“Raka, nanti Kakak pulang cepat, kita makan di luar ya?” kata Maura sembari menaruh sarapan di atas meja, karena Bu Yuyun sengaja diliburkan olehnya karena absensi Samudra yang tidak membuatnya jadi harus menginap di apartemen pria itu. Raka tersenyum lebar mendengarnya, “wah … Kak Anin pasti dapat gaji ya? Makanya traktir Raka.” Maura tersenyum mendengarnya, “ya … gitu deh. Kakak pergi dulu, habiskan sarapannya, nanti mandi abis itu ya.” Raka segera mengecup tangan Maura sebelum gadis itu pergi meninggalkannya sendirian sebelum Bu Yuyun nanti datang untuk sekadar mengecek soal jadwal minum obat anak itu. Lorong panjang di lantai tiga gedung Fakultas Teknik siang itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Pendar lampu neon putih yang memantul kaku di atas lantai tegel abu-abu melahirk

