Bab 16

1676 Words
Deg deg deg … Maura semakin takut, apalagi mendengar langkah kaki yang semakin mendekat. Gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada Samudra. Membiarkan pria itu mengungkung tubuh mungilnya, entah memberikan ancaman atau perlindungan. Hembusan napasnya beriringan dengan detak jantung Samudra yang bisa dia dengar juga. Samudra semakin senang melihat tubuh Maura yang tegang. Sengaja, dia berbisik dengan suara rendahnya. “Bagaimana? Kau mau aku membuka pintu dan--” Segera Maura menutupi mulut Samudra, menggeleng dengan tatapan memohon. Samudra diam saja, pada akhirnya mereka hanya menunggu saja sampai langkah kaki dan suara yang dikenali Maura itu tidak lagi terdengar. Drap drap drap. Namun, ada langkah kaki lainnya yang menyusul. Kali ini tidak satu orang jika mendengar dari iramanya. Melainkan beberapa orang. “Gi--gimana cara kita keluar dari sini?” tanyanya, setengah panik. “Hanya perlu membuka pintu.” Maura ingin rasanya memukul kepala Samudra kalau saja diperbolehkan. Sayangnya, pikiran itu harus jauh-jauh dari otaknya sekarang dikarenakan Samudra adalah seorang dosen. Dia tidak mau bersusah payah mempermalukan dirinya. Kenop pintu bergerak naik turun. Klik-klik! Klik-klik! “Kok enggak bisa ya?” Maura kembali merapatkan tubuhnya pada Samudra, semakin mendekatkan wajahnya di d**a bidang pria itu. Dia tidak mau ketahuan sekarang! “Rusak nih. Cari toilet lain aja deh, Yu.” Maura baru merasa lega setelah mereka keluar dari kamar mandi dan tidak ada satu orang pun di lantai tiga. “Aku akan menunggumu di apartemen,” tegas Samudra saat Maura baru saja melangkah menjauh. Maura berbalik, “aku ke rumah sakit dulu--” “Satu jam lagi. Jika kamu ingin aman, Maura,” tekan Samudra seolah-olah sudah tahu kalau kata-katanya yang mengancam akan membuat gadis itu menurut. Maura memilih segera masuk ke dalam lift. Dia benar-benar tidak paham kenapa Samudra begitu marah padanya. Dia pasti akan datang saat malam jika pria itu memang menginginkannya. Itu sudah termasuk perjanjiannya. Sialnya, dia memang tidak bisa menolak. Dilihatnya Vino yang tengah membaca buku. “Ehem.” Berdeham kecil, gadis itu duduk di samping Vino. Vinoe segera menaruh bukunya. “Abis dari mana? Tadi aku cariin kamu.” Maura tersenyum kikuk, “wc. Kebelet, hehe.” “Oh …” Vino mengangguk kecil. “Mau ke kantin? Aku lapar nih, belum sarapan juga.” Maura menggeleng kecil, “aku mau pulang, kebetulan udah enggak ada jadwal lagi.” Vino hanya bisa tersenyum, niatannya tidak akan terlaksana karena Maura ternyata tidak mengiyakan tawarannya. “Yah, ya udah deh. Lain kali.” “Lain kali apa?” Maura tidak bisa membaca keinginan lelaki itu. Dia hanya sedang bertanya. Vino jadi salah tingkah sendiri, “ya … lain kali kan bisa makan bareng di kantin. Mumpung kita belum sama-sama lulus.” Dia tergelak, menertawakan dirinya sendiri sebenarnya. Maura ikut tertawa kecil, dia sibuk membereskan barang-barangnya. “Aku duluan ya, bye Vino.” Vino hanya mengangguk kecil, “oke, hati-hati Maura.” Maura melambaikan tangannya, berlarian kecil keluar gedung perpustakaan. Mengingat apa yang dikatakan Samudra, mau tidak mau, dia memesan ojek online dengan aplikasi hijau yang jarang sekali dia gunakan kecuali darurat. Kehidupannya yang miskin, menjadi perantau, tentu tidak akan mudah mengeluarkan selembar uang jika masih ada alternatif lainnya. Atmosfer di dalam unit apartemen Samudra terasa lebih pekat daripada biasanya, meskipun masih siang. Suasananya begitu panas menindas. Pria itu berdiri di depan dinding kaca besar yang menampilkan landscape ibukota, membelakangi Maura yang baru saja masuk dengan tubuh gemetarnya. Kedatangannya disambut dengan Samudra yang bertelanjang d**a. “Duduk,” perintah Samudra. Suaranya memang terdengar rendah, tetapi memiliki arti ancaman. Maura yang sedang merasa lelah karena kondisinya dan juga kegiatan di kampus serta merta semakin menambah ketakutan Maura yang seolah sedang berdiri di hadapan seorang hakim. Sayangnya, kenapa dia harus takut padahal dia bukan seorang kriminal? Maura tidak segera duduk, melainkan hanya berdiri di sisi sofa. “Apa ada yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya lirih. Samudra berbalik, wajahnya tidak lagi tanpa ekspresi, melainkan gelap karena kemarahan yang ditahannya. Dia melangkah, mendekati Maura. “Aku menginginkannya sekarang.” Maura mendesah panjang, keberatan. “Bisakah aku istirahat dulu? Aku … lelah,” akunya, mencoba memberanikan diri meskipun bisa jadi dia tidak berhak menolak. “Huh, istirahat? Sepertinya kamu kelelahan karena bersenang-senang dengan bocah ingusan itu ya?” Samudra berdiri tepat di hadapan Maura, menghimpit ruang napasnya. “Siapa dia? Apa dia tahu kalau gadis yang dia usap rambutnya itu milik pria lain?” “Dia hanya temanku!” seru Maura merasa frustrasi. “Kami kebetulan sama-sama ada di sana. Hanya bicara tentang skripsiku. Dia membantuku, itu saja.” “Membantu?” Samudra menyeringai sinis, dia meriah rahang Maura dan mencengkeramnya, memaksa gadis itu mendongak dan menatap iris pekatnya yang menyala. “Kau tidak butuh bantuannya. Semuanya ada di tanganku. Skripsimu, biaya rumah sakit Adikmu, bahkan pakaianmu pun … semuanya aku yang bayar.” Maura menyentak tangan Samudra dengan kuat. Air matanya sudah meluncur, bukan karena sedih melainkan dia merasa marah. “Aku bukan barang! Kau hanya membeliku untuk memuaskanmu dan aku menerimanya karena ingin menyelamatkan Adikku. Itu saja! Kamu enggak punya hak buat mengatur dengan siapa aku bicara, dengan siapa aku berjalan, atau bagaimana kehidupanku di kampus! Aku juga memiliki kehidupan sosialku!” Samudra diam sejenak. Keheningan itu justru lebih menyiksa daripada bentakannya. Maura menunduk, tangannya saling meremas. Dia sudah memprovokasi kemarahan Samudra. Pria itu jadi tertawa rendah, suara yang membuat bulu kuduk Maura meremang. “Jadi kamu merasa punya hak sosial ya?” Samudra melangkah maju, memkasa Maura mundur dengan panik sampai punggungnya membentur dinding. “Kau lupa siapa yang memegang kendali padamu? Kau jadi punya energi lebih untuk bersosialiasi. Mungkin … aku harus memberimu hal lain agar kau ingat hal ini.” Maura menggeleng ketakutan. “Sam … kumohon … aku lelah, sungguh.” Samudra tidak mendengarkan permohonan itu. Dia menyambar pergelangan tangan Maura, menariknya kasar ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Maura memberontak, tetapi tenaga Samudra jelas berkali lipat darinya. Tiba-tiba saja Samudra menyalakan shower air dingin sampai memenuhi bathtub granit itu. Maura memekik, “Sam! Apa yang kau lakukan?!” “Membersihkan jejak bocah ingusan itu dari tubuhmu.” “Sam! Hentikan!” Tapi Samudra mengabaikan teriakan Maura. Tanpa ampun, dia mendorong Maura masuk ke bawah guyuran air dingin. Pakaian Maura jadi basah kuyup seketika, melekat di tubuhnya sampai membentuk lekuk tubuhnya. Maura jadi menggigil kedinginan, mencoba keluar tapi Samudra menahannya. “Dingin, Sam! Hentikan!” jerit Maura di sela isakannya. Samudra berjongkok di depan Maura, matanya menatap tajam tanpa belas kasihan. “Ingat ini, Maura. Setiap kali kau membiarkan laki-laki menyentuhmu, setiap kali kau tersenyum pada mereka, aku bisa berbuat semauku dan memastikan kau menyesalinya. Aku tidak suka milikku disentuh orang lain.” Samudra bahkan meraih sabun dan menggosok bahu Maura dengan kasar, seolah ingin menguliti jejak sentuhan Vino tadi siang. Maura hanya bisa menangis sesenggukan, pasrah di bawah guyuran air dingin yang bahkan bercampur dengan air matanya. “Kau gila,” bisik Maura dengan bibir yang membiru karena sudah kedinginan. Samudra berhenti menggosok, dia menatap Maura lama, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya hingga ikut basah. “Mungkin. Tapi aku orang gila yang menyelamatkan adikmu dan kamu sudah menandatangani kontrak dengan orang gila ini, Maura. Jangan mencobanya lagi atau aku bisa lebih gila. Sekarang hanya air dingin, aku tidak menjamin lain kali bisa sesederhana air dingin saja.” Maura tidak memiliki energi. Kemarahan Samudra berhasil menyedot keberanian dan energinya sekaligus. Membiarkan pria itu menggendongnya ke kamar. “Eungh … Sam …” Hanya karena Maura memanggil namanya, antara hasrat dan kemarahannya menjadi semakin membumbung. Samudra semakin berani, tidak perlu izin, dia akan dengan mudah menyentuh gadis itu. Samudra benar-benar tidak berperilaku lembut sama sekali. Kekesalannya tergambarkan dari setiap hentakan yang diberikannya kepada Maura. “Sam … pe--pelan … pelan,” rintih Maura yang merasakan tubuhnya seperti sedang dihancurkan. Gadis itu tidak bisa memberontak karena tangannya benar-benar terikat. Samudra meremas kencang pinggang Maura, “diam, Ja-lang,” desisnya. Maura hanya bisa menerima, meskipun merasa kesakitan sekali pun. Mulutnya harus terkunci rapat. Dia tidak mengerti kenapa Samudra memperlakukannya dengan kasar. Bahkan Ja-lang menjadi sebutan yang tidak bisa dia enyahkan sekarang. Samudra terus melakukannya sampai Maura sudah tidak lagi bersuara. Tenaganya terkuras sampai habis tidak bersisa. Entah sudah berapa kali Samudra mendapatkan klimaks, melihat Maura sudah memejamkan mata, pada akhirnya dia tak lagi melakukannya. Gigitan-gigitan yang dilakukannya di kulit Maura menimbulkan banyak jejak darinya. Pria itu masih merasa tidak puas. Dia hanya menikmati beberapa rokok sembari meminum bir kalengan. Pikirannya sedang kacau. Senyuman Maura yang diperuntukkan orang lain rupanya berhasil memancing kegelisahannya, meskipun dia masih tidak mengerti kenapa dirinya harus sekesal itu. Maura terbangun saat sore. Berjam-jam tubuhnya dipergunakan seperti benda mati membuatnya meringis. Rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya, apalagi miliknya, begitu ngilu. Maura terdiam saat mendapati Samudra masuk ke dalam kamar. “Aku sudah memesan makanan untuk kita.” Maura mengangguk kaku, tidak menjawab apa-apa. Namun, Samudra tidak merasa puas. Diamnya Maura malah membuatnya geram. Segera saja dia menarik tubuh Maura dan melumat bibir gadis itu tanpa izin. Maura masih saja terkejut dengan tindakan Samudra yang selalu tiba-tiba menyentuhnya. “Aku lelah, jangan lagi,” tolaknya segera. “Ck, kau tidak berhak melarangku untuk menyentuhmu,” bisiknya mendesis. Maura membelalak, dia tak percaya dengan gairah besar Samudra yang seolah-olah tidak pernah surut. “A--aku manusia, butuh istirahat juga--” “Sepertinya mulutmu selalu pintar menjawab ya?” Pertanyaan sinis Samudra berhasil membuat Maura berpaling. Dia menahan tangisannya, kesal dengan sikap semena-mena Samudra. Ya, apalah daya, dia hanya orang kecil. Uang sudah membelinya dan Samudra bahkan berhak sekali pun memerintahkannya untuk menjilat kaki pria itu. Maura membereskan baju kotornya, melipatnya dengan Samudra yang duduk di sisi ranjang tanpa bicara apa-apa tapi terus menonton apa yang dilakukan Maura. “Kau ingin menemui bocah ingusan itu lagi?” Tiba-tiba saja Samudra melontarkan pertanyaan yang bahkan pria itu sendiri tidak menyadari kenapa dirinya harus bertanya. Maura berbalik, “aku akan mengecek kondisi adikku, juga … urusanku di sini sudah selesai.” “Kau pikir sudah selesai?” Tatapan Samudra begitu pekat, semakin gelap karena kejengkelannya kembali datang. Samudra kembali memberikan ultimatum mutlak pada Maura. “Jangan kau pikir bisa mendekati pria lain selama kau denganku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD