“Maura!” Baru saja sepasang kaki Maura melangkah melewati pintu kaca otomatis gedung apartemen tempat tinggalnya, sebuah seruan riang memecah keheningan lobi yang sepi. Suara bernada tinggi penuh semangat itu seketika memotong arus lamunan kelam yang sejak tadi berputar di kepalanya. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu memutar tubuhnya perlahan. Ia terpegun di tempatnya berdiri saat menangkap presensi Yulia yang tengah melambaikan tangan kanan dengan binar mata cokelat yang berbinar cerah. Staf magang yang satu hari lalu ia tinggalkan dalam kondisi terguncang itu kini tampak setengah berlari kecil menghampiri posisinya dengan ritme langkah yang jauh lebih ringan. “Habis dari mana, Mbak?” tanya Maura lembut setelah jarak di antara mereka menyusut menjadi dua tapak. Sebuah fenomena kec

