya terasa ngilu karena Samudra mencengkeram kuat. "Bahas skripsi sampai harus bersentuhan?" Samudra mendengus kasar, suaranya rendah dan penuh ancaman. "Apa uang dua ratus juta itu masih kurang sampai kau harus menjajakan senyummu pada laki-laki lain di tempat umum?" "Kau gila, Sam! Itu cemburu yang enggak masuk akal!" teriak Maura frustrasi. "Aku tidak cemburu," desis Samudra, wajahnya mendekat hingga hidung mereka bersentuhan. "Aku hanya sedang menjaga kebersihan barang milikku. Dan kau. .. kau baru saja membiarkan baji-ngan menyentuhmu." Samudra merogoh saku celananya, mengambil sapu tangan sutranya, lalu menggosok kening Maura—tempat di mana tadi Vino merapikan rambutnya—dengan kasar hingga kulit Maura memerah. Maura merasakan perih. "Sakit, Sam! Berhenti!" dia berusaha menarik diri, tetapi tidak berhasil. Samudra berhenti, namun ia tidak menjauh. Ia justru membungkam bibir Maura dengan pagutan beringas, seolah ingin menghapus setiap jejak oksigen yang Maura hirup bersama laki-laki tadi. Ciuman itu sarat akan kemarahan dan kepemilikan yang menyesakkan. Maura jadi semakin panik. Mereka di kampus. Gadis itu terengah-engah, merasa ketakutan sendiri atas sikap kejam Samudra. “Ki--kita di kampus,” cicitnya, memberikan peringatan dan berharap Samudra mau melunak. Nyatanya tidak. “Apa perlu aku membeberkannya, Maura?” bisik Samudra penuh penekanan. Maura terbelalak hebat, wajahnya pias. Dia menggeleng panik sembari memegangi tangan besar Samudra. “Jangan. Aku … aku salah,” akunya. Samudra menarik diri sejenak, napasnya memburu di depan bibir Maura yang sudah membengkak. "Minggu depan kau pindah ke apartemen depanku. Tidak ada bantahan lagi. Jika aku melihatmu bicara dengan dia lagi ... aku pastikan dia tidak akan pernah lulus dari universitas ini." Maura membeku. Ia sadar, Samudra bukan sekadar ingin memilikinya, pria itu ingin menghapus dunianya sampai yang tersisa hanyalah Samudra seorang. Namun, sebuah ketukan keras terdengar di pintu ruang arsip. "Halo? Ada orang di dalam?" suara itu... itu suara Vino. Maura menahan napas, menatap Samudra dengan mata membelalak penuh ketakutan. Samudra justru menyeringai tipis, seolah ia sangat menikmati situasi berbahaya ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD