Bab 19

1770 Words
"Kakak kenapa melamun?" Suara cempreng Raka membuyarkan kabut di pikiran Maura. Ia terperanjat, nyaris menjatuhkan tas yang ia pangku. Dengan senyum yang dipaksakan, ia menggeleng kecil. "Enggak ada apa-apa, Raka. Cuma sedikit mengantuk." Raka menyipitkan mata, menopang dagu dengan lagak seperti detektif yang sedang menginterogasi tersangka. Bu Yuyun, perawat yang tengah menyiapkan nampan makan malam Raka, terkekeh geli melihat tingkah bocah itu. "Anak kecil enggak usah banyak tanya, ah." Raka mencebikkan bibirnya kesal. "Bu Yuyun ini ... Kan kalau Kak Anin ada masalah, Raka bisa jadi pendengar yang baik. Biar Kakak enggak sedih sendirian." Tawa Bu Yuyun pecah, sedikit mencairkan suasana kamar rumah sakit yang kaku. "Iya, iya, jagoan kecil memang bisa diandalkan, ya?" Raka mengangguk bangga, lalu tatapannya beralih pada kalender di atas nakas. "Oh iya ... lusa ... Raka benar-benar bisa pulang kan, Bu?" Bu Yuyun melirik Maura yang kembali terdiam dengan tatapan kosong. "Semua tergantung apa kata Dokter dulu dong, Raka. Makanya, Raka harus habiskan makanannya supaya sistem imunnya cepat naik dan bisa segera pulang." Raka menurut tanpa protes. Ia segera menyuap makanan yang disediakan pihak rumah sakit. Berkat "dana tak terbatas" dari Samudra, Maura bisa meningkatkan fasilitas kamar Raka, termasuk menu makanan yang jauh lebih layak dan bernutrisi daripada sebelumnya. "Enak, Dek?" tanya Maura lembut, tangannya terulur merapikan kerah baju pasien adiknya. Raka mengangguk, namun ada binar kerinduan di matanya. "Enak, Kak. Tapi lebih enak makanan yang Kakak bawa kemarin. Raka mau lagi kalau nanti udah pulang." Hati Maura mencelos. Bubur abalone mewah itu—makanan sisa kebaikan Samudra yang semu. "Iya ... doakan Kakak cepat lulus dan dapat kerja yang bagus, ya? Nanti Kakak belikan makanan enak setiap hari." "Kemarin itu Kakak dapat dari mana?" tanya Raka di sela kunyahannya. Maura merasa lidahnya kelu. Kebohongan yang sudah ia susun di kepala pun meluncur dengan pahit. "Dapat dari ... orang tua murid privat yang Kakak ajar. Mereka orang baik." "Wah ... kalau ketemu lagi, bilangin ya Kak, terima kasih sudah berbagi dengan Raka." Maura tersenyum kecut, jemarinya mengusap lembut kepala adiknya yang mulai ditumbuhi rambut baru. Setidaknya, kondisi Raka jauh lebih stabil. Namun, di balik rasa syukur itu, ada beban raksasa yang menghimpit d**a. Bagaimana caranya memberitahu Raka bahwa mereka tidak akan pulang ke rumah lama mereka, melainkan pindah ke apartemen mewah di depan pintu "monster" itu? Drrrtt... drrrttt... Getaran ponsel di saku Maura terasa seperti sengatan listrik. Begitu melihat nama pengirimnya, napas Maura tercekat. "Dek, Kakak harus pergi sekarang. Besok Kakak ke sini lagi, ya? Ada jadwal mengajar tambahan malam ini." Bohong. Maura merasa mual saat kata "mengajar" keluar dari mulutnya. Pekerjaan satu-satunya sekarang adalah melayani pria yang telah membeli setiap jengkal tubuhnya. Setiap kali ia membayangkan Samudra, ia merasa seolah tubuhnya dilumuri kotoran yang tak akan pernah bisa dibersihkan oleh sabun semahal apa pun. Kemewahan ini—kamar rumah sakit ini, makanan enak ini—terasa seperti racun yang ia telan demi kelangsungan hidup adiknya. Sebuah sedan hitam metalik sudah menunggu dengan mesin menderu halus di depan lobi rumah sakit. Maura masuk ke kursi belakang dengan gerakan mekanis, disambut oleh aroma pengharum mobil yang tenang. "Non ... gimana keadaan Adiknya?" tanya Pak Joko, sopir pribadi Samudra. Maura menatap pantulan pria paruh baya itu di kaca spion tengah. Rambut putih Pak Joko dan wajah ramahnya selalu membuatnya merasa sedikit lebih manusiawi. "Sudah jauh lebih baik, Pak Joko. Terima kasih sudah bertanya." Pak Joko mengangguk tulus. "Syukurlah. Kasihan anak sekecil itu harus menanggung sakit berat. Semoga segera benar-benar pulih, ya." Maura hanya tersenyum tipis, lalu memilih membuang muka ke luar jendela. Ia memandangi gemerlap lampu Jakarta yang mulai menyala, merasa asing di tengah kemewahan yang kini mengelilinginya. Saat mobil berhenti di depan lobi apartemen mewah kawasan Sudirman, Maura turun dengan langkah berat. "Terima kasih banyak, Pak." Pak Joko melambaikan tangan sebelum melajukan mobilnya menuju basement. Maura berdiri sejenak di depan pintu kaca lobi yang megah, menatap bayangan dirinya sendiri. Ia tampak rapi, tampak cantik dengan pakaian yang juga dibelikan oleh Samudra, namun ia tahu di balik kulit itu, jiwanya sedang menjerit minta dilepaskan. Ia menarik napas dalam-dalam, menguatkan hati sebelum naik ke lantai atas. Ia tahu, di balik pintu unit itu, Samudra sudah menunggunya dengan segala tuntutan dan otoritas yang tak mungkin ia tolak. Malam ini, ia harus kembali menanggalkan harga dirinya, demi Raka, demi satu-satunya alasan yang membuatnya masih mampu bertahan hidup. Cklek! Pintu apartemen tertutup dengan bunyi mekanis yang halus. Maura segera melepas sepatunya, menggantinya dengan sandal rumahan berbahan beludru yang empuk. Ia sudah mulai terbiasa dengan denah unit ini. Setiap sudut interior yang dingin namun elegan ini seolah mulai menghafal langkah kakinya. Ia berjalan mendekati meja kerja Samudra. Pria itu tampak serius mengutak-atik laptopnya, sementara Maura merasa jantungnya mencelos setiap kali melihat perangkat elektronik itu. Ia teringat nasib laptopnya yang mati total sore tadi. Sial sekali, batinnya perih. Bagaimana Samudra akan menghabisi nyawanya besok saat ia gagal menyerahkan data revisi yang hilang? "Duduklah." Maura tertegun. Suara Samudra tidak sedingin biasanya, namun tetap mengandung otoritas. "A-aku akan mandi dulu—" "Tidak usah sekarang." Maura terdiam sesaat, lalu menarik kursi di hadapan Samudra dengan ragu. Pria itu tidak menatapnya, juga tidak mengajaknya bicara. Samudra menyalakan sebatang rokok, menghirupnya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap pekat ke udara. Maura sedikit terbatuk, tangannya refleks mengipasi wajah saat aroma nikotin yang tajam mulai menyesakkan indra penciumannya. Samudra yang menyadari hal itu segera mematikan rokoknya, menekan ujung bara di asbak kristal hingga padam sepenuhnya. "Menurutmu," Samudra membuka suara sambil menyandarkan punggung, matanya kini menatap Maura tajam, "sejauh mana kita bisa membawa elemen alam ke dalam kamar tidur atau ruang tamu tanpa merusak privasi?" Maura mengerjap. Ia tidak menduga topik akademis akan muncul di jam seperti ini. Biasanya, di malam hari, hanya gairah liar dan tuntutan fisik pria itu yang berbicara. Ia sedikit ragu, namun insting arsiteknya mulai mengambil alih. "Kita bisa memodifikasinya dengan konsep inner courtyard," jawab Maura, suaranya perlahan mulai stabil. "Misalnya dengan menggunakan dinding geser kaca raksasa yang bisa menghilangkan batas antara ruang keluarga dan taman di tengah rumah. Jika ingin yang sedang tren, kita bisa mengadopsi Zen Garden Minimalis atau Japandi Style." Samudra mengangkat sebelah alisnya, tampak tertarik. "Lanjutkan." "Konsep itu mengedepankan ketenangan. Kita bisa menggunakan elemen kerikil putih, sebuah pohon tunggal yang ikonik seperti Kamboja Fosil atau Ketapang Kencana, dipadukan dengan dek kayu komposit. Konsep ini memberikan efek relaksasi maksimal, sangat cocok untuk kamar tidur utama," jelas Maura. Samudra mengangguk cepat, jemarinya mengetuk meja mengikuti irama penjelasan Maura. "Lalu? Apa hanya itu?" Maura mendadak kehilangan rasa percaya diri. Ia teringat bahwa pria di depannya adalah dosen pembimbing yang tanpa ragu membuang skripsi mahasiswa ke tempat sampah. Tatapan Samudra terasa seperti ujian lisan yang mematikan. "Kenapa berhenti?" tanya Samudra lagi, suaranya merendah, menuntut jawaban. Maura menegakkan punggung, mencoba mengusir rasa takutnya. "Lalu bisa juga menggunakan Biophilic Design dengan tema Tropical Forest at Home. Kita membawa hutan kecil ke dalam rumah menggunakan tanaman rimbun berdaun lebar seperti Monstera atau Pakis Haji. Selain menyaring udara secara alami, ini menciptakan kesan sejuk seperti vila tropis." Hening sejenak. Samudra menatap Maura cukup lama, membuat gadis itu menahan napas. "Oke. Ide itu tidak buruk untuk ukuran mahasiswa yang sedang tertekan," ucap Samudra dengan seringai tipis yang sulit diartikan. "Setidaknya otakmu tidak tumpul malam ini." Maura hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Pujian singkat dari Samudra terasa seperti pedang bermata dua. Melegakan, namun sekaligus mengingatkannya bahwa pria ini masih memegang kendali penuh atas masa depannya. Samudra bangkit dari kursinya dengan gerakan elegan yang intimidatif. Tanpa sepatah kata pun, ia menjatuhkan ponsel flagship keluaran terbaru ke pangkuan Maura. Benda tipis dengan material premium itu terasa asing di tangan Maura. Sebuah teknologi kelas atas yang harganya mungkin setara dengan biaya sewa kosnya selama dua tahun. "Aku lapar. Pilih menu untukmu," titah Samudra singkat. Maura menggeleng kecil, mencoba mengembalikan ponsel itu dengan tangan gemetar. "A—aku bisa masak aja di dapur, Sam. Lebih hemat." "Pilih sekarang, Maura." Samudra tidak menerima negosiasi. Sorot matanya menunjukkan ia tidak sedang ingin berdebat soal efisiensi biaya. Dengan canggung, Maura membuka aplikasi pemesanan di ponsel itu. Matanya membelalak melihat daftar menu dari sebuah restoran Jepang autentik. Daftar harga yang tertera—di mana satu porsi makanan kecil dibanderol ratusan ribu rupiah—membuatnya menelan saliva susah payah. Ia merasa berdosa hanya dengan melihat angka-angka itu. Takut menghabiskan terlalu banyak saldo Samudra, Maura memilih menu paling sederhana: semangkuk udon polos. Ia menyerahkannya kembali dengan kepala tertunduk. "Sudah, S--Sam." Samudra melirik layar ponselnya lalu berdecih sinis. "Apa kamu tidak suka makanan Jepang?" "Aku ... aku jarang makan makanan itu. Lidahku belum terbiasa dengan rasa yang enggak umum," jawab Maura ragu, menyembunyikan alasan sebenarnya bahwa ia tidak sanggup membiarkan Samudra membayar terlalu mahal untuk perutnya. Samudra menyambar ponselnya tanpa berkomentar lagi. Keheningan kembali menyergap. Maura duduk di tepi sofa dengan gelisah, sementara Samudra tampak tenggelam dalam tumpukan jurnal arsitektur internasional. Kontras antara kemewahan apartemen ini dengan kekacauan di kepalanya membuat Maura merasa tercekik. Ia terus memikirkan nasib datanya yang hilang dan bagaimana ia harus menghadapi Samudra sebagai 'Dosen Pembimbing' esok pagi. "Malam ini aku tidak akan menyentuhmu," ucap Samudra tiba-tiba tanpa mengalihkan pandangan dari jurnalnya. "Kamu memiliki jadwal penting besok. Kuharap kamu bisa maksimal saat mempresentasikan penelitianmu di depanku." Deg. Kalimat itu terasa seperti ribuan jarum yang menghujam jantungnya. Tenggorokan Maura mendadak perih, seolah ada gumpalan beton yang menyumbat pernapasannya. Udara di ruangan ber-AC itu mendadak terasa pengap dan menekan. Samudra menuntut kesempurnaan di saat ia tahu Maura sedang berada di ambang kehancuran teknis. "I—iya, Sam." "Satu hal lagi. Unit apartemen di seberang sudah kosong dan siap huni. Besok setelah urusan kampus selesai, bawa adikmu pindah ke sana." Maura terkesiap. Kepindahannya terasa terlalu cepat, seolah Samudra sedang mempercepat proses pengurungannya. "S-Sam ... masa sewa kosku masih ada beberapa bulan lagi, aku rasa—" "Aku tidak suka mendengar penolakan, Maura," potong Samudra cepat. Kilat di matanya menunjukkan otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Maura menggigit ujung lidahnya hingga terasa anyir. Ia sadar, setiap fasilitas yang diberikan Samudra—mulai dari makanan mewah, pengobatan Raka, hingga unit apartemen—adalah rantai tak terlihat yang akan mengikatnya selamanya. Semakin banyak ia menerima, semakin rendah harga dirinya di hadapan pria ini. "Tidurlah." Samudra bahkan tidak memberinya ruang untuk bertanya atau mengeluh. Pria itu menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar, kemungkinan besar untuk bertemu rekan-rekan bisnisnya di bar eksklusif. Maura merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk, namun rasanya seperti berbaring di atas hamparan duri. Meski selimut sutra membungkusnya dan suhu ruangan begitu dingin, matanya tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar yang tinggi, menyadari bahwa besok pagi, ia harus berhadapan dengan Samudra dalam dua peran yang sama-sama menghancurkanny. Sebagai mahasiswa yang gagal menjaga data, dan sebagai wanita yang telah kehilangan kedaulatan atas hidupnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD