“Sam … kita sebenarnya mau ke mana?” Suara Maura terdengar memelas, nyaris tenggelam di antara gesekan daun pinus. Mereka sudah berjalan hampir dua puluh menit menembus kegelapan, namun tidak ada tanda-tanda Samudra akan menghentikan langkah kaki jenjangnya. Jalan setapak yang mereka lalui kian menyempit, dikepung hamparan rumput ilalang setinggi pinggang di sisi kiri dan kanan. Srek. Mendengar suara asing dari balik semak, Maura tersentak. Refleks, ia mengarahkan kilatan cahaya senter ke arah sumber bunyi sembari meremas jemari besar Samudra yang tengah menggenggamnya. Jantungnya berdegup gila. Maura yang jarang melakukan aktivitas fisik berat dengan cepat didera rasa engap. Napasnya mulai terputus-putus, memburu satu-satu selagi kakinya dipaksa melangkah menanjak. Sementara itu, Samu

