"Aku bahkan enggak punya ruang di kepalaku buat memikirkan soal asmara," cicit Maura dengan suara serak.
Kalimat itu adalah sebuah penyangkalan, sebuah upaya untuk memberitahu Samudra bahwa hidupnya terlalu hancur untuk sekadar jatuh cinta pada siapa pun—termasuk Vino sekali pun.
Maura mengusap air matanya kasar menggunakan punggung tangan, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya terasa sesak. Ia berusaha keras mengumpulkan serpihan harga dirinya yang baru saja dihancurkan oleh kecemburuan buta Samudra.
Ting tong!
Suara bel apartemen memecah ketegangan yang nyaris meledak. Samudra segera berbalik dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Maura yang menatap nanar punggung lebar pria itu. Punggung yang terlihat begitu kokoh namun menyimpan otoritas yang mencekik.
"Makan."
Hanya satu kata itu yang terdengar dari ruang makan, cukup kuat untuk memaksa Maura menyeret kakinya keluar kamar. Ia duduk di kursi bar yang tinggi, tepat berseberangan dengan Samudra.
"Cuci tanganmu."
Lagi-lagi hanya kalimat perintah yang lolos dari bibir Samudra. Maura melakukannya dengan patuh, membasuh tangannya di wastafel dengan gerakan mekanis. Saat ia kembali, Samudra sudah membagi makanan ke dalam piring porselen putih yang elegan.
Maura terdiam sesaat, memandangi semangkuk creamy soup berisi potongan daging lobster yang berkilau, didampingi beberapa potong wagyu steak dan mashed potato yang lembut. Aroma mentega dan bumbu mewah menyerbu indranya, namun perut Maura justru terasa perih oleh rasa bersalah.
"Kenapa? Kamu tidak suka makanannya?" tanya Samudra saat menyadari Maura hanya menatap hidangan itu tanpa menyentuhnya. “Jangan kamu pikir aku akan membelikan makanan lain.”
Maura menggeleng kecil. "Enggak, bukan itu."
Pikirannya melayang pada Raka. Adiknya mungkin sedang menyantap bubur rumah sakit yang hambar, sementara ia di sini, duduk di apartemen mewah menyantap makanan yang harganya mungkin setara dengan biaya hidup mereka sebulan. Rasa bersalah itu bercokol semakin dalam, membuat setiap suapan terasa seperti pengkhianatan.
Maura mencicipi kuahnya dengan perlahan. Keheningan menyelimuti mereka, hanya terdengar denting halus alat makan perak.
"Meski tidak enak, habiskan. Tubuhmu butuh asupan," ucap Samudra dingin, namun matanya terus memantau reaksi Maura.
"Enak," timpal Maura pendek tanpa mau menatap iris obsidian di hadapannya.
Samudra diam-diam mengembuskan napas lega yang hampir tak terlihat. Ia pun mulai menyantap makanannya dalam diam. Maura lebih senang seperti ini. Dia lebih memilih keheningan daripada harus mendengar kata-kata tajam yang keluar dari mulut pria itu.
Selesai makan, Maura segera mengangkat piring kotornya. Ia berniat mengambil piring Samudra juga sebagai bentuk balas budi, namun Samudra lebih dulu berdiri. "Biar aku saja."
Maura tercengang. Ia menyusul Samudra ke wastafel, mencoba meraih piring itu. "Aku masih bisa mencuci piring, Sam. Biarkan aku membantu--"
"Apa kamu memang harus selalu melawan omonganku, Maura?" desis Samudra. Nada bicaranya mendingin, membuat Maura refleks menarik tangannya kembali karena takut.
"Maaf, aku hanya mau membantu—"
"Tidak perlu."
Maura berdiri kikuk, memandangi pergerakan Samudra yang begitu efisien. Pria itu membuang sisa makanan ke tempat sampah sensorik, lalu memasukkan piring-piring itu ke dalam mesin pencuci piring otomatis di balik kabinet. Maura meringis kecil dalam hati, dia bahkan tidak tahu cara mengoperasikan mesin itu. Kesan modernitas dan kemewahan yang mengelilingi Samudra seolah terus-menerus mengingatkan Maura di mana posisi sebenarnya. Dia cuma seorang tamu asing dari dunia yang jauh lebih kumuh.
Tiba-tiba, Samudra menjulurkan sebuah cooler bag ke arahnya. Maura tidak segera menerimanya, ia hanya memandang benda itu dengan kening berkerut.
"Kamu bilang ingin menjenguk adikmu sore ini. Bawalah," ujar Samudra datar.
"I-ini apa?" tanya Maura sembari menerima tas yang terasa berat itu.
"Makanan yang sama dengan yang kau makan tadi. Aku memesan porsi ekstra untuknya."
Maura terpaku. Ia tidak menduga Samudra akan memikirkan hal sekecil itu. Pria ini baru saja menghancurkan mentalnya di kampus dan menghakiminya di perpustakaan, namun sekarang ia memikirkan asupan nutrisi untuk adiknya.
"Terima kasih," bisik Maura, tulus untuk pertama kalinya.
"Sopir sudah menunggu di lobi. Dia akan mengantarmu ke rumah sakit dan menunggumu di sana," terang Samudra sembari kembali ke meja kerjanya, seolah perhatiannya tadi hanyalah formalitas bisnis belaka.
Maura melangkah keluar dengan perasaan yang campur aduk. Tadi ia merasa sangat membenci Samudra, menganggapnya pria yang tak punya perasaan. Namun sekarang, ia mulai meragukan opininya sendiri.
Apakah Samudra memang memiliki sisi manusiawi, atau ini hanyalah cara lain untuk membuat Maura semakin terikat dan tak berdaya dalam genggamannya? Ia masih meragukannya, namun untuk saat ini, tas hangat di tangannya adalah satu-satunya hal yang nyata.
Maura memilih untuk segera menghilang dari pandangan Samudra. Ia menyambar tasnya dan mengenakan sepatu dengan terburu-buru, seolah setiap detik yang ia habiskan di apartemen itu akan semakin menenggelamkannya dalam pusaran emosi yang tak menentu.
Di sofa kebesarannya, Samudra duduk dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan. Pria itu tampak asyik dengan ponselnya, namun sorot matanya yang tajam tetap mengawasi setiap gerak-gerik Maura melalui sudut matanya.
Maura berhenti sejenak di depan pintu, lalu berbalik. Ia memberanikan diri mendekat dan berdiri tepat di hadapan Samudra yang masih berpura-pura sibuk.
"Aku... aku akan datang lagi jam delapan malam ini," ucap Maura pelan, mencoba memastikan jadwal "tugasnya".
Samudra tidak mendongak. Ia menggeser layar ponselnya dengan gerakan malas, seolah keberadaan Maura di hadapannya tidak lebih menarik daripada berita saham yang sedang ia baca. "Tidak usah. Malam ini tidurlah di tempatmu. Aku ada urusan lain," sahutnya dingin, tanpa nada.
Maura tertegun. Penolakan itu terasa janggal setelah semua intensitas yang mereka lalui semalam. Namun, rasa lega yang tipis menyelinap di hatinya. "Iya, Pak. Terima kasih," jawab Maura sembari memberikan senyum kecil yang tulus karena merasa mendapat "libur" sesaat.
Klik.
Begitu pintu apartemen tertutup rapat, keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan mewah itu. Samudra menghempaskan ponselnya ke atas meja marmer. Ia mendesah panjang, mencoba mengusir bayangan kemarahan irasionalnya saat melihat Maura bersama laki-laki lain di perpustakaan tadi. Ia benci perasaan kehilangan kendali. Tanpa membuang waktu, ia meraih ponselnya kembali dan menghubungi Tomi.
"Tomi, batalkan semua jadwalku malam ini. Aku akan langsung ke kantor.”
**
Di Kantin Kampus...
"Ra ... gimana progres bimbinganmu sama Algojo Psikopat itu?"
Suara Sisilia membuyarkan fokus Maura yang tengah berkutat dengan diagram-diagram rumit di layar laptopnya. Maura menghela napas panjang, matanya terasa panas karena kurang tidur.
"Susah, Sil. Susah banget," jawab Maura lemas.
Sisilia meringis, menarik kursi agar bisa duduk lebih dekat. "Dengar-dengar dia beneran teliti sampai ke titik koma ya? Apa aja yang disuruh revisi?"
"Semuanya. Plot, diagram sirkulasi, sampai analisis tapak yang menurutku udah sempurna pun dibilang sampah," Maura memijat pangkal hidungnya, teringat bagaimana Samudra merobek mentalnya di ruang bimbingan.
"Sama kayak yang lain ternyata," gumam Sisilia.
Maura mendongak, merasa tertarik. "Maksudmu, yang lain juga sama?"
Sisilia mengangguk penuh semangat. Sebagai seorang social butterfly di kampus, ia adalah pusat informasi segala gosip terhangat. "Bukan cuma kamu, Ra! Di grup angkatan atas, mereka tuh kasih julukan 'Dosen Psikopat Berwajah Malaikat'. Kamu tau Kak Sigit, kan?"
Maura menggeleng. Ia terlalu sibuk bekerja paruh waktu dan mengurus Raka untuk tahu siapa aktivis kampus.
"Kak Sigit itu semester sepuluh, otaknya encer banget, mantan ketua himpunan. Dia juga baru ganti pembimbing ke Pak Samudra kemarin. Tau enggak apa yang terjadi pas dia minta konfirmasi jadwal sidang?" Sisilia merendahkan suaranya, menambah kesan dramatis.
"Apa?" Maura menahan napas.
"Pak Samudra bahkan enggak baca bab terakhirnya. Begitu dia liat ada kesalahan logika di bab awal, dia langsung lempar tuh bundel skripsi Kak Sigit ke tong sampah di depan matanya! Dia bilang, dia enggak punya waktu buat membaca tulisan dari orang yang enggak bisa berpikir sistematis."
Maura terbelalak. "Serius? Dia buang gitu aja?"
"Aku dapat infonya dari orang dalam di ruang dosen, Ra! Kak Sigit sampai gemetaran nahan marah, tapi ya mau gimana? Lawannya Pak Samudra. Dia punya kuasa penuh." Sisilia mengedikkan bahu ngeri. "Untung aku sih enggak dapat pembimbing seperti dia. Aku bisa serangan jantung setiap hari."
Maura terdiam, rasa ngeri menjalar di sumsum tulang belakangnya. Ia mengira dirinya adalah satu-satunya orang yang "dikerjai" oleh Samudra karena hubungan rahasia mereka. Ternyata, Samudra memang seorang predator profesional yang tidak segan menghancurkan masa depan siapa pun yang dianggapnya tidak memenuhi standar.
Kalau pada orang secerdas Kak Sigit saja dia sekejam itu, bagaimana denganku jika suatu saat dia bosan membeliku? batin Maura getir. Kesadaran itu menghantamnya. Dia tengah berdansa dengan iblis yang bisa saja membuangnya ke "tong sampah" kapan saja ia mau.
Suara gemeretak jemari Maura di atas keyboard mendadak terhenti ketika sebuah teriakan melengking membelah ketenangan taman belakang kampus. Di bawah pohon mahoni, tak jauh dari meja mereka, sebuah drama picisan tengah memuncak.
"Kamu enggak bisa begini terus, Geri! Aku ini cewek kamu!"
"Terus kamu mau ngekang aku?! Kamu itu sakit, posesif, pencemburu gila!" balas si laki-laki dengan nada yang tak kalah tinggi.
Sisilia, yang dasarnya adalah pengumpul informasi ulung, segera menghentikan aktivitasnya. Ia memajukan tubuh, menonton adegan itu dengan mata berbinar. Keributan sepasang kekasih di tempat umum memang bukan hal baru, tapi selalu menjadi tontonan gratis yang seru.
"Aku begini karena aku tahu perempuan itu naksir kamu, Geri! Aku tahu!"
"Berisik!" Geri berbalik, berniat pergi.
"Geri, tunggu! Geri!!!"
Dengan gerakan kalap, si perempuan menarik kencang lengan jaket kekasihnya. Tarikan mendadak itu membuat keseimbangan Geri goyah, dan gelas besar berisi iced latte di tangan kanannya terlepas, meluncur deras di udara seperti peluru yang salah sasaran.
BYURRR!
"Astaga!" Sisilia menjerit histeris.
Maura tersentak, ia mencoba melompat mundur untuk menghindari guyuran cairan cokelat itu, namun terlambat. Cairan pekat itu mendarat tepat di atas keyboard laptopnya yang sedang menyala, merembes masuk ke sela-sela sirkuit dalam hitungan detik.